KEAJAIBAN SASTRA?


Raudal Tanjung Banua *

Tak dapat dipungkiri, Mohammad Yamin, salah seorang “Bapak Republik” kita dan penggubah sandjak cinta Tanah Air, berhasil menapak jalannya yang lain– alam kemajuan bernama modernitas– berkat pendidikan kolonial (barat), yang memungkinkannya menyempal atau keluar dari jalan setapak tradisional kampung halaman– Sutan Takdir Alisjahbana mengamsalnya “tasik yang tenang”.

Jalan lain itu juga memungkinkan Yamin bisa menggubah “sanjak-sanjak” ode bagi tanah kelahiran, meski masih dengan gaya lama, Melayu-klasik, tapi ia sudah menuliskannya dengan pena, berkebalikan dengan tradisi lisan yang ia punya, dan kelak ia beralih sebagai penekun soneta yang bersumber dari gaya Eropa.

Seiring dengan itu, ia yang pada mulanya memandang Sumatera sebagai Tanah Air-nya, setelah berada di Batavia, berhasil mentransformasikan Tanah Air menjadi Indonesia. Bahkan ia dikenal sebagai pencipta “imajinasi keindonesiaan” melalui tokoh Gajah Mada dan sejarah Nusantara.

Bagaimanakah seorang Minang yang awalnya menganggap “tanah airnya” selingkar kampung-halaman, beralih jadi orang yang meluaskan Tanah Air tak lagi sebatas pandang? Dan itu bukan melalui tokoh Cindurmato atau Dang Tuanku dari “tambo” dan legenda Minang, bukan pula melalui Hang Tuah atau Hang Jebat dari khazanah Melayu yang dekat dengannya, tapi dari Gajah Mada, penguasa Jawa-Nusantara yang notabene pernah ingin menganeksasi Pagaruyung!

Keajaiban sastra? Boleh jadi. Tapi itu tidak serta-merta, karena latar belakang dan bahkan mungkin latar depan Yamin, adalah masyarakat Minangkabau yang kental dengan kesusasteraan; petatah-petitih, pantun, mantra, kaba, segala ritual, yang menghidupkan imajinasi dengan kata dan bahasa.

Dan di tengah keagungan lampau itu, tibalah alaf baru: sekolah, percetakan, penerbitan, koran, majalah, buku-buku dan Balai Pustaka!

Balai Pustaka, kita tahu, menjadi corong pembentukan kanon sastra Indonesia modern. Tujuannya, kecuali menggubah cerita baru, juga berhasrat mengambil-alih (dan mengalih-wahanakan) aksara Arab-Melayu gundul atau pegon beserta ragam bahasa yang ternyata masih dipakai antara lain oleh para ulama dalam menulis kitab-kitab di surau, langgar atau meunasah. Plus dari ragam bahasa daerah (Minang, Aceh, Sunda, Jawa, Bugis, dst.) beralih ke bahasa Melayu yang diklaim bersifat “lingua-franca” itu, yang kelak disebut bahasa persatuan Indonesia.

Selain lembaga BP, surat kabar, terbitan berkala dan buku-buku, ikut melanggengkan proses terbentuknya kanon sastra, bahasa dan mungkin jurnalisme. Bahasa Tionghoa, Melayu Rendah, roman Medan dan seterusnya, disisihkan.

Bagaimanapun semua itu bertolak dari upaya dan prakarya pemerintah kolonial dalam merespon politik etis, meski saya kira juga tak kalah besar kepentingan praktisnya: pengadaan juru tulis, para pangreh praja, polisi, ambtenaar, hingga juru tagih dan juru hitung di gudang-gudang pelabuhan.

Akan tetapi, upaya itu berhasil diambil-alih pula oleh kaum Bumi Putra, untuk dijadikan milik sendiri. Tak terkecuali sastra dan bahasa. Tak kepalang basah, bahasa lingua-franca itu ditahbiskan para pemuda pergerakan– Yamin salah satunya– menjadi bahasa persatuan Indonesia dalam teks “Sumpah Pemuda” yang disebut penyair Tardji sebagai puisi besar bangsa Indonesia.

Mohammad Yamin, terutama dalam kapasitas sebagai penulis sastra, beserta Yamin-Yamin yang lain, lebih kurang lahir dari latar panjang penuh pergulatan itu, yang ibarat tebu: bertemunya ruas dan buku; tradisi masa lalu menyatu dengan jalan baru modernitas– yang membuat lidah dan bibir kita mencecap rasa manis, meski kadang hambar dan banyak ampas.

Dan sastra, masih dengan keajaibannya, membahasakan itu semua kepada kita.
***

______________
*) Raudal Tanjung Banua, sastrawan kelahiran Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat juga Harian Haluan, Padang. Kemudian merantau ke Denpasar, Bali, bergabung Sanggar Minum Kopi, serta intens belajar kepada penyair Umbu Landu Paranggi. Lalu ke Yogyakarta; menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia. Mendirikan Komunitas Rumah Lebah, dan bergiat di Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia (Sebuah Lembaga Budaya yang Menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esei, dipublikasikan di pelbagai media massa pun antologi. Buku-bukunya: Pulau Cinta di Peta Buta (2003), Ziarah bagi yang Hidup (2004), Parang Tak Berulu (2005), Gugusan Mata Ibu (2005), Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (2018), dll. Penghargaan yang diterimanya: Sih Award dari Jurnal Puisi, dan Anugerah Sastra Horison untuk cerpen terbaik dari Majalah Sastra Horison.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *