MENGEKSPLORASI JOMBANG DALAM TULISAN KREATIF *

Anton Wahyudi **

WALTER BENJAMIN, seorang filsuf dan pemikir terpenting asal Jerman pernah berkata, “Ketika seseorang melakukan perjalanan, maka pastilah ia akan mempunyai sesuatu yang menarik untuk diceritakan.” Satu ungkapan ini semestinya bisa menjadi interpenetrasi, sebagai nyala api yang menuntun cara berpikir dan bernalar kita, sekaligus menjadi satu pernyataan sederhana yang bisa kita pertanyakan pada diri kita. Mengapa demikian?

Barangkali saja… oleh karena, otentiknya, ‘kita atau mereka-mereka’ yang tidak suka berpetualang atau beravontur ria, ‘kita atau mereka-mereka’ yang hanya suka berdiam diri di rumah, ‘kita atau mereka-mereka’ yang suka membangun kehidupan yang bersifat lurus-lurus saja, maka, bisa dipastikan akan terpuruk. Terpuruk ditelan waktu dan usia. Silakan, dipikirkan secara mendalam maksud dari arti kata ‘terpuruk’ itu sendiri.

Satu pernyataan dan ilustrasi sederhana yang saya tulis di atas sekiranya marilah kita jadikan sebagai toya atau tongkat untuk mencari dan menyelami makna. Toya atau tongkat yang nantinya bisa menjadi pegangan dan bisa menuntun langkah kita. Menuntun langkah kita dalam rangka upaya melakukan perjalanan panjang.

Perjalanan panjang untuk mencari atau menemukan sesuatu. Sesuatu yang bernilai, yang juga pastilah bermakna. Sesuatu yang menarik untuk kita ceritakan atau kita tuliskan. Lebih khususnya, sebagai penuntun perjalanan panjang dalam menyelami judul tulisan sederhana ini. Oleh karena, ada tiga persoalan eksentrik yang bisa kita pikirkan dan kita telaah dalam judul tulisan ini. Pertama, adalah soal arti mengeksplorasi itu sendiri. Kedua, tentang Jombang dalam kerangka budaya. Dan, yang ketiga, perihal ihwal tentang tulisan kreatif.

1#
Pertama, soal arti mengeksplorasi itu sendiri. Hakikatnya, mengeksplorasi secara sederhana bisa diartikan sebagai suatu kegiatan jurnalistik. Ia yang tengah melakukan kegiatan eksplorasi tak ubahnya seperti seorang jurnalis. Ia harus mencari, menemukan, mengolah, lalu menginformasikan tentang banyak hal yang sudah ia temui.

Dengan demikian, ada semacam ‘upaya’ untuk mencari, menjelajahi, menjajaki, atau menyelidiki dengan tujuan agar bisa menemukan sesuatu. Sesuatu yang bernilai, sesuatu yang bermakna, sesuatu yang bisa memberikan pengalaman-pengalaman baru, dan tentunya: sesuatu yang sudah ditemukan itu bisa memberikan kebermanfaatan bagi dirinya sendiri maupun bermanfaat untuk orang lain.

Dalam wilayah kebahasaan, kata mengeksplorasi masuk dalam kata verba atau kata kerja. Oleh karena, kata ini mengacu pada suatu ‘aksi atau tindakan’. Aksi dalam rangka untuk membuat tindakan atau melakukan sesuatu.

Dalam tataran yang lebih serius atau ilmiah, mengeksplorasi juga cenderung bisa mengacu pada suatu bentuk dari ‘kegiatan riset’ yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan tentang sesuatu, yang bisa bersifat memberikan suatu penjelasan atas apa yang sudah dicari atau ditemukan. Dengan demikian, hasil dari kegiatan mengeksplorasi itu bisa memberikan informasi baru, bisa memberikan motivasional efek, dan memberi kebermanfaatan bagi khalayak. Bagaimana jika kata mengeksplorasi itu digabung atau disandingkan dengan kata budaya dan Jombang? Mengeksplorasi Budaya Jombang? Mari, kita pikirkan sejenak!

2#
Kedua, berbicara tentang Jombang dalam konteks budaya, tentunya banyak yang bisa dieksplorasi, baik mulai dari hal yang paling terdekat, yang terjauh, hal yang ringan-ringan, yang terberat, dan lain sebagainya. Agar cara pandang kita tidak sempit, maka seyogianya mari terlebih dahulu kita pahami maksud arti dan ruang lingkup tentang budaya itu sendiri. Hakikatnya, kata budaya mempunyai arti sederhana, yakni suatu akal budi, pikiran atau pemikiran, adat atau kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki suatu kelompok tertentu, yang diturun-temurunkan dari zaman terdahulu hingga sekarang ini.

Budaya juga bisa dikatakan sebagai suatu hal yang dianggap kompleks, oleh karena di dalamnya memuat banyak hal seperti bahasa lokal, pengetahuan lokal, kepercayaan lokal, peralatan tradisional, kesenian tradisi, moral atau nilai-nilai, hukum atau aturan tentang kemasyarakatan, kekuasaan dan politik, sistem perekonomian, organisasi atau lembaga kemasyarakatan, sistem religi, mata pencaharian, hubungan kekeluargaan, adat istiadat, dan lain sebagainya. Dengan demikian, budaya menjadi semacam warisan nenek moyang atau leluhur yang masih dihormati, dianut, dipercaya, dijalankan, atau dilestarikan hingga saat ini.

Hoenigman mengklasifikasikan wujud budaya menjadi tiga hal, antara lain budaya yang mengarah pada ‘gagasan atau wujud ideal’, budaya yang mengarah pada ‘wujud aktivitas atau tindakan’, dan budaya yang mengarah pada ‘sesuatu yang berwujud artefak atau karya’.

Secara sederhana, budaya yang mengarah pada gagasan atau wujud ideal terletak pada pemikiran kelompok masyarakat itu sendiri, seperti pengetahuan lokal, kepercayaan lokal, moral atau nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan lain sebagainya. Sedangkan, budaya yang mengarah pada aktivitas atau tindakan seperti halnya tatakelakuan, cara bergaul atau sistem kekerabatan, gotong royong, dan umumnya selalu mengarah pada persoalan tentang sistem sosial.

Budaya yang mengarah pada sesuatu yang berwujud artefak atau karya umumnya berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, cipta rasa manusia yang ada di masyarakat berupa benda-benda yang dapat dilihat dan didokumentasikan. Contoh bendanya seperti peralatan tradisional, bangunan-bangunan tradisional, dan lain-lain. Sejatinya, budaya tidak harus mengacu pada sesuatu yang bersifat lampau atau masa lalu. Melainkan, budaya juga bisa berwujud pada sesuatu hal yang baru muncul, lalu dianut atau diikuti, diyakini, sehingga dengan demikian tumbuh dan berkembang di masyarakat luas.

Menyoal tentang budaya (di) Jombang sendiri sebenarnya banyak yang bisa digali atau dieksplorasi. Mulai dari nilai-nilai budaya pada sistem kekerabatan dan sistem religi masyarakatnya. City Branding Kabupaten Jombang yang bertuliskan Visit Jombang Friendly & Religious.

Jombang mempunyai penduduk yang tergolong ramah dan bisa menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama. Kultur masyarakat Jombang tercermin dari budaya yang dianut oleh pemeluk agama satu dengan yang lainnya. Mulai dari budaya di wilayah pesantren (Islami), budaya kaum Katolik maupun Protestan, budaya kaum etnis Tionghoa, dan lain sebagainya. Ada sekitar hampir 300-an lebih pondok pesantren yang tersebar di wilayah Jombang. Menariknya, pondok-pondok pesantren yang tersebar di Jombang tersebut mempunyai ciri khas masing-masing.

Logo Jombang juga syarat makna dan bisa dijadikan acuan sederhana sebagai bahan eksplorasi. Logonya berbentuk perisai, berwarna separuh merah dan separuh hijau. Di dalam perisainya memuat beragam gambar mulai dari padi, kapas, gerbang sekaligus Benteng Majapahit, Balai Agung atau Pendopo, menara, bintang sudut lima, gunung, dan dua lajur sungai tentunya bisa dieksplorasi menjadi identitas secara simbolis sekaligus penanda kultur masyarakat yang ada di Jombang.

Meskipun sampai saat ini belum diproklamirkan secara resmi Hari Jadi Jombang, tentunya wilayah ini mempunyai cerita sejarah yang panjang dan dengan demikian semestinya menarik untuk dieksplorasi sebagai bentuk kepedulian kita menjadi bagian dari masyarakat Jombang. Mengingat Jombang sendiri merupakan wilayah yang tergolong relatif tua lantaran wilayahnya merupakan titik temu antara Budaya Mataraman dan Arek.

Banyak wilayah teritorial di Jombang yang masih dianggap menjadi bagian dari saksi sejarah masa lalu, baik sejarah pada era Kerajaan Mataram maupun Kerajaan Majapahit. Desa-desa dan wilayah tersebut beberapa di antaranya adalah Desa Megaluh (Lembah Sungai Brantas, Pasar Era Mataram, Saksi Penyelamatan Masa Kecil Damarwulan), Watugaluh (Cerita Mpu Sindok Sebagai Peletak Dinasti Isyana di Jawa Timur), Desa Katemas dan Made (Petilasan Sejarah Airlangga dan Sendang Made), Desa Ngusikan (Situs Pucangan), Wonosalam, dan lain sebagainya. Sedangkan, pada masa Kerajaan Majapahit sendiri wilayah Jombang juga dikatakan sebagai Gerbang Kerajaan Majapahit. Gapura Barat adalah Desa Tunggorono (Kecamatan Jombang) dan Gapura Barat adalah Desa Ngrimbi (Kecamatan Bareng).

Dari jejak wilayah sejarah itu, Jombang pada akhirnya bisa dibagi menjadi tiga karakter wilayah teritorial. Pertama, Jombang bagian Utara yang merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Mataram, antara lain wilayah Kecamatan Plandaan, Kecamatan Ploso, Kecamatan Kabuh, Kecamatan Kudu, dan Kecamatan Ngusikan. Kedua, Jombang bagian Tengah, yakni wilayah yang membentang di sebelah Timur dan Selatan Sungai Brantas. Ketiga, bagian ujung Selatan dan Ujung Timur, seperti Kecamatan Mojowarno, Kecamatan Bareng, dan Kecamatan Wonosalam.

Alfred Russel Wallace, salah seorang naturalis terkemuka asal Inggris yang berhasil memformulasikan Teori Evolusi dan terkenal akan Garis Wallace-nya pernah berkunjung dan bermalam di Jombang . Ketika itu ia sedang ada misi mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia dan ada sekitar tiga kawasan yang tercatat dalam berbagai literatur, antara lain Desa Wonosalam, Desa Japanan, dan Desa Mojoagung.

Di dalam Java a Traveler’s Anthology juga disebutkan bahwa ia pernah mengunjungi perkebunan kopi di Desa Wonosalam, juga mengumpulkan spesimen burung merak dan ayam hutan di Wonosalam. Terlebih, dalam perjalanannya ke Wonosalam itu juga disebutkan atau ditulis dalam buku fenomenalnya yang berjudul The Malay Archipelago, salah satu buku seri perjalanan ilmiah terbaik pada Abad 19. Dalam buku perjalanannya itu Wallace menceritakan bahwa pada tahun 1861 pernah menyinggahi Candi Arimbi yang terletak di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng.

Hal ini juga menjadi cerita sejarah menarik jikamana bisa menghubungkan antara wilayah satu dengan wilayah lainnya. Jikalau Desa Wonosalam yang pernah dikunjungi Wallace pada Abad 19 tadi menyiratkan suasana perkebunan kopi, tentunya juga tidak bisa dilepaskan dari desa-desa tetangganya atau desa yang tidak jauh darinya, yakni Desa Mojowarno.

Desa ini pada dasarnya juga mempunyai beragam cerita kebudayaan dan cerita sejarah, lebih khususnya pada masa Kolonial Belanda era kepemimpinan Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosh pada Abad 18. Terbukti, banyak sekali peninggalan bangunan-bangunan tua era kolonial di Desa Mojowarno dan seperti yang kita ketahui bahwa pada era kolonial Belanda dulu diterapkanlah kebijakan tanam paksa.

Hal ini mendukung bukti bahwa perkebunan kopi di Wonosalam adalah produk kolonial. Terlebih, juga yang ada di wilayah Barat Desa Mojowarno, berdirilah Pabrik Gula Tjoekir, yang masih beroperasi hingga sekarang ini. Tentunya, dari sekilas cerita di atas ada semacam bayangan bahwasannya cerita-cerita yang tumbuh dan berkembang di Jombang sangatlah banyak dan menarik untuk dieksplorasi ulang.

Pada dasarnya beragam cerita yang tumbuh dan ada di sekitar kita juga menarik untuk dieksplorasi. Mulai dari cerita tentang asal-usul dusun, asal-usul desa-desa setempat, dan lain sebagainya. Jombang yang memiliki 21 kecamatan, 302 desa dan 4 kelurahan, serta 1.258 dusun tentunya memiliki beragam cerita rakyat, baik cerita tentang legenda, mite, maupun dongeng.

Bisa diambil contoh, semisal mengeksplorasi cerita tentang desa-desa mojo di Jombang, maka akan terhitung ada sekitar 28 atau lebih nama-nama dusun dan desa di Jombang yang bisa ditelisik, seperti halnya Mojoagung, Mojowarno, Mojolegi, Mojosongo, Mojongapit, Mojokrapak, Mojowangi, Mojojejer, dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu saja, di wilayah Jombang juga bermunculan nama-nama dusun dan desa yang dimulai dengan kata sumber, seperti Sumbermulyo, Sumbernongko, Sumberjo, Sumberteguh, Sumberagung, Sumbersari, Sumberraji, Sumbergondang, Sumberringin, dan lain sebagainya. Belum lagi di kawasan Desa Bareng, yang rata-rata memiliki dusun atau desa yang dimulai dengan kata tersebut. Terhitung ada 15 lebih dan dengan demikian akan disayangkan jikamana kita yang tinggal atau berada di sekitarnya tidak mengetahui cerita asal-usulnya.

3#
Sebenarnya amat teramat banyak budaya Jombang yang bisa dieksplorasi. Contoh lainnya adalah Peristiwa Tradisi Tahunan Kuras Sendang Made Sebagai Budaya Bersih Desa dan Penyambut Datangnya Musim Hujan. Ritual ini selalu diselenggarakan setahun sekali di Area Petilasan Airlangga dan diyakini oleh masyarakat Desa Made Kecamatan Kudu setempat sebagai bagian dari wujud syukur dan tolak bala.

Menariknya, ada banyak anggapan yang menarik bahwasannya banyak artis papan atas yang naik daun setelah tampil atau menyemarakkan acara di wilayah ini. Tradisi susulan berikutnya pada pergantian bulan berikutnya adalah Siraman atau Wisuda Sinden juga Para Pengerawit atau Para Pelaku Kesenian Tradisi. Ritual ini dilakukan agar para pesinden memiliki suara yang merdu, awet muda, dan umumnya diperuntukkan bagi para pesinden sebelum terjun ke dunia sinden yang lebih profesional.

Di kawasan Kecamatan Jogoroto sendiri ada sebuah sendang yang tidak pernah bisa kering atau surut. Sendang itu bernama Sumber Pengantin. Banyak yang memercayai bahwa siapa saja yang mau mandi atau merendam tubuhnya di Sumber Pengantin ini, maka lambat laun kulitnya akan terlihat cantik dan berseri-seri. Akan tetapi, hanya orang-orang yang bernyali yang melakukan ritual ini. Oleh karena, masyarakat setempat banyak yang meyakini bahwa tempat ini dinilai angker dan bisa menghanyutkan atau menghilangkan siapa saja yang mandi atau berendam di tempat itu.

Lain halnya yang ada di Kecamatan Kudu, yakni di Kecamatan Bareng, bahwa ada salah beberapa tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Tradisi unik itu bernama tradisi memandikan kucing belang telon di tengah jalan pada hari Jumat Kliwon.

Tradisi ini dimaksudkan untuk memohon rahmat dari Tuhan agar disegerakan turun hujan dan memberikan keberkahan bagi kaum petani. Tradisi unik di desa lainnya adalah Tradisi Clorotan. Dinamakan Clorotan oleh karena pada acara ritual ini seluruh masyarakat yang mengikutinya umumnya serentak membawa kue clorotan. Tradisi ini bertujuan untuk memberikan keselamatan bagi seluruh kaum petani agar terhindar dari serangan petir.

Uniknya, selain kue clorotan ada juga jajanan yang wajib dibawa atau diikutsertakan dalam acara tradisi ini. Jajanan yang dimaksud adalah kue brondong jagung (pop corn) sebagai simbul penangkal guruh yang umumnya muncul sebelum geledek dan jajanan kerupuk, sebagai simbol penangkal angin topan dan angin beliung.

Di daerah kawasan Desa Kedunglumpang Kecamatan Mojoagung sendiri ada tradisi tahunan yang selalu wajib diadakan setiap tanggal 1 Sura (1 Muharam), yakni kegiatan sedekah desa dengan membawa atau mengarak-arak puluhan nasi tumpeng beserta gunungan hasil pertanian ke Makam Syech Amiluhur. Konon, makam ini disebut-sebut oleh warga setempat sebagai makam dari salah satu pendiri Kerajaan Majapahit.

Tradisi di kawasan Mojoagung yang sering terlihat semarak adalah tradisi ziarah ke Makam Sayyid Sulaiman di Desa Betek, dengan motif dan tujuan yang beraneka ragam. Tradisi yang selalu dilaksanakan serentak setiap malam Jumat Legi ini umumnya banyak dihadiri oleh kalangan anak muda. Tradisi ini diyakini masyarakat setempat dan sekitarnya sebagai bagian untuk mencari keberkahan, lebih khususnya keberkahan untuk memperoleh jodoh.

Dalam lingkup religi, di Jombang sendiri ada beberapa tradisi atau ritual keagamaan yang sering disemarakkan atau dijalankan oleh masyarakat pendukungnya, mulai dari ritual yang diadakan kaum pemeluk agama Kristen, yakni Tradisi Unduh-Unduh di Desa Mojowarno. Tradisi ini diselenggarakan setahun sekali (umumnya bulan Mei) yang difungsikan sebagai wujud syukur atas limpahan berkah setelah melewati musim panen. Dengan demikian, dalam tradisi ini banyak hasil panen yang dijadikan gunungan atau tumpeng, lalu diarak dan dibagi-bagikan atau diperebutkan.

Berbeda halnya dengan tradisi yang dianut oleh kaum pemeluk agama Hindu di Kecamatan Ngoro. Kaum pemeluk Hindu di ini mempunyai tradisi rutin yang diberi nama Ritual Ngembak Geni. Ritual bersama ini difungsikan untuk saling bermaaf-maafan dan untuk mengakhiri Catur Brata Penyepian pada acara Perayaan Nyepi. Tentunya masih banyak budaya yang berkaitan dengan Jombang yang perlu eksplorasi, dituliskan, maupun didokumentasikan dengan baik agar tidak menjadi sesuatu yang asing atau hilang termakan oleh waktu.

4#
Berkenaan dengan beberapa contoh ulasan yang sudah saya tulis di atas dan yang berkaitan tentang budaya Jombang, tentunya akan teramat disayangkan jikamana saja kita tidak mau mengeksplorasi budaya di sekitar kita melalui kegiatan menulis kreatif.

Sebelum melangkah jauh ke persoalan itu sekiranya perlu kita uraikan terlebih dahulu tentang hakikat menulis kreatif itu sendiri. Pada hakikatnya semua tulisan itu adalah karya kreatif. Mengapa demikian? Jawabannya pun cukup sederhana. Oleh karena semua tulisan yang tercipta itu pastinya diciptakan oleh penulisnya melalui cara kerja kreatif, melalui proses berpikir kreatif juga tentunya.

Entah itu tulisan panjang, tulisan pendek, tulisan fiksi, tulisan nonfiksi, maupun tulisan bentuk yang lainnya, pastilah si penulisnya tidak serta-merta dalam menciptakan, mengolah, maupun menyusun kata-kata menjadi rangkaian kalimat kreatif yang bermakna. Sebagai refleksi dari ulasan ini marilah kita mulai memantapkan hati, menguatkan motivasi dan obsesi, untuk mengeksplorasi budaya Jombang ke dalam tulisan-tulisan kreatif.

Perlu dipahami bahwasannya tulisan kreatif itu ada bermacam-macam jenisnya. Ada yang tergolong tulisan kreatif dalam bentuk fiksi dan ada juga yang tergolong tulisan kreatif berbentuk nonfiksi. Pada dasarnya keduanya bisa kita kuasai jikamana kita mengetahui atau mau memahami kunci rahasia bisa menulis kreatif, lebih khususnya cara sederhana agar bisa mengeksplorasi budaya Jombang dalam tulisan kreatif. Kunci rahasia menulis sebagai sebagai berikut.

Pertama, kita harus berusaha bisa jatuh cinta dulu. Lebih khususnya jatuh cinta pada kemauan untuk menulis fiksi atau nonfiksi. Mengapa harus bisa jatuh cinta dulu? Oleh karena jatuh cinta itu adalah cara untuk menikmati sesuatu. Jatuh cinta adalah salah satu cara yang kuat—semacam keyakinan— agar bisa menjadikan sesuatu yang awalnya tidak terbiasa menjadi lebih terbiasa, menjadikan sesuatu yang dirasa susah menjadi mudah, dan lain sebagainya. Jadi, tentukan pilihan kita terlebih dahulu. Tentukan ingin membuat tulisan kreatif fiksi atau nonfiksi. Jika sudah memilih pilihan itu, maka cintai dengan sepenuh hati apa yang sudah menjadi pilihan kita itu.

Sebenarnya dua jenis tulisan kreatif itu sama-sama asyiknya. Artinya, kedua jenis tulisan itu sama-sama mengajak seorang penulis untuk berpikir kreatif. Hanya saja, ada perbedaan sedikit di antara keduanya. Jika memilih membuat tulisan kreatif nonfiksi maka ada banyak keuntungan awal yang bisa kita rasakan: (1) saingan penulisnya belum terlalu banyak, oleh karena umumnya sudah teramat banyak penulis fiksi, jika tidak percaya bisa dikroscek di toko-toko buku atau online; (2) tema tulisan kreatif nonfiksi umumnya cenderung lebih spesifik, semisal saja kita suka tentang sesuatu yang bersifat religi, maka bisa saja kita membuat tulisan nonfiksi yang berkenaan tentang sejarah rumah-rumah peribadatan tertua di Jombang, tokoh-tokoh pegiat seni tradisi di Jombang, dan lain sebagainya; dan (3) mudah dalam pengembangan materinya, dalam artian yang sederhana tulisan kreatif nonfiksi lebih mudah untuk diselesaikan oleh karena sumber data atau bahan untuk tulisannya mudah didapat (semisal bisa melalui wawancara, mencari di buku, di internet, dan lain-lain).

Terlebih, tugas seorang penulis hanya bersifat mengembangkan data-data yang sudah ada (mengembangkan data yang sudah diperoleh). Berbeda halnya dengan tulisan kreatif fiksi, seorang penulis hanya dituntut bisa bebas dan leluasa dalam berimajinasi. Penulis bebas mengembangkan idenya dari segala sudut. Ia cukup mengikuti jalan cerita yang ingin dibuat atau diinginkannya.

Kedua, pikirkan terlebih dahulu, lalu pilihlah dengan keyakinan yang kuat peristiwa-peristiwa yang tidak jauh dari kehidupan kita. Seperti halnya pengalaman pribadi tentang masa lalu, pengalaman pribadi keluarga, teman sejawat, atau kisah-kisah yang menyentuh dalam sebuah cerita di film, buku, berita, dan lain sebagainya.

Potongan-potongan kisah ini bisa di-list lalu dijadikan bahan imajinasi untuk menulis. Kaitkan dengan budaya Jombang (bisa cerita rakyat setempat, tradisi atau ritual desa setempat, dan lain-lain). Khusus yang menulis nonfiksi bisa langsung terfokus pada objek yang dipilih. Upayakan objek tidak jauh dari sekitar kita berada, biar mudah dalam menjangkaunya.

Contohnya saja semisal si calon penulis nonfiksi tinggal di suatu desa yang bernama Desa Makam Agung. Dari nama desa ini bisa dipikirkan secara mendalam. Buat analogi-analogi, buat list pertanyaan-pertanyaan sebanyak-banyaknya, jika kurang puas tanyakan orang-orang sekitar (tanyakan kakek-nenek, orangtua, kerabat, tetangga, dan lain-lain. Jika perlu cari informasinya di internet untuk penggalian data sementara). Modal dari penciptaan list pertanyaan, hasil wawancara, dan hasil mencari sumber di buku-buku atau di dunia maya ini bisa dikembangkan menjadi tulisan nonfiksi yang menarik.

Ketiga, biasakan membuat draf atau kerangka tulisan terlebih dahulu sebelum melangkah mengetik atau menulis. Membuat skenario pikiran (konsep yang ingin ditulis). Draf atau kerangka tulisan bisa berupa daftar isi, bisa berupa susunan kalimat inti sebagai modal untuk urutan pembuatan paragraf, dan lain sebagainya. Mantapkan draf atau kerangka tulisan yang sudah dibuat. Jika perlu, baca dan pikirkan berulang-ulang draf atau kerangka tulisan yang sudah selesai dibuat. Pikirkan secara mendalam hingga dianggap final (dianggap matang atau selesai).

Keempat, buat date line atau batas akhir waktu rencana penulisan. Batas akhir waktu rencana penulisan berfungsi sebagai pengontrol waktu atau target dari penyelesaian tulisan. Biasakan mematuhi date line atau batas waktu penyelesaian penulisan yang sudah dibuat. Sejatinya penulis yang sudah membuat date line sebelum melangkah menulis maka pastilah akan muncul energi positif dan luar biasa pada dirinya. Penulis akan terkontaminasi dengan date line tersebut. Penulis akan mempunyai motivasi yang kuat untuk merampungkan atau menyelesaikan project tulisan kreatifnya. Tidak percaya? Buktikan atau praktikkan!

Kelima, yang terpenting dari rumus menulis kreatif adalah jangan sekali-kali membaca ulang tulisan di layar komputer saat mengetik atau menulis. Cenderung hal semacam ini sering dilakukan atau dialami oleh setiap orang. Dengan demikian, tulisan tidak jadi segera rampung atau tuntas, tulisan hanya akan berkutat pada satu paragraf, dan pada akhirnya hasil tulisan atau hasil ketikannya itu akan dihapus semua.

Biasakan mengetik atau menulis sampai selesai dulu. Menulis atau mengetik apa saja yang seketika terlintas di pikiran kita. Dengan demikian, tulisan atau hasil ketikannya akan terus bertambah, bertambah, dan bertambah, hingga selesai. Jika mengalami kebuntuan di tengah jalan pada saat mengetik atau menulis, maka berhentilah menulis. Jangan dipaksakan. Cukup baca saja satu kata atau satu kalimat terakhir hasil ketikan. Ingat-ingat satu kata atau satu kalimat tersebut. Lalu, matikan saja laptopnya. Cari asupan inspirasi melalui beberapa kegiatan seperti membaca buku, membaca koran atau berita online, menonton film, jalan-jalan, ngopi, nongkrong sama teman, dan lain sebagainya sembari tetap mengingat-ingat satu atau kalimat terakhir tersebut.

Keenam, jika tulisan sudah dianggap selesai maka saatnya untuk menyimpan file hasil ketikan, lalu mematikan laptop atau komputer. Tahap ini dikatakan sebagai tahap istirahat berpikir tentang apa yang sudah ditulis. Setelah pikiran benar-benar fresh atau segar, maka saatnya masuk pada proses membaca ulang atau editing tulisan.

Pada proses inilah seorang penulis kreatif akan secara leluasa mengedit atau mengubah hasil ketikan atau tulisan yang sedang dibacanya. Jika perlu, lakukan dua kali pembacaan. Pembacaan pertama tanpa mengedit tulisan. Lalu, pembacaan kedua dengan mengedit tulisan. Saat tuntas membaca sesi pertama, beri waktu untuk berpikir tentang isi tulisan mana saja yang dianggap janggal (tidak menarik) atau perlu diedit ulang.

5#
Sejatinya, tidak ada sesuatu yang bersifat instan. Semuanya butuh proses, butuh waktu, dan butuh pembiasaan atau konsistensi. Termasuk dalam hal melatih diri untuk bisa ajeg meluangkan waktu membuat tulisan. Jangan ragu-ragu jika ingin menjadi seorang penulis. Jika ragu-ragu, jangan jadi penulis. Jangan merasa takut tulisan yang kita buat tidak baik atau tidak menarik untuk dibaca orang lain.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai, yang tuntas sesuai dengan date line. Sebagai penutup tulisan ini saya selalu berpikir bahwa keterampilan menulis merupakan sesuatu yang aneh. Dan, barangkali saya memang membenarkan satu pernyataan Chesterton, bahwa “Hanya ‘satu hal’ yang diperlukan oleh seorang penulis sebelum melangkah menulis. Satu hal itu adalah: SEGALANYA.”
***
______________________
*) Tulisan sederhana ini pernah disampaikan dalam acara Pelatihan Literasi bagi Komunitas Literasi di Kabupaten Jombang yang diselenggarakan Balai Bahasa Jawa Timur pada tanggal 21-23 November 2018 di Padepokan Wonosalam Lestari (PWL), Jalan Arjuna Wonosalam Jombang Jawa Timur.

**) Dosen Pengampu Sastra Indonesia di Kampus STKIP PGRI Jombang. Direktur Jombang Institute. Sebuah Lembaga Riset Sejarah Sosial dan Kebudayaan di Kabupaten Jombang. HP: 085646230330.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *