DENGKUR KIAI SUTARA


Taufiq Wr. Hidayat *

Lama tak sowan ke ndalem Kiai Sutara. Siang itu, saya sowan. Duduk di kursi rumahnya yang kuno. Eternit rumahnya jebol. Tembok rumahnya mengelupas di sana-sini. Pintunya bolong-bolong diserang rayap. Punakawan di dinding ruang tamu. Lampu kuno. Songkok hitam. Andai kiai ini tertarik pada popularitas, rumahnya tak akan segenting itu. Beliau kiai yang mencintai ilmu. Rumahnya penuh kitab dan buku-buku. Pertimbangannya matang dan jeli, meski usianya sudah hampir seabad. Perokok berat. Pecandu kopi pahit. Dan gemar bercanda.

Kiai Sutara selalu suka sendiri. Tak banyak orang bisa mengikuti ketekunan hidupnya. Bicaranya ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling. Tidak keberatan dibantah dan diajak berdebat perihal keilmuan. Tapi jika pengetahuan santri seperti saya ini, masih nanggung, tak akan coba-coba berdebat dengan Kiai Sutara. Karena jika beliau meminta pertanggungjawaban keilmuan, lalu saya sebagai santrinya tak sanggup, ia akan menghukum saya makan rumput mentah-mentah. Beliau selalu menganggap santrinya yang tak menguasai suatu ilmu yang telah diajarkan mirip kambing. Kalau tidak mau makan rumput, beliau akan melemparkan sandal, mengusir santrinya pulang, dan disuruh kembali lagi kalau sudah belajar jadi manusia. Susah memang. Lebih baik Anda tidak perlu berguru sama Kiai Sutara. Lupakan saja dia.

Di tengah ribut-ribut dunia menghadapi wabah penyakit, siang itu saya sowan ke rumah Kiai Sutara yang sederhana. Melihat keadaan rumahnya yang genting, saya bilang: “Kenapa Kiai tidak mau kaya? Datang ke mimbar-mimbar, ceramah, atau di-YouTube-kan. Kasih apalah orang-orang yang percaya sama Kiai, kemudian Kiai bisa minta imbalan. Mereka pasti mau.”

“Goblok! Siapa tidak mau banyak duit? Saya juga mau! Tapi tidak begitu caranya. Itu ‘kan caramu. Bisamu hanya menipu! Kaya harta itu pilihan. Dan saya punya pilihan sendiri. Ukuran manusia bukan pada benda-benda. Tapi pada kualitas kemanusiaannya. Kalau manusia diukur benda-benda, maka orang akan senang kepadamu karena duitmu. Perempuan-perempuan malam kau beli, atau kau jadikan perempuan simpanan. Mereka mau karena melihat duitmu. Bukannya mengentaskan mereka, malah kau beli. Andai tak ada duit di sakumu, mereka akan muntah melihat potonganmu yang kayak monyet. Itulah tingkah keji orang yang merasa bisa membeli segala-galanya.”

Kiai Sutara mengepulkan asap rokoknya yang tebal dalam ruang. Saya tertunduk. Kiai ini memang cespleng. Tapi baik hati. Pengalaman hidupnya tak main-main. Beliau bukan sosok yang hanya besar di pesantren. Beliau juga dibesarkan di jalanan. Sehingga tak cengeng menghadapi kenyataan. Beliau hafal betul tindak-tanduk manusia. Tak hanya ahli tafsir Qur’an dan kitab-kitab klasik, juga seorang yang gila filsafat timur dan barat. Memainkan gitar. Mendengarkan musik-musik klasik, dan penggemar film.

“Baik, Kiai. Tapi menurut Kiai, apakah saya tidak boleh kaya?” kata saya.

Kiai Sutara selalu pandai memberi peluang bertanya atau membantah pada santrinya. Kiai Sutara mereguk kopinya yang pahit. Menyedot rokoknya dalam-dalam. Menghembuskan asap tebal.

“Kenapa tidak? Kaya harta itu bagus. Memburu dunia itu perlu. Yang harus kamu ingat, jangan tertipu harta dan jangan terpesona pada dunia. Orang yang tertipu harta, rendah hidupnya meski ia bukan orang yang kaya harta. Orang yang terpesona pada dunia itu melata kepribadiannya, meski ia bukan pemburu dunia. Sampai di sini, apa kamu paham?”

“Ampun, Kiai. Cukup paham.”

“Bagus! Kalau masih gak paham, berarti kepalamu yang perlu diserempet asbak!”

“Lantas bagaimana menjadi orang yang baik, Kiai?”

“Pertama; gak perlu sok suci ingin jadi orang baik. Jadilah orang yang bisa menghargai dirimu sendiri, orang dekatmu, gurumu, dan sesama manusia. Kedua; gak perlu sok suci untuk tampak baik. Tapi jadilah manusia yang mengerti tanggungjawabnya sebagai manusia, yang konsisten pada pilihan hidupnya, yang memegang teguh komitmen kemanusiaannya sekecil apa pun.”

Kiai Sutara memutar lagu dangdut. Sejenak ia bergoyang kepala, melupakan apa yang telah diucapkan barusan.

“Ingat, santriku yang bodoh. Manusia itu gampang berubah. Satu hal yang paling ampuh membuat manusia berubah adalah pencapaian kekayaan harta benda. Ia merasa lebih dari yang lain, tak mau bersama yang lain yang dianggapnya miskin dan tak sejalan dengan kemauannya. Kemudian lupa menghargai sesama makhluk Tuhan. Lupa bahwa kaya itu ada karena adanya yang melarat. Pelan-pelan ia akan sampai pada kehancuran, pelan-pelan atau lekas, dengan terasa atau tak terasa, rusak jiwanya atau rusak raganya.”

“Perhatikan, santriku yang tolol. Ini di atas meja ini ada asbak yang terbuat dari keramik, kalau sampai kena kepalamu, kira-kira yang pecah kepalamu atau asbak ini? Jawab!” Kiai Sutara menunjuk asbak di mejanya.

“Waduh! Ampun, Kiai. Jelas yang pecah kepala saya, Kiai,” jawab saya agak gugup.

“Bagus! Maka dengarkan. Jika ilmu tak menjadi perilaku, itu celaka. Banyak orang mengerti kesejatian, tapi tidak banyak orang memakai dan menjalani kesejatian. Sehingga ilmunya cuma ilmu “kakean cangkem” dan “kakean ruwet” bin ribet. Ia melihat semua orang tidak baik padanya, sehingga pikirannya cuma disibukkan dengan kewaspadaan dan kekhawatiran dijahati orang lain. Ia merasa semua orang yang mendekat atau dekat padanya akan menggerogotinya, sehingga yang ada dalam hatinya hanya benci atau tidak mudah cocok dengan siapa pun. Bukan orang lain yang buruk, tapi pengertiannya yang gak beres dalam mengenali dirinya sendiri. Jiwanya melarat. Tapi hidupnya mentereng. Mentalnya budak, meski statusnya seorang juragan.”

“Baik, Kiai.”

“Manusia itu, kata orang Jawa, ialah yang “nulung marang sasami”, apakah yang ditolongnya itu orang baik atau penipu, pemalas atau tidak. Yang menjadi ukurannya adalah tingkat kebutuhan sesamanya yang tak mampu dan tak berdaya. Ia menyimpan kedermawanan lahir-batin dan ketulusan. Bukan mau mengeluarkan hartanya, tapi demi mendapatkan imbalan lain atau keuntungan lain. Manusia yang bahagia itu lahir dari air mata dan harapan. Lapar ia tak soal asal yang lain kenyang dan bahagia. Ia bahagia ketika cukup melihat yang lain bahagia dengannya atau tanpanya. Bukan orang yang pilihan hidupnya kayak plastik, kena angin ke barat, mabur ke barat. Kena angin ke utara, mabur ke utara. Hidupnya cuma mobar-mabur gak jelas! Bukan manusia yang melihat semut sebesar gajah, dan melihat gajah seukuran virus. Orang yang membenci orang lain, pertanda sesungguhnya ia tak bisa mengendalikan dan mengarifi dirinya sendiri. Pikirannya cabul. Dan pandangannya dangkal.”

“Yang berat, perlakukan secara tepat sesuai bobotnya. Yang ringan, perlakukan pula dengan benar sesuai ukurannya. Itulah sifat Ilahi yang mesti diteladani orang yang ngaku beriman. Tuhan menentukan kadar tiap sesuatu, itu yang disebut “qodar”, kalian namai takdir. Cermat dan pas! Setiap kadar ketetapan-Nya tak pernah berdusta dan ingkar janji, tak meleset, tidak kebesaran atau kekecilan. Pas!”

“Bagaimana Kiai melihat wabah di dunia ini?”

“Penyakit itu alami. Wabah pun alami. Sepanjang sejarah, manusia selalu menghadapi wabah. Yang tak wajar adalah sikapmu menghadapinya, sehingga melupakan akal sehat. Dalam kitab kuno dikisahkan sebuah kisah fiksi, ada segerombolan wabah hendak menyerang sebuah negeri. Di tengah jalan, gerombolan wabah itu dicegat seorang kekasih Tuhan. Mau ke mana? Tanya kekasih Tuhan itu. Mau menyerang negeri itu dengan wabah. Jawab juru bicara gerombolan wabah tersebut. Berapa orang yang akan kau jadikan korban? Tanya si kekasih Tuhan. Target kami cukup seratus orang, itu pun yang sudah tua-tua atau yang berpenyakitan. Jawab Jubir dari gerombolan wabah.”

“Setahun kemudian, negeri yang diserang wabah itu berjatuhan korban jiwa. Selesailah tugas gerombolan wabah. Mereka pun pulang ke asalnya. Di jalan, gerombolan wabah tadi kembali ketemu dengan sang kekasih Tuhan. Bagaimana pekerjaan kalian di negeri itu? Tanya kekasih Tuhan. Kami menjangkiti seratus orang. Jawab Jubir gerombolan wabah. Berapa yang mati? Tanya kekasih Tuhan. Seribu orang mati. Jawab Jubir wabah. Kenapa sebanyak itu, bukankah target kalian hanya seratus orang yang memang berpenyakit dan yang sudah sangat tua umurnya? Tanya si kekasih Tuhan. Jubir gerombolan wabah menjawab: seratus orang terjangkit, seratus orang meninggal. Tapi yang sembilan ratus orang ikut meninggal bukan karena wabah penyakit, melainkan meninggal karena ketakutan dan kepanikan.”

“Jadi kita harus gimana, Kiai?” tanya saya.

“Jangan jadi budak. Jadilah tuan atas nasibmu sendiri. Berani. Dan selalu berhati-hati. Bukan hanya penyakit yang bisa menular, yang paling gampang menular selain penyakit itu ada dua. Pertama; miskin. Kemiskinan itu gampang menular, karena sengaja ditularkan oleh para penindas. Lihat negara-negara miskin di dunia ini. Lihat tetangga-tetangga orang kaya, pasti banyak yang miskin. Kemiskinan ada karena pemiskinan atau dimiskinkan. Wabah penyakit dan perang rawan menyebarkan wabah ikutannya, yakni perkara kesulitan ekonomi. Tapi orang pintar dan gigih dalam menjadi tuan bagi nasibnya dan keluarganya, akan jadi pemenang. Dan kedua yang juga sangat menular; bodoh. Kebodohan itu juga sangat mudah sekali menular. Kalau terlalu lama dekat sama kamu, saya pun bisa ketularan goblok kayak kamu! Hahaha!” jawab Kiai Sutara terbahak-bahak.

Beliau menaikkan volume pemutar lagunya sedikit. Lagu dangdut terdengar agak tegas. Kiai Sutara mendengarkan lagu dangdut itu sambil bersandar di kursinya. Sebentar kemudian beliau sudah tertidur pulas. Dan dengan mudah melupakan perbincangan siang itu. Lagu dangdut lawas mengalun syahdu mengiringi tidurnya yang tenteram. Dan beliau pun mendengkur dengan tenang.

Tembokrejo, 2020

_____________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *