MASA DEPAN PERLU INTELEKTUALITAS DAN KARAKTER

Djoko Saryono *

/1/
Umat manusia sedang menghadapi revolusi yang belum pernah terjadi sebelumnya, semua cerita lama kita runtuh, dan tidak ada cerita baru yang muncul untuk menggantikannya. Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri dan anak-anak kita untuk dunia dengan transformasi dan ketakpastian radikal yang belum pernah terjadi sebelumnya? (Yuval Noah Harari, 21 Lessons for 21st Century, 2018, Spiegel & Grau).

/2/
Revolusi Industri Keempat dapat menjadi titik-temu bagi makna tradisional manusia (pekerjaan, masyarakat, keluarga, dan identitas) atau dapat meningkatkan rasa kemanusiaan menjadi kesadaran kolektif dan moral baru berdasarkan perasaan takdir bersama. Pilihannya ada pada kita. (Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution, 2016, World Economic Forum).

/3/
Konon seorang arif bijaksana dunia bernama Socrates pernah berkata bahwa “hidup yang tidak boleh diperiksa kembali adalah hidup yang tidak layani dijalani”. Maka marilah kita periksa kembali hidup kita dan zaman tempat kita hidup sekarang. Ini dimaksudkan agar kita dapat menjalani hidup dan kehidupan dalam dunia masa sekarang dan masa depan. Di samping itu, mampu menghidupi dunia masa sekarang dan masa depan yang kita kehendaki.

Dunia macam apakah yang sedang kita hadapi, bahkan menghidupi kita sekarang atau menjadi tempat hidup kita sekarang? Dengan ringkas pertanyaan ini dapat dijawab bahwa dunia masa sekarang, bahkan masa depan yang sedang kita hadapi dan hidupi adalah sebuah dunia yang sedang berubah sangat disruptif, radikal, fundamental, dan eksponensial! Dunia kita sekarang adalah dunia yang sedang mengalami tsunami perubahan. Tak heran, sesungguhnya kita tidak dapat menamainya dengan satu istilah atau frasa. Banyak di antara kita menamainya dengan bermacam-macam istilah atau frasa.

Betapa tidak! Gejala perubahan, pergeseran, dan pergantian radikal, disruptif, fundamental, dan eksponensial itu berlangsung di berbagai lapangan kehidupan sejak Abad XXI, baik dalam skala global, regional, nasional maupun lokal, baik dalam dimensi empiris maupun normatif. Para ahli dan pengamat mencandra hal tersebut dengan berupa-rupa sebutan, di antaranya Abad XXI sekarang telah berlangsung Revolusi Industri Keempat, Revolusi Internet Gelombang Ketiga (dari internet of thing’s menuju internet of everything), Revolusi Digital, Revolusi Ilmu Pengetahuan, dan revolusi-revolusi lain yang secara mendasar mengubah dunia manusia, bahkan alam semesta.

Sudah barang tentu tsunami perubahan tersebut serba tidak terduga, serba tidak pasti, demikian kompleks, dan senantiasa taksa. Di sinilah kita memasuki dunia VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity; VUCA World) yang memberikan tantangan, tuntutan, dan kebutuhan baru bagi keberlanjutan dan kelangsungan kehidupan manusia. Tantangan, tuntutan, dan kebutuhan baru di bidang kebudayaan dan peradaban direspons perlu secara setimpal berlandaskan dan bermodalkan kekayaan kebudayaan dan peradaban kita. Dalam hal ini perlu landasan kearifan dan kebijaksanaan kultural atau moral-etis yang sudah tumbuh dan berkembang di Indonesia. Ini perlu disertai usaha menemukan “jawaban-jawaban baru” yang cocok dan sepadan dengan tantangan, tuntutan, dan kebutuhan kebudayaan dan peradaban pada Abad XXI yang merupakan Dunia VUCA tersebut.

Secara khusus bidang kebudayaan dan peradaban ditantang, dituntut, dan ditagih untuk memperoleh jawaban-jawaban baru yang dapat menjadikan bidang kebudayaan dan peradaban kita tetap eksis dan berdaya. Pasalnya, kebudayaan dan peradaban perlu mengalami transformasi radikal-fundamental sehingga kita dituntut mampu menjadi aktor atau agen transformasi kebudayaan dan peradaban.

Dalam transformasi kebudayaan dan peradaban tersebut kita tidak boleh terjebak dalam dikotomi-dikotomi biner-atomistis, hanya pendekatan dan wawasan hitam-putih belaka. Diperlukan pendekatan dan wawasan holistis-pluriversal (transversal) dalam usaha-usaha transformasi kebudayaan dan peradaban demi keberlanjutan dan kelangsungan kehidupan manusia secara planeter.

Berhubung pada masa sekarang, lebih-lebih pada masa depan yang semakin padat pengetahuan dan kreativitas-inovasi, maka keberadaan karakter dan intelektualitas sama-sama penting. Keduanya tidak boleh dipertentangkan satu sama lain, apalagi ditinggalkan salah satu di antaranya. Beranalogi dengan ucapan Albert Einstein, karakter tanpa intelektualitas menjadikan kehidupan masa depan kehilangan arah pada satu sisi. Pada sisi lain, intelektualitas tanpa karakter menjadikan kehidupan masa mendatang mengalami kegelapan.

Baik karakter maupun intelektualitas sama-sama dibutuhkan dalam kehidupan masa sekarang, lebih-lebih kehidupan masa depan. Itu sebabnya, beralaskan humanitas dan spiritualitas, baik karakter maupun intelektualitas harus ditumbuhkembangkan dan diperkuat secara serempak-bersamaan dan seimbang demi keselamatan dan keberlanjutan kehidupan masa sekarang dan masa depan.

_____________________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *