MACAN LUWE


Taufiq Wr. Hidayat *

Perempuan—kata orang Jawa, “lakune kaya macan luwe”. Langkah kakinya lembut gemulai, melenggok dengan bokong yang agung, tenang, memikat. Laki-laki terjerat. Ia bagai harimau yang sedang lapar mengincar. Sepenuh jiwa, waspada, menyimpan rahasia yang tak terduga. Naluri sebagai perempuan, menggerakkan. Wajah cantik dengan kecantikan yang tak terjelaskan, dada agung yang bergolak, tatapan mata yang nanar, kedalaman tak terpecahkan.

Memandang perempuan sebagai realitas, membawa pemahaman pada pesona. Pesona yang tak cuma kelancangan kelamin. Kenapa perempuan cantik yang tertangkap bugil di kamar hotel harus diarak di media sosial? Tak lain lantaran media membutuhkan “berita buruk” sebagai jualan yang laris, dengan tokoh yang benar-benar seksi. Orang gemar mengikuti berita buruk, ngeri-ngeri sedap. Tapi lebih gemar lagi, berita buruk dengan pemain yang sangat tidak buruk. Seorang kawan tiba-tiba memampang foto perempuan cantik yang sedang ramai terjerat kasus pelacuran yang gencar di media sosial. Meski maksudnya barangkali guyonan, tapi betapa kurang ajar menjadikan perempuan guyonan publik. Meski ia punya status sosial yang terpuji, namun pandangannya tak lebih dari sekadar pornografi. Seketika ia kehilangan sifat kesatria, kata orang Jawa. Lantaran sebagai laki-laki telah berbuat kurang ajar dan dengan nafsu hina-dina menelanjangi Drupadi di balairung istana Kurawa. Ketakmampuan mendapatkan perempuan jelita dengan hatinya, membuat para kesatria gombal itu memakai cara-cara kekuasaan yang tidak fair dengan menelanjangi seorang perempuan yang meneguhkan dirinya sebagai perempuan, sebagai seorang istri, dan ibu bagi anak-anaknya.

“Harimau lapar” yang memesona dan mendebarkan itu, menyimpan biografi panjang tentang tubuhnya. Tentang kenangan, tentang ibu, masa kecil, harapan dan impian indah seorang perempuan. Ada moral, agama, sosial, politik, budaya yang mengerangkeng tubuh itu. Jika tafsir pada tubuh hanya kelamin, ia telah menindas. Ia melecehkan makhluk Tuhan yang keindahannya tak pernah selesai dijelaskan oleh segala puisi. Sebagai teks, ia tak menghendakkan tafsir tunggal. Tafsir tunggal merupakan bentuk pengambilalihan posisi sang pencipta. Itu keingkaran! Memandang perempuan hanya seksualitas dan menyampahkan kompleksitas eksistensial dari realitasnya sebagai perempuan, tak lain adalah kekufuran. Pengingkaran dan kekurangajaran terhadap maha-kreatif-Nya yang maha-kaya.

“Harimau lapar” dalam terminologi orang Jawa itu, dapat menerkam seekor kambing jantan. Meskipun ia adalah sosok kesatria jantan yang gagah perkasa, tapi ia cuma seekor kambing jantan di hadapan harimau betina yang sedang lapar.

Tembokrejo, 2020

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab Iblis” (PSBB, 2018), “Agama Para Bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *