Fatah Anshori *
Apa kau sempat memikirkan atau paling tidak membayangkan ketika telinga dan mulutmu tidak menemukan keserasian suara dan bahasa dengan orang-orang pada umumnya? Itulah yang di alami Amananunna.
Ketika membaca kalimat pertama dari cerpen Aksara Amananunna, Rio Johan. Saya sudah yakin ini bukan cerpen yang murahan. Saat membaca kalimat pertama yang berbunyi: Berbulan-bulan setelah Tuhan mengacaukan bahasa, Amananunna belum pula menemukan bahasanya. Saya merasa kalimat pertama itu sangat menarik dan begitu kuat untuk menjadi pondasi bagi cerita yang akan terus berkembang dan beranak-pinak. Continue reading “Teater Medikal dan Amananunna”
