Membaca The Seven Good Years, Etgar Keret


Fatah Anshori *

Bagaimana rasanya dilahirkan dan dibesarkan di tanah yang perang dan konflik selalu berkecamuk. Mungkin itu akan membuat kita sedikit banyak akan merasa di terror, terganggu, tidak tenang, merasa selalu terancam. Dan mungkin juga akan membuat kita melupakan apa itu yang namanya masa depan dan cita-cita.
Bagaimana mungkin kita sempat memikirkan cita-cita jika setiap waktu kita tidak tahu kapan bom akan jatuh lantas membuat kita jadi pecah belah, berkeping-keping, dan akhirnya kehilangan kuasa untuk bernapas.

Setelah membaca memoar Etgar Keret ini, entah kenapa ketakutan itu rasanya benar-benar tidak ada. Etgar Keret adalah penulis fiksi yang Tinggal di Tel Aviv. Sebelumnya saya juga sempat membaca cerpen-cerpennya yang di terjemahkan beberapa penulis di web nya masing-masing. Bernard Batubara juga sempat menerjemahkan tiga atau empat cerpen—saya agak lupa—di webnya. Dea Anugrah, Sabda Armandio, dan M Aan Mansyur juga menerjemahkan beberapa cerpen Etgar Keret di webnya masing-masing.

Pada awalnya saya memutuskan membaca buku memoar ini tidak lain agar saya tahu dan mengerti bagaimana kehidupan seorang penulis hebat yang kerap jadi perbincangan penulis dalam negeri. Saya berharap banyak di buku memoar ini Etgar Keret akan berkhutbah tentang tata cara menjadi penulis fiksi yang hebat. Namun, setelah masuk dan membaca empat lima tulisan, harapan saya benar-benar pupus ketika tahu di dalam buku ini Etgar Keret tak mau menunjukkan tata cara menjadi penulis yang serupa dirinya. Ia seolah tidak mau banyak-banyak menyinggung tentang kepenulisan.

Mungkin boleh dibilang nasib saya serupa orang yang telah membeli tiket sebuah film dan telah duduk manis di bangku penonton, kemudian menemui film tersebut tidak sesuai yang di bayangkan pada awal membeli tiket. Dan karena tidak mau rugi saya akhirnya tetap duduk manis menyimak film itu hingga habis, lalu sesekali berbaharap di hati kecil film itu paling tidak akan memberikan sedikit hikmah.

Dan benar dari memoar Etgar Keret ini, saya merasa mendapat lebih. Tentang kepenulisannya, jika tidak salah Etgar Keret telah memulai karir kepenulisannya sejak usia 19 tahun. Di salah satu cerita Etgar Keret memutuskan untuk menjadi penulis ketika ia sedang bertugas menjadi tentara Israel. Dibawah tanah, ketika ia sedang tidak ada kerjaan, dan ruangannya benar-benar sepi. Akhirnya ia memutuskan untuk menulis cerita. Ketika cerita itu selesai ia bersikeras agar ada orang yang membaca cerita, saat itu pimpinannya acuh terhadap apa yang ia tulis. Singkatnya saat itulah Etgar Keret memutuskan untuk benar-benar menjadi penulis.

Selain itu di memoar ini Etgar Keret lebih banyak bercerita tentang Lev, anak lelakinya mulai dari kelahiran hingga Lev berusia tujuh tahun. Pada beberapa kesempatan Etgar Keret lebih banyak bercerita tentang Lev. Di beberapa cerita saya juga kagum dengan nilai moral penulis ini. Itu terjadi ketika Ia dan Lev sedang naik Taxi. Di Taxi itu sedang terjadi cekcok antara sopir dan dia. Di situ kita tahu bagaimana seorang Ayah yang dengan susah payah mengajarkan pada anaknya tentang nilai-nilai kemanusiaan, ia mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Meski lingkungan benar-benar keras dan menolak nilai kemanusiaan. Sebaliknya Etgar Keret menunjukkan contoh yang baik pada Lev, dengan meminta maaf pada si Sopir Taxi padahal Si Sopir itulah yang harusnya minta maaf.

Pada dasarnya dalam memoar ini memuat catatan-catatan Etgar Keret selama Tujuh tahun kelahiran anaknya, Lev. Dan paling tidak saya sedikit banyak sudah tahu bagaimana memoar itu di tulis. Dan jika kelak saya ingin menulis memoar saya sendiri, saya tak perlu bingung-bingung. Sebab Etgar Keret telah berbaik hati pada saya, dengan menunjukkannya.

________________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya termuat di Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *