GOLAN MIRAH

Iva Titin Shovia *

Mirah Kencono Wungu, menoreh kain dengan canting
Dari bibir mengalun dandanggula dan caping
Terbetik pandang pada seekor ayam jantan
Jinak hewan, minta dikudang.

“Jago tampan, siapa empunya kau ayam?
Andai lelaki, rupawan kau jantan!”

“Punyaku, puspita Mirah
Ayahmu, Ki Ageng Mirah adalah sepupu Ki Bayu Kusuma
Menurunkan darah pada Jaka Lancur dari Golan, aku
Delima merekah, bukankah kita bersepupu?”

Darah muda meminta perhatian
Jaka Lancur dan Mirah Ayu gadis pingitan
Terketuk rongga dalam dada
Ada sesuatu hendak tumbuh dan pecah.

Awas! Ada ayahanda juwita
Terpergok dua sejoli berlempar canda
Dilemparkan nista pada sang pemuda:
“Dasar tak punya tata krama!”

Lancur! Lancur! Pulanglah dengan hati retak
Tidak bisa disatukan lagi, hilang detak
Puspa jelita menari di pelupuk mata terekam
Ringkih jiwa raga menderita cinta kelam
Lebih menyakitkan, daripada kalah main sabung ayam.

Ki Bayu Kusuma tercela
Jika tak bisa menuruti anak lanang.
Jatuh cinta perkara mudah
Pergilah utusan menuju Mirah
Hendak melamar dara Mirah Kencono Wungu.

Mirah Kencono Wungu menunggu-berdebar sang pujaan
Kiranya ayahanda menolak bermenantukan tukang judi sabung ayam
Lamaran diterima dengan seserahan rupa-rupa
Lumbung yang berjalan sendiri, dan bendungan air untuk rakyat Mirah.

Lara Jonggrang meminta candi seribu, curanglah dia
Dayang Sumbi meminta perahu, curanglah dia
Ki Ageng Mirah menolak menantu, curanglah juga
Bendungan diambrolkan, lumbung dikosongkan.

Ki Bayu Kesuma geram diculasi lawan
Padi dalam lumbung diganti damen dan kulit kedelai
Di mata orang biasa, tetap padi semata
Ki Ageng Mirah setengah putus asa
Tinggal menjebol bendungan, pun sia-sia
Ki Bayu Kesuma meminta para buaya menjaganya
Pasrahlah ayahanda Kencono Wungu
Kini wajiblah Jaka Lancur jadi menantu.

Sakti dilawan sakti, para Ki Ageng bersikap sama tinggi
Lumbung padi berjalan sendiri, seserahan yang dinanti
Sampai di tempat, terkuaklah kalau isinya kulit kedelai dan jerami
Batal! Batal! Namun Lancur dan Mirah kadung jatuh hati sehidup semati.

Perang tak ayal
Dua pihak saling jegal
Bendungan buaya jebol airnya
Manusia terhanyut air bah

Ketika banjir usai, ditemukan Jaka Lancur dan kencana Wungu lampus diri
Tak kuasa menahan gelora, sedang para ayahanda tak paham renjana
Tinggallah sesal, sesak yang timbulkan kutuk-sumpah
Dari Golan, jangan dibawa ke Mirah
Di Mirah, kedelai jangan diolah
Golan Mirah, kisah cinta memantik nestapa
Golan Mirah, selanjutnya jangan ada yang jatuh cinta.

Lamongan, 16-06-2020

*) Iva Titin Shovia, lahir tahun 1980, masih setia dengan nama Titin Pardesi di Instagram. Tulisannya masuk dalam antologi: Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, Nyala Abadi, September Love, Kubiarkan Kau Terus Bercerita, Dongeng Cantik 300 Detik, Memoar Purnama Di Kampung Halaman, dll. Antologi puisi tunggalnya berjudul “From Bibir with love” (2018), dan “Lelaki Gandrung Takut Basah” (2019). Sedangkan kumpulan cerminnya, “Lelaki Pemetik Embun” terbit tahun 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *