Doctor Stephen Strange

Fatah Anshori *

Saat berbicara sihir, tentunya kita akan mengingat J.K Rowling dengan kisah-kisah fantasi dunia sihirnya, seperti yang kita tahu dalam Harry Potter atau Fantastic Beast and Where to Find Them. Saya sebenarnya kagum dengan keliaran imajinasi Rowling, dan itu seperti tonjokan pada diri saya: harus berapa banyak buku lagi yang saya baca, agar imajinasi di kepala ini tidak menyedihkan, kering dan barangkali terkesan biasa saja.

Dalam salah satu cerpen Sabda Armandio, saya pernah menjumpai ada sebuah nasehat yang terselip di sana, bahwa kita perlu perluas imajinasi dengan banyak baca. Kurang lebih semacam itu. Terkadang saya merasa ragu dengan diri sendiri, sejauh ini seolah masih belum apa-apa. Teknik menulis masih menyedihkan, pada akhirnya menyadari belum pantas tulisan ini, cerpen atau puisi saya dimuat media sekelas Jawa Pos apalagi Kompas yang merupakan Koran yang memiliki pembaca nasional. Namun entah kenapa ada satu keyakinan dalam diri untuk tak berhenti menulis, dan berharap suatu saat nanti, tulisan-tulisan saya entah itu puisi atau cerpen dimuat di Koran-koran nasional, barangkali ini hanya urusan waktu. Seperti itulah saya, orang naif dan kadang-kadang penakut, untuk menjadi naif.

Maaflah, terlalu banyak melipir kemana-mana, sampai-sampai curhat segala. Selanjutnya, izinkan membicarakan Doctor Strange. Sebagaimana kebanyakan film berkualitas lain, film ini dimulai dengan prolog yang memicu rasa penasaran penonton. Barangkali jika boleh saya ceritakan sedikit, prolog film superhero atau keluarga Marvel Film ini dibuka dengan sebuah ruang berkabut, gelap dan mulanya saya kira itu sebuah bangunan ala Yunani dengan tiang-tiang khas. Dari kegelapan berkabut itu, muncul tiga orang berjubah sedang berjalan pelan dengan wajah tertutup kupluk jubah. Tiga orang mendekati seseorang yang tengah menata buku. Itu adegan pencurian selembar dari buku tersebut.

Setelah selesai adegan yang memicu banyak pertanyaan, dengan seenaknya produser mengalihkan adegan selanjutnya ke suatu tempat yang benar-benar jauh berbeda dengan tempat di adegan perolog tadi sekaligus memberi adegan baru dengan tokoh baru pula yang seolah sama sekali tiada kesinambungan dengan adegan prolog pertama. Dan pada akhirnya dengan kejeniusan yang dimiliki sang pembuat film, kita mendapatkan apa yang sejak pertama dipertanyakan. Seolah plot ini tak dibuat dengan main-main dan telah dipetakan sejak awal. Tidak ada unsur spontanitas, atau semacamnya.

Doctor Strange merupakan salah satu film superhero serupa Thor, Iron Man, yang membedakan film ini mengambil latar belakang cerita dalam dunia sihir dan barangkali ilmu kedokteran. Tidak bisa dipungkiri jika pada cerita ini merupakan sebuah campuran kisah yang dijadikan satu, sebagaimana kata Eka Kurniawan. Dan pada akhirnya si tokoh utama selalu terbebani tugas menjaga keselamatan Bumi, seolah itu tugas satu-satunya yang selalu diemban oleh seorang superhero.

Film ini mulai menarik, ketika Stephen Strange, seorang dokter ahli saraf mengalami kecelakaan dengan mobil, itu sebuah kecelakaan hebat; membuat saraf di kedua tangannya rusak total, sehingga setelah dilakukan operasa, tangannya mengalami tremor yang tak bisa disembuhkan. Sebagaimana kebanyakan manusia, kita benar-benar tidak siap dengan apa yang namanya kehilangan. Di sini Doctor Strange benar-benar tidak ingin kehilangan kariernya sebagai dokter bedah saraf hanya karena tangannya benar-benar tidak bisa dikendalikan. Karena itulah, akhirnya ia terpicu mencari sebuah tempat beranama Kamar-Taj yang berada di Kathmandu, Nepal. Dari sanalah cerita inti dari Doctor Strange dimulai.

Keseluruhan cerita ini banyak mengandung kalimat-kalimat filosofis, dan mitologi-mitologi dari dunia sihir, seolah itu memang benar-benar nyata. Entah saya kurang tahu tentang kebenarannya. Namun sebagai penonton film ini, saya harus jujur dari awal hingga akhirnya merasa terhibur olehnya.

_______________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya terpublikasi di Website Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *