DAN SEGALA YANG TAK HARUS

Taufiq Wr. Hidayat *

Kisah mashur Iwan Simatupang menghadirkan tafsir yang berkepanjangan digali. Ia mengisahkan seorang perempuan yang menanti. Menanti dalam absurditas waktu. Cerita “Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu” (Majalah Sastra 1/7 1961), menampilkan seorang suami yang pamit sama istrinya untuk sekadar beli rokok pada sebuah warung. Suami tersebut mengatakan pada istrinya supaya menunggu di pojok jalan itu.

Sejak itu, ia tak pernah kembali lagi pada istrinya yang menunggu di pojok jalan. Hilang. Lenyap. 10 tahun lamanya. Lalu 10 tahun berlalu sejak kepergiannya yang hanya sekadar beli rokok, sang suami dalam Iwan Simatupang, kembali datang ke pojok jalan, mendatangi istrinya. Takjub! Sang istri tetap menanti seperti saat ia ditinggalkan 10 tahun yang lampau. Ia tetap di pojok jalan itu sepuluh tahun lamanya! Benarkah itu bernama kesetiaan? Si suami dalam Iwan Simatupang, mencium aroma lain di tubuh istrinya. Aroma minyak wangi dari tubuh istrinya itu bukan aroma minyak wangi yang sering ia diberikan kepadanya dulu. Tapi ini tetap perempuan yang sama. Hanya saja dengan minyak wangi yang berbeda.

Suami-istri yang terpisah 10 tahun itu melepaskan rindu. Dan masih saja seperti dulu. Tatkala si suami mengajak tidur istrinya yang telah ditinggalkannya 10 tahun tanpa secuil pun kabar itu, dengan lembut namun tegas, perempuan itu memasang tarif! Dia bukan lagi “tubuh gratis” bagi si suami yang baru datang setelah 10 tahun yang tak tentu rimbanya. Kepada siapa pun laki-laki, ia jatuh cinta, butuh perhatian, menciptakan rasa iba, dan menerbitkan sikap tak tega. Seorang laki-laki yang dulu suaminya itu salah duga. Perhatian si perempuan padanya, bukanlah perhatian cinta dan sikap baik pada orang yang butuh pertolongan. Itu wajar saja, dikatakan dan dilakukan pada semua laki-laki. Seorang laki-laki berduit barangkali merasa dirinya dicintai dan disayangi perempuan malam itu karena dipanggil “mas”. Padahal semua laki-laki berduit memang dipanggil “mas”. Sosok “papa malam” atau orang yang tiba-tiba berduit lantaran jadi tangan kanan bos, dan “bos malam” itu, selalu saja merasa membeli perempuan malam, menyelipkan selembar atau berlembar-lembar rasa iba dan perasaan tidak tega pada belahan dadanya yang agung dan ranum. “Papa-papa malam” yang ramah, gemar digoda pakai kata-kata indah: “rembulan bersinar indah sekali, sayang,” katanya. Yang jelas ini tak tertera dalam cerita pendek Iwan Simatupang, melainkan Iwan Simatupang telah merangsang munculnya narasi-narasi lanjutan dalam imajinasi pembacanya.

Dalam Iwan Simatupang “Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu”, agaknya kesetiaan tak lebih cuma omong kosong. Kesetiaan yang tak dirawat tanggungjawab terhadap kehidupan, hanya pengandaian yang absurd. Atas alasan itulah kiranya, sang istri dalam cerita Iwan tak dapat dikutuk sebagai pengkhianat, bukan? Ia hanya hidup secara wajar. Apakah hidupnya itu dianggap baik atau buruk, tak perlu penghakiman di situ, lantaran ia menjalani hidupnya yang ditinggalkan. Segalanya tak selalu harus atasnama cinta dan kesetiaan, bukan? Lantaran cinta dan kesetiaan itu—kata orang, hanya mungkin nyata jika dihidupkan dengan kekokohan pilihan, tanggungjawab kemanusiaan, dan kejujuran. Pengkhianatan itu akan menjadi hantu yang terus menakuti hidup seseorang, karena ke mana pun sembunyi, ia akan terus menerus kepergok dengan dirinya sendiri.

Danny Boyle menerbitkan film “Millions” (2004). Mengisahkan dua orang tokoh kecil, yang tiba-tiba secara ajaib menemukan setumpuk uang melimpah bermilyar banyaknya. Mereka berunding. Terjadi pertengkaran kecil mengenai bagaimana menggunakan uang tersebut. Tapi keduanya sepakat untuk tidak memberitahu siapa saja tentang uang yang telah ditemukan. Keduanya berunding keras. Satunya ingin menggunakan uang temuan itu sebagai kekayaan, sebuah pikiran rasional. Satunya mengatakan, itu uang Tuhan buat orang miskin dan tak berdaya. Boyle mengolah psikologi dan emosi pemain-pemain kecil itu dengan jenius, tak berlebihan. Filmaker Inggris yang cemerlang ini mengolah aliran cerita tentang bagaimana uang sebanyak itu dibelanjakan dari pikiran dan ide dua orang anak kecil yang belum 10 tahun. Hingga keduanya perlahan mengerti dengan keluguan usianya, bergerak dan bekerja buat apa sesungguhnya dunia ini. Keduanya tetap berpegangan pada nurani, supaya bagaimana dan seperti apa dunia melanjutkan perputarannya, tak menjerumuskan dan menipu. Memang manusia butuh baju untuk menutup tubuhnya, roti pengisi perutnya, dan tempat tinggal yang layak. Baru setelah itu, ia dapat berenang dalam politik, filsafat, dan agama. Ujar Lenin. Tapi barangkali di hadapan pikiran-pikiran kecil dalam film ini, sabda Lenin menjadi keliru.

WS. Rendra mendesahkan dalam “Maskumambang”-nya yang mashur itu. Katanya:
… … ..
Jiwaku menyanyikan lagu maskumambang
kami adalah angkatan pongah
besar pasak dari tiang.

Kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan,
karena kami tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa lalu
dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini
maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan

Cucu-cucuku
negara terlanda gelombang zaman edan
cita-cita kebajikan terhempas batu
lesu dipangku batu
tetapi aku keras bertahan
mendekap akal sehat dan suara jiwa
biarpun tercampak di selokan zaman
… … .

Segalanya menjadi tidak harus, sebagaimana segalanya pun menjadi harus. Manusia barangkali memang berada pada salah satu dari keduanya. Segalanya menjadi harus. Atau segalanya menjadi tak harus. Hingga ia menyadari, bahwa pada suatu keadaan tertentu, dunia ternyata bekerja dengan caranya sendiri. Namun konon, akal sehat dan suara jiwa, tulis WS. Rendra dalam “Maskumambang”-nya itu, yang menjadi yang harus selalu kokoh didekap. Jangan sampai lepas. Katanya.

Sobo, 2020

_____________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *