MENYEMAIKAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN

Djoko Saryono *

/1/
Sudah ribuan tahun, agama, filsafat, ilmu dan teknologi, pendidikan, dan lain-lain menjadikan manusia dan kemanusiaan menjadi aksis [poros] ajaran, pemikiran, pendidikan, pengajaran, pengkajian, dan perekayasaan. Sudah jelas, sejak semula kehadiran agama-agama memang bagi manusia, bukan bagi Tuhan, sehingga ajaran dan pemikiran agama-agama selalu berporos manusia dan kemanusiaan.

Agama-agama sarat taburan atau penuh dengan pesan-pesan universal bagi manusia dan kemanusiaan. Dengan tandas agama Ibrahimi malah “menyatakan diri” sebagai agama kemanusiaan. Demikian juga filsafat [terlebih-lebih filsafat manusia dan etika!] telah menjadikan manusia dan kemanusiaan sebagai subjek pemikiran semenjak abad-abad Sebelum Masehi.

Misalnya, jauh sebelum abad Masehi, pemikiran bangsa Sumeria, Mesir, Persia, Cina, India, dan Yunani berpusat pada manusia dan kemanusiaan sehingga sosok ideal manusia dan kemanusiaan terumuskan atau tergambarkan dalam khazanah pemikiran dan gagasan berbagai bangsa tersebut. Meskipun ilmu lebih dahulu menjadikan alam sebagai pusat perhatian dan objek kajian, kemudian ilmu juga menjadikan manusia dan kemanusiaan sebagai fokus, sasaran, dan atau tujuan pemikiran, pengkajian, dan perekayasaan.

Pemikiran, pengkajian, dan perekayasaan ilmu-ilmu kealaman, ilmu-ilmu kemasyarakatan, dan ilmu-ilmu kebudayaan [dalam perspektif Weber] selalu dimaksudkan, dihajatkan, dan diabdikan bagi manusia dan kemanusiaan: memahami dan memudahkan kehidupan manusia di samping memartabatkan dan memuliakan manusi selain memperkuat kelangsungan hidup manusia. Perekayasaan teknologi juga diniatkan dan dihajatkan bagi tercapainya marwah, harkat, dan martabat manusia. Bahkan pendidikan juga dihajatkan untuk humanisasi, membentuk manusia sebagai manusia di samping mencegah berbagai faktor yang merusak atau menghancurkan martabat manusia.

Semua itu menunjukkan bahwa sejak dahulu manusia dan kemanusiaan telah menjadi titik tolak, pusat, dan atau sasaran ajaran dan pemikiran agama, pemikiran dan pengkajian filsafat dan ilmu, perekayasaan teknologi dan pendidikan, dan lain-lain.

/2/
Seiring dengan itu, patah-tumbuh dan layu-berkembang berbagai perspektif, sudut pandang, dan atau corak pandangan. Bahkan ajaran-ajaran untuk melihat sekaligus menempatkan manusia dan kemanusiaan dalam bingkai keagamaan, kebudayaan, dan kemasyarakatan serta kealaman.

Sebagai contoh, perspektif teologis atau religius dan filosofis sering memiliki perbedaan ajaran, pemikiran, dan parameter manusia dan kemanusiaan yang diharapkan; meskipun sering pula seiring. Demikian juga sudut pandang filosofis dan ilmiah sering berbeda dalam melihat, menempatkan, dan merumuskan manusia dan kemanusiaan.

Lebih lanjut, corak pandangan keagamaan, kefilsafatan, dan keilmuan sering berbeda dan kadang-kadang sama dalam menempatkan dan menggambarkan sosok manusia dan kemanusiaan terutama idealitas manusia dan kemanusiaan. Misalnya, corak pandangan pra-humanisme, humanisme, transhumanisme, dan posthumanisme berbeda dalam melihat, menempatkan, dan menyosokkan manusia dan kemanusiaan.

Demikian juga humanisme ateis atau sekular dengan humanisme teistik atau teologis memiliki corak pandangan berbeda-beda. Humanisme ateis atau sekular mengedepankan dan membela kemanusiaan tanpa agama yang sayangnya sekaligus terjebak dalam kemanusiaan tanpa manusia [karena Tuhan telah “disingkirkan]. Namun humanisme teologis atau teistik yang mengedepankan dan menjunjung kemanusiaan dengan kehadiran Tuhan kadang-kadang terjebak pada kemanusiaan tanpa manusia [karena dihilangkan eksistensi dan otonominya].

Tidak mengherankan, hingga sekarang telah tersedia demikian banyak atau beraneka ragam ajaran, pemikiran, dan praksis tentang manusia dan kemanusiaan dalam kehidupan manusia.

/3/
Di antara demikian banyak atau aneka ragam ajaran, pemikiran, dan praksis tentang manusia dan kemanusiaan tersebut, adakah benang merah yang diterima oleh semua ajaran, pemikiran, dan praksis kemanusiaan?. Adakah kemanusiaan universal?. Adakah nilai-nilai universal kemanusiaan di antara berbagai struktur, sistem, dan sumber nilai kemanusiaan?

Catatan pendek ini memosisikan diri pada pandangan atau pikiran bahwa ada common platform berbagai pandangan tentang manusia dan kemanusiaan yang melahirkan berbagai mazhab atau aliran humanisme. Common platform itu berisi benang merah atau saripati universal tentang substansi dan keberadaan manusia sekalipun bersumber dari bermacam-macam agama, paham filsafat, corak ilmu, dan kebajikan personal, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu bermartabat, luhur, mulia, dan agung.

Tegasnya, berbagai ajaran, pemikiran, dan praksis tentang manusia dan kemanusiaan mempercayai bahwa ada martabat, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan manusia. Sebab itu, pada dasarnya kemanusiaan bersangkutan dengan pikiran, perasaan, dan tindakan yang membuat martabat, marwah, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan manusia tetap terjaga dan berkembang. Jangan sampai manusia dan kemanusiaan berada dalam kondisi animalitas [kebinatangan], apalagi kebendaan [bagai robot dan mesin].

Lebih lanjut, hal tersebut mengimplikasikan bahwa ada nilai-nilai kemanusiaan yang umum-universal atau kemanusiaan umum-universal yang melampaui segala lokalitas [kebudayaan lokal, kearifan lokal, ras dan etnis, ideologi, dan lain-lain] sekalipun bersumberkan macam-macam ajaran agama, paham filsafat, corak ilmu, dan kebajikan personal. Sekalipun memiliki perbedaan sistem, struktur, dan relasi nilai kemanusiaan dalam berbagai kebudayaan dan peradaban, keuniversalan nilai kemanusiaan telah dikemukakan oleh banyak pihak.

/4/
Taksonomi atau klasifikasi nilai-nilai kemanusiaan yang dipandang universal telah dikemukakan berbagai ahli atau bermacam pihak. Dalam Compassion: 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih (2012), Amstrong menyatakan ada 12 (dua belas) nilai kemanusiaan yang menjadi kaidah emas kehidupan berbelas kasih, yaitu (a) mampu berbelas kasih, (b) mampu melihat dunia sendiri, (c) mampu berbelas kasih pada diri sendiri, (d) mampu berempati, (e) mampu memberi perhatian penuh, (f) mampu bertindak positif, (g) menyadari betapa sedikit pengetahuan kita, (h) mampu berbicara penuh kasih dengan sesama, (i) mampu peduli untuk semua, (j) memiliki pengetahuan berguna bagi sesama, (k) mampu membuat pengakuan, dan (l) mampu mencintai musuh.

Sementara itu, dalam The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity (2002), Hossein Nasr menyatakan bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi pesan universal Islam adalah (i) kasih sayang dan rahmat, (ii) cinta, (iii) kedamaian, (iv) keindahan, (v) keadilan, dan (vi) tanggung jawab.

Dalam pada itu, Schwartz dalam Basic Human Values (2006) mengemukakan bahwa nilai dasar universal kemanusiaan meliputi (i) kendali-diri, (ii) stimulasi, (iii) hedonisme, (iv) prestasi, (v) kuasa sosial, (vi) keamanan bersama, (vii) konformitas, (viii) tradisi, (ix) penuh tolong-menolong, dan (x) universalisme. Sekolah Togoolawa menggolongkan nilai kemanusiaan universal menjadi (i) cinta, (ii) kebenaran, (iii) kedamaian, (iv) aturan hak-hak, dan (v) tanpa kekerasan.

Selanjutnya, dalam konteks pluralisme dan multikulturalisme, banyak pihak terutama para pakar menyatakan bahwa toleransi [tenggang rasa] dan kesetaraan merupakan nilai yang menjadi sumbu kelangsungan pluralisme dan multikulturalisme. Lebih jauh, dalam konteks humanisme berlandaskan Islam, Gus Dur menekankan nilai ketauhidan, keselamatan bersama, dan kebebasan bersendi ketuhanan sebagai nilai dasar martabat manusia.

Berbagai taksonomi tersebut menunjukkan bahwa sekalipun diakui dan disepakati ada nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal, cakupan nilai-nilai kemanusiaan di antara berbagai taksonomi berbeda-beda. Hal ini akibat kondisi tempat tertentu memerlukan artikulasi atau aktualisasi nilai kemanusiaan yang berbeda dengan tempat lainnya.

/5/
Sejarah kehidupan dan kebudayaan manusia memberitahukan bahwa gagasan, pemikiran, dan praksis kemanusiaan sebagai poros martabat, kemuliaan, dan atau keagungan manusia tidak serta-merta atau tidak otomatis menciptakan manusia bermartabat, mulia, dan agung; dan tidak serta-merta mewujudkan rupa kemanusiaan yang diharapkan atau dicitakan. Sebagaimana dikemukakan oleh Hardiman (2012), kesadaran, gagasan, pemikiran, dan praksis kemanusiaan justru menimbulkan kemanusiaan tanpa Tuhan dan atau kemanusiaan tanpa manusia.

Tindakan dan atau usaha berbagai pihak atau pelbagai kelompok membela-menegakkan kemanusiaan justru sering mengakibatkan mati surinya kemanusiaan atau hancurnya kemanusiaan. Ateisme, puritanisme, kolonialisme, totalitarianisme, dan terorisme alih-alih mampu mewujudkan martabat dan keagungan manusia, malah justru mendehumanisasi manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa tindakan dan usaha mewujudkan martabat, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan manusia sebagai representasi kemanusiaan telah menempuh jalan terjal yang penuh persoalan, bahaya, ancaman, dan atau tantangan.

/6/
Pada masa sekarang dan lebih-lebih pada masa akan datang persoalan, bahaya, ancaman, dan atau tantangan terhadap manusia dan kemanusiaan semakin mengentarkan, bahkan mengerikan. Sekarang bukan hanya dehumanisasi dan robotisasi [mesin-isasi] manusia mengancam kehidupan manusia, melainkan juga kelangsungan dan keberlanjutan kehidupan manusia berada dalam bahaya, ancaman, dan atau tantangan luar biasa.

Tragedi kemanusiaan yang menggentarkan manusia makin masif terjadi di berbagai belahan dunia, misalnya di Semenanjung Balkan, Timur Tengah, dan bahkan di beberapa daerah negeri kita. Kejahatan kemanusiaan juga makin kerap menampar hati manusia. Pada satu sisi hal tersebut disebabkan oleh keterbelakangan hidup manusia, kebodohan akal manusia, kesempitan pikiran manusia, dan ketertutupan nurani manusia. Namun pada sisi lain hal tersebut diakibatkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi yang dicapai oleh manusia dan hasrat homo homini lupus manusia.

Tidak mengherankan, sekarang kemanusiaan dalam bahaya, ancaman, dan tantangan sehingga diperlukan pembelaan dan perlindungan kemanusiaan pada satu sisi dan pada sisi lain diperlukan pengembangan kemanusiaan. Menurut Hardiman (2012), kini saatnya manusia membela kembali kemanusiaan. Kata Gus Gur (2013), manusia harus terus-menerus memperjuangkan terwujudnya kemanusiaan yang diidamkan karena kemanusiaan merupakan manifestasi ketuhanan. Dengan demikian, demi kelangsungan dan keberlanjutan manusia di dunia, sekarang perlu dilakukan penyelematan kemanusiaan.

/7/
Penyelamatan, pemihakan, pembelaan, dan perjuangan terhadap kemanusiaan tersebut perlu dilakukan dengan cara melindungi, menjaga, menyebarluaskan, menyuburkan, dan membatinkan nilai-nilai kemanusiaan universal kepada manusia termasuk bangsa Indonesia semenjak dini. Semua lapangan kehidupan manusia menjadi ruang atau arena bersama bagi penyebarluasan dan penumbuhsuburan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dalam hubungan ini lapangan pendidikan [termasuk di dalamnya pengjaran, pemelajaran, dan pembelajaran] menjadi ruang atau arena sangat penting bagi penyebarluasan, penyuburan, dan pembatinan nilai-nilai kemanusiaan. Ini supaya manusia menjadi manusia, tidak terperosok menjadi binatang, benda, dan atau robot teknologis [tetap menyandang sifat-sifat manusia, bukan kebinatangan dan kebendaan].

Untuk itu, pendidikan (termasuk pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran) perlu difokuskan dan ditujukan sebagai proses pemanusiaan, tindakan pemanusiaan. Pendidikan sebagai proses dan tindakan pembebasan manusia dari sifat-sifat bukan manusia; pendidikan sebagai proses dan tindakan penyadaran akan kemanusiaan.

Di situlah perlu dikembangkan pendidikan bertujuan atau bersasaran nilai-nilai kemanusiaan. Boleh saja dilabeli pendidikan humanistik, pendidikan humanistik-spiritual, pendidikan humanistik-transendental, pendidikan humanistik-sekular, pendidikan transhumanistik, dan atau pendidikan posthumanistik.

/8/
Pendidikan bertujuan nilai-nilai kemanusiaan berarti pendidikan yang berhaluan martabat, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan manusia. Pendidikan yang bersasaran terciptanya manusia bermartabat, luhur, mulia, dan agung; proses pendidikan yang menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai sumbu atau poros proses pembelajaran, pengajaran, dan pemelajaran. Proses pendidikan yang sanggup menyingkirkan hal-hal yang memerosotkan dan menghancurkan kemanusiaan.

Sudahkah pendidikan kita menjadi pendidikan bertujuan nilai-nilai kemanusiaan dan berhaluan kemanusiaan demikian? Komersialisasi, robotisasi, komodifikasi, MacDonaldisasi, dan bermacam-macam bentuk dehumanisasi [pendangkalan atau bahkan penghancuran makna manusia dan kemanusiaan] sekarang sedang terjadi; paling tidak mengepung proses pendidikan nasional kita. Demikian juga moralisasi berlebih-lebihan proses pendidikan nasional kita telah menimbulkan regimentasi dan segregasi [pereziman dan penyekatan] manusia Indonesia dan kemanusiaan universal.

Oleh karena itu, sekarang sudah saatnya pendidikan nasional difokuskan kembali pada pendidikan bertujuan nilai-nilai kemanusiaan universal. Hal ini dimaksudkan supaya pendidikan nasional kita memiliki kontribusi penting bagi penyelamatan kemanusiaan pada satu sisi dan pada sisi lain mewujudkan manusia Indonesia berkemanusiaan universal.

Untuk itu, pendidikan harus dijadikan taman atau kebun pembibitan, penyemaian, penumbuhan, dan penyuburan kemanusiaan. Proses dan tindakan pendidikan harus menjadi usaha-usaha penyemaian dan penumbuhsuburan tunas-tunas kemanusiaan agar membuahkan sosok manusia yang kita idamkan.

Pendidikan [baca: pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran] di jenjang pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, bahkan pendidikan tinggi sangat strategis sebagai taman atau kebun pembibitan, penyemaian, penumbuhan, dan penyuburan kemanusiaan universal. Dengan begitu para peserta didik menjadi manusia-manusia bermartabat, luhur, mulia, dan agung yang sanggup menjunjung kemanusiaan dan menghormati manusia pada satu pihak dan pada pihak lain mampu menjadikan kemanusiaan universal sebagai pemandu dan penjaga kehidupan bersama.

Di situlah pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran dapat menjadi tempat persemaian nilai-nilai kemanusiaan pada satu pihak dan pada pihak lain dapat menjadi proses penyemaian nilai-nilai kemanusiaan sehingga peserta didik memiliki martabat dan keagungan sebagai manusia. Untuk itu, penting dikembangkan pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran berparadigma nilai-nilai kemanusiaan universal.

/9/
Pengembangan pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran berparadigma nilai-nilai kemanusiaan universal dapat ditempuh dengan 2 [dua] cara atau strategi. Pertama, dengan strategi integrasi dan sinergi nilai-nilai kemanusiaan dalam pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran seturut dengan kurikulum yang sedang berlaku baik di jenjang pendidikan dasar menengah maupun jenjang pendidikan tinggi. Hal tersebut dapat dilakukan secara multidisipliner, transdisipliner, dan interdisipliner.

Dalam konteks ini diperlukan reorientasi, reposisi, dan refokus pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran. Dikatakan demikian karena pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran sekarang kurang jelas orientasi dan posisinya: sebagai wahana pembentukan karakter-moral bangsa, pembentukan sikap keilmuan [ilmiah] atau pembentukan kemampuan berbahasa-bersastra semata?

Kedua, dengan strategi redesain, reformulasi, dan restrukturisasi profil pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran. Menurut hemat saya, desain, formula, dan struktur profil pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran sekarang kurang menguntungkan untuk menyemaikan nilai kemanusiaan universal karena terbelenggu, terkerangkeng atau terhegemoni ambisi membentuk karakter-moral anak-anak bangsa pada satu sisi. Pada sisi lain hasrat membentuk insan ilmiah [yang desain dan modelnya kurang kokoh]. Kompetensi-kompetensi [baik kompetensi inti maupun kompetensi dasar] yang diidolakan dan dirancang oleh berbagai pihak sekarang kurang memihak dan memberi ruang atau arena leluasa bagi proses-tindakan pemanusiaan atau penyemaian manusia-kemanusiaan.

Komponen pengajaran, pemelajaran, dan atau pembelajaran di berbagai pendidikan, misalnya ekologi dan ekosistem belajar, lingkungan dan atmosfer belajar, metode dan strategi belajar, dan bahan ajar, masih kurang mendukung terbentuknya ruang atau taman persemaian nilai kemanusiaan universal. Demikian juga berbagai model pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran tidak leluasa untuk menyemaikan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Di antara dua strategi tersebut, strategi integrasi dan sinergi nilai kemanusiaan lebih mudah dilakukan oleh pelaksana kebijakan pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran . Strategi redesain dan reformulasi pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran lebih sulit dilakukan karena mengharuskan penyusunan ulang kebijakan pendidikan. Terlepas dari strategi mana yang menjadi pilihan, agar mampu menjadi tempat atau taman persemaian nilai-nilai kemanusiaan, pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran dijauhkan dari komodifikasi, MacDonaldinasasi, robotisasi, hegemoni, dan formalisme berlebihan dalam proses pendidikan.

Pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran perlu dijadikan lebih rekreatif, imajinatif, dan inspiratif agar peserta didik mampu melakukan refleksi, kontemplasi, dan sublimasi nilai-nilai kemanusiaan, yang selanjutnya sanggup membatinkan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri dan hidup peserta didik di dalam masyarakat. Pembelajaran rekreatif, imajinatif, dan inspiratif niscaya mampu menyemaikan nilai kemanusiaan universal karena peserta didik berkesempatan melakukan pembatinan dan penjiwaan nilai kemanusiaan yang terepresentasi dalam proses dan tindakan pendidikan.

Sudahkah pengajaran, pemelajaran, dan pembelajaran sekarang berlangsung rekreatif, imajinatif, dan inspiratif? Tampaknya, dimensi rekreatif, imajinatif, dan inspiratif sekarang belum memperoleh tempat utama di panggung pendidikan nasional Indonesia. Moga-moga salah.

#ndlemingmalam, HLM 6/3/2020

____________________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *