24 Jam Bersama Gaspar-nya Sabda Armandio


Fatah Anshori *

Apa motif seseorang berbuat jahat? Atau apa bedanya jahat dan baik? Dalam novel 24 Jam Bersama Gaspar ini, kau mungkin akan menemukan jawabannya, paling tidak akan mengerti seperti apa cara berbuat jahat yang keren, dan membuatmu tetap terhormat, sekalipun selalu berbuat jahat.

Setelah baca habis seluruh cerpen Sabda Armandio (SA) di webnya, Agraria saya benar-benar merasa belum apa-apa. SA seperti menunjukkan kepada saya sebuah cerpen kontemporer yang keren, fresh, tidak ketinggalan zaman. Ia menyuguhkan inovasi baru dari pelbagai warna-warni cerpen. Ketika membacanya, kian tertarik untuk tahu lebih tentang penulisnya. Memang selalu begitu, kebiasaan ingin mengetahui kehidupan penulis muncul setelah baca sekaligus meyakini ini benar-benar tulisan bagus. Tapi kali ini saya patut kecewa, karena biografi Armandio tidak banyak dipaparkan di dunia maya. Namun tulisan-tulisan tentangnya, dan beberapa wawancara yang dilakukan segelintir orang tentang dirinya, rasanya cukup meyakinkan penulis ini bukan pseudo–fiksi. Seperti yang ia lakukan pada Arthur Harahap. Dalam cerpen-cerpennya akan menemukan humor-humor cerdas, terkesan main-main tapi kerap membuat merenung, cara memvisualisasi adegannya kuat, dan kita dengan mudah membayangkan adegan sekaligus gampang mencerna alurnya, meski membuat lain dari kebanyakan alur cerita yang biasa kita temui pada cerpen yang sering dimuat di media cetak atau online. Bernard Batubara pernah mengatakan bahwa kualitas dari cerpen-cerpen ini benar-benar diatas rata-rata. Rasanya saya setuju yang dikatakan Bernard, meski tidak mengetahui banyak tentang sastra, saya merasakan cerpen-cerpen SA punya karakter sendiri. Di sini ia meramu dan melatih teknik menulis yang ia dapatkan dari berbagai sumber. Dan kadang juga bereksperimen dengan gaya baru, entah -saya tidak tahu usahanya berhasil atau tidak, tapi ketika membaca merasa senang saja. Di sana akan menemukan hantu sebagai narator, dua sudut pandang di satu cerita, kisah horror kontemporer yang baik dan menakutkan, dialog-dialog cerdas kerap membuat merenung. Salah satunya pada cerpen Hujan Katak, ditemukan topik pembicaraan tentang Tuhan. Salah satunya, “Tuhan yang menciptakan waktu, atau waktu yang menciptakan Tuhan.”
***

Baiklah, disini akan ngomel sedikit tentang novel kedua Sabda Armandio. Novel ini dibuka sebuah Pengantar dari Arthur Harahap. Jika membaca cerpen-cerpennya di web, tidak akan asing dengan nama itu. SA menyebut bahwa Arthur adalah penulis hebat yang selalu melatih ilmu kepenulisannya, kau juga mungkin pernah menjumpainya di jalan, saat sedang berjalan-jalan, duduk di samping ketika naik bus, entah ini benar atau tidak, rasanya SA telah berhasil memainkan rasa penasaran kita, ia seolah ingin mempermainkan keseriusan orang-orang. Atau menertawakan dan membuat orang-orang yang selalu menyikapi sesuatu dengan serius tampak tolol, jikalau benar Arthur Harahap adalah sebuah pseudo–fiksi, kali ini hanya Allah dan Ia saja yang tahu kebenarannya. SA penulis kelahiran 1991, sepertinya telah memberikan warna baru di dunia sastra yang dulunya kebanyakan wajah sastra Indonesia hanya berada di sekitar adat dan budaya masa lalu, pembunuhan massal PKI, kolonialisme, dan semacamnya. Di novel 24 Jam Bersama Gaspar, kita temukan sebuah novel yang tidak melulu mengangkat adat sebagai alternatif latar dari keseluruhan cerita. Ia seperti membuat dunia sendiri, kekikinian, tetapi tetap tidak meninggalkan kearifan lokal tanah air. Di sini masih menemukan warung pecel lele, toko emas, dan suara adzan subuh. Seperti itulah Indonesia kita.

Di novel ini akan menemukan dua alur cerita. Pertama, percakapan antara Polisi dan Mantan Dokter yang membicarakan kasus kematian sesorang. Kedua, cerita yang dipaparkan melalui sudut pandang Gaspar. Gaspar sendiri menurut saya adalah seorang narator yang dianugerahi kekuatan jahat melimpah ruah. Dan ketika menjadi narator, kita akan segera tahu bagaimana psikologi orang jahat. Sebagaimana niat jahat Gaspar mencuri kotak hitam di toko emas Wan Ali. Wan Ali sendiri orang yang memiliki motif jahat, karena alasan kebaikan. Sudah berapa kali kita melakukan, berbohong demi kebaikan, mencuri obat untuk menyembuhkan orang di rumah. Seperti inilah manusia selalu lihai berlindung diantara alasan-alasan baik. Sebagaimana kita tahu, sekarang banyak dasar-dasar dalam ayat suci, diambil sebagian untuk membenarkan kepentingan oknum-oknum tertentu. Hal inilah barangkali yang membuat Gaspar lahir di dunia. Ia menunjukkan bagaimana cara berbuat jahat yang membuat tetap dihormati meski dianggap manusia jahat. Seperti katanya, “kalo jahat ya jahat saja, kalo baik ya baik saja.” Gaspar benci sekali pada orang-orang jahat yang berlindung di balik pembenaran, yang membuat perbuatan jahatnya menjadi baik dan bisa dimaafkan.

Selanjutnya, saya tidak akan berbicara banyak tentang keseluruhan cerita, lebih baik baca sendiri novelnya, dan silakan jadi medioker yang banyak omong layaknya seorang kritikus ulung.
***

_____________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya termuat di Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *