WABAH PURBA

Taufiq Wr. Hidayat *

Sambil menundukkan kelelahan,
aku nulis puisi.
Terminal tua, hujan hendak mencipta telaga,
dan bangku-bangku tunggu.
Kota yang tertatih-tatih.
Kesunyian yang hilang.
Dan perih yang gamang.
Siapa terluka di balik bahasa?
Dicatat derita ke dalam kata-kata.
Mengiris bawang merah dan mendiskusikan cinta.

Apa yang lebih hebat dari rindu?

Lorong-lorong malam,
lampu-lampu jingga,
bangku di situ bagai menenun doa dan menanti pemberangkatan berikutnya.

Tetap sepi.

Telaga dari hujan dalam dadamu. Ada perahu berlayar pelan di situ, mencari sesuatu yang tak pernah ketemu.

Tahun bagai bangku penjaga hutan yang kedinginan.
Suluh yang disekap sudut.

Benam dalam kabut.

Tatapan bermendung. Akar pohonan. Malam. Jurang zaman yang dalam. Di dalam hitam. Waktu terlambat berabad. Dalam ingatan; berlari di jalan malam. Dan nama-nama yang hilang.

Lenyaplah aku di lubuk gusarmu.

Tetesan hujan pada batu. Keluh pada rindu. Langit membentang tanpa bentuk. Keluasan menerima segala harap untuk lenyap. Sampah dan penyakit. Perang dan kesepian.

Seperti semak-semak cerita.
Kenapa durinya melukai kepala?

Ayat-ayat suci dinyanyikan nabi-nabi palsu di kota-kota yang berkeluh melulu. Orang-orang kesakitan. Bernyawa dalam asap gelap. Basa-basi jadi polusi.

Terkapar di kaki-kaki kekuasaan yang menolak segala ratapan. Ada kematian di kolong kemiskinan. Cerita yang terus tercipta bagai sampah kota, banjir, dan celaka.

Hujan datang.
Hujan membayang.

Seperti kenangan.

Kau nyalakan lampu. Suara ganjil dari abad-abad yang sibuk. Wabah manusia yang purba.

Orang-orang asing. Mesin-mesin tua. Binatang malam gelap malam selokan malam. Tatapan hitam. Sisa hidup ditinggalkan.

Liang-liang kepalsuan.

Nasib menebarkan penyakit dalam dadamu. Orang-orang terjangkit. Tapi keterlunta-luntaan dikemas sponsor dan undang-undang. Hutang orang-orang. Pekerjaan yang hilang. Jaringan-jaringan maya. Sebuntal nama yang tak terbaca. Mulut layar membentur pintu-pintu. Tahayul dan omong kosong melulu.

Arloji-arloji terbenam. Segala pengaduan. Tak selesai diutarakan.

Tapi baik.
Baik-baiklah saja, sayang.

Lihatlah. Ada kabut datang
di stasiun kereta. Malam membawa tiba seluruh ringkuh. Pohon tua, gerimis, dan lampu yang tidak terang. Orang mendesah. Berlalu di dalam tanya. Berhenti di sebuah tepi. Dan bernyanyi di dalam sendiri yang tak dimengerti.

Seperti keraguan.

Bangku kosong di bawah beringin, jam dinding mendetak sunyi, di antara kopor usang, ransel yang berat. Ada harapan menyelinap ke balik gusar pasar. Tersesat sasar. Dan jantung orang-orang. Menunggu tanpa pemberitahuan, menyalakan korek api dalam lampu remang.
Tapi angin memadamkan.

Seperti percintaan.
Ganjil di tengah hujan.

Malam terasa kekal dalam muram. Namun penungguan tak juga usai. Kantuk. Dan aroma jaket para penjaga. Ada kecemasan. Dan rencana-rencana dilipat dalam saku celana.

Bagai menerka sudut.
Samar dalam kabut.

Gelap mendesak ke jantung malam orang-orang. Diam seperti bangku. Kebosanan menggelung. Zaman dibungkus dalam kesal yang purba. Membayangkan peristiwa yang bergantian.

Seperti jarak dalam penantian.
Kehilangan pulang.

Mereka yang terkantuk. Dan
tidur dalam ketakberdayaan. Tak sibuk ingatan pada kejadian. Segalanya ditelan dalam lelah. Dalam sepi yang mencukil arloji.

Di stasiun orang-orang. Terpaku. Pagi pun datang, celaka dihembus kepalang. Dalam tuak gamang pengaduan. Mabuk kepayang! Anak-anak sekolah mencium darah, seragam-sepatu, dan malas waktu.

Tetapi di mana kebun bunga?

Keperihanmu menembus tatapan berkabut. Kehilangan dan pencarian. Perjalanan dan kelelahan. Kebimbangan wortel dan bawang di keranjang gigil hujan.

Di dinding pesing yang mengelupas itu, kau lihat sesosok malaikat menyelinap. Sayap putih dan aroma melati. Tapi pikiranmu berserak, android tak lagi mengabarkan kematian pelacur malam dalam selokan. Anak-anak mengejar riang yang putus layang-layang. Banjir ketakutan dan gelombang kepanikan menghanyutkan nyawa manusia. Wabah yang sesungguhnya tak ada, menyeret harapan dan perut orang-orang, orang-orang ratap di selokan-selokan yang meluap.

Di situ.
Di
dalam
ginjalmu.

Banyuwangi, April, 2020

_____________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *