1995, 50 TAHUN INDONESIA MERDEKA


Sunlie Thomas Alexander *

1995. Ulang Tahun Emas Republik Indonesia. Dan kami–anak-anak kelas 3 IPS1 SMA YPDB Belinyu, Bangka–barangkali hanya segerombolan anak-anak lugu yang kebanyakan cuma tahu pacaran dan berantem. Kendati beberapa di antara kami nampaknya mulai tertarik pada politik selain sudah mahir ngentot.

Tetapi pada tahun itu, kami ingin membuat sesuatu yang berbeda dari yang pernah ada sebelumnya di kota kecamatan kecil kami untuk menyambut HUT Emas Kemerdekaan Republik Indonesia negara kami. Bukan sesuatu yang besar, tetapi hanya hal kecil sederhana yang bisa dilakukan oleh anak2 SMA. Sekadar keinginan orang2 muda sedang puber untuk tampil beda dalam Karnaval Tujuhbelasan anak2 sekolah yang sudah jadi tradisi rutin, itu saja! Murni “street Performance”, tak ada unsur politik sedikitpun. Apalagi seperti yang kemudian sempat dicurigai oleh tentara: ada hasutan politis! Itu hal yang tidaklah terpikirkan oleh kami sama sekali.

Ya, cuma sekadar ingin tampil beda. Kami bahkan tidak begitu menyadari bahwa apa yang kami buat itu tergolong sebagai sebuah keberanian cukup menakjubkan bagi sekian banyak orang yang paham politik. Dan itu adalah yang pertama di seluruh Indonesia sejak Rezim Orde Baru melarang semua unsur kebudayaan Cina dipertunjukkan di depan publik! (Di mana, lewat Inpres No.14 Tahun 1967, Jenderal Soeharto telah menetapkan bahwa semua upacara agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dan dalam ruangan tertutup).

Ya, kamilah yang pertama kali membuat Naga alias Liong dan mengaraknya ke jalan-jalan pada masa-masa terakhir kekuasaan rezim busuk rasis yang mencekik itu. Bukan Liong dalam bentuk yang persis dengan Liong dalam kesenian Cina yang dimainkan dengan tongkat itu, juga bukan Barongsay. Namun kukira itu campuran keduanya.

Pencetusnya juga bukan aku maupun anak-anak Tionghoa lainnya. Tetapi teman kami, Sunarman alias Ceduk, anak Melayu, “preman sekolah”, tukang berantem yang paling ditakuti bahkan oleh orang-orang dewasa di luar lingkungan sekolah, kepala genk. Aku tidak tahu kenapa dan dari mana ia memperoleh gagasannya itu. Mungkin dari film-film kungfu made in Hongkong yang ia tonton belum lama.

Tetapi, kuingat, siang itu, dalam suasana persiapan pawai gerak jalan dan karnaval, ia menyapaku di parkiran sekolah dan kami saling berbagi rokok.

“Cemano men kelas kito buat Nago, Lie?” usulnya sambil berjongkok di tepi parkiran. Aku tercenung sesaat dan langsung sepakat tanpa pikir panjang. Anak-anak lain, genknya, juga menyambut dengan antusias.

“Masa’ tiap tahun karnaval cuma itu-itu saja? Pesawat, tank, kita harus lebih kreatif!” lanjutnya bersemangat.

Aku pun ditunjuk beramai-ramai sebagai perancang Naga itu. Naga Emas, bersisik emas, yang dari mulutnya bisa menyemburkan api (dengan bensin) untuk menyambut Ulang Tahun Emas RI!

Dan kami mengerjakannya siang-malam, nginap di sekolah, bergadang. Bahannya mudah didapat: kayu, bambu, kawat, kertas semen, koran bekas, karung bekas beras, cat kayu.

Ketika Naga itu sudah setengah jadi, guru-guru kami terpana. Tetapi di antara mereka juga tak ada yang sampai kepikiran bahwa Naga kami itu kelak akan berurusan dengan tentara.

Pak Pieter P Pureklolong, guru kami, pembina OSIS dan Majalah Sekolah, mendukung kami dengan rokok dan sesekali nasi bungkus. Kami juga membawa kopi dan arak untuk menemani kami bergadang malam-malam.

Setelah seminggu lebih, sehari menjelang pelaksanaan karnaval, dengan badan lesu kurang tidur, akhirnya Naga kami pun jadi. Dan kami begitu bahagia dan bangga melihatnya, melihat banyak orang terpesona (mungkin juga iri) pada hasil karya kelas kami itu. Meskipun melihat lagi fotonya sekarang ini, kupikir ia lebih mirip dengan seekor ular besar.

Entahlah siapa yang kemudian sempat terpikir, bisa jadi aku sendiri atau teman yang lain (aku sudah lupa) bahwa Naga kami nantinya akan dituduh menjiplak Barongsai dan itu mungkin bakal bermasalah. Maka dalam kesepakatan bersama, kami pun akhirnya menamainya Robot Naga. Dengan seorang teman yang nantinya akan berjalan di depan sambil memegang remote besar dan seolah-olah mengontrol liukan sang Naga yang kami mainkan seperti Barongsai itu.

Sungguh merupakan sebuah kehormatan dan kebanggaan yang lebih besar bagi kami ketika kepala sekolah dan para guru kemudian memutuskan bahwa Robot Naga kami dipersilakan untuk memimpin barisan rombongan sekolah kami. Di depan, persis di belakang cewek pembawa papan nama sekolah, bukan dalam rombongan kelas kami. Itu satu hal yang tidak lazim dan luar biasa buat kami.

Maka kami pun kemudian mengaraknya beramai-ramai, sambil meliuk-liukkannya sepanjang jalan menuju rumah dinas Camat tempat berkumpul seluruh peserta karnaval dari kota kecamatan kami. Dari sana nantinya, barulah semua peserta dilepas untuk mengelilingi kota kecil kami.

Tetapi mendekati rumah dinas Camat yang dituju, di tengah liukan bahagia kami yang diiringi lagu-lagu protes sosial Iwan Fals seperti Bongkar dan Bento (bukan lagu Cina), di tengah tatapan penuh pujian dari orang-orang di sepanjang jalan yang kami lalui, kami menerima kabar tak sedap itu: “Danramil marah. Dan Robot Naga kami tidak diperkenankan mengikuti Karnaval 17 Agustus!”

Kami kaget dan tercengang. Seluruh semangat, kebahagiaan, dan kebanggaan kami sebagai anak sekolah yang sekadar ingin berpartisipasi merayakan HUT Kemerdekaan Emas seperti meruap lenyap.

Guru-guru kami mencoba bernegosiasi dengan pihak Koramil. Tetapi keputusan sang Danramil begitu tegas: “Robot Naga kami adalah Budaya Asing!” dan kami tetap tidak boleh ikut jalan.

[Ah, aku tak ingat lagi nama Danramil itu, tapi aku masih ingat pada nama anak gadisnya yang lumayan manis dan seksi itu, anak sekolah sebelah (SMAN 1 Belinyu): P.P.]

Ceduk menjerit marah, membuka bajunya dan memperlihatkan punggung badan kekarnya yang baru habis dikerok lantaran masuk angin akibat kurang tidur.

“Aku seminggu tidak tidur kerjakan semua ini, bangsat!” teriaknya. Kuingat, ia menangis. Suasana menegang di bawah terik matahari pukul 12 siang. Kami semua mulai marah dan mencaci maki dengan mikrofon. Lagu “Bongkar” diputar berulang-ulang dalam tape recorder besar yang kami bawa dengan volume maksimal.

Ceduk menyambar dirigen berisi bensin yang sedianya untuk semburan api Robot Naga kami. Kami beramai-ramai mengangkat si Naga dan hendak membakarnya di teras rumah dinas Camat. Namun kami dihalang-halangi oleh guru-guru kami dan satu dua polisi. Bensin di tangan Ceduk direbut oleh Pak Piet, guru olahraga kami yang cabe rawit namun sangar itu–orang Jogja yang syahdan merantau ke Bangka berbekal beragam ilmu kanuragan. Tapi kami berhasil menghempaskan Robot Naga itu di bundaran tugu muka rumah dinas Camat dan menghancurkannya sekaligus di hadapan khalayak ramai. Tendangan, pukulan, hantaman tongkat bertubi-tubi menghajar kepala si Naga malang yang kami banggakan itu hingga koyak-moyak remuk!

Kami ingin menggelar demo protes, tetapi di atas mimbar upacara bendera hari Senin berikutnya, kepala sekolah dengan cemas menyatakan bahwa pihak sekolah, guru-guru, akan lepas tangan alias tidak bertanggungjawab jika kami sampai mengadakan unjuk rasa.

Itu masa yang penuh represi. Dan kami mungkin masih terlampau belia waktu itu untuk berani nekat berhadapan dengan moncong senapan.

Itu tahun ketiga aku masih menjabat sebagai staf redaksi majalah sekolah kami, PICU. Sebagai ilustrator yang suka nulis esai2 pendek. Aku kemudian mewawancarai sejumlah kawan sekolah dan masyarakat tentang “Pencekalan Robot Naga” kami itu oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan memuatnya di PICU. Majalah tersebut (sebagai edisi terakhirnya) terbit sebulan kemudian dan para guru kami (kecuali Pak Pieter yang sudah hengkang ke Batam) dengan “ketakutan” memutuskan untuk menempel halaman yang berisi protes dan hasil wawancaraku itu menggunakan lem sebelum membagikannya kepada seluruh siswa.

Ini hanyalah sebuah kenangan tentang Pesta Emas Kemerdekaan Republik Indonesia, 25 tahun yang lalu.[]

TAMBAHAN: Koreksi Ceduk si kepala genk kami via Messenger istrinya (Yuk Riska): “Yang menjabat Danramil Belinyu pada masa itu bukan ayah P.P. Ayah P.P. menjabat sebelum itu. Trims ralatnya, kawan lamo!”
***

Foto 1: Ted alias Dali Siswandi dengan atraksi saltonya mengiringi Robot Naga kelas III IPS1 SMA YPDB Belinyu menuju rumah dinas Camat Belinyu tempat berkumpulnya peserta karnaval.
Foto 2: Hendry K. Raven memamerkan tendangan Karate Wadokai di samping Robot Naga (lokasi: ruas jalan di depan rumah dinas Camat Belinyu).
Foto 3: Sampul depan Majalah Sekolah PICU edisi terakhir.
Foto 4 & 5: Wawancara dan protes di Majalah Sekolah PICU ditempel oleh para guru yang takut terlibat masalah dengan ABRI.

____________________
*) Sunlie Thomas Alexander memiliki nama lahir Tang Shunli, (lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung, 7 Juni 1977), sastrawan berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Ia dikenal melalui karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, kritik sastra, catatan sepak bola, dan ulasan seni yang dipublikasikan di berbagai surat kabar serta jurnal yang terbit di Indonesia dan di luar negeri: Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Poetika, Kedaulatan Rakyat, DetikSport, Jurnal Ruang, Gong, Lampung Post, Bangka Pos, Hai, Nova, Hakka Monthly, dll. Tahun 2016, menerima beasiswa residensi penulis di Taiwan dari Menteri Kebudayaan Republik China Taiwan, dan tahun 2018 menerima beasiswa residensi ke Belanda dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *