ZAMAN


(Pelabuhan Muncar, Foto oleh Aditya Prayuga)
Taufiq Wr. Hidayat *

Di antara bangunan kota-kota yang megah, siapa yang kerapkali melintas di sana? Wajahnya tampak tua. Muram redam. Dan kau mencurigainya membawa wabah penyakit. Di antara panas, suara-suara pengeras suara yang merobek telinga, menghantam kepala dengan perdebatan panjang dan gombal. Perihal surga dan neraka. Perihal penyakit yang mirip tahayul. Siapa yang kerapkali melintas di situ? Diam-diam. Kadang terang-terangan. Memakai kendaraan apa adanya. Atau berjalan kaki. Lalu terjatuh di jalan karena haus, lapar, dan kelelahan.

Dalam fisika, proses perubahan memuat pola gerak yang berbeda dalam kuantitas. Waktu merengkuh segalanya pada komposisi, yakni masa lampau dan masa yang akan datang. Masa lampau ialah peristiwa yang tak memiliki peluang dan kemungkinan. Namun masa yang akan datang menyimpan peluang atau kemungkinan yang dapat diolah secara bebas. Kehancuran suatu benda, tak akan kembali utuh jika tak ada yang menyusunnya kembali. Benda yang telah hancur berkeping itu, telah tertutup dari pelbagai peluang. Ia adalah masa lalu. Tetapi ia—benda yang telah hancur itu, pun sebagai masa depan. Kepingan benda itu dapat disusun atau didaur menjadi bentuk lain dari bentuknya yang semula. Ia menyimpan potensi. Tak ada yang dapat memastikan hari-hari akan datang, selain hanya mungkin diperkirakan. Bagi Derrida, masa yang akan datang tak dapat dihitung, ia hanya dapat dipersiapkan. Demikian keniscayaan semesta. Segalanya terus menerus bergerak dan memiliki pola. Maka waktu tak lain suatu gerak kemenjelmaan. Sehingga segala gerak pada masa yang akan datang, mengharuskan ketidaktahuan, ketidakpastian, dan teka-teki, sebab ia menyimpan peluang dan potensi untuk direncanakan.

Bagi Whitehead, semesta bukanlah yang statis, teronggok dalam hampa tak mengalami dinamika. Melainkan semesta raya bergerak bagaikan air, senantiasa dengan segala kemungkinan. Ia beraneka. Tak satu sistem agung belaka. Tetapi sub-sistem-sub-sistem yang sama agungnya. Ketakterbatasan semesta raya adalah suatu potensi. Suatu peristiwa terjadi, meniscayakan perubahan. Sebuah meja yang hancur, membuktikan perubahan; dari yang mulanya utuh menjadi berkeping-keping. Ia menyimpan daya potensial. Ia akan menjelma kenyataan baru sebagai kepingan-kepingan, atau bentuk lain yang kreatif. Perubahan itu tak keluar dari waktu.

Apakah manusia benda? Dan apakah ia tak melintas sepanjang waktu dan ruang? Ya. Ia bukan benda. Ia kerapkali melintas. Manusia dengan segala nasibnya. Ia membawa nasibnya di dalam waktu. Di dalam ruang.

Di antara yang kumuh. Yang terbuang. Dan di bawah jembatan-jembatan yang gelap. Selalu saja siapa yang melintas. Melintas batas dalam cemas. Melintas sekilas dalam libas. Tapi apakah dunia masih ada tatkala duka terlelap? Agaknya Toto Sudarto Bachtiar merasakan dunia sebelum lelap dalam puisinya. Ada kenangan yang mustahil dibentuk kembali. Dan masa depan yang entah.

Dunia Sebelum Tidur
Toto Sudarto Bachtiar

Kenangan mati bagi yang mati
Hormat bagi yang hidup setiakan derita
Ulurkan tanganmu
Sangkutkan sepatu pada kaki berdebu
Dan mimpilah merenung jendela terbuka
Nun adalah dunia dosa, duniaku sayang
Aku berpihak padamu

Kau ingin dengar
Suara angin menghembus kamar
Ujung ketenteraman samar-samar
Dada bertemu dada
Kami bersandar kepadanya
Betapa terkenang, betapa tenang
Bintik hitam dalam dunia yang gelisah

Kenangan hidup hanya bagi yang hidup
Bingkis cahya
Dalam musim yang segera matang
Menghalau degup rongga berudara sedih
Jari-jari penanggalan
Telah lama
Terlalu lama mengandung topan

1954

Tetapi kenapa orang dicekam? Bukankah segala yang akan tiba adalah sepenuhnya ketidakpastian? Dalam kehidupan sehari-hari, pencapaian mengajarkan dan menegaskan segala yang pasti. Yang seakan tak bisa diapa-apakan lagi. Kenapa kita heran?

“Jari-jari penanggalan/Telah lama/Terlalu lama mengandung topan,” katanya.

Keserbapastian mengurung orang dalam keharusan, perasaan terancam, dan kegelisahan. Lantaran kepastian tak pernah menjanjikan peluang. Ia bagai masa lampau yang begitu susah untuk disentuh dan menutup dirinya dari segala kemungkinan. Sedang hidup ini tak hanya kepastian-kepastian, bukan? Hidup pun memerlukan ketidakpastian-ketidakpastian lantaran ia terus menerus bergerak secara dinamis dan kreatif pada masa yang akan datang. Barangkali hanya dalam ketidakpastian, harapan bisa ditumbuhkan. Dan dalam ketidakpastian itu kiranya, orang dapat hidup dengan harapan. Bukan dengan kecemasan.

Tembokrejo, 2020

_____________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *