Teater Medikal dan Amananunna

Fatah Anshori *

Apa kau sempat memikirkan atau paling tidak membayangkan ketika telinga dan mulutmu tidak menemukan keserasian suara dan bahasa dengan orang-orang pada umumnya? Itulah yang di alami Amananunna.

Ketika membaca kalimat pertama dari cerpen Aksara Amananunna, Rio Johan. Saya sudah yakin ini bukan cerpen yang murahan. Saat membaca kalimat pertama yang berbunyi: Berbulan-bulan setelah Tuhan mengacaukan bahasa, Amananunna belum pula menemukan bahasanya. Saya merasa kalimat pertama itu sangat menarik dan begitu kuat untuk menjadi pondasi bagi cerita yang akan terus berkembang dan beranak-pinak. Continue reading “Teater Medikal dan Amananunna”

Marquez, Kartini, Buku, Chairil

Marhalim Zaini *

APRIL, agaknya bolehlah kita sebut sebagai bulan literasi. Setidaknya, empat momentum ini menandainya: Gabriel García Márquez wafat (17 April), Hari Kartini (21 April), Hari Buku Sedunia (23 April), dan Hari Chairil Anwar (28 April). Sederet peristiwa itu, adalah penanda, ihwal detak jantung dunia literasi kita. Dunia keberaksaraan kita. Keberaksaraan, yang tak semata bicara soal dunia cetak (print literacy) yang ditengarai sebagai penanda dunia modern, akan tetapi juga soal aksara sebagai—apa yang disebut Sweeney —stylized form. Dan, “bentuk yang istimewa” itu, adalah puisi, adalah sastra. Maka, bicara dunia keberaksaraan (literacy), tak bisa lepas dari dunia sastra. Continue reading “Marquez, Kartini, Buku, Chairil”

Bahasa »