PERSEPSI PUISI DAN KITAB SUCI

Mutimmatun Nadhifah *

Awal mula puisi adalah kitab suci. Dalam sejarah manusia beragama, perlahan kitab suci terlanjur diposisikan sebagai kitab hukum yang menyerukan perintah dan memekikkan larangan. Bukan kitab jiwa manusia. Hingga akhirnya kitab suci bukan referensi pasti kehadiran puisi. Dan kita menerimanya.

Di Indonesia, kita belum mempunyai penyair agung Muslim yang bahasanya sebanding atau sedikit menyamai bahasa puisi Alquran. Apalagi dalam kasus perpusian modern, Eropa atau Amerika (sesekali dari kawasan Asia) tampak lebih berterima sebagai rujukan dengan selingan puisi tradisi klasik daripada kitab suci. Padahal, dalam tulisan berjudul Sastra Profetik: Relevansi dan Jejaknya dalam Karya Modern, Abdul Hadi (2004:1) menulis: “….yang akan saya sebut sebagai ‘semangat profetik’ apabila diteliti memang penting untuk dikaji. Ia merupakan segi yang sentral, pusat bertemunya dimensi sosial dan transendental di dalam penciptaan karya sastra. Dimensi sosial menunjuk pada kehidupan kemanusiaan kita yang bersifat profan, dan dimensi transendental menunjuk pada tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yang berpuncak pada Yang Gaib di atas sana.”

Abdul Hadi di esai yang sama meneruskan tulisannya dengan mengajukan sekian banyak sastra-sastra profetik dunia dan Indonesia. Dengan fasih Abdul Hadi mengajukan nama-nama Goethe, Dostoyevski, Jalaluddin Rumi, Mohammad Iqbal, T.S. Eliot, Frederich Hoelderlin yang memberi ketenangan rohani bagi umat modern dengan puisi. Di Indonesia, puisi Amir Hamzah berjudul Padamu Jua dijelaskan Abdul Hadi mengambil sumber dari Alquran Surat Al-Hasyr (Berkumpul/Pengumpulan) ayat 19. Ayat ini diterjemahkan Mahmud Yunus: janganlah kamu seperti orang–orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang pasik.

Puisi Hamzah untuk mengenali Tuhan sebagai pencipta semesta sebelum mengenali diri bertaut dengan kalimat-kalimat yang ada di kitab suci.“Di sinilah pangkal kekusutan filsafat-filsafat modern, yang begitu antusias mengajak manusia kembali kepada dirinya, namun justru manusia kian dijauhkan dari dirinya, atau tepatnya jati dirinya, sehingga problem keterasingan manusia modern dari dirinya juga menjadi tanggung jawabnya. Bagaimana mungkin manusia mengenal jati dirinya tanpa manusia itu memiliki kesadaran semesta kesadaran akan asal usul kerohaniannya?” tegas Abdul Hadi. Dan kitab suci adalah rumah kembali para penyair.

Ulasan Abdul Hadi mengingatkan kita terhadap kerja awal Jassin menerjemahkan Alquran. Dari asmara, Jassin bergerak pada narasi keilmuan yang tak biasa. Selain membaca terjemahan-terjemahan Alquran sebelumnya, kerja menerjemahkan memuat sekian pertimbangan serius dari keserasian irama, keindahan bunyi, efektivitas bahasa sampai keakraban diri dengan kamus bahasa Indonesia. Jassin (1975) mengakui, “jelaslah bahwa untuk mendapatkan terjemahan yang puitis efektif diperlukan pembendaharaan kata yang luas untuk memungkinkan mencari kata-kata sinonim yang lebih merdu bunyinya atau yang jumlah suku katanya memungkinkan irama yang lebih harmonis dalam hubungan kandungan makna.” Ini adalah kerja bahasa seorang penyair, bukan seorang yang berpretensi sebagai ahli hukum.

Kerja penerjemahan puitis Alquran dianggap sebagian orang sebagai bentuk pemuliaan tapi pihak lain menganggap sebagai penghinaan terhadap kitab suci. Kaum penolak merasa keberatan dengan penggunaan bahasa “puisi” pada penerbitan Alquran Berwajah Puisi (ABP) sebagai kelanjutan dari Alquran Bacaan Mulia (ABM). Menurut mereka, bahasa Alquran itu sudah sangat puitis tapi Jassin sebagaimana tuduhan mereka nekat dan ingin mewajahkan Alquran dalam bentuk puisi lain. Padahal, sebagaimana cerita D. Sirojuddin A.R, penulis dan penyusun ABP dan ABM pada tahun 1993, Jassin begitu sangat antusias saat mengetahui tak ada teks agama yang melarang model penerjemahan sebagaimana dikehendakinya. Jassin dalam kutipan Sirojuddin berkata pada suatu waktu: “Allah telah menciptakan kalam-Nya sedemikian puitis, mengapa kita tidak boleh menikmati keindahan gaya puisinya?”

Sekali lagi, Jassin hanya ingin memuliakan Alquran dengan sepenuh mulia. Jassin bisa kita sebut masuk dalam pencapaian tokoh di novel Dostoyevski berjudul Karamazov Bersaudara yang dinilai sebagai pencapaian religiusitas tertinggi: “Semua kekecewaan dahsyat menjadi nasibku, tapi tetap aku akan merangkul kehidupan dengan penuh cinta… sering aku bertanya-tanya benarkah di dunia ini ditemui putus asa yang lebih kuat dari kehausan akan hidup yang tak tahu diri ini? Barangkali memang tidak… Aku mau hidup dan memang hidup, meskipun menantang logika mana pun.” Dan kita pun sadar: yang lebih mendekat pada Tuhan adalah bahasa penyair, bukan bahasa penghukum.

*) Mutimmatun Nadhifah, Esais asal Sumenep.
https://100tahunhbjassin.wordpress.com/2017/05/18/persepsi-puisi-dan-kitab-suci/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *