Sajak-Sajak Nurul Komariyah

PENEBAR ILMU

Lentera kecil nan terang,
pelik cahayanya menyebar
di tengah semak jauh terlihat,
di bukit tertinggi samar terbaca
lintasan rasa, haus ilmu hikmah.

Sampai benih tumbuh kasih
sampailah janji pasti ditepati,
oh… sang penebar budi pekerti.

Tanpa lelah bimbing para insan
tanpa upah relakan itu semua,
ikhlas berbudi luhur pastinya.

Nyali kuat tak pernah luntur
menebar hikmah menuai hasil,
genggam dunia wahai para insan,
kuasai hari-hari, raih indah mimpi.

Terima kasih sang penebar kearifan
bakti sujudku tiada lebih keikhlasan.

RONA CINTA

Sajak-sajak asmara beradu kasih
menyapa alunan rindu mendayu.

Akankah kisah kasihnya bersatu?
hanyalah waktu, mampu menjawab.

Sesak, sesal, nestapa menyambutnya,
penat, sendiri, sepi seringnya dijumpa,
akankah, bisakah, mungkinkah, semoga;
bebutiran do’a senantiasa berbisik mesra.

Alunan puisinya indah menyapa
kesturi semerbak tebarkan aroma
bergelayut manis di pelupuk mata
wahai Arjunaku, bidadara surgaku.

Sambutlah lentik jemariku
genggamlah erat tanganku,
ajari aku pandangan lurus
: menggapai yang dirindu.

Sukodadi, 06/10/18

PIJAR ASMARA

Bisik mesra biasa saja,
kata cinta mudah terucap
janji setia di bibir merekah
rencana bagai fatamorgana.

Pijar asmara merangkai makna
kata-kata mutiara terurai sudah
puitisnya cinta terus menyapa
melangkah tanpa direncana.

Getar-getaran nada irama syahdu
terlontar selendang dilihat samar
temaram tak bisa dibayangkan,
tapi perasaan terus menyatakan.

Pijar asmara kapan bertumbuh?
Kenapa ada, dan berkembang?
Kenapa tak hilang menerawang?
Ayolah memaknai, wahai pujaan.

Sukodadi, 06/10/18

EGOIS PUITIS

Jauh rindu dekat beradu
mendekat lalu bercumbu
marah, benci, selalu tiba,
tak bisa elak menghindar
: pujian, cacian, hinaan
tapi semakin disayang.

Jauh debat dekat gulat
dekat gulat lalu sekarat,
sulit dilihat, dirasai serta
serasa hati selalu adanya,
bukanlah harta tetapi cinta.

Siapakah yang meluluhkanku?
Dan aku menghentak karenamu.

Keindahan meradang tiada daya,
ikatan kepastian entahlah kapan,
bak gending asmara sayu merayu.

Bukan, bukanlah rayuan, egois-puitis…
cepat-cepatlah, satu-menyatukan tubuh.

Sukodadi, 07/10/18

SUNYI SEPI

Gelayut sepoi alunan sunyi
tidak bertuan tiada bertepi
sua hati tak berpenghuni,
ajak diri kekalkan sunyi.

Akankah tumbuh bersemi,
selimutlah sunyi sepi bunyi,
alam berdendang sendu melodi
semampu lama seindah permai.

Sang bayu temani malam sunyi,
rembulan temani malam sepi ini.

Adilkah aku terlahir sendiri
adilkah aku tak bertuan diri?

Sekuat menyanggupi malam ini
dalam mata terlelap, ada mimpi.

___________________________
*) Nurul Komariyah, S.Pd., lahir 22 September 1985, beralamat di Dusun Bagel, Sumberagung, Sukodadi, Lamongan. Mengajar di SDN Sumberaji, Sukodadi. Kini sedang menunggu jadwal wisuda Strata Dua di UT Surabaya. Aktif menulis buku harian, puisi, dan pantun, sejak di bangku SD, dan beranjak SMP gemar mengisi majalah dinding. Sewaktu SMA dan kuliah, menulis di beberapa jurnal, tabloid, majalah sekolah, dan kampus. Bergabung di komunitas: FLP, FP2L, Literacy Institute Lamongan. Antologi puisi tunggalnya “Dentingan Bulan,” Penerbit PUstaka puJAngga dengan Pustaka Ilalang, 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *