JALAN SUNYI MUSASHI; Tentang Seorang Jagoan yang Tak Pernah Berdoa


S. Jai

KERAP KALI, perbincangan perihal kisah Miyamoto Musashi dalam novel yang ditulis Eiji Yoshikawa klimaknya berpusar pada pertarungannya dengan Kojiro. Selain karena hal ini adalah duel pamungkas yang dimenangkan Musashi juga tersebab Kojiro adalah lawan paling berat dan paling sempurna yang pernah dihadapinya.

Pun konon dalam sejarah,  dalam buku-buku biografi maupun pengakuan Musashi, kemenangannya, atau kekalahan Kojiro disebut-sebut titik balik dari ‘sejarah’ Musashi.

Demikianlah sastra dan sejarah, sastra sejarah, dan sejarah sastra.

Novel Musashi  mengisahkan perjalanan hidup Miyamoto Musashi, pasca perang Sekigahara Klan Toyotomi dan Klan Tokugawa (dalam catatan sejarah terjadi pada 21 Oktober 1600). Musashi berpihak pada Toyotomi—yang pada akhirnya mengalami kekalahan. Namun Musashi bersama sahabatnya Matahachi, selamat.

Musashi dikenal pemuda yang liar utamanya dalam hal membunuh orang. Hanya Pendeta Budhisme Zen, Takuan Soho, yang sanggup menundukkan keliaran Musashi. Bahkan sampai pada akhirnya Musashi menemukan pencerahannya, dan berlanjut memilih ‘Jalan Pedang’ sebagai jalan hidupnya.

Selanjutnya, novel ini menceritakan perjalanan dan pergulatan hidup Musashi di Jalan Pedang, kisah cintanya yang berliku dengan Otsu, permusuhannya yang pelik dengan Osugi—ibunda Matahachi—serta pertarungannya dengan puluhan Samurai (versi sejarah menyebut 60 kali tanpa terkalahkan). Diantaranya, dengan perguruan Yoshioka–Seijuro, Denshichiro, Genjiro—serta lawan pamungkasnya Sasaki Kojiro, samurai tak terkalahkan dengan senjata terkenalnya Galah Pengering.

Musashi menaklukkan Kojiro dengan senjata Dayung rusak tak berguna di sampan milik Sasuke.

Novel Musashi ditulis Eiji Yoshikawa—peraih penghargaan Budaya (Bunka Kunsho) dan Penghargaan Harta Berharga Zuihosho). Eiji banyak menulis novel bergenre sejarah Jepang. Selain Musashi, ada sejumlah yang sudah dalam bahasa Indonesia; Taiko, The Heike Story, Shin Suikoden, Minamoto no Yuritomo, Shinsu Tenma Kyo, Uesugi Kenshin, Naruto Hicho. Informasi dari JB Kristanto dalam pengantar Musashi (Gramedia, Cet 5, Juni 2006),  Eiji yang bernama asli Hidetsugu Yoshikawa sudah menulis saat usia 19 tahun. Karya pertamanya berupa Haiku—sajak pendek khas Jepang. Sebetulnya Eiji menulis dalam pelbagai genre. Hanya saja selepas tahun 1930 ia memantapkan genre sejarah.

Musashi tayang di koran Asahi Shimbun tahun 1935-1939 dalam 1009 nomor urutan serial. Terjemahan dalam bahasa Inggris sudah merupakan ringkasan dari naskah aslinya 26.000 halaman (?). Dalam terjemahan bahasa Indonesia dari bahasa Inggris, setebal 1247 halaman. Eiji juga menulis catatan perjalanan, terjemahan serta adaptasi kisah popular Cina, Batas Air, Kisah tentang Tiga Kerajaan. Eiji meninggal pada usia 70 tahun (7 September 1962) akibat kanker.

1. Ambiguitas, Pemberontakan

Tak seperti dalam catatan sejarah, novel itu sendiri dalam cerita paling ujung tak secara jelas mematikan Sasaki Kojiro—lawan tanding Musashi yang paling populer.  Pasca duel, pengarang  memberi penegasan; Kojiro tak kembali ke bumi, namun di waktu yang lain melalui jalan pikiran Musashi, dikatakannya musuh masih bisa terselamatkan.

“Kau kalah, Kojiro!”

“Apa?” Ganryu (Sasaki Kojiro Ganryu—penulis) kaget setengah mati.

“Pertarungan sudah selesai. Kau kalah, kataku.”

“Kau bicara apa?”

“Kalau kau bakal menang, kau takkan membuang sarung pedangmu. Kau telah membuang masa depanmu, hidupmu.” (Hlm.1246)
….

Sasaki Kojiro Ganryu tidak kembali ke dunia orang hidup. Ia terbaring tertelungkup dengan tangan masih mencengkeram pedang. Ketangguhan masih tampak pada sosoknya. Pada wajahnya tak ada tanda-tanda penderitaan. Tiada lain kecuali kepuasan, karena telah menjalani perkelahian yang baik, dan tak ada sedikit pun bayangan penyesalan. (Hlm. 1247).
….

Ia letakkan tangan kirinya ke dekat lubang hidung Kojiro, dan ia rasakan masih ada jejak napas. “Dengan perawatan yang tepat, dia masih bisa pulih,” kata Musashi pada diri sendiri. Ia ingin mempercayai kata-katanya itu, dan ia ingin mempercayai juga, bahwa orang yang paling gagah berani di antara semua lawannya itu akan diselamatkan.

Terang ini sesuatu ikhtiar menghadirkan ambiguitas yang terhubung antara takdir, maut, keadaan, ketiadaan-kehampaan, dan tentu saja pandangan dunia sejarah dan sastra penulisnya. Termasuk di dalamnya spiritualitas Musashi sebagai tokoh sejarah.

Dikisahkan, sebelum bertarung melawan Kojiro, di kamar Tarozaemon –seorang pedagang yang menampungnya–, Musashi melakukan semedi bukan dalam rangka menghadapi Kojiro, melainkan mempersiapkan diri di hadapan kertas serta kuas dan peralatan tinta:  Musashi hendak melukis.  Sarapan yang disediakan Otsuru, putri pedagang Tarozaemon, yang jatuh cinta pada samurai itu, pun tak berlanjut kisahnya.

Musashi menutup kamar, dan menyelesaikan lukisan “Seekor burung bangau di bawah pohon dedalu.”  Berlanjut dengan rencana menggoreskan tinta pada kertas kosong untuk lukisan kedua.

Proses melukis baginya adalah upaya menempatkan pikiran secara benar atas nama imajinasi dan teknik. Sedangkan kertas putih adalah semesta kehampaan-kekosongan-ketiadaan.  Kehadiran, tepatnya kehadiran hati, bergantung pada goresan kehendaknya tempat hatinya berdiam, dan terus bernapas sesudah sang pelukis menyelesaikan lukisannya, tiada, dan lalu meninggalkannya.

Tubuh manusia melayu, tapi tinta hidup terus. (Hlm. 1231)

Apa yang dialami Musashi sesungguhnya perihal kehampaan-kekosongan-ketiadaan.   Pikiran itu menghambat dan kekosongan baginya adalah ketika hati berbicara sendiri, bebas dari ego serta sentuhan tangannya. Suatu keadaan saat;

..menanti suasana mulia, saat hatinya dapat berbicara dalam kesatuan dengan alam semesta, tidak mementingkan diri sendiri dan tidak pula terhalangi. (Hlm. 1231)

Suatu suasana sunyi yang hanya bisa ditempuh dalam kesendirian. Suatu jalan sunyi sesunyi-sunyinya oleh karena tiada orang lain yang sama yang menempuhnya. Jalan Seni dan Jalan Samurai. Mengingatkan pandangan seorang nihilis tentang seni.

“Tak ada seniman yang dapat menerima kenyataan,” kata Nietzsche. Yang dilengkapi Albert Camus; Seni adalah aktivitas pengagungan dan sekaligus pengingkaran.  Tak ada seniman yang bisa terus melangkah di luar kenyataan. Karya seni adalah suatu tuntutan akan kesatuan dengan dan penolakan terhadap dunia. (Camus 468)

Pada diri Musashi ada semacam jalan penyatuan antara kehadiran dan pelarian.

‘Nabi’ modern Nietzsche mengonstruksi filsafat pemberontakan, dan Albert Camus merumuskannya.[1]

Barangkali ada secuil kesamaan antara nihilisme dan kekosongan. Tapi kekosongan bukan nihilisme. Sebagai suatu gagasan dia jauh lebih tua—ide tentang kekosongan dituangkan Musashi dalam Kitab 5 Cincin ditulis pada 1643 oleh Miyamoto Musashi.[2]  Kesamaan itu ada pada Jalan Sunyinya. Kesunyiannya. Kenabiannya.  Nietzsche tidak pernah berpikir kecuali dalam terma-terma kewahyuan, –sebagai  penolakan dan mengubahnya menjadi renaisans.[3]  Dalam bahasa Musashi; Orang akan mengetahui kehampaan yang nyata, yaitu suatu keadaan dimana tidak ada lagi ketidakjelasan dan kabut kebingungan telah hilang sama sekali.”[4]

Akhirnya, Musashi menyelesaikan lukisan kedua. Sebuah lukisan pemandangan yang tampak seperti awan yang tidak jelas bentuknya. Dua lukisan itu kemudian diberikannya pada Tarozaemon dan Sasuke—pendayung sampan. Bangau dan Awan. Kembara dan ketinggian. Perjalanan dan ketenangan. Lukisan kehadiran dirinya menumpahkan segenap pikiran dan hatinya.

Seluruh pikirannya telah ia tumpahkan ke tinta hitam dalam lukisan pemandangan…Sekarang ke Funashima. Ia berangkat dengan tenang, seakan-akan perjalanan ini sama dengan perjalanan lain. (Hlm. 1234)

Maka selepas menumbangkan Kojiro, awan pulalah sesuatu yang kali pertama dilihat Musashi.

Ketika itulah jiwanya kembali ke tubuhnya, dan baru waktu itulah ia melihat beda antara awan dan dirinya, antara tubuhnya dan alam semesta.(Hlm.1246)

Jika pemberontakan sebagai suatu jalan sunyi, sebagaimana setiap jalan sunyi adalah suatu pemberontakan, maka kesunyian Musashi lebih lengkap dari sekadar kesunyian seorang lelaki kecil yang di tengah keluarga broken home. Ia punya nama kecil Takezo. Ayah ibunya bercerai. Seorang anak yang mencintai ibunya, tetapi ibunya minggat dan ayahnya memaksanya tinggal bersamanya. Maka menjadi pelarian bagi Takezo adalah kitabnya, selain menjadi pemberontak pada Shinmen Munisai—seorang samurai yang tak lain adalah ayahnya.

Pemberontakan Musashi tak cuma didasari kesepiannya, melainkan juga mengkritik kemampuan dan cara ayahnya menggunakan jitte—senjata kebanggaan sang ayah—yang diajarkan padanya.  Takezo tumbuh menjadi pemuda yang bandel, kurang ajar, pemberang. Klimaknya, sepeninggal Ibunya, Takezo yang masih belasan tahun demikian tak terkendali.

Kematian itu berakibat berubahnya Takezo dari seorang anak pendiam dan pemurung menjadi anak kampung yang jail. Munisai pun akhirnya menjadi takut. Ketika ia mendatangi anak itu dengan pentung, anak itu menantangnya dengan tongkat kayu. (Hlm. 34)

Dengan kata lain, lelaki itu liar, kejam, sadis, brutal, ditakuti, diasingkan, yang semua ini melengkapi kesepian dan kesendiriannya. Pun sepeninggalan ayahnya, tak membuatnya berhenti sebagai pemberontak, justru kian menjadi-jadi.  Satu-satunya rasa kasih sayangnya tak lain hanya pada kakak perempuannya Ogin, dan karena tak tahan melihat air mata kakaknya, biasanya ia pun melakukan apa saja yang diminta kakaknya.

Sejak usia tujuh tahun, Musashi diasuh oleh pamannya, Dorinbo, seorang biksu di Kuil Shoreian. Dorinbo dan Tasumi, pamannya yang lain, mengajari dia agama Buddha dan pendidikan dasar seperti menulis dan membaca,[5]   yang kelak kemudian menentukan kematangan  ‘Jalan Kesendirian’ Takezo baik dalam Jalan Pedang maupun pemikiran dan seni kepenulisan.

2. Kehampaan dan Nihilisme

Barangkali dari dua lukisan Musashi itu; lukisan pemandangan ‘yang tampak seperti awan yang tidak jelas bentuknya,’ itu diperuntukkan pendayung Sasuke. Tak dijelaskan apakah lukisan itu telah diterima dari Otsuru ataukah belum, sebelum bersampan berdua dengan Musashi menuju Pulau Funajima di Selat Kanmon yang membatasi Honshu dan Kyushu—tempat Kojiro menanti.

Sasukelah orang yang melihat Musashi, menurut pendapat Sasuke, seperti awan putih yang mengapung di langit (Hlm. 1239). Sasukelah salah satu orang yang gelisah—dari sekian banyak tokoh dari novel ini baik yang lebih dekat dengan Musashi, maupun Kojiro dan para pendukungnya, selain tentu saja para politisi yang menangguk keuntungannya. Pilihan Musashi tinggal di kediaman Tarozaemon dan menolak tawaran Sado, tak lain juga karena Musashi tak ingin memperuncing rivalitas antara Nagaoka Sado dan Yang Dipertuan Tadatoshi—yang ada di balik pelayanan Kojiro.

Sebaliknya, Musashi telah mencapai ketenangan yang sempurna.   Hidup, kehidupan, bahkan kematian dirinya telah mengutuhkan diri baik dalam buih air laut,   sepotong dayung bekas yang kemudian dijadikannya pedang pengganti, juga awan.

Hidup dan maut kelihatan mirip sekali dengan buih…Apabila setiap pori dalam tubuh maupun pikirannya sudah lena, tak adalah yang tertinggal di alam dirinya, kecuali air dan awan. (Hlm. 1240)

Dalam Buku Kitab Lima Cincin, karangan Musashi, pada Gulungan Kehampaan—gulungan terakhir dari buku tersebut,  barangkali dimaksudkan semacam pencerahan atau makrifat dari empat gulungan sebelumnya—Gulungan  Tanah,  Air,  Api,  Angin—Musashi pendek saja memberikan penjelasan.  Cuma tujuh paragraf dalam terjemahan Thomas Cleary yang di Indonesiakan Fransiskus Ransus.  Dalam puncak keilmuannya-penutup buku tersebut, Musashi menerangkan perihal pelepasan segala prinsip yang selama ini telah dicapainya. Pelepasan akan menumbuhkan kebebasan yang spontan; menuju sesuatu pengalaman yang luar biasa. Kebingungan dalam pikiran disingkirkan. Ketidakjelasan dihilangkan. Ketajaman pikiran, semangat, mata dan perhatian lenyap. “Dalam kehampaan ada kebajikan, tetapi di sana tidak ada kejahatan. Kebijaksanaan ada, logika ada, jalan itu ada, dan pikiran kosong.” [6]

Uniknya, dalam pengakuannya di buku itu, Musashi mengatakan tak memiliki guru dalam hal apapun—seni, pedang, maupun kepenulisan.  Tak pernah mengutip cerita-cerita, pepatah-pepatah tua Budhisme maupun Konfusianisme.[7]  Namun demikian Novel Eiji Yoshikawa menyingkap bagaimana mendalam hubungannya dengan  Sun Tzu, biksu Zen Takuan Soho, Pendeta Gudo dari Myoshinji, Yagyu Munenori—samurai pendahulunya dari kalangan elit yang hampir sezaman dengannya (1571-1646), prajurit professional pada masanya, mendapat pelatihan seni perang dari ayahnya dan Kemudian menjadi guru  Tokugawa.  Dialah pencipta aliran “Bayangan Biru”.yang kelak menuliskan Kitab Tradisi Keluarga Tentang Seni Perang.

Kembali ke perihal ‘kehampaan’ sebagai semacam makrifat jalan pedang, Musashi.

Seperti diketahui, dalam Budhisme Zen—dan ini yang membedakannya dengan Budhisme lainnya—mengenal Satori, atau pencerahan yang dapat datang secara iluminasi (penerangan) seketika. Pencerahan mencakup kembali kepada hakikat asali dan hubungan asali dengan dunia. Hanya saja satori tak bisa diraih dengan asketisme yang keras, dan tak bisa diperoleh lewat konsep (pemikiran).  Cirinya ialah “tidak adanya karakter” dan tidak adanya pikiran. Hakikat Budha ada dalam semua orang. Semua dapat menjadi Budha. Pikiran-Budha ada dimana mana. Apapun dapat mewujudkan pikiran-budha kapan saja. Pencerahan dapat digapai dalam kehidupan sehari-hari.[8]

Hakikat Tunggal dalam Budhisme Zen tak membicarakan Tuhan. Tepatnya menghilangkan kepercayaan pada Tuhan yang bersifat personal. Adanya yang tunggal, yang lain hanyalah manifestasi sementara darinya.  Inilah kehampaan-kekosongan, yang tak tertangkap indra,  yang tak terbayangkan.  Pikiran kosong yang dimaksud adalah apabila sebetulnya dalam keadaan demikian—yang sebetulnya menyimpan potensinya tanpa batas.

Inilah yang membedakannya dengan nihilisme/ketiadaan Nietzsche yang melakukan penyangkalan terhadap semua hal, barangkali termasuk Tuhan dengan mematikannya. Apalagi cuma pengetahuan—segala ajaran, doktrin.  Barangkali  tidak bermaksud untuk tak percaya adanya Tuhan.  Bahkan, dia sedang tak sekadar membicarakan keadaan Tuhan, dengan apa yang disebutnya “manusia luhur” itu. Manusia luhur itu pada dasarnya jelmaan kehendak-untuk-berkuasa.[9]   Ia mengambil kata kebebasan berpikir dalam pengertiannya yang paling ekstrem: sifat ketuhanan yang ada dalam pikiran manusia.[10]

Singkat kata, pada titik tertentu Nietzsche mengakui kejahatan dan memerangi belas kasih dan kelemahan manusia atas nama pendisiplinan manusia unggul—hal  yang ditolak “Jalan Alamiah” postulat Budhisme Zen.  Budhisme Zen mewartakan “kesadaran mendadak”, pemahaman kebenaran. Bahkan pencapaian pencerahan Budhisme Zen dengan menolak jalan kesederhanan, kejujuran, dan kerelaan berkorban. Ketiadaan karakter dan kekosongan pikiranlah syaratnya.

Lantas pertanyaannya, bagaimana dengan asketisme Musashi?  Bagaimana pemberontakan samurai itu?  Bisakah disebut asketisme?  Jika pemberontakan Musashi dan Nietzsche sama dimana persamaanya? Jika berbeda,  apakah perbedaanya?

Boleh jadi akan sedikit benderang, apabila kita menelisik lebih mendalam bagaimana “Jalan Pedang,” “Jalan Sunyi,” dan juga “Jalan Kesendirian” Musashi.

“Hmm.” Takuan berpikir. la merasa kasihan akan sifat gigih bercampur keras kepala yang khas anak yatim. Tapi ia pun sadar akan kehampaan yang ada dalam hati mereka yang tegar itu. Menurutnya hati itu sudah ditakdirkan untuk mati-matian merindukan apa yang tidak bisa diperolehnya, merindukan cinta orangtua yang tidak pernah mereka kenyam. (Hlm. 91)

“Bagaimana kayunya?”

“Habis. Tak dapat saya menampilkan bentuk bodhisatwa itu.” Ia meletakkan tangan di belakang kepala, dan baru merasa dirinya kembali ke bumi, sesudah tergantung-gantung di antara khayal dan pencerahan dalam jangka waktu tak menentu. “Betul-betul tidak bagus. Sudah waktunya melupakan dan bersemedi.”

Ia berbaring menelentang, memejamkan mata, dan gangguan-gangguan terasa menyingkir, digantikan oleh kabut yang membutakan. Lambat laun pikirannya terisi oleh gagasan tunggal tentang kehampaan tak terbatas. (Hlm. 927)

Hidup mereka berdua sama-sama terserap ke dalam pertarungan mematikan itu, dan keduanya sama-sama kosong dari pikiran sadar…

Di sini harapan, doa, dan dewa-dewa tak mampu membantu, tidak juga kesempatan. Yang ada hanya kekosongan tidak berpribadi dan sepenuhnya tidak memihak….

Apakah kekosongan ini, yang demikian sukar dicapai oleh orang hidup, merupakan ekspresi jiwa yang sempurna, yang telah berhasil mengatasi pikiran dan gagasan-gagasan yang lebih mulia? (Hlm. 1244)

Di puncak novel,  ketika baik Kojiro maupun Musashi sudah sama-sama dalam keadaan kosong, hampa, , maka kemenangan Musashi bukanlah tersebab buah dari keterampilannya, atau bantuan para Dewa.  Melainkan oleh karena sesuatu  yang Musashi sendiri tak bisa ungkapkan dalam kata. Yang jelas sesuatu itu lebih penting dari sekadar kekuatan, sejenis keterampilan,  bahkan pertolongan dewa sekalipun. Sesuatu itu adalah spiritual sifatnya.

3. Mengendalikan Takdir,  meneguhkan Integritas Individual

Musashi diasingkan. Musashi melarikan diri. Musashi asosial dalam pengertian pemberontak doktrin-doktrin sosial. Musashi pemimpi,  merindukan apa yang tidak diperolehnya. Ayahnya, Munisai, samurai yang dulu mengabdi pada yang Dipertuan Shimmen dari Iga, kemudian setelah kehilangan status, menjadi miskin. Kemiskinan tentu saja satu hal yang lain baginya ketika awal-awal era Tokugawa…

Sikap menantang pada ayahnya boleh dikata cikal bakal pemberontakannya pada doktrin ‘jiwa Samurai’ atau bushidu terkait dengan kepatuhannya pada orang tua.[11] Yang kelak menyebabkan kesempurnaan pilihannya sebagai Ronin—samurai tanpa Tuan. Betapa sebagai pembangkang, pengacau, orang yang selalu berada di luar, dari hari ke hari ia memilih memusatkan pada dunia diri, personal dan batiniah. Dengan kata lain kesombongan, keangkuhan. Semua yang ada di luar dirinya adalah musuhnya. Yang dalam bahasa Nietzsche; “Musuh-musuhku adalah mereka yang ingin merusak tanpa menciptakan diri mereka sendiri.”[12]

Barangkali jiwa inilah yang menempatkan dirinya ketika terjadi peperangan Klan Toyotomi dan Klan Tokugawa (tahun 1600), ia berada di pihak yang berseberangan: Klan Toyotomi, dan kalah. Yang menyebabkan perburuan padanya.  Di kisahkan dalam novel, perburuan ini sampai ke kampung halamannya. Ia pun menjadi pelarian bagi warga kampungnya—yang terlebih dulu terintimidasi para pendukung Takugawa.

“Tidak. Saya lari ke luar untuk menanyai Takezo, tapi ketika saya memanggil, dia melompat seperti kelinci ketakutan. (Hlm. 60)

“Saya dengar Takezo itu tidak begitu disukai di kampung ini.” (Hlm. 63)

“Kenapa semua orang kampung memusuhiku?” tanyanya. “Begitu melihatku, langsung mereka lapor pada pengawal di gunung. Dan cara mereka lari waktu melihatku itu, seperti aku ini orang gila saja.” (Hlm. 66)

Dalam bahasa Takuan Soho—pendeta pengembara yang singgah di Kuil Shippoji, kuil dekat rumah peninggalan bapaknya–, Takezo  adalah lambang kekacauan, orang di luar hukum, binatang liar, yang tidak menggunakan otaknya.  Dia memilih membunuh yang merintanginya pada siang hari daripada menyamar di malam hari.

“Dia harus terus membunuh untuk melindungi hidupnya sendiri. Tapi dialah yang memulai. Seluruh keadaan yang tak menguntungkan itu akibat satu hal saja: Takezo sama sekali tak punya akal sehat.” (Hlm. 86)

Setelah berhari-hari sembunyi di Pegunungan Sanumo, dan selepas kegagalan garnisun Tokugawa menangkapnya, lalu pasrah pada Takuan Soho, akhirnya Takezo bisa dibekuk oleh pendeta yang lebih suka mengembara di pedesaan seperti pengemis, hanya berteman kutu-kutunya dan disebut-sebut agak sinting itu. Uniknya, Sebagai pendeta, pengembara Takuan mengaku memahami Sun-tzu ketimbang kapten garnisun. Takuan menantang Takezo:

“… Kalau kau akan ditangkap, apa tidak lebih baik kalau kau diikat dengan ikatan Hukum Budha? Peraturan daimyo itu hukum dan Hukum Budha pun hukum, tapi dari antara dua itu, ikatan Budha-lah yang lebih lembut dan berperi- kemanusiaan.” (Hlm.95)

Dalam bahasa yang lain, tantangan Takuan ini semacam rasa kagum pada kekuatan kehendak; menguji daya lawan atas besarnya derita dan siksaan yang dapat dipikulnya. Bahwa kehidupan pada suatu hari bisa menjadi lebih buruk dan lebih penuh derita daripada yang pernah terjadi. Akhirnya, Takezo pasrah dinaikkan ke sebuah pohon bercecabang, sekitar sepuluh meter tingginya dari tanah, dan diikat erat. Dalam keadaan terikat, ia lebih mirip boneka jerami besar daripada seorang manusia hidup.
***

Mengikat Takezo di reranting pohon agak sulit diterima sebagai ikatan jalan Budha.  Terlebih jikapun Takuan memberi  jaminan alasan lebih berperikemanusiaan.  Seolah Takuan benar-benar bermaksud membunuhnya.  Sebuah pertanyaan bisa diajukan—apakah ia memilih membunuhnya daripada  Takezo dibunuh oleh  tentara garnisun?  Apakah sesungguhnya Takuan sedang menantang takdir Takezo di depan Tuhan? Ataukah sesungguhnya  justru Takuan meletakkan kepasrahannya serendah-rendah di hadapan Tuhan?   Tentu saja waktulah yang menjawabnya.  Waktu yang dalam kata-kata Takuan menjadi demikian imajiner—yang tak bisa diulang seperti kematian yang tak bisa dua kali. Takuan memberi imajinasi Takezolah yang mengikat dirinya di pohon bercecabang itu.

“Tentu saja aku kasihan padamu, tapi aku tak dapat melepaskan tali itu, karena bukan aku yang mengikatkannya. Kau sendirilah yang mengikatkannya.” (Hlm. 115)

Nyatanya, buhul dari Hukum budha, Hukum Alam dan Waktu-Takdir yang dimaksudkan Takuan pada titik ini ternyata kata kuncinya ada pada gadis Otsu—gadis cantik pujaan hampir semua lelaki, seorang tunangan sahabat Takezo yang ternyata kelak jatuh cinta pada Takezo, meski bermula dari perasaan ‘tak sampai hati’ melihat penderitaan Takezo dalam ikatan di reranting pohon.  Suatu sudut lain perikemanusiaan yang berbeda dari kemanusiaan atas nama Budha dari lelaki Takuan. Kali ini rasa kasihan dari makluk mungil perempuan yang tak pernah ada dalam sejarah nabi-nabi.  Meski tidak benar rasa kasihanlah satu-satunya yang mendorong Otsu melarikan Takezo.

“Lari? Kau akan melepas ikatanku dan membebaskan aku?”

“Ya. Aku juga tak tahan lagi diam di kampung ini. Kalau aku tinggal di sini… oh, aku tak ingin lagi memikirkan itu. Aku punya alasan sendiri. Aku cuma mau keluar dari tempat yang bodoh dan kejam ini…” (Hlm. 116)

Tampaknya misteri Hukum budha, Hukum Alam dan Waktu-Takdir yang dimaksudkan Takuan terkuak. Betapa keyakinan Takuan pada tangan-tangan segala hukum itu. Bahwa sekalipun Takuan berpikir tentang mati atas diri Takezo,  ‘matilah dengan layak, dengan wajah damai!’ Otsu menyelamatkannya. Barangkali Takuan mengerti betul gadis itu takdir lain hidup Takezo. Hal ini dibuktikannya, selepas dalam pelariannya lantas saling jumpa lagi, Takuan punya rencana lain untuk Takezo. Baik Takuan maupun Takezo seakan melupakan apapun; ikatan Budha di reranting pohon itu, juga pelariannya.

Takuan membawa Takezo ke Puri Bangau Putih dan menyerahkannya pada Yang Dipertuan di Puri Itu, Ikeda Terumasa. Kedua sahabat yang seperti saudara ini lantas sepakat menghukum Takezo dengan menempatkannya di sebuah kamar sempit, tertutup berhantu dan dalam keadaan serba kurang. Dengan lampu minyak penerangan yang kecil, namun di kamar itu ada koleksi buku-buku dari perpustakaan; buku-buku berbahasa Jepang dan Cina,  Buku-buku tentang Zen, dan berjilid-jilid tentang sejarah Jepang. Selebihnya Takuan hanya meninggalkan nasihat:

“Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir kembali. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu, tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup. Tapi pandanglah lebih saksama. Lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan, pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. Terserah padamu, apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan, ataukah kamar penuh cahaya.” (Hlm. 133)

Di kamar inilah kawah Candradimuka bagi Takezo.  Selama kuranglebih 3 tahun lamanya, sampai kemudian ia benar-benar mendapatkan pencerahan. Sekaligus Takezo bisa meredam dendam nenek moyangnya, orang-orang Akamatsu, yang darahnya tercurah di kamar itu. Takezo membawa pergi kebangkitan dirinya dan kebangkitan kembali arwah nenek moyangnya yang telah menguasai begitu banyak wilayah namun akhirnya binasa.

Semenjak itu sebelum melakukan pengembaraan, Takezo menyandang nama baru Miyamoto Musashi. Sebuah nama sebagai petanda kelahirannya kembali dari sesuatu kematiannya.

“Hari ini kau boleh meninggalkan tempat ini. Dan kalau kau pergi, peluklah dengan erat pencerahan yang telah kaubayar mahal.” (Hlm. 134)

Jika Nietzsche menggunakan istilah renaissance  untuk mengubah penolakannya ‘puji-pujian’ atas wahyu-wahyu yang ada padanya, maka pencerahan adalah perayaan kelahiran kembalinya Musashi. Keduanya sama dalam hal keinginannya membuat nilai-nilai manusia yang khas dan baru tanpa bergantung pada kekuasaan Adi Kodrati, Tuhan, Dewa-Dewa. Jika Nietzsche percaya dunialah satu-satunya  kebenaran tempat manusia bersetia diri dalam penyelamatan, maka pengembaraan Musashi keluar dari kawah candradimuka Puri Bangau Putih meneguhkan prinsip diri dan hukum alam. Pendeknya, harmoni manusia di hadapan lima unsur Budhisme-Zen; bumi, air, api, angin dan kehampaan.

Dewa-dewa ada, tetapi Musashi tak menginginkan turut campur dalam mengendalikan takdirnya.[13]

Tuhan ada tetapi dimatikannya.

Dalam novel ditunjukkan bagaimana Musashi mendaki Gunung Rajawali, yang baginya congkak itu menyinggung perasaannya—seperti kesombongan guru samurai Yagyu Sekishusai. Setelah berada di puncak gunung, dirasakannya pikirannya sejernih Kristal.

“Tak ada apa pun lagi di atasku!” teriaknya. “Aku sekarang berdiri di atas kepala rajawali!” (Hlm. 394)

Jika kita mengenalinya dengan nilai moral ‘keikhlasan,’  Musashi melakoni jalan hidup dengan ‘tanpa penyesalan.’  Barangkali rasa katanya berbeda.  Bila dalam ‘keikhlasan’ lebih terkandung kepercayaan sesuatu yang tinggi pada Adi Kodrati yang mengerdilkan diri,  namun ‘tanpa penyesalan’ adalah suatu tugas sebagai manusia baru dalam kelahirannya kembali—menghapus masa lalu sekaligus sumpah meneguhkan cita-cita.

…berjuang untuk mencapai tingkat di mana tak ada tindakannya yang akan menimbulkan penyesalan merupakan jalan yang harus ia tempuh. “Pada suatu hari nanti aku akan mencapai cita-cita itu!” demikian sumpahnya. (Hlm. 457)

Inilah ejawantah dari unsur air dalam kepercayaan kuno. Hampir semua kepercayaan kuno—Yunani, Hindu, Budhisme, Tiongkok—mengimani hal ini. Dalam bahasa Musashi yang menyebutnya Gulungan Air; Memandang air sebagai acuan dasar membuat pikiran seseorang menjadi cair. Kejernihan air.[14]

Novel ini berusaha memperlihatkan cita-cita jalan hidup Musashi terkait dengan kelahirannya kembali.

Musashi bertanya-tanya pada diri sendiri, berapa banyak orang yang pada malam itu dapat mengatakan, “Aku benar. Aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan. Aku tidak menyesal.” (Hlm. 456)

Dalam novel Musashi beberapa kali menulis kalimat demi menyelami arti dan untuk tujuan melegakan hatinya:  “Aku takkan menyesali apa pun,” “Aku takkan menyesali perbuatan-perbuatanku,” “Aku takkan melakukan sesuatu yang akan kusesali.” (Hlm. 457)

Bahkan telah menjadi doa dalam pengertian Budhisme Zen bagi orang-orang dekatnya, orang-orang yang mencintai jalan hidup Musashi; “Pergilah tanpa penyesalan.” (Hlm. 1237)

“…Sekarang saya dapat menghadapi maut tanpa penyesalan, dan terjun dalam pertarungan dengan semangat yang bebas dan hati tak terusik.” (Hlm. 1235)

Dengan kata lain, melenyapkan penyesalan adalah jalan yang harus ditempuh oleh karena terkait dengan masa lalu, kebebasan dan juga ketetapan hati. Sama halnya dengan minum teh.  Dalam sebuah dialog antara Musashi, biarawati Myoshu serta anaknya Hon’ami Koetsu[15]—si  estetikus dan seniman terkemuka itu—diungkap, tak ada bedanya antara minum teh dan Jalan Pedang. Dan kata kuncinya adalah tak lain, ketetapan hati.

“Tingkah laku itu bukan soal peraturan, tapi berasal dari hati. Sama dengan ilmu pedang, kan?”

“Kalau Ibu nyatakan demikian, memang ya.”

“Kalau engkau terlalu memikirkan cara yang benar untuk minum, kau takkan menikmati teh itu. Ketika menggunakan pedang, kau tak bisa membiarkan tubuhmu terlalu tegang. Itu akan mematahkan keselarasan antara pedang dan semangatmu. Betul begitu?” (Hlm. 503)

Hal ini mengingatkan pengetahuan Musashi pada seorang samurai bernama Yagyu—tukang kebun yang mengabdi di puri Keluarga Tokugawa. Bahwa taraf ilmunya lebih tinggi hanya dilihat dari bagaimana ia memotong dan meninggalkan goresan pada batang bunga peoni putih.

Dalam menemukan keberadaan dan ketakberadaan dirinya sendiri, digambarkan secara memukau dalam novel ini ketika Musashi berhadapan dengan musuh yang memiliki teknik dan gaya tinggi; Denshichiro—adik dari Yoshioka Seijuro dari Perguruan Yoshioka.

Diam kini bagai kuburan. Salju menumpuk di atas rambut Musashi, dan di atas bahu Denshichiro. Musashi tidak lagi melihat batu besar di hadapannya. Ia sendiri tidak lagi hadir sebagai manusia tersendiri. Keinginan menang telah terlupakan. ia memandang putihnya salju yang jatuh di antara dirinya dan lawannya. Semangat salju itu sama ringan dengan semangatnya sendiri. Ruang di antaranya kini terasa bagai perpanjangan tubuhnya sendiri. Ia telah menjadi alam semesta, atau alam semesta menjadi dirinya. Ia ada di sana, namun tak ada di sana. (Hlm. 583)

Lain dari itu, pertemuan pertama—atau keduanya—Musashi dengan Kojiro juga memperlihatkan secara kocak namun tanpa mengurangi makna mendalam perihal ‘kesendirian’  terungkap sebagaimana kutipan berikut;

“Nah, jadi begitulah keadaannya. Apa engkau betul-betul bermaksud pergi sendiri, atau barangkali engkau punya pendukung yang datang lewat jalan lain?”

“Aku punya seorang teman.”

“Oh? Di mana dia sekarang?”

“Di tempat ini juga!” Musashi menuding bayangannya sendiri. Karena tertawa, giginya berkilau disinari bulan.

Kojiro meremang bulu tengkuknya. “Ini bukan bahan tertawaan.”

“Dan aku juga tidak menganggapnya lelucon.”

“Oh? Kedengarannya seperti engkau menertawakan nasihatku.” (Hlm. 649-651)

Meski demikian pengembaraan Musashi  dengan apa yang disebut ‘memeluk erat pencerahan,’ untuk tujuan mendapat kemajuan dalam pengetahuan dan penyempurnaan diri yang sedang dicarinya, bukanlah tanpa kontroversi, kontradiksi, bahkan paradoks.

Ketika membunuh Genjiro–anak tertua Yoshioka Genzaemon, paman Seijuro, yang menjadi kepala baru Keluarga Yoshioka—Musashi panen hujatan dan penghinaan. Musashi membunuh anak muda yang masih di bawah umur dan dalam ketakutan itu. Musashi membantah tuduhan itu dengan diam, namun demi melindungi keyakinannya, bahwa hal itu dilakukan karena orang-orang Yoshioka menggunakan Genjiro sebagai pembawa panji-panji mereka, tidak ada pilihan lain kecuali membunuhnya.

“Apa pun yang mereka katakan, aku yang benar,”… Dialah jenderal mereka. Selama ia masih hidup, Perguruan Yoshioka akan tetap belum dikalahkan Dengan membunuh anak itu lebih dulu, Musashi menjadi pemenang, sekalipun misalnya kemudian ia terbunuh dalam pertempuran…  (Hlm. 687)

Dalam hal menyoal kebenaran, hal ini mengingatkan pada mula pertama munculnya nihilisme juga memicu terjadinya pembunuhan. Nihilisme untuk kali pertama muncul dalam novel Turgenev (Fathers and Children, 1862) yang menunjuk pada suatu gerakan perubahan tak terencana di Rusia yang puncaknya membantai sejumlah pejabat Rusia. Termasuk Tsar Alexander II.  Penyangkalan mutlak dasar kebenaran apapun yang objektif dan real.  Semua pengetahuan adalah ilusi, tidak bermakna, tidak bermanfaat, nisbi.

Lalu, jikapun benar yang dialami Musashi adalah suatu pencerahan, maka jelaslah yang dimaksud bukanlah satori dalam Budhisme Zen.   Suatu pemahaman kebenaran-kesadaran mendadak yang mensyaratkan “tidak adanya karakter” dan tidak adanya pikiran.  Sedangkan pencerahan Musashi ditempuh dengan asketisme yang keras, kedisiplinan yang tinggi, kesederhanaan atau moralitas tertentu.  Bahkan  menempuh ‘tirakat’ selain melalui ‘kawah candradimuka’ yang diterapkan oleh Takuan; sebuah jalan yang  bertentangan dengan salah satu postulat Budhisme Zen; Jalan Alamiah.

MUSASHI terus mengembara di pedesaan, menghabiskan waktu dengan berlatih hidup secara kekurangan, menghukum tubuhnya untuk menyempurnakan jiwa. Lebih dari sebelumnya, ia bertekad untuk menempuh semua itu sendirian. Kalau itu berarti ia mesti menanggung lapar, hidup di udara terbuka, di tengah udara dingin dan hujan, serta berkeliling dengan pakaian compang-camping dan kotor, ia biarkan saja. (Hlm. 832)

Walaupun sangat mungkin pengarang menafsirkan lain ‘Jalan Alamiah’ dalam postulat Budhisme Zen sebagai ‘berguru pada alam’ sebagai suatu prinsip dalam Jalan Pedang. Dengan kata lain, pada satu sisi menolak ketergantungan pada pedang, di sisi lain penyatuan diri pada potensi dan ritme alam.  Sebagaimana diakui sendiri oleh Musashi dalam Kitabnya;

“Saya telah berhasil menang dan menang dalam semua pertempuran bukan karena pencapaian yan sempurna dalam seni perang. Mungkin semua itu karena saya mempunyai keterampilan bawaan dalam hubungan dengan ilmu seni perang dan saya tidak menyalahi prinsip-prinsip alam atau prinsip kodrati.” [16]

Inilah narasi absurditas yang dibangun pengarang, jika absurditas mengandung pengertian kontradiksi di dalam dirinya. Novel ini ditulis Eiji Yoshikawa  pada sekitar tahun 1930-an dan dipublikasikan 1935-1939.  Suatu masa yang secara politis dan militer dibayang-bayangi karut marut dengan kecamuk peperangan versus Cina yang bisa terjadi secara tiba-tiba.  Suatu keadaan yang berlanjut hingga perang dunia kedua.  Selain di bawah bayang-bayang perubahan besar (pembaratan) sejak modernisasi Restorasi Meizi yang sudah barangtentu berdampak pada dunia pemikiran, gagasan dan filsafat di Jepang.

Tersebab itu gagasan pencerahan Budhisme Zen baik dalam pengertian satori maupun jalan pedang Musashi yang semula berpusar pada individu orang biasa, berkembang menjadi pendekatan baru ke arah sosial–orang banyak, meski buhul dari gagasan ini tetaplah berpusar pada Alam. Artinya, mengembangkan nilai-nilai tradisional, seperti halnya dalam Shinto, kesuburan (alam) merupakan hal yang menjadi perhatian paling utama.[17]    Hal ini terungkap dalam salah satu kutipan berikut.

Salju turun lagi, dan mencair. Air keruh mengalir pelan di atas dataran. Tapi Musashi telah mengembangkan pendekatan yang baru, sehingga ladangnya pun dapat bertahan.

“Hukum macam itu berlaku juga dalam mengatur orang banyak,” katanya pada diri sendiri. Dalam buku catatannya ia menulis, jangan mencoba melawan jalannya alam semesta. Tapi pertama-tama yakinkan dirimu bahwa engkau mengenal jalan alam semesta. (Hlm. 851)

Bandingkan dengan pernyataan Albert Camus; Dalam pengalaman absurd, derita itu bersifat individual. Tetapi saat pemberontakan mulai, penderitaan dilihat sebagai sesuatu penyelamatan kolekstif.[18]

Musashi juga menulis pada sebuah papan di gerbang desa;

Beberapa menit kemudian, ia berhenti di depan gerbang kepala desa. Di situ tergantung sebuah papan yang masih baru, dengan tulisan tinta mengilap, Peringatan untuk Penduduk Desa: Bajakmu adalah Pedangmu. Pedangmu adalah Bajakmu. Selagi kerja di ladang, jangan lupa serbuan luar. Selagi memikirkan serbuan luar, jangan lupa ladangmu. Segala hal mesti berimbang dan terpadu. Yang paling penting, jangan melawan Jalan Pergantian Generasi.

“Hmm. Siapa yang menulis ini?”

Kepala desa akhirnya keluar, dan kini membungkuk ke tanah di depan Sado. “Musashi,” jawabnya. (Hlm. 865)

Bandingkan pula dengan dua elemen paling utama seluruh tradisi strategis seni perang kuno dalam kitab yang ditulis Musashi;

Menjaga ketenangan batin yang luar biasa bahkan ketika sedang berada di tengah-tengah situasai chaos yang sadis.

Tidak melupakan kemungkinan terjadinya kekacauan pada masa-masa aman dan tenang. [19]

Kontroversi, kontradiksi, paradoks boleh jadi memperlihatkan kerumitan jalur-jalur akar tradisi dan spiritualias masyarakat di Jepang yang tergambar dalam novel (teks), terkait dengan era kepenulisan pengarangnya (konteks).  Dalam sebuah penelitian, misalnya yang dilakukan S. S. Eli RostinahS. S. Syahrur MartaS. S. M.Hum Ida Nurul Chasanah, membagi novel ke dalam dua bagian yang masing-masing Judul Episode 1 sampai Episode 4 novel Musashi merupakan teks transformasi dari unsur-unsur alam yang terkait dengan ajaran Zen Budhisme. Sedangkan Episode 5 sampai Episode 7, yang masing-masing berjudul Langit; Matahari dan Bulan; dan Cahaya Sempurna lebih merefleksikan ajaran Shinto.[20]

Shinto memang agama resmi yang berlaku di Jepang sejak Restorasi Meizi pada saat pengarang menulis novel ini. Namun demikian Kitab-kitab yang ditulis Musashi—yang tentu saja sebagai sumber utama penulisan–meneguhkan sebagai penganut Budhisme Zen yang tidak memberi ruang pemujaan pada dewa-dewa ke ranah publik; bahkan cenderung menihilkannya; hal yang bukan spirit dari agama Shinto dengan ratusan bahkan ribuan dewa-dewanya–“delapan miliun dewa”.  Agama Shinto menaruh kepercayaan yang tinggi pada “kami”– benda-benda dan seseorang, keluarga, suku, raja-raja, alam raya menimbulkan kepercayaan kepada dewa-dewa. Bahkan hingga menjelang ajalnya, kepada Budha dan para dewa perwujudan sikap yang ditunjukkannya adalah menghormatinya tanpa mengharapkan bantuannya.[21]

Selain itu, sebagai penegasan, konteks sejarah Musashi, sebagaimana diuraikan Robert N Bellah, dalam Religi Tokugawa mengungkap;  menjelang masa-masa Tokugawa, orang dapat saja menyatukan beberapa elemen yang umum terdapat di semua religi kemudian memberinya label “religi Jepang.” Konfusianisme dan Shinto banyak meminjam atau mengambil metafisika dan psikologi Budhisme; Budhisme dan Shinto telah meminjam etika Konfusius; sedangkan Konfusianisme dan Budhisme telah pula sepenuhnya dijepangkan.[22]

Konsep dasarnya, Yang pertama adalah tuhan sebagai suatu entitas lebih tinggi yang memelihara, memberikan perlindungan dan cinta. Contoh-contoh untuk ini mencakup dewa-dewa langit dan Bumi dari penganut Konfusius, Amida dan Budha-Budha yang lain, dewa-dewa Shinto, selain para dewa pelindung local dan para nenek moyang (Sikap hormat, syukur, membalas rahmat).[23]   Kedua,  mungkin rumusan yang tepat adalah bahwa dia merupakan dasar dari segala yang ada atau inti terdalam dari realitas.  Contoh-contoh untuk ini adalah Tao Cina; li dari neo Konfusius yang serint diterjemahkan sebagai nalar, dan hsin, hati atau pikiran, kalau dikaitkan dengan li; konsep Budha tentang hakikat Budha dan istilah kami dalam Shinto dalam pengertian yang paling filosofis.[24]
***

Paradoks lainnya, Koetsu, seniman itu,  menilai Musashi bukanlah orang biasa, dalam arti orang yang luar biasa—orang yang tak puas dengan hanya mengandalkan diri pada ‘pemberian alam.’ Sementara di luar dirinya hal itu disebut-sebut sebagai ‘bakat pemberian dewa.’  Hal ini berarti, demikian narasi novel ini menegaskan; cara orang yang tidak tekun berlatih menyenangkan diri. (Hlm. 1189)

Kesenian sebagai jalan sunyi, juga diambil Musashi. Musashi memuja lukisan Liang-K’ai, lukisan-lukisan Cina dinasti Sung, ahli Zen Jepang abad 15, dari aliran Kano; Kano Sanraku dan Kaiho Yusho.  Sapuan kuas Liang-K’ai yang berani dan jantan itu, menurut penglihatan seorang pemain pedang, adalah karya memukau dan mengungkapkan kekuatan besar seorang raksasa. Kaiho Yusho menjadi panutan Musashi karena asal usulnya seorang samurai, pada umur tuanya mencapai taraf kemurnian sedemikian tinggi. Ia juga tertarik akan efek-efek spontan cahaya dalam karya-karya Shokado Shojo, pendeta pertapa dan seniman itu, yang lebih disukainya lagi kerena orang itu terkenal sebagai sahabat Takuan. (Hlm. 1080)

Selepas pengangkatan kedudukan resmi Musashi sebagai guru di keluarga Yang Dipertuan Hojo dibatalkan, ada satu pertanyaan yang terus melintas di benak Musashi “Apakah kebesaran terletak di dalam atau di luar pintu gerbang?”  Inilah yang menggetarkannya untuk melukis Dataran Musashino.  Di tengah tampak bulatan matahari terbit yang sangat besar berwarna merah menyala.  Matahari yang melambangkan keyakinan Musashi akan integritas sendiri.  Selebihnya dibuat dengan tinta, untuk menangkap rasa musim gugur di dataran ini.  1081 Sebuah lukisan yang menerbitkan pernyataan di benak Sakai Tadakatsu seorang Daimyo terkenal dan pejabat Shogun:, “Kita telah lepaskan seekor harimau ke dalam hutan belantara.”(Hlm. 1081)

Selain melukis, Musashi juga pembuat patung Kannon[25], dan menulis sajak. Salah sebuah sajaknya;

Kalau alam semesta ini
memang kebunku, maka
Manakala aku memandangnya,
Aku pun berdiri di pintu luar
Rumah yang namanya Dunia Maya (Hlm. 1085)

Perihal kesenian ini dalam uraiannya di buku Kitab 5 Cincin, Musashi menyebut sebagai salah satu dari empat jalan hidup; tiga lainnya Ksatria, Petani, dan Pedagang. Uniknya, pada uraian jalan hidup seniman Musashi merepresentasikannya dengan keahlian tukang kayu; mencakup penciptaan kreatif perbagai Peralatan, penguasaan alat, rancangan yang tepat, ukuran, ketekunan, ketangkasan. Seperti halnya seniman, seni perang (dan tentu saja jalan  hidup ksatria) juga dianalogikannya dengan jalan hidup seorang tukang kayu.

Musashi menempatkan penjiwaan seni sebagai salah satu dari 9 aturan bagi yang belajar di jalan hidup ksatria, perang, kemiliteran.[26]
***

Dalam buku The Lone Samurai Kehidupan Miyamoto Musashi, karangan William Scott Wilson, menjelang usia senjanya Musashi meninggalkan semua ajarannya pada Terao Magonojo Katsunobu: Murid favorit Musashi dan penerima Kitab Lima Lingkaran pada saat kematian Musashi.  Sedangkan dalam novel ini, yang mengisahkan kehidupan masa muda Musashi ini, ada beberapa muridnya—atau setidaknya yang mengaku sebagai muridnya.

Mereka adalah Aoki Jotaro, Muso Gonnosuke, Misawa Iori.

Melalui kitab-kitabnya, memang bisa ditelisik dengan tepat bagaimana personality, ‘karakter’ Musashi terkait dengan jalan hidupnya. Misalnya, Hyoho Niten Ichi Ryu (teknik dua pedang), yang dihasilkan dari pengalaman hidupnya dalam pertempuran dan persepsi hidupnya yang mendalam berkembang selama puluhan tahun praktik dan pengamatan. Namun demikian pesan-pesan kepada muridnya, dalam novel ini patut dan tak kurang pentingnya untuk dicermati guna melengkapi persepsi tentang Musashi.

“Kau mesti belajar lebih banyak selain berlatih seni bela diri. Kau mesti belajar dari buku-buku. Dan biarpun kau mesti jadi orang pertama yang menolong orang jika diperlukan, kau mesti mencoba lebih rendah hati dari anak-anak lain.”

“Ya, Pak.”

“Dan jangan jatuh dalam perangkap rasa kasihan pada diri sendiri. Banyak anak macam kau, yang kehilangan ayah dan ibu, berbuat begitu. Kau tak dapat membayar kebaikan hati orang lain, kecuali jika kau juga hangat dan baik hati.”

“Ya, Pak.”

“Kau memang pandai sekali, Iori, tapi hati-hati. Jangan sampai pendidikan kasar inilah yang menguasaimu. Kendalikan dirimu baik-baik. Kau masih kanak-kanak, di hadapanmu terbentang hidup yang panjang.

Jagalah hidup itu baik-baik. Selamatkan dia, sebelum kau dapat mengarahkannya kepada hal yang sungguh-sungguh baik—kepada negerimu, kehormatanmu, kepada Jalan Samurai! Berpeganglah pada hidupmu, dan jadikan hidupmu itu tulus dan berani.” (Hlm. 1214)

“Selalu ada benih kebenaran dalam desas-desus yang seburuk-buruknya, Iori. Aku bisa saja berbuat kekeliruan, tapi sekarang… sesudah perkembangan sekian jauh, lari berarti meninggalkan Jalan Samurai. Itu akan mendatangkan aib tidak hanya bagi diriku, tapi juga bagi orang-orang lain.” (Hlm. 1215)

Bandingkan kalimat ‘jangan jatuh dalam perangkap rasa kasihan pada diri sendiri,’ dengan pernyataan Nietzsche yang dikutip Bertrand Russel berikut; Ia menganggap belas kasih sebagai kelemahan yang harus diperangi. “Tujuannya adalah memperoleh energi kehebatan yang sangat banyak yang dapat menjadi model manusia masa depan dengan cara pendisiplinan dan juga dengan cara pembasmian jutaaan orang ceroboh dan perusak…”[27]

4. Cinta yang Ingin Hidup 1000 Tahun

Novel ini memulai kata-kata cinta dalam pengertian yang sangat mendalam, bias dan mungkin juga klise diantara tiga tokoh utamanya Takuan, Takezo dan Otsu dalam metafora Tali Cinta (96). Pada satu sisi dalam pengertian Budhisme, tapi pada sisi lain bukan mustahil dalam pengertian cinta asmara, oleh karena sangat mungkin Takuan mengerti bakal ada hubungan asmara antara Takezo-Musashi dengan Otsu kelak kemudian hari.

Hubungan cinta yang diawali dengan pelarian diri, dan demikian selanjutnya cinta pun senantiasa dalam pelarian keduanya. Pada titik ini kegetiran hidup melanda keduanya. Mula-mula pelarian itu antara keduanya memiliki alasan masing-masing. Takezo memekikkan hasratnya untuk hidup. Sedangkan Otsu didorong keinginannya minggat dari kampung.

Dalam pelarian itulah Otsu kemudian menyatakan rasa cintanya pada Takezo.

Dengan pandangan menghunjam, Otsu menggenggam tangan Takezo. Wajah dan seluruh tubuhnya menyala oleh cinta. “Takezo,” mohonnya, “akan kukatakan padamu bagaimana perasaanku kemudian, kalau ada waktu, tapi kuminta jangan tinggalkan aku di sini sendiri! Bawa aku ke mana saja kau pergi!” “Tapi aku tak bisa!”
….

“Aku menunggu di Jembatan Hanada, di pinggiran Himeji. Kutunggu kau di sana, biar sampai seratus atau seribu hari.” (Hlm. 118)

Dan inilah kalimat pertama Otsu, selepas Takezo yang berganti nama Musashi, menjalani masa karantina di Puri Bangau Putih tiga tahun kemudian;

“Takezo, kau tidak lupa, kan? Kau tidak lupa nama jembatan ini? Apa kau lupa janjiku akan menanti di sini berapa pun lamanya?”

“Kau menanti di sini tiga tahun lamanya?” Musashi terpana. (Hlm. 138)

Aku mau membaktikan diriku pada latihan dan disiplin. Aku ingin memanfaatkan setiap saat dalam tiap hariku untuk bekerja memperbaiki diri. Aku sadar sekarang, betapa jauh jalan yang harus kutempuh. Kalau engkau memilih mengikatkan hidupmu padaku, engkau tak akan pernah bahagia. (Hlm. 141)

Jawaban Musashi itu menjadi penanda untuk waktu selanjutnya pelarian diri yang baru, juga kegetiran keduanya yang selalu mengalami babak baru.  Jarak tubuh yang selalu jauh ketika hasrat begitu sama-sama mendekat.  Demikian pula jiwa berkhianat  ketika jarak badan begitu dekat bahkan sedekat-dekatnya. Sebagaimana kutipan berikut;

Melihat Otsu mencucurkan air mata lagi, Musashi menyesali kata-katanya yang kasar.

“Sekarang aku mengerti, kenapa bertahun-tahun lamanya aku berbohong padamu, juga pada diri sendiri. Aku tidak bermaksud menipumu ketika kita lari dari desa, atau ketika aku melihatmu di Jembatan Hanada, tapi aku tolol menipumu-dengan berpura-pura dingin dan tak acuh. Padahal bukan itu perasaanku.

“Sebentar lagi aku mati. Yang akan kukatakan ini, itulah yang benar. Aku cinta padamu, Otsu. Akan kubuang segalanya jauh-jauh dan kuhabiskan umurku denganmu, sekiranya saja…” (Hlm. 658)

“Pedang adalah pelarianku. Setiap kali nafsu mengancam akan menguasaiku, kupaksa diriku kembali ke dunia pedang. Inilah nasibku, Otsu. Aku terbelah antara cinta dan disiplin diri. Rasanya aku meniti dua jalan sekaligus. Tetapi manakala kedua jalan itu menyimpang, aku selalu berhasil menempatkan diriku pada jalan yang benar. (Hlm. 659)

Salah satu dari puncak-pucak kegetiran hidup dan cinta antara Musashi dan Otsu adalah ketika terjadi persetubuhan. Tersebab begitu dekat sekaligus jauh jarak antara nyeri, ngeri, hasrat menyala dan gigil dingin, juga malu dan marah, manusia dan binatang, nafsu dan rindu.

Sebagaimana dinarasikan pengarang sebagai berikut;

Dengan hati berdebar, seperti hati burung layang-layang yang ketakutan, Otsu memperhatikan penderitaan Musashi itu dari balik pohon. Sadar bahwa ia telah melukainya dalam-dalam, ia ingin Musashi berada di sampingnya lagi, tapi betapa ingin pun ia berlari mendapatkan Musashi dan memohon maaf, tubuhnya tak hendak menurut. Untuk pertama kali ia sadar bahwa kekasih yang telah diserahi hatinya itu bukanlah pria penuh kebajikan seperti pernah dibayangkannya. Menemukan binatang yang telanjang itu, berupa daging, darah, dan nafsu, matanya suram oleh kesedihan dan ketakutan. (Hlm. 717)

Hasratnya akan Otsu mati pelan-pelan, karena hasrat itu bersaudara dekat dengan watak pemarahnya.

Tanpa watak itu, tak mungkin ia ikut Pertempuran Sekigahara atau melaksanakan satu pun dari segala prestasinya yang luar biasa. Tetapi bahayanya justru terletak pada kenyataan bahwa pada taraf tertentu, bertahun-tahun masa latihannya bisa menjadi tak berdaya menghadapi hasrat itu, dan menenggelamkannya kembali ke taraf binatang liar yang tidak berbudi. Dan melawan musuh seperti ini, musuh yang tak berbentuk dan tersembunyi, pedangnya sama sekali tak berguna. (Hlm. 718)

Sikap Musashi terhadap perempuan ada kemiripan dengan pandangan Nietzsche Dalam kitab kerasulan-semunya Thus Spake Zaratrustra, ia berkata bahwa wanita-wanita hingga kini tidak mampu bersahabat; mereka seperti kucing, atau burung atau paling banter sapi. “Lelaki harus dilatih untuk perang dan wanita untuk rekreasi prajurit. Semua hal lainnya adalah tolol.”[28]

Sebagai suatu kemiripan, sudah barangtentu ada kesamaan dan ada pula ketaksamaan.

Kepada Otsu, Musashi juga memperlihatkan kemiripan serupa dalam hasrat pada pencapaian keabadian seperti dalam puisi penyair pemuja eksistensialis  Chairil Anwar: “aku ingin hidup seribu tahun lagi.”

“Aku mengerti perasaanmu, Otsu, tapi kuminta jangan engkau mati seperti pengecut. Jangan karena kesedihan, kaubiarkan dirimu tenggelam dalam lembah maut dan tewas sebagai orang lemah…

“…Aku mau hidup terus sampai seratus atau seribu tahun, di hati bangsaku, di dalam semangat ilmu permainan pedang Jepang.” (Hlm. 661)

Dalam pelbagai sumber menyebut Musashi tidak pernah menikah. Musashi memiliki tiga orang anak angkat; Miyamoto Mikinosuke, Miyamoto Iori, dan Hirao  Yoemon.

Dalam novel Musashi, kisah cintanya dengan Otsu memang berakhir happy ending, namun perkawinan antar keduanya yang dimaksudkan dalam salah satu babnya yang pendek lebih bersifat metafisis—bukan perkawinan yang sebenarnya. Atau barangkali semacam ambiguitas yang dipasrahkannya kepada pembaca. Tampaknya pengarang hendak menunjukkan ‘cinta’  lebih sebagai pengertian ‘realitas jiwa’ dalam Budhisme Zen daripada ‘badan realitas.’

Artinya, sekaligus pengarang lebih meneguhkan salah satu dari dua konsep dasar religi Jepang; tuhan sebagai suatu entitas lebih tinggi yang memelihara, memberikan perlindungan dan cinta, dalam bentuk sikap hormat, syukur, membalas rahmat.[29] Hal ini lebih mengukuhkan ‘Jalan Alamiah’ ketimbang sabda Nietzsche;  “Mereka selalu merupakan kesenangan di sepanjang masa dan bagi jiwa pria yang berbobot,”[30] yang cenderung merendahkan perempuan.

Ada kesan penolakan satu terhadap lainnya. Ada pesan ‘kekerasan’ satu sisi dan ‘kehalusan’ di sisi lainnya. Ada semacam romantisme yang lebih dekat pada sentimentalism di sini. Boleh jadi masalah ‘cinta’ tak lain sebagai salah satu tanda garis simpang yang paling tampak dalam perjumpaan antara nihilisme barat dan konsep kehampaan, kekosongan ketiadaan menurut konsep Timur.

Silakan cermati kutipan berikut;

“Kalau di dalam hatimu kau mau menganggapku sebagai calon istrimu, cukuplah. Itulah kegembiraan dan berkat yang cuma dimiliki olehku,…..Dengan senang hati aku menyongsong hari kematianku. Hari itu akan seperti pagi yang indah ketika burung-burung menyanyi, dan aku akan pergi dengan bahagia, sebahagia kalau aku sedang menuju pesta perkawinanku.” (Hlm. 660).

“Kau begini kurus… begini kurus.” Musashi sadar benar bahwa napas Otsu bercampur demam. “Otsu, maafkan aku. Barangkali aku kelihatan tak berhati, tapi sebetulnya tidak, terutama yang menyangkut dirimu.”

“Aku… aku tahu.”

“Betul? Sungguh?”

“Ya, tapi kumohon ucapkan satu patah kata padaku. Satu patah saja. Katakan, aku istrimu.”

“Akan merusak segalanya kalau aku mengatakan apa yang sudah kauketahui.”

“Tapi… tapi…” Otsu tersedu-sedu dengan sekujur tubuhnya, tapi dengan ledakan kekuatannya ia tangkap tangan Musashi, dan teriaknya, “Katakan! Katakan aku istrimu sepanjang hidup ini!”

Musashi mengangguk, pelan-pelan, tanpa kata-kata. Kemudian satu-satu ia melepaskan jemari Otsu yang lembut dari tangannya, dan berdiri tegak. “Istri samurai tak boleh menangis dan lemah ketika suaminya pergi berperang. Tertawalah untukku, Otsu. Lepaskan aku dengan senyum. Ini barangkali keberangkatan terakhir suamimu.” (Hlm. 1236).

5. Tentang Spiritualitas Jalan Pedang

Suatu malam Musashi bertamu ke rumah Zushino Kosuke—seorang penggosok pedang, yang di papan depan rumahnya ditulisnya “Jiwa Digosok.”

Musashi berniat menggosok pedangnya. Lalu keduanya terlibat perbincangan menarik lantaran ternyata Kosuke adalah murid dari Hon’ami Koetsu, seniman besar yang tak lain juga guru Musashi dalam seni.

Keluarga Hon’ami mengabdi kepada para shogun Ashikaga. Mereka juga penggosok pedang-pedang kaisar.

Meski cukup singkat, namun dialog antar keduanya amat menarik menyingkap bagaimana pandangan mereka, guru mereka, dan orang Jepang terhadap pedang. Hampir pasti, bagian inilah boleh dikatakan inti dari ajaran Jalan Samurai atau Bushido.

“Anda lihat di situ, tak ada kata yang menyatakan menggosok pedang. Urusan saya menggosok jiwa-jiwa samurai yang datang ke sini, bukan pedangnya. Orang tak mengerti, tapi itulah yang diajarkan pada saya, ketika saya belajar menggosok pedang.” (Hlm. 884)

Dari kalimat Kosuke, Musashi mengerti hal itu adalah kata-kata Koetsu. Sebaliknya, Sosuke tahu dari kata-kata Musashi adalah pelajaran yang diajarkan Koetsu pada semua muridnya.

“…Koetsu selalu mengatakan bahwa pedang Jepang diciptakan bukan untuk membunuh atau melukai orang, tapi untuk mempertahankan kekuasaan kaisar dan melindungi bangsa, untuk menundukkan setan-setan dan mengusir kejahatan. Pedang adalah jiwa samurai. Samurai membawa pedang bukan untuk tujuan lain selain mempertahankan martabatnya sendiri. Pedang adalah peringatan yang selalu hadir bagi penguasa untuk berusaha mengikuti Jalan Hidup. Sudah sewajarnya kalau tukang yang menggosok pedang harus juga menggosok semangat pemain pedang.” (Hlm. 885)

Perjumpaan Musashi dan Kosuke menyingkap pengakuan keduanya. Kosuke mengaku meski telah menggosok pedang, namun selama ini belum menjumpai seorang pun para pemiliknya yang punya bayangan tentang makna sejati pedang. Aneh juga sebetulnya, pengakuan Kosuke, karena salah satu pedang yang digosoknya; Galah Pengering milik Sasaki Kojiro—samurai yang kelak kemudian hari berduel dengan Musashi. Namun diungkapnya pula padanya bukan Kojiro sendiri yang menyerahkan pedangnya, melainkan melalui tangan orang lain.

“Setiap orang bermulut manis tentang pedang,” kata Kosuke. “Siapa saja bicara bahwa pedang adalah jiwa samurai. Mereka mengatakan bahwa pedang adalah satu dari tiga kekayaan suci negeri ini. Tetapi cara orang-orang itu memperlakukan pedang sungguh memalukan. Yang saya maksud adalah para samurai dan pendeta, begitu juga orang kota….”  (Hlm. 887)

Sedangkan pengakuan Musashi yang selalu dibayangi di balik kata Kosuke adalah Koetsu, meski telah mengenal pedang sejak kanak-kanak, Musashi mengaku belum pernah memikirkan semangat yang bersemayam di dalamnya.

Maka tampaknya, Jalan Samurai dalam pandangan Koetsu Sang Estetikawan dan murid-muridnya; Kosuke dan Musashi menjadi lebih dinamis. Pada saatnya Jalan Pedang sendiri identik dengan Jalan Hidup Musashi.  Dalam bahasa Musashi sendiri “Zaman Baru.”  Yang dia maksudkan tak lain adalah Musashi sudah mustahil mengikuti zaman peperangan besar di era Oda Nobunaga, Ieyasu Tokugawa dan Hideyoshi yang puncaknya perang Sekigahara (Tahun 1600) yang melibatkan dirinya dan nyaris membuatnya hancur lebur itu.

Mulanya, bagi samurai zaman itu, yang terpenting di dunia ini adalah kehormatan.[31]

Sementara Dinamika Musashi adalah individual, pribadi, yang dalam penelitian Robert N. Bellah  Budhisme dan Konfusianisme telah menguatkan nilai-nilai dasar tentang prestasi dan partikularisme—yang dicontohkannya berupa kesetiaan dan ketaatan pada orang tua.[32]  Memang pada konteks ini Musashi punya dinamika yang lain karena dirinya seorang Ronin—tanpa tuan—sementara nilai-nilai Bushido telah terlembaga dalam hubungan samurai dengan pangeran.

Catatan Thomas Cleary dalam pengantar Kitab Lima Cincin yang ditulis Miyamoto Musashi pada 1643 menyebut Kelas samurai yang asli pada awalnya adalah para pelayan kaum bangsawan. Sedangkan pilihan jalan yang ditempuh Musashi disebutnya “jalan keprajuritan estetik.”

Sementara itu untuk hal Bushido yang berarti keinginan kuat untuk mati, dari uraian Robert N Bellah yang  mengutip  Hagakure (Satu Karya abad 17 tentang Bushido) sebagian telah disinggung di atas dan diterangkan di catatan kaki nomor 11.   Dari sumber doktrin yang sama, bisa dilengkapi di sini;

Jika pikiranmu selalu terpaku pada kematian, jalanmu sepanjang kehidupan akan selalu lurus dan bersahaja… [33]

Dengan bertekad untuk mati, kematian tidak akan menyakitkan.  Keakuan dihilangkan. Sikap-sikap semacam ini berkaitan dengan minat paa samurai yang besar terhadap Budhisme Zen.  Sebagai missal Takeda Shingen (1521-1573) salah satu prajurit utama dari abad 16 memperingatkan para pengikutnya untuk mempraktekkan Zen dengan baik dan menyitir untuk mereka ungkapan seperti “Tiada rahasia dalam praktek-praktek Zen, kecuali berdiri di ambang kehidupan dan kematian.” [34]

Pandangan pengarang melalui tokoh Musashi perihal kematian di Jalan Pedang tak kalah menariknya. Selain kematian dimaknai sebagai kehidupan bagi orang lain, juga kematian sebagai bahaya dari orang lain, sekaligus memaknai kematian yang bersifat Imajiner. Silakan dicermati kutipan ini;

Siapa pun yang menempuh Jalan Pedang, selamanya berada dalam bahaya dibunuh. Kalau ia lolos dari satu bencana maut, akan menyusul kemungkinan-kemungkinan baru. Dengan perbuatan itu, ia menciptakan musuh-musuh baru atau bencana baru. Bahaya merupakan batu gerinda yang dipakai pemain pedang untuk mengasah semangatnya. Musuh adalah guru yang menyamar.

Belajar waspada terhadap bahaya, biarpun sedang tidur, belajar dari musuh sepanjang waktu, menggunakan pedang sebagai alat untuk membiarkan orang lain hidup, menguasai alam, mencapai pencerahan, berbagi kegembiraan hidup dengan orang lain-semua itu tak terpisahkan dari Jalan Pedang. (Hal. 1153)

Inilah yang dikatakan Musashi pada lawannya, Yoshioka Denshichiro pada suatu ketika.

“Kau barangkali tidak memperhatikan, karena tak ada bekas luka pada badanmu, tapi kau sudah kukalahkan. Pasti.” (Hlm. 581)

Maka sedikit lebih terang, bahwa Jalan Pedang identik dengan Musashi tersebab dinamikanya, tepatnya spiritualitasnya, semangatnya, pemberontakannya baik dari teks-teks yang sudah ada maupun atas konteksnya.  Musashi tak berhenti pada apa yang disebutnya sendiri ‘zaman baru’ dari perang ke pemikiran, atau menuju pemberontakan demi pemberontakan tetapi juga kebaruan itu sendiri—kebaruan pada dirinya sendiri;  meletakkan pedang lalu menggarap ladang, mendalami  Zen, kaligrafi, seni minum teh, melukis, dan mengukir patung.

“…Semua itu bermanfaat untuk menyempurnakan ilmu pedang seseorang…Dengan mengubah tanah datar yang tidak ramah menjadi tanah pertanian, ia dapat memajukan kesejahteraan generasi masa depan.” (Hlm. 842)

Bahkan Musashi menggerakkan Jalan Pedang pada sesuatu yang sama sekali baru; dari personal ke sosial. Sebagaimana kutipan berikut ini;

Mulailah ia melihat Jalan Pedang secara baru….Ia ingin menaklukkan dirinya sendiri, membuat hidup itu sendiri takluk kepadanya, mendorong orang lain untuk hidup, dan bukan untuk mati. Jalan Pedang tidak boleh dipergunakan semata-mata untuk menyempurnakan diri. Ia harus menjadi sumber kekuatan untuk menguasai orang banyak, dan memimpin mereka ke arah perdamaian dan kebahagiaan.” (Hlm. 843)

Dengan demikian dapat dikatakan dalam novel ini pengarang meneguhkan bahwa ‘pencerahan’ mengandung pengertian; baik  dalam Budhisme Zen (Satori) bagi semua orang, maupun yang ditempuh  melalui asketisme yang keras, lewat konsep pemikiran yang menerbitkan “karakter khas” dan adanya pikiran yang kukuh. Pendeknya suatu “proses” di ruang dan waktu, teks dan konteks sebagai kelengkapan dua-duanya yang dalam bahasa Takuan;

“..Peluklah dengan erat pencerahan yang telah kaubayar mahal. Kau akan membutuhkannya apabila nanti memasuki dunia dan menggabungkan diri dengan sesamamu.” (Hlm. 134)

Yang dijawab dengan karakter-watak kerendahan hati Musashi;

“Saya takut masih belum matang, kurang bijaksana… jauh dari pencerahan. Semakin banyak saya mengadakan perjalanan, semakin panjang jalan itu. Saya merasa sedang mendaki jalan gunung yang tak ada ujungnya.” (Hlm. 983)

Menyebut beberapa diantara pencerahan yang dimaksud, bisa dicermati dalam novel ini, semisal ketika Musashi secara tiba-tiba mengaku melihat kebenaran bahwa teknik-teknik pedang bukanlah yang sedang dikejarnya. Musashi menilai jalan yang ditempuh Uesugi Kenshin dan Date Masamune terlalu bersifat militer, sehigga terlampau picik.

Yang ia cari adalah Jalan Pedang yang mencakup segalanya…

Untuk pertama kali, ia bertanya apakah mungkin seorang manusia biasa menyatu dengan alam semesta. (Hlm. 763)

Membandingkan  sarjana militer dengan Musashi adalah soal tanggapan naluriah. Yaitu tanggapan naluriah seorang sarjana militer mendasarkan diri pada prinsip-prinsip intelektual, sedangkan tanggapan orang yang mengikuti Jalan Pedang, yang mendasarkan diri pada hatinya.[35]

Pencerahan lainnya, saat mendapat ilham dari kedua tangan pemukul genderang di panggung pesta di sebuah kuil Di atas Gunung Mimuro yang suci (Kuil Mitsumine ?) ketika Musashi terkenang kembali akan masa kecilnya, akan pesta serupa malam hari di Kuil Sanumo di Miyamoto, tiba-tiba ilham datang seperti kilat. Keasyikan tangan pemukul gendering itu mengilhaminya Gaya Dua Pedang.

Ilham itu dirumuskan pengarang ke dalam kalimat;

Gaya dua-pedang itu harus bersifat demikian pula-sadar, tapi sekaligus otomatis, bagaikan refleks, sama sekali bebas dari batasan-batasan yang biasanya menyertai tindakan sadar.

Dua pemukul genderang, satu bunyi. Pemain genderang itu sadar akan kiri dan kanannya, kanan dan kirinya, tapi sekaligus tak sadar akan keduanya. Dan kini, di hadapan matanya, terpapar suasana Budha bagi berlangsungnya proses saling susup dan bebas. Musashi merasa mengalami pencerahan, mengalami pemuasan. (Hlm. 1020)

“Dua pedang sama dengan satu pedang. Satu pedang seperti dua pedang. Kedua tangan kita ini terpisah satu dari yang lain, tapi keduanya milik tubuh yang sama. Dalam segala hal, penalaran terakhir bukan bersifat ganda, tapi bersifat tunggal. Demikian pula pada semua gaya dan percabangannya….” (Hlm. 1157)

Musashi sendiri dalam awal pembuka buku Kitab Lima Cincin menyebut gaya dua pedang dengan Aliran Dua Langit atau Dua Pedang dalam Satu Pedang .  Penjelasan pendeknya; mempraktikkan ilmu memegang dan menggunakan pedang, dengan pedang panjang di tangan yang satu dan pedang pendek di tangan lainnya. Ketika nafas hidupmu menyatu dengan penggunaan kedua pedang tersebut, kamu pun ingin menggunakan seluruh peralatanmu.[36]

Kitab 5 Cincing adalah sebuah buku yang menurut penerjemah Thomas Cleary sarat dengan sintaksis-sintaksis kasar dan morfologi yang tidak enak dibaca. Ke dalam bahasa Indonesia, memang terkesan lebih banyak petunjuk praktis ketimbang uraian filosofisnya.

Berbeda dengan novel yang dikarang Eiji ini, terang lebih leluasa melambungkan narasi filosofis,sastrawi, bahkan ideologis.  Tentang Jalan Pedang, berikut adalah sejumlah tafsir Eiji yang bisa direnungi;

…Jalan Pedang mesti memiliki tujuan-tujuan khusus: menegakkan ketertiban, melindungi, dan menghaluskan semangat. (Hlm. 987)

Orang yang benar-benar berani adalah yang mencintai hidup dan mendambakannya sebagai harta kekayaan yang sekali hilang takkan dapat ditemukan kembali….

….Sungguh penting baginya hidup sebagai samurai dan mati sebagai samurai juga. Tak ada jalan kembali dalam menempuh jalan yang telah dipilihnya. (Hlm. 652)

“Pedang adalah jiwanya. Melatih seni pedang berarti menghaluskan dan mendisiplinkan semangat kita.“ (Hlm.  946)

“Jalan Pedang harus merupakan jalan yang tidak mengizinkan orang menjadi tua.” (Hlm. 1005)

“… Seorang samurai sejati, seorang pemain pedang murni, mempunyai hati yang mengandung belas kasihan. Dia mengerti kepekaan hidup.” (Hlm. 1015)
***

Bagi Musashi sosok Takuan Soho adalah pribadi yang otentik, yang unik. Bahkan disebutnya ia manusia sejati. Namun agak sulit ditangkap maksud Musashi di balik kekagumannya itu, ketika berhasrat untuk menunjukkan dirinya suatu ketika akan mencapai taraf yang lebih tinggi sebagai seseorang melalui Jalan Pedang daripada yang dapat dicapai dengan mempraktikkan Zen, kecuali meletakkannya dalam konteks manusia unggul yang tidak pernah bergantung pada dewa-dewa.

Barangkali sosok Takuan Soho adalah pembauran dari apa yang disebut Robert N Bellah ‘religi Jepang’; semua tradisi dari religi-religi.  Jika pun benar tampaknya, salah satu petunjuknya ketika dirinya mendapat ‘wangsit’ persembunyian Musashi di Gunung Takateru atau  padang rumput Itadori.[37]   Takuan menyebut wangsit itu didapat ketika membaca buku dalam dirinya; dalam hati, perut atau tempat lain. Juga melalui berpikir tentang letak tanah, penampilan air, dan keadaan langit. Bukankah ini semacam doa atau meditasi?

Kedengarannya agak unik. Dan novel ini memperlihatkan kehebatan Takuan dari keunikan-keunikan itu. Sederet keunikan menyebut Takuan seorang pendeta yang paham sekali dengan ilmu perang Sun-Tzu serta semua religi yang di-Jepangkan; Konfusianisme, Shinto, Budhisme, Zen, Amida, Tao. Selain unik, Takuan juga terlihat nyleneh, sinting, eksentrik dengan hanya berpakain kain pembalut. Takuan seorang pendeta yang diangkat menjadi pendeta tetap di Nansoji dan ditunjuk sebagai kepala biara Daitokuji dengan maklumat Kaisar, tapi melarikan diri dan  lebih suka mengembara seperti pengemis. Seorang pendeta yang menyukai perempuan ada di depan dan lelaki di belakang—yang dianggap biarawan bejat pada masanya.

“Dia begitu tolol. Salah seorang pendeta mengatakan, biarpun kelihatannya begitu, dia biarawan hebat.” (Hlm. 54)

Kemudian perihal spiritualitas Musashi sebagaimana dicatat Thomas Cleary, tidak ada indikasi kalau Musashi mempunyai devosi khusus—penyerahan diri sebagai perwujudan cinta kasih—terhadap  Kannon, Bodisatwa,  ikon termashur Budha.  Memang Musashi sering memahat patung suci itu dengan berbagai tujuan misalnya melatih ketangkasan tangan, sebagai ganti membayar uang makan di warung, biaya penginapan, termasuk ongkos penggosok pedang.

“Saya mendengar dari Koetsu bahwa Anda suka mengukir patung. Saya merasa mendapat kehormatan, kalau Anda dapat membuatkan saya patung Kannon. Cukuplah itu untuk pembayar pedang.” (Hlm. 887)

“Yah, kalau kujelaskan keadaanku, barangkali mereka mau menerima patung untuk pembayaran.” Yang disebutnya “patung” itu adalah patung Kannon yang telah dipahatnya dari kayu prem tua. (Hlm. 767)

Terkait dengan hubungan spiritualnya pada Kannon, Musashi bukan tak pernah mengalami krisis. Semisal, saat membuat patung Kannon untuk Kosuke sebagai pembayaran uang penginapan dan biaya pedang, Musashi nyaris gagal menyelesaikannya. Patung itu dibuat dari potongan kayu dari sebuah kuil abad delapan di kubur Pangeran Shotoku di Shinaga.[38]  Kosuke memperlakukan kayu itu seperti pusaka, semacam kepercayaan animisme-dinamisme di masanya.

“Potongan kayu itu tinggal seukuran ibu jari manusia. Kayu di sekitar kakinya bertebaran seperti saiju.

“Tidak bagus?”

“Tidak bagus.”

“Bagaimana kayunya?”

“Habis. Tak dapat saya menampilkan bentuk bodhisatwa itu.” (Hlm. 926-927)

Musashi juga mengalami krisis setelah membunuh Genjiro—pimpinan perguruan Yoshioka yang masih belia. Para pendeta menuduh Musashi melakukan pembantaian tak terampuni, penjahat, tak berbudi dan tak punya belas kasihan. Musashi dikatakannya tak dikehendaki oleh langit dan gunung Hiei sehingga para pendeta sepakat mengusirnya. Akibatnya, Musashi mengalami kejutan kejiwaan yang membuatnya nyaris berdoa—hal yang tak pernah terjadi, terlebih seperti yang selalu dilakukan Osugi (pengutuk Musashi) yang senantiasa meratap di depan Kannon.

Kutipan ini menggambarkan keadaan krisis Musashi;

Patung Kannon yang dibuat Musashi ini menjadi semacam doa untuk kebahagiaan Genjiro dalam kehidupan berikutnya, dan dalam makna tertentu juga merupakan permintaan maaf yang rendah hati untuk jiwanya sendiri. (Hlm. 688)

Krisis-krisis spiritual seperti itu hampir pasti tak pernah terjadi pada diri Musashi, bahkan ketika mengahadapi bencana sekalipun.  Saat menghadapi badai, contohnya, hujan deras, angin ribut yang menggila saat langit mengubah seluruh bumi menjadi samudera,  Musashi mengizinkan Iori—muridnya—membaca Bunga Rampai Kong-Hu-Cu. Namun ketika badai terjadi terus menerus, Musashi menghentikan pelajaran agama.

Banjir besar itu berlangsung dua hari lagi, dan selama itu tidak kelihatan tanah di mana pun.

Hari berikutnya masih juga turun hujan. Dengan gembira Iori mcengeluarkan bukunya lagi, katanya, “Kita mulai lagi?”

“Tidak hari ini. Cukup sudah kau membaca.”

“Kenapa?”

“Kalau kau cuma membaca, kamu tidak melihat kenyataan di sekitarmu…(Hlm. 848).

Di bagian terdahulu telah disinggung kecenderungan dalam novel ini yang menihilkan pemujaan pada dewa-dewa ke ranah publik; namun demikian bukan berarti tak ada ajaran Shinto di dalamnya.  Mencermati  kutipan berikut terang sekali bagaimana pengarang melalui tokoh Musashi menarasikan pengagungan dewa-dewa (hidupnya ruh di gunung) dan semesta.

Ia tertegun oleh kekecilannya sendiri, dan sedih memikirkan betapa tak berarti dirinya di tengah keluasan alam semesta….Hidupnya di bumi ini pendek, terbatas, tetapi keindahan dan kemegahan Gunung Fuji itu abadi….

Ada hal yang tak terhindarkan dalam cara alam itu menjulang dengan anggun dan garang di atas dirinya. Wajarlah bahwa ia ditakdirkan tetap berada di bawahnya. Maka ia berlutut di hadapan gunung itu, berharap agar kecongkakannya diampuni, lalu ia menangkupkan tangan untuk berdoa demi ketenangan abadi ibunya dan demi keselamatan Otsu dan Jotaro….

“Sebagai manusia,” katanya pada dirinya, “aku tidak begitu jauh dari dewa-dewa dan alam semesta. Aku dapat menyentuh mereka dengan pedang semeter yang kubawa ini. Tapi itu tak akan terjadi seandainya aku masih merasakan perbedaan yang begitu besar antara alam dan manusia. Dan seandainya aku tetap jauh dari dunia empu sejati, manusia yang berkembang penuh.” (Hlm. 746-747)

Perihal doa yang dinarasikan melalui Musashi dan oleh Musashi dalam novel ini terbilang sangat sedikit, mungkin hanya dua atau tiga. Dan dari dua atau tiga itu pun problematis. Kutipan ‘doa’ di atas misalnya, bagi Musashi sendiri justru menerbitkan pelbagai tanda tanya paradok—mempertentangkan diri—seperti; mengapa ia berpikir dirinya kecil? Bukankah kebesaran alam hanya apabila dicerminkan mata manusia? Tidakkah dewa-dewa ada hanya hanya apabila mereka mengadakan hubungan dengan hati makhluk hidup?[39]

Pendek kata, inilah pertanyaan khas eksistensialis—penciptaan diri secara aktif.

Sebagai perbincangan pamungkas ikhwal spiritual Musashi, sekaligus untuk mengutuhkan kembali ‘karakter’ dan tafsir pencerahan padanya, ada baiknya menyertakan kutiban narasi berikut;

Ia memang percaya secara tulus kepada dewa-dewa, tapi ia tidak menganggap mencari bantuan kepada dewa-dewa itu sebagai Jalan Samurai. Jalan Samurai adalah kebenaran tertinggi yang melebihi dewa-dewa dan para Budha. Ia mundur selangkah dan melipat tangan, bukannya meminta perlindungan, ia menyatakan terima kasih kepada dewa-dewa atas bantuan mereka yang datang tepat pada waktunya. (Hlm. 672)

6. Kebijaksanaan Lingkaran Tanpa Batas

Jelang di penghujung akhir novel Musashi, menyisakan sejumlah kejutan-kejutan penyelesaian (resolution).  Suatu narasi mendadak, tiba-tiba yang mendekati keanehan, kemustahilan sebagai suatu cerita realisme atau sastra sejarah. Namun demikian, bilamana penyelesaian (antiklimak?) tersebut dalam konteks kenyataan pencerahan tentu lain adanya, terlebih sebagai suatu kenyataan fiksi.

Osugi, seorang perempuan yang sangat keras kepala ibunda Matahachi, dari keluarga kelompok bangsawan Hon’iden, yang sepanjang cerita menaruh kebencian mendalam pada Otsu dan mendendam pada Musashi secara tiba-tiba terbuka mata hatinya. Sampai detik-detik terakhir Otsu yang membebaskan dan menyelamatkan nyawa nenek tua itu, masih berbalik menyiksanya. Osugi menyerang Otsu dengan kejam, membanting Otsu ke tanah, menginjak dan menendang.

Kemudian, tiba-tiba pada wajah Osugi muncul sebersit rasa terkejut, dan ia melepaskan rambut itu.

“Oh, apa yang kulakukan?” gagapnya ketakutan. “Otsu?” panggilnya kuatir, memandang sosok lemas yang tergeletak di kakinya.

“Otsu!” Sambil membungkuk ia tatap baik-baik wajah yang basah oleh hujan dan sedingin ikan mati itu. Gadis itu sepertinya sudah tidak bernapas. (Hlm. 1183)

Ketakutan Osugi yang mengira Otsu mati, menyebabkan secara cepat perempuan itu menenteramkan diri, lalu mendoakan—bentuk pencarian perlindungan diri dalam kesalehan. Termasuk dengan cara melepaskan kesedihan dalam tangis—air mata kedua sesudah kematian Paman Gon, menantunya yang setia mendampingi dendamnya pada Musashi.

Demikian pula terhadap Musashi. Dendam keluarga Osugi yang belum lunas apabila belum membunuh Musashi sepanjang cerita dengan pelbagai cara; trik, intrik, kasar, halus, kebencian, fitnah berakhir dengan permintaan maaf Osugi menjelang pertarungan Musashi dengan Kojiro.

“Kami datang buat melepas kepergianmu,” kata Osugi. “Dan aku datang untuk minta maaf padamu.”

“…Aku sudah melakukan begitu banyak hal yang jahat, sampai aku tak bisa berharap minta maaf atas semuanya itu. Semua itu… semua itu kekeliruanku yang mengerikan. Aku dibikin buta oleh cinta kepada anakku, tapi sekarang aku tahu mana yang benar. Maafkan aku.” (Hlm. 1235)

Di lain pihak dalam situasi pelik dan penuh intrik, Takuan Soho menyelamatkan Matahachi putra Osugi yang terlibat suatu kelompok rencana pembunuhan shogun. Sebelum ditangkap dan dihukum gantung, Takuan lebih dulu menangkapnya.  Maka pendeta cerdik itu memaksa  mengenakan pakaian jubah pendeta sehingga mendapatkan hukuman ringan—hukuman yang diminta Shogun dipasrahkan putusannya pada Takuan sendiri.

Lantas, Takuan memberi satu pilihan pada Matahachi untuk menjadi pendeta sungguhan dan bersedia menjadi muridnya.  Sayangnya, diceritakan Matahachi melarikan diri dari hukuman Takuan. Hampir bersamaan waktunya, Takuan juga membebaskan Musashi dari penjara akibat kesalahpahaman rencana pembunuhan tersebut yang menimpa  samurai itu.  Diceritakan pula shogun membatalkan pengangkatan kedudukan resmi Musashi ( meski atas usulan  Pendeta Takuan dan Yang Dipertuan Hojo dari Awa) akibat lebih percaya pada fitnahan Osugi.  Artinya, Musashi  gagal menjadi samurai yang mengabdi, dan tetap sebagai pengembara sepanjang masa.

“Aku harus belajar menjadi abdi yang rendah dari dua dewa, yaitu dewa pedang dan dewa pena.” (Hlm. 1083)

Selanjutnya, Musashi  terus memeluk pencerahan, sehabis menyumpahserapahi Pendeta Gudo yang menolak permintaan Musashi sebagai murid.  Berkali-kali pendeta itu mengatakan sudah tak punya “apa pun,” dan “Tidak ada apa-apa.”

Pendeta Gudo tetap menolak meski Musashi menjatuhkan diri, menundukkan kepala dan meminta, “Sepatah kata kebijaksanaan! Sepatah kata saja…!”

Bahkan Musashi sempat meneriakinya sebagai Pendeta Babi, setelah pendeta itu hanya bisa menggambar lingkaran di depannya dengan tongkatnya. Lalu meninggalkannya.

Secara mengejutkan, sepeninggalan pendeta itu, pikiran Musashi menjadi terbuka perihal gambar lingkaran di tanah itu.  Bahwa lingkaran itu bila diluaskan tanpa batas, akan menjadi alam semesta. Kalau dikerutkan, akan sama dengan titik kecil tempat jiwanya bersemayam. Jiwa itu bulat. Alam semesta ini bulat. Bukan dua. Satu! Satu ujud-dirinya dan alam semesta.

Lingkaran alam semesta ini tetap sama. Dengan tanda yang sama itu, ia sendiri tidak berubah. Hanya bayangannya yang berubah.

“Hanya bayangan,” pikirnya. “Bayangan itu bukan diriku yang sebenarnya.” Dinding tempat ia membenturkan kepalanya selama ini hanyalah bayangan, bayangan pikiran yang kacau.

Ia mengangkat kepalanya, dan pekik ganas pun meledak dari bibirnya. (Hlm. 1164)

Demikianlah, sudah sepantasnya tulisan ini diakhiri sebagai suatu bayangan kecil dari karya besar Eiji Yoshikawa. Tabik.[]

Ngimbang, Juli 2020
***

Bahan Bacaan:

Bagus, Lorens. 2005. Kamus Filsafat, Cet. 4.  Jakarta: Gramedia.
Bellah,Robert N. 1992. Religi Tokugawa. Terj. Wardah Hafidz, Drs Wiladi Budiharga. Jakarta: Gramedia.
Camus, Albert. 2000. Pemberontak. Terj. Max Arifin. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Musashi, Miyamoto. 2007. Kitab Lima Cincin. Cet. Kedua Terj. Thomas Cleary. Terj. Indonesia Fransiskus Ransus, S.S. Yogyakarta: Penerbit Amara Book.
Russel, Bertrand. 2007. Sejarah Filsafat Barat. Terj. Agung Prihantoro, dkk, Cet. 3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suryajaya, Martin.  2016. Sejarah Estetika, Era Klasik Sampai Kontemporer. Yogyakarta: Gang Kabel dan Indie Books Corner.
Wang, Andri. 2016. Dao De Jing, The Wisdom of Lao Zi. Cet. 7. Jakarta: Gramedia.
Wilson, William Scott. 2005. The Lone Samurai, Kehidupan Miyamoto Musashi. Jakarta: Gramedia.
Yoshikawa, Eiji. Musashi. 2006. Cet 5, Terj. Tim Kompas. Jakarta: Gramedia.
https://bandung.kompas.com/read/2018/06/13/23590011/biografi-tokoh-dunia–miyamoto-musashi-ahli-pedang-legendaris-jepang?page=all
***

[1] Lihat Albert Camus, Pemberontak, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 2000 Hal. 127
[2] Lihat Miyamoto Musashi, Kitab Lima Cincin, Terj. Thomas Cleary, Terj. Indonesia oleh Fransiskus Ransus, S.S. Penerbit Amara Book, Yogyakarta Cet. Kedua 2007, Hal. 13.
[3] Albert Camus, op. cit. Hal. 122.
[4] Miyamoto Musashi, op. cit. Hal. 109.
[5] Lihat https://bandung.kompas.com/read/2018/06/13/23590011/biografi-tokoh-dunia–miyamoto-musashi-ahli-pedang-legendaris-jepang?page=all
[6] Miyamoto Musashi, op. cit. Hal. 110
[7] Ibid, Hal. 24
[8] Tiga postulat Budhisme Zen  a). Hakikat tunggal Budha b). Hakikat tunggal seluruh ciptaan c). Jalan Alamiah.  Budhisme Zen mewartakan “kesadaran mendadak”, pemahaman kebenaran, Dalam Budhisme Zen—dan ini yang membedakannya dengan Budhisme lainnya—mengenal Satori, atau pencerahan yang dapat datang secara iluminasi (penerangan) seketika. Lihat,  Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Cet 4, 2005, Gramedia, Hal. 136.
[9] Lihat Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, Terj. Agung Prihantoro, dkk, Cet 3 2007 Pustaka Pelajar, Hal. 997.
[10] Albert Camus, op. cit. Hal.  146.
[11] Bushido berarti keinginan kuat untuk mati. Lambang patriotism Bushido disusun pada awal abad 18 di kadipaten Nabeshima, provinsi Hizen, di Kyushu.  Robert N Bellah menelusurinya melalui Hagakure (Satu Karya abad 17 tentang Bushido).  Berikut kutipannya;  “Tidak pernah dalam hidupku aku menempatkan pikiranku sendiri di atas pikiran Pangeran dan junjunganku.  Dan aku tidak akan pernah melakukannya di sepanjang hari dalam hidupku.  Bahkan kalau aku mati, aku akan kembali hidup tujuh kali untuk menjaga rumah tinggal Pangeranku. Kita telah bersumpah untuk melakukan empat hal yaitu; 1) kita tidak akan kalah dibandingkan dengan siapa pun dalam pelaksanaan kewajiban kita. 2) Kita akan membuat diri kita berguna bagi Pangeran kita 3) Kita akan patuh kepada orang tua kita 4) Kita akan mencapai kejayaan dalam derma.”    Lihat Robert N. Bellah, Religi Tokugawa, Terj. Wardah Hafidz, Drs Wiladi Budiharga, 1992, Hal. 122-123.
[12] Albert Camus, op. cit. Hal. 13
[13] Inti dari keadaan ini termaktub dalam Kitab Dokkodo pasal 19.  Hormati Buddha dan para dewa tanpa berharap bantuan merekaDokk?d? adalah buku terakhir Miyamoto Musashi yang ditulis menjelang ajalnya tahun 1645.  Isinya betul-betul pendek;  21 sila. Berikut ke 21 sila tersebut; 1). Terima semuanya apa adanya. 2). Jangan mencari kesenangan untuk kepentingannya sendiri. 3). Jangan, dalam situasi apa pun, bergantung pada perasaan sesaat. 4). Pikirkan diri Anda secukupnya namun mendunia. 5). Terpisah dari nafsu-keinginan seumur hidup Anda. 6). Jangan menyesali apa yang telah Anda lakukan. 7). Jangan pernah cemburu. 8). Jangan pernah membiarkan dirimu sedih dengan perpisahan. 9). Kekesalan dan keluhan tidak pantas untuk diri sendiri atau orang lain. 10). Jangan biarkan diri Anda dibimbing oleh perasaan nafsu atau cinta. 11). Dalam semua hal tidak memiliki preferensi, ikatan tertentu. 12). Tidak peduli dengan tempat tinggal Anda. 13). Jangan mengejar rasa makanan enak. 14). Jangan berpegang pada harta yang tidak lagi Anda butuhkan. 15). Jangan bertindak mengikuti kepercayaan yang biasa. 16). Jangan mengumpulkan senjata atau berlatih dengan senjata di luar apa yang berguna. 17). Jangan takut mati. 18) 18. Jangan mencari untuk memiliki barang atau tanah untuk usia tua Anda. 19). Hormati Buddha dan para dewa tanpa mengandalkan bantuan mereka. 20). Anda dapat meninggalkan tubuh Anda sendiri tetapi Anda harus menjaga kehormatan Anda. 21). Jangan pernah menyimpang dari Jalan.  Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Dokk%C5%8Dd%C5%8D
[14] Miyamoto Musashi, op. cit.  Hal. 34
[15] Koetsu dikenal sebagai orang yang punya banyak bakat. Ia pelukis, ternama sebagai ahli keramik dan pembuat pernis, dan dianggap ahli seni. Ia sendiri beranggapan bahwa kekuatannya adalah dalam kaligrafi. Di bidang ini umumnya ia disejajarkan dengan ahli-ahli yang sudah diakui seperti Shokado Shojo, Karasumaru Mitsuhiro, dan Konoe Nobutada, pencipta Gaya Sammyakuin, yang demikian populer hari-hari itu. Lihat Eiji Yoshikawa, Musashi, 2006, Cet 5, alih bahasa Tim Kompas. Gramedia, Hal. 498
[16] Miyamoto Musashi, op. cit. Hal. 24
[17] Robert N. Bellah, op. cit. Hal. 85
[18] Albert Camus, op. cit. Hal. 37
[19] Miyamoto Musashi, op. cit. Hal. 18
[20] Refleksi Ajaran Shinto dalam Novel Musashi Karya Eiji Yoshikawa: Analisis Semiotik; https://www.semanticscholar.org/paper/REFLEKSI-AJARAN-SHINTO-DALAM-NOVEL-MUSASHI-KARYA-Rostinah-Marta/6d943bce53721e1461268d5fb087669bfc27101d
[21] Lihat catatan kaki no. 13
[22] Robert N. Bellah, op. cit. Hal. 79
[23] Ibid, Hal. 81.
[24] Ibid, Hlm. 82
[25] Kannon adalah salah satu ikon termasyur Budha, merepresentasikan karya kasih sayang universal.  Kannon tersebut menjadi ikon kuil di mana Musashi melakukan retreat.  Tidak ada indikasi kalau Musashi mempunyai devosi khusus terhadap Kannon tersebut.  Lihat catatan buku  Miyamoto Musashi, op. cit. Hal. 111.
[26] Ibid, Hal. 43
[27] Bertrand Russel, op. cit. Hlm. 993
[28] Ibid, Hlm. 994
[29] Lihat catatan kaki nomor 23
[30] Bertrand Russel, op. cit.  Hlm. 994,
[31] Eiji Yoshikawa, op. cit.  Hlm. 167
[32] Robert N. Bellah, op. cit.  Hlm. 113
[33] Ibid, Hlm. 123
[34] Ibid, Hlm. 124
[35] Eiji Yoshikawa, op. cit. Hlm. 984
[36] Miyamoto Musashi, op. cit. Hlm. 37
[37] Ibid, Hlm. 85
[38] Ibid, Hlm. 924.
[39] Ibid, Hlm. 747

One Reply to “JALAN SUNYI MUSASHI; Tentang Seorang Jagoan yang Tak Pernah Berdoa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *