Pasar dan Kritik Jurnalisme Sastra Indonesia

Dennis Pamungkas

Ada sebuah perubahan besar, ada sebuah faktisitas dalam kehidupan sastra abad-20 yaitu terbentuknya pergeseran dari penulis ke pembaca. Asumsi yang melandasinya yaitu ketika logika ekonomi industrial masuk dalam mind-set pemikiran manusia saat ini, ketika semua dikakolasikan atas dasar keuntungan, kala kuasa penerbitlah suara bombastis karya kanon dibentuk. Saat bagaimana produsen memenuhi tuntutan pasar. Semua bergejolak mencari penghidupan yang layak diantara ketidaklayakan. Pergeseran penciptaan sastra dari penulis ke pembaca dimulai dengan sebuah tesis bahwa apabila tanpa pembaca, produk pengarang manapun tidak pernah akan bisa teraktualisasi menjadi karya sastra. Lalu apa yang terjadi sebenarnya didalam batok tengkorak kepala para pembaca kita? Tanpa daya prefentif, kita–pun akhirnya harus ikut dalam lakon yang berhujung pada keentahan. Kendati demikian, kita masih mencoba menerka-nerka jawaban diatas busuknya tumpukan bangkai sejarah.

Tendensi yang berkembang pada pembaca sastra kita ternyata cukup lantang menunjukan kebanalannya dengan memilih bacaan yang lebih ringan, tidak mendalam, populer dengan problemasi yang dekat dengan hidupnya sehari-hari1. Tak ayal pernyataan common people seolah berbahan dan berpola sama; “hidup itu sudah susah, buat apa harus dibikin susah”.

Sebuah indikasi yang terjadi yaitu gaya tutur ‘realis’ yang mengandalkan stuktur penulisan dengan ungkapan-ungkapan linguistik baku. Persoalan mengalir tanpa keberanian eksplorasi-imajinatif bahkan kebebasan dalam meninggalkan logika umum yang berlaku dalam hidup sehari-hari pun dikebiri, dipasung, dinafikan.

Permintaan pasar akan kebutuhan sastra rupanya telah bertabrakan dengan problematika hidup kesehariannya, dengan setiap kelelahan perjamnya dari tuntutan menjadi manusia modern, menjadi manusia ekonomi. Gambaran jurnalisme sastra yang tertuang melalui media majalah, koran dan buku harus pintar-pintar mensiasati kondisi pasar. Lorong gelap dalam bahasa ironi-pun belum cukup merong-rong kita sampai disitu. Sample masalah dapat kita jumpai dari jurnalisme sastra itu sendiri. Majalah Horison yang lahir dari dekade 80-an atau jebolan visioner sang Goenawan Muhammad dengan majalah Kalamnya, seakan-akan saat ini kolaps dan hilang pamor karena jarang dilirik apalagi dicolek oleh generasi kekinian kita. Sehingga niatan sebuah media, sebuah ruang tulis-kreatif untuk mempertemukan antara penulis dan pembaca, tinggallah kata manis belaka. Fungsi sebagai media yang menawarkan kehangatan intelektual seolah kehilangan daya pikat bagi sebagian kalangan.

Demikianlah pasar! Itulah masyarakat kita. Sebuah transformasi pasar era Romawi kuno menuju pasar skizofrenik2. Dimana dahulu pasar merupakan forum bagi Socrates yang memposisikan sebagai tempat uji sistem filsafatnya. Namun pasar yang merepresentasikan masyarakat kita adalah fondasi terminologi ‘post-modernism’– sebuah kata sakti, satu kata sandi, satu kata mati untuk merumuskan arus pemikiran manusia berikut produknya.
***

Gambaran yang membentuk jurnalisme sastra Indonesia yang melibatkan media majalah, Koran, dan buku tak terlepas juga dari problem yang mengikutinya, termasuk menjalankan proses legitimasi sastra. Praktis, ketika pergeseran dari penulis ke pembaca, jatuh pamor dan kandasnya majalah-majalah kebudayaan mau tak mau jurnalisme sastra harus berhadapan dengan perhitungan-perhitungan publik pembaca yang tidak bisa dipisahkan dari politik bisnis pers. Dengan merosotnya peranan majalah-majalah budaya, kini yang menjadi acuan tinggal media koranlah yang masih konsisten menyuguhkan karya sastra secara aktual. Namun yang menjadi refleksi bersama, diawali dengan mengajukan pertanyaan: cukupkah fungsi Koran dalam menjaga dinamika kehidupan sastra bagi, oleh dan untuk masyarakat kita?

Ada semacam anggapan yang berlaku bahwa media massa yang berbudaya adalah media yang mau menyediakan ruang untuk rublik budaya. Perkembangan industri pers yang berlangsung dalam masyarakat, kapitalisme pers, membuat mereka harus memperlakukan dirinya sebagai kekuatan budaya, pusat kebudayaan, menjalankan dengan aktif politik pemaknaan. Berita bisa menjadi suatu permainan politik?.

Walhasil media massa Koran yang ruangnya lebih terbatas menjadi sebuah kendala tersendiri. Dengan keterbatasan ruang spasial, rublik humaniora harus berbagi tempat dengan sekian banyak informasi dan kolom. Ia bersanding dengan berita-berita di dalam ranah keterukuran positivistik seperti kriminal, politik, ekonomi, bahkan gosip sekalipun. Sehingga spesifikasi isi dari rublik budaya-pun harus diabaikan demi sasaran publik yang bersifat umum yaitu masyarakat yang lebih luas. Karakteristik penulisan-pun lebih stero-type ala jurnalis yakni dengan bahasa umum dan jelas, aktual serta dapat dipahami pembaca umum. Hal ini dapat teridentifikasi melalu piranti naratif atau gaya tutur yang melulu dialektis.

Gema legitimasi sastra pun perlahan mulai menampakan diri. Dalam cerpen koran misalnya, dimana cerpen sebagai salah satu genre sastra, semestinya penuh dengan dirinya dan tidak mengabdi pada ‘tuan’ diluar hakekatnya sebagai fiksi, yaitu kala menjadi penutur realitas faktual4, atas dasar mengikuti selera pembaca yang memilih bacaan yang lebih ringan dan populer itu. Bagaimana tema generik dalam cerpen kita kian kehilangan kesempatan untuk menjadikan dirinya sebagai genre yang layak diperhitungkan sebagai bentuk teks sastra yang memiliki otensitas penuh dan unik sebagai ‘bangunan’ yang memberikan kelimpahan makna. Begitulah yang memang kita idealkan mengenai peran cerpen sebagai sebuah genre sastra. Namun pada kenyataannya bibir kita berpagut dengan pasal karena sifatnya sastra koran, cerpen dipandang tidak terlalu kuat dalam hal mutu literernya. Dari gaya penulisan cerpen pun harus terbentur pada patron-patron mapan, tidak ada peluang bagi keberagaman, baik dari segi tema, gaya penuturan maupun para penyumbang karya. Lalu masih layakkah jurnalisme sastra melalui media koran menjadi barometer yang komprensif sebagai pengakuan bertaraf nasional? Dengan demikian kita pantas menyesalkan bila sastra koran menjadi sample utama dalam memandang citra sastra Indonesia.
***

Setelah mencermati potensi legitimasi yang mengkristal dalam jurnalisme sastra khususnya dalam koran, bagaimana pula dengan penempatan hari rubrik humaniora?

Ada semacam ‘kesepakatan bersama’, seolah ada ‘konvensi berskala nasional’ ; hampir tiap koran menempatkan rubrik humaniora di hari minggu—hari libur. Hari dimana aktifitas kerja lineal berhenti, hari saat bersantai keluarga, sebuah hari yang memungkinkan orang lebih memiliki kesempatan dengan kesibukan pribadinya diluar rutinitas kerja. Singkatnya, hari ahad menjadi hari yang dinanti sebagai pelepas penat dari sekian banyak tuntutan menjadi manusia ekonomi.

Tendensi pukul rata dalam penempatan hari minggu rubrik kebudayaan seolah membawa kita pada satu konklusi. Dengan cara pembacaan seperti ini, seakan-akan bacaan sastra hanya cocok untuk disantap di hari minggu, di hari senggang, hari yang terlepas dari institusi kerja. Sastra adalah sebuah rubrik yang dipisahkan dari hari-hari resmi, lewat penempatan seperti ini, sastra rupanya diapresiasikan oleh masyarakat kita bukan sebuah bacaan yang bisa berdetak setiap hari. Para legislator jurnalisme telah memasukan agenda khusus sebuah liburan massal. Suatu teks sepele di hari yang minor. Sebuah teks rekreasi, sebuah perjalanan piknik literer.

Jelas apabila daya imperatif-implisit yang sedang dijalankan; familiarisasi sastra terhadap keluarga seolah berhasil melekat yakni bacaan sastra adalah konsumsi ringan pengisi waktu, kala santai, saat senggang—tempat mencairkan kepenatan. Adalah kelahiran tragedi, sastra telah mengalami lokalisasi kondisi pembaca lewat jurnalisme sastra.
***

Lontaran isu-isu negatif yang mengendap di dalam tulisan ini pada dasarnya bukanlah barang baru. Sejak terminologi ‘pop’ merambah sektor-sektor kehidupan kita, realitas umat manusia sekadar menjadi objek konsumsi paket-paket hiburan ke-tekstur-an. Kebudayaan pop dalam ruang fiksi berpola sama layaknya mesin-mesin pemutar dadu untuk menciptakan nasib dan keberuntungan—siapa yang tampak bermakna dengan taburan penyusunan kata yang di intelektualisasikan, ia telah menggenggam khalayak di tangan kanannya. Sementara itu, politik pers melihat celah ekonomi disana, dalam hitungan bulan, karya dicetak ulang, penambahan instrumental font yang menarik mata diselipkan dicover depan buku, bertuliskan “Best Seller”.

Demikianlah, ungkapan “best seller”, kiranya adalah sebuah petanda politik pers yang berkiblat pada pembaca. Kuasa penerbitlah karya kanon dibentuk. Entah apakah karya tersebut cukup komprensif sebagai patokan dalam memandang cerminan sastra Indonesia. Laskar Pelangi karya Andrea Hirata misalnya, di luar tema pendidikannya itu, eksistensi kepenulisan dan latar belakang sastranya masih harus dipertanyakan. Masyarakat kita telah terbius oleh pandangan praktis dan logika kesederhanaan. Memang tidak ada yang salah pada karya Hirata itu, tapi ada yang cacat di dalam pemikiran masyarakat kita
***

Dari awal sampai akhir tulisan yang banyak mengendapkan gugatan ini, pada dasarnya bersentuhan terhadap kehidupan kritik jurnalisme sastra kita. Diakui atau tidak selama ini kritik dikuasai oleh oknum-oknum tertentu. Apakah kritik sastra dipegang dan dinilai oleh nama-nama legislator sastrawi di negeri ini, sebuah pengesahan estetis dari otoritas estetis5 yaitu kritik muncul tak heran dari para penulis lama dibidang sastra itu sendiri. Dimana mereka para legislator yang nota-benenya penulis juga menerapkan rumusan kreteria estetiknya sesuai dengan praktik literernya sendiri. Padahal yang juga memiliki otoritas dan kewajiban melakukan kritik yaitu kalangan akademisi dan lembaga sastra.

Kendati kemungkinan dan keterlibatan kaum pembaharu di lajur kritik sastra terlanjur tidak mampu mengatasi keselarasan dengan oknum-oknum mapan, kiranya hal ini dapat dipandang sebagai salah satu penyumbang varian bagaimana agar dua kubu dengan peran dan caranya masing-masing ikut serta dalam rangka mengangkat perwajahan sastra Indonesia disela-sela sekian banyak bermutasinya kematian tanda dan diantara carut-marutnya kehidupan sosial-politik yang tidak menentu.

1 April 2008

Catatan-catatan:

1.Dalam pengantar Antologi Cerpen Kompas Terpilih interval tahun 1980-1990, Radar Panca Dahana, memuat table perhitungan jumlah problemasi cerita yaitu yang tertinggi berada pada masalah Modernitas, jumlah seting tertinggi belokasi di Kota, jumlah subjek cerita tertinggi berada pada subjek cerita orang Dewasa (hasil dari perhitungan sebanyak 55 buah cerpen terpilih). Lihat Radhar Panca Dahana, pengantar dalam Riwayat Negeri yang Haru, Cerpen Kompas terpilih;Negeri Haru dan Pengarang Bertopi Biru, Jakarta, Kompas, 2006: XX

2. Dalam estetika postmodernism, skizofrenia mengacu hanya sebagai metafora. Kekacauan pertandaan dan terputusnya dialog antara elemen-elemen dalam karya sehingga makna sulit ditafsirkan. Sementara dalam bahasa posmo, bahasa dihasilkan dari persimpang-siuran penanda, gaya dan ungkapan dalam suatu karya, yang menghasilkan makna-makna kontradiktif, ambigu, terpecah atau samar-samar.

3. Lihat Afrizal Malna, Sesuatu Indonesia: Kita, Puisi Dalam Jurnalisme Sastra, Yogyakarta: Bentang Budaya, 2000

4. Saya mencoba menempatkan arus sastra surealis sebagi bentuk subversi terhadap arus sastra realis. Menurut aliran sastra realis pokok sastra seharusnya menjadi potret situasi hidup sosial dan politik masyarakat. Padahal sastra semestinya tidak sekadar mimesis semata, namun juga creation, dinama arus sastra surealistik, intelektualis yang menekankan peranan proses kreatif dan eksplorasi. Ia berpretensi mau mengembalikan ke sumbernya, yaitu pada kehidupan dengan pengalaman manusiawi didalamnya yang tidak dikotori oleh ideologisasi dan politisasi sastra. Lihat juga Mudji Sutrisno, Oase Estetis: Sastra Dan Masyarakat (Politik), Yogyakarta, Kanisius : 169

5. Lihat esai Bambang Agung, Jurnal Cerpen Indonesia: Cerpen Pilihan kompas Dan Persoalan Koran Kita, Logung Pustaka: 111

https://portalcendekia.wordpress.com/2010/01/28/pasar-dan-kritik-jurnalisme-sastra-indonesia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *