Kekayaan-Kekayaan Kecil di Belakang Rumah Jun

Fatah Anshori *

Beberapa orang mencintai kerumunan dengan beragam cara. Orang-orang di desaku akan meninggalkan rumah dan isinya, ketika pada hari itu ada pagelaran wayang, ludruk, atau orkes—semacam istilah anak-anak desa untuk menyebut grup musik dangdut. Setiap anak-anak yang lahir sebelum atau sesudah kelahiranku terpaut dua atau tiga tahun pasti akan merasakan melankolia ini. Berdandan rapi dengan baju bagus sisa lebaran, lalu usai magrib mendatangi kerumuan di jalanan.

Tentu saja untuk melihat-lihat mainan plastik dengan harga lima hingga tiga puluhan ribu, bergelantungan di tenda-tenda kecil. Dan beberapa anak nakal yang bernyali pasti akan mendatangi kerumunan bandar Otok, untuk melihat bagaimana mudahnya uang didapat dan uang hilang. Namun kebanyakan mereka lebih condong melihat bagaimana uang itu mudah didapat, sehingga sesekali temanku yang bernyali akan mencobanya tanpa ragu.

Mungkin hal semacam itu yang kerap menyeretku dan beberapa orang lain untuk mendapatkan kerumunan yang lebih besar seiring bertambahnya usia. Saat SMA beberapa anak desa sudah tak tanggung untuk pergi ke pusat kota mereka. Saat lulus SMA beberapa yang lain berlomba-lomba tinggal di kota yang begitu ramai entah untuk kuliah atau kerja. Yang kebanyakan pada waktu itu isi kepalaku menganggap setiap kerumunan adalah kemewahan, kemapanan, dan ada sesuatu yang bisa dibanggakan saat telah mencapainya.

Namun di waktu yang sama, beberapa orang lain dalam golongan kecil, sedikit, atau minoritas. Tak mampu mencapai kerumunan-kerumunan itu, lantas apa yang bisa dibanggakan. Tidak ada. Ternyata aku salah besar. Beberapa orang yang tergolong dalam minoritas itu telah merawat hal-hal kecil yang jarang diperhatikan, seperti pecahan kaca di belakang rumah, sampah botol plastik, ranting pohon yang mengering, rumput liar yang tumbuh kian lebat dan hijau, beberapa perabot kayu yang lapuk digasak panas dan hujan, sumur tua, pohon pisang, pecahan genting rumah.

Sekarang semua itu bagiku lebih berharga dari pada gemerlap di luar sana yang sifatnya lebih sementara dari pada apa yang telah dihidupi sendiri. Keindahan ternyata juga bisa datang dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Seperti sampul buku kumpulan esai Dea, Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya. Keindahan datang dari barang-barang bekas yang terakumulasi dalam satu ruang. Dan salah seorang lagi adalah Seniman Juniewan Bagaskara, ia merawat lahan di belakang rumahnya menjadi kekayaan yang saya yakin tak akan mudah didapat di kerumunan-kerumanan di luar sana yang kerap mereka elu-elukan sebagai pencarian akhir.
***

____________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya termuat di Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *