Kecanduan Buku


Djoko Saryono *

Terus terang, saya memang kecanduan buku. Sejak muda dulu. Tak sembuh juga sampai sekarang. Pasalnya, tak ada panti rehabilitasi atau klinik penyembuhan kecanduan buku. Begitu juga tak ada peringatan dan larangan hukum atau sosial. Tak ayal, kencanduan saya akan buku kian menjadi-jadi.

Mencandu narkoba, bisa berakhir di penjara. Mencandu rokok terus-menerus diteror harga dan ancaman betapa berbahaya bagi nyawa. Mencandu internet saja kerap dikritisi oleh banyak kalangan meskipun kita terus-terusan tiap waktu diiming-imingi dan didorong untuk selalu terhubung dengan internet. Akan tetapi (sengaja saya pakai pilihan kata ini hee hee), mencandu buku aman-aman saja walaupun kadang-kadang ada razia buku dari aparatus negara atau ormas alergi buku. Alhasil, tiap waktu saya berharap ada buku baru, seperti perokok tiap saat ingin merokok.

Sayang, buku-buku baru yang kurindui sering tak ada, tak bisa saya jangkau. Sering buku yang saya damba belum edar di Indonesia. Tak jarang buku mutakhir yang kuinginkan tak tersedia. Memang, Penerbit Circa yang dikomandani Kian Santang sering menerbitkan buku bagus, tapi kebanyakan terjemahan tulisan lama dan tipis-tipis saja meskipun berisi pikiran luar biasa. Memang, Penerbit Diva Press dan grup rajin dan malah edan menerbitkan buku asli dan terjemahan, tapi seringnya bukan buku mutakhir. Memang, pengusaha eh saudagar buku onlen Gunawan Tri Atmodjo, Jualbukusastra Jbs Indrian, Denny Mizhar, dan lain-lain suka kirim-kirim buku kepada saya, yang rata-rata pilihan. Demikian juga aktivis literasi Mahwi Airtawar, Faiz Ahsoul, Mashuri Alhamdulillah, dan lain-lain kerap pamer buku kepada saya, tapi bukunya jarang sampai kepada saya. Tak terelakkan, batin saya saya gelisah, bahkan sakau akibat bahaga buku-buku.

Seperti sekarang, pada masa karantina rumah dan harus soliter karena soliter menyehatkan, saya sangat merindukan buku-buku tentang nCoV-2 eh COVID-19. Bukan cuma panduan dan petunjuk ringkas menanggulangi dan mencegah COVID-19, melainkan buku yang berisi ulasan dan analisis tentang dimensi sejarah, filsafat, geografi, psikologi, antropologi, biosemiotika, linguistik, sosiologi, ekonomi, dan politik pandemi COVID-19. Tapi, buku-buku seperti itu tak saya temukan. Jangankan penerbit macam Penerbit Pelangi Sastra, Penerbit Jbs, dan sejenisnya, penerbit besar dan arus utama macam Gramedia, Mizan, dan Bentang saja belum saya lihat mengedarkan buku-buku yang saya rindukan di atas. Aktualitas dan momentum buku sering terlewat di dunia perbukuan Indonesia.

Sudah begitu saja. Saya cuma mau bilang bahwa sekarang saya sedang membaca buku kajian filosofis COVID-19 racikan Slavoj Zizek, filsuf kondang sejagat pada masa kiwari. Judulnya keren PAN(DEM)IC: Covid-19 Shakes The World — PAN(DEM)IK: Covid-19 Menggonjang-ganjingkan Dunia, dan baru terbit awal April sekarang. Di samping itu, saya cuma mau bilang selamat merayakan Hari Buku Se-Dunia, World Book Day, yang jatuh pada hari ini, hari menjelang puasa Ramadhan yang indah dan penuh berkah. Sebab itu, sekalian saya mau bilang Selamat Menunaikan Puasa Ramadhan kepada semua kawan. Yakin sajalah tahun ini puasa Ramadhan yang luar biasa karena kita semua memasuki kebiasaan baru selain kebisaan mentradisi selama bulan Ramadhan. Jangan lupa selain memperbanyak ibadah rububiyah-uluhiyah (ini kata Gus Moch Syahri), banyak-banyaklah ibadah literasi. Baca buku contohnya.
***

____________________
*) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd adalah Guru Besar Jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra pada kampus UNM (Universitas Negeri Malang). Telah banyak menghasilkan buku, artikel apresiasi sastra, serta budaya. Dan aktif menjadi pembicara utama di berbagai forum ilmiah kesusatraan tingkat Nasional juga Internasional.

One Reply to “Kecanduan Buku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *