Selamat jalan Mang Ajip Rosidi (31 Januari 1938 – 29 Juli 2020)

AJIP ROSIDI: MEMBACA DAN MENULIS TANPA AKHIR


Maman S. Mahayana

Pagi itu, Senin, 22 Juni 2020, saya mendapat kejutan. Telepon lewat WhatsApp dari Ajip Rosidi. Ajip Rosidi lalu bercerita lain-lain, tentang rencana penerbitan ulang antologi cerpen karya Nugroho Notosusanto, Brigjen, mantan Menteri Pendidikan yang juga pernah menjabat Rektor UI; penerbitan esa-esai Muhammad Rustandi Kartakusuma, sastrawan Indonesia pertama yang mengajar di Amerika Serikat, yaitu di Yale University, Harvard University, dan di Massachusetts Institute of Technology.

Seperti biasanya, saya menjadi pendengar yang baik. Semangatnya masih kencang. Sambil melontarkan berbagai kritik atas kurangnya perhatian pemerintah pada upaya penerbitan buku dan penghargaan pada sastrawan—penulis, ia lalu menyinggung rencana penerbitan esai-esai kritik yang ditulis Saleh Iskandar Poeradisastra, sastrawan seangkatannya yang sering memakai nama pena, Boejoeng Saleh, mantan dosen FSUI (1960—1962) dan dosen Universitas M.V. Lomonosov, Moskow, Rusia (1962-1964).

Sabtu malam, 25 Juli 2020, saya menerima kabar Ajip Rosidi dirawat di Rumas Sakit Tidar, Magelang. Menurut pesan itu, ada pendarahan di kepala.
Minggu, 26 Juli 2020, ketika saya memberi sambutan dalam acara Syukuran Hari Puisi mengawali Perayaan ke-8 Hari Puisi Indonesia, saya mohon kepada peserta yang hadir agar mendoakan kepergian penyair besar, Sapardi Djoko Damono dan menyampaikan alfatihah untuk kesembuhan Ajip Rosidi.

Dan malam tadi, 29 Juli 2020, ada pesan dari grup WhatsApp, Ajip Rosidi meninggalkan kita semua. Lalu, berseliweranlah ucapan bela sungkawa. “Sastrawan Ajip Rosidi sudah meninggalkan kita pukul 22.20 di rumah duka Jatiniskala, Pabelan Magelang,” begitu pesan yang saya terima dari Ken Zuraida, istri mendiang penyair Rendra.

Selamat jalan Mang! Indonesia (sastra Indonesia) telah menerima warisan pemikiran anjeun yang tertuang dalam puluhan buku. Insya Allah, semuanya akan menjadi amal saleh dan ilmu yang bermanfaat yang akan melempangkan jalan menuju Surga.

Teh Nani Wijaya, sing sabar ya. Wis takdire!
Alfatihah ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *