PERIHAL ANTOLOGI PUISI YANG DIKANON-KANONISASIKAN ITU

Sunlie Thomas Alexander

TERKAPAR sekitar tiga jam, badan masih penat–tapi ada kerjaan-kerjaan yang mesti dilanjutkan.

Namun okelah, aku akan coba menulis sesuatu perihal Antologi Puisi 100/Lebih Penyair (disebut-sebut pula “penyair modern”) yang bikin kisruh itu. Yang kini nampaknya sudah sepanas knalpot angkot tua setelah mutar-mutar tidak tentu arah. Kendati “ribut-ribut” kali ini tentunya jauh lebih bermutu dan bermartabat ketimbang sinetron maki-makian dan blokiran beberapa hari lalu–lantaran kita bicara soal kelayakan seorang penyair dari sisi teks maupun persoalan moril.

Ah, barangkali apa yang kutulis ini memang bukanlah sesuatu yang cukup bernilai (Mungkin terlihat seperti ocehan saja). Karena itu, seandainya terdapat kekeliruan atau ada yang luput atau ada hal-hal dari sekadar catatan ini yang kurang berkenan di hati Tuan-Puan, mohon kiranya dikoreksi atau diluruskan saja seperti saf Jumatan.

Aku mulai dari mana ya? Ini sudah kayak benang ruwet, paling tidak untuk pikiranku yang rada lelah lantaran harus membagi konsentrasi ke beberapa fokus sekaligus. Oke, dari tadi siang saja.

Ya, tadi siang. Entah jam berapa persisnya (aku malas ngecek lagi), aku mengirim pesan ke grup Messenger 7 Editor “Antologi 100/Lebih” (sebut saja begitu ya?) itu berisi permohonan, pilihan, dan keputusanku, bahwa:

“Aku akan tetap melanjutkan kerja bareng sebagai editor sebagaimana kesepakatan, tetapi seperti yang sudah menjadi pemikiran dan pilihanku sejak awal, aku meminta puisi-puisiku untuk tidak dimasukkan ke dalam antologi ini.”

Tentu, seperti dalam Rapat 1, permintaanku yang awalnya berupa usul itu kembali coba ditolak. Tetapi kukira kali ini aku harus bersikeras tegas. Apalagi ini memang sudah jadi pilihan sadarku sejak semula. Apapun argumentasi dari kawan-kawan “editor” yang lain soal ini, toh aku juga punya argumentasiku sendiri atas keputusanku. Dan dalam hal ini aku sama sekali bukan bermaksud ingin sok bijak, sok adil, sok ambil jalan tengah (ataupun hendak lari dari risiko) atas perkara yang kian meruncing.

Adapun pertimbangan yang melandasi pilihanku itu adalah:
(1) Puisi-puisiku adalah puisi-puisi yang masih terus berbenah (terlalu keren jika dibilang “terus berproses”), yang masih terus-menerus aku edit ulang kembali termasuk yang sudah aku publikasikan di media atau aku terbitkan secara terbatas dalam buku kumpulan puisi pertamaku. Entah sampai kapan, aku belum tahu, belum puas, dan belum punya target. Dengan kata lain di sini, puisi-puisi itu aku anggap belum cukup layak untuk dimasukkan ke dalam sebuah antologi yang diinginkan (setidaknya diniatkan) menjadi sebuah antologi berisi puisi-puisi terbaik Indonesia. Dan kukira pertimbanganku ini juga tidak berniat sok rendah hati. Sebagai orang yang sesekali coba-coba menulis kritik sastra, aku punya ukuran tersendiri soal mana puisi yang “jadi” dan mana yang belum, termasuk puisi-puisiku sendiri.
(2) Apapun alasan argumentatif yang dapat diutarakan oleh kawan-kawan “editor”, baik yang sudah dilontarkan maupun yang belum, termasuk argumen sederhana bahwa puisi editor yang satu bakal dipertanggungjawabkan oleh editor-editor yang lain, tetap saja aku tidak sanggup menyingkirkan kesan “tukang bakso makan bakso” yang bikin risih itu. Dan ini adalah pilihan pribadiku yang tidak perlu diikuti oleh kawan-kawan editor lain terlepas dari soal adil tak adil.

Kenapa aku tidak mundur saja sebagai editor? Lah, emangnya buat apa? Tentu saja itu hal tidak perlu kecuali jika rencana membuat Antologi 100/Lebih ini sendiri akhirnya bubar. Kalau aku tiba-tiba pilih mundur sekarang ketika perkara jadi melancip, lalu buat apa capek-capek aku menyanggupi ajakan Bang Ahmad Yulden Erwin dan kawan-kawan lain untuk bergabung ke dalam tim editor? Emangnya aku anak layangan ngompolan tidak punya komitmen dan tanggungjawab yang dengan mudah dihembus angin ke sana-kemari?
***

TENTU saja aku sudah memperkirakan dan mempertimbangkan segala risiko ketika bersedia menerima ajakan menjadi salah satu editor ini. Bahkan sudah sangat yakin bahwa rencana pembukuan antologi ini pasti bakal segera menjadi kontroversial dan memicu keributan (baca: perdebatan) di FB. Kendati di satu sisi, keributan semacam ini memang niscaya akan ada tanpa bisa dihindari terlepas siapapun yang melontarkan gagasan “pembukuan” itu, AYE atau bukan.

Secara kronologis, kawan yang pertama kali melontarkan gagasan untuk menjadikan saja ide 100 nama penyair pilihan AYE (yang menurutnya merupakan yang terbaik versi pembacaannya sendiri) yang ia posting di FB itu sebagai sebuah buku antologi puisi pilihan adalah Mas Triyanto Triwikromo. Usulan Mas Tri ini kemudian segera disambut oleh yang lain. Ada Tan Lioe Ie, ada Ahda Imran, lalu entah siapa lagi aku tak ingat. Yang jelas aku tidak termasuk. Dalam kolom komentar postingan itu, aku hanya menertawakan namaku sendiri yang dipilih oleh AYE.

Lalu tahu-tahu aku diminta AYE untuk menjadi “sekretaris editor”. Pikirku, hanya menjadi “sekretaris”, yang secara resmi mungkin layaknya tukang catat dan tukang mengingatkan tak apalah. Lagipula ada Bang Ahda dan Sifu Tan Lioe Ie di dalam.

Lantas grup Messenger pun dibuat. Dan tak lama kemudian setelah pembagian tugas masing-masing editor untuk menginput para penyair berdasarkan wilayah selesai dilakukan, mendadak aku diminta pula untuk jadi pemilih para penyair Jatim. Aku sempat melontarkan keberatan lantaran alasan kerjaanku yang sedang menumpuk, namun karena tak tega pada Tan Lioe Ie yang merasa kewalahan harus menangani wilayah terlalu luas di tengah kesibukannya yang penting dan seabrek berkaitan dengan para wakil rakyat, akhirnya aku pun berkenan menyanggupi permintaan tsb dengan catatan “tolong dibantu juga”.

Komang Ira Puspitaningsih kemudian masuk terakhir sebagai editor untuk Para Penyair Perempuan menggantikan Inggit Putria Marga yang meminta keluar karena alasan keluarga setelah Nur Wahida Idris menolak tawaran dengan alasan bahwa ia tidak suka rencana antologi ini belum apa-apa sudah diumumkan dan mulai memicu keributan (berdasarkan keterangan Sifu Tan yang menghubunginya).

Apakah cuma sekadar itu alasanku mau bergabung jadi editor? Masih ada. Dan pertimbangan satu ini, yang kali ini mungkin terbaca agak “sok-sokan” adalah terkait dengan Bang AYE sebagai penelur ide awal.

Aku mungkin merasa sedikit mencemaskan Bang AYE. Pertama-tama, karena aku merasa mengenalnya sebagai penyair cerdas tapi agak otoriter dan cukup temperamental. Yang mana untuk karakteristiknya yang kedua ini, selaku orang Bangka kukira tak sulit kupahami sebagai karakter khas orang Melayu Sumatera Bagian Selatan (tanpa bermaksud menggenalisir).

Dan aku kuatir apakah nantinya ia bakal siap secara emosional dengan tekan-tekanan yang akan datang terkait temperamennya yang meledak-ledak ini. Jangan-jangan hal ini nanti bakal mempengaruhi kesehatan fisiknya pasca stroke. Aku membicarakan ini dengan Malkan Junaidi via telepon cukup lama, juga terutama terkait sifat Bang AYE yang rada otoriter itu.

Pertanyaanku dan Malkan kemudian adalah “Mampukah aku dan kawan-kawan editor lain menghadapi kecenderungan sifat AYE ini? Sejauh mana nantinya kami bisa berkompromi dengan “kengototannya” memasukkan dan menolak nama-nama?

Ya, aku menganggap masuknya aku dan kawan-kawan lain sebagai editor di sini adalah untuk mengimbangi sikap AYE yang cenderung otoriter seenaknya sendiri ini meski ia selalu mengatakan bahwa dirinya sanggup mempertanggungjawabkan pilihannya secara “keilmuan sastra”. Namun kami mungkin juga salah di sini. Justru dengan masuknya kami inilah, rencana pembukuan antologi malah jadi rentan dipandang sebagai sejenis usaha untuk (melakukan) “kanonisasi”. Bukan lagi sekadar ambisi pribadi AYE.

Aku tidak segan-segan berdebat dengan AYE secara argumentatif dan teoritis. Tentu saja. Dan kurasa selama ini aku termasuk salah satu kawan yang nampaknya masih cukup ia hargai, yang belum pernah ia blokir walaupun mendebatnya.

Ah, kebiasaan AYE dalam memblokir orang inilah yang paling tidak aku sukai. Kukira sudah beberapa kali aku katakan hal ini terang-terangan kepadanya, meski selalu pula ia bantah dengan alibi-alibinya. Kalau yang ia blokir itu sejenis kucrit-kucrit penulis jadi-jadian tapi sok ngeyel, masih bisa kumengerti. Karena mungkin ia tak tahan diganggu oleh ocehan-ocehan sampah yang tak kalah ngotot dengan dirinya itu. Tetapi, faktanya, kawan-kawan penulis serius juga dengan gampangnya ia blokir hanya gara-gara berseberangan pendapat dengan dirinya! Belum lagi jika seandainya kebiasaan memblokir ini disertai oleh stalking sebagaimana yang sering dilakukan Narpit secara diam-diam tapi ketahuan juga itu (Kuharap Bang AYE tidak sampai main “stalkingan” begini).

Ya, reputasinya sebagai Tukang Blokir inilah yang kerapkali membuatku gusar dan terus-terang saja mengingatkanku pada Narpit, kendati keduanya bertolak belakang secara watak maupun mutu.

TENTANG NAMA-NAMA DAN PENOLAKAN YANG BERSUSULAN

TENTU persoalan pemilihan nama-namalah yang senantiasa menjadi kepelikan utama yang menimbulkan huru-hara dan prahara, tak terkecuali dalam kasus Antologi 100/Lebih ini.

100 nama penyair–termasuk namaku di dalamnya–yang dikeluarkan oleh AYE dalam postingan pertama FBnya itu notabene adalah murni pemilihannya sendiri tanpa seorang pun yang turut campur. Baru kemudian setelah munculnya nama-nama lain lewat usulan sekian banyak person dalam kolom komentar di postingannya itu, AYE lalu menambahkan sekian banyak nama lagi sebagai pilihan alternatif yang di antaranya terdapat Dea Anugrah dan Riki Dhamparan Putra.

Rapat para editor lewat chatting Messenger yang melelahkan itu (aku nggak gitu kuat dengan model rapat gini, lebih enjoy lewat video macem di Zoom atau Google Meet) barulah berlangsung dua kali. Itu pun pada rapat yang kedua, aku dan Bang Ahda berhalangan untuk nimbrung.

Namun demikian, dalam Rapat 1 yang sebetulnya masih berkutat seputar masalah teknis kurasi (editorial), aku dan Tan Lioe Ie sudah sekadar bicara dan memberikan usulan nama, antara lain Mario F Lawi dan si Tuan Petir Nuruddin Asyhadie.

Aku mengikuti separuh jejak kepenyairan Mario (meski tak rutin dan tak cukup intens) sejak bertemu pertama kali dengannya di TSI 4 Ternate (2011) saat tampangnya masih imut-imut sampai wajahnya penuh brewok kayak Tuhan Yesus seperti sekarang, terutama lewat publikasi puisi-puisinya di Kompas Minggu. Dan aku menyukai puisi-puisi naratifnya yang mencoba memberi tafsir ulang terhadap kisah-kisah dan puisi Alkitab dalam balutan perspektif lokalitas Timor itu.

Aku memang belum banyak membaca puisi si Nuredan, hanya satu-dua yang mana di antaranya pernah aku posting di FBku, tetapi kukira tak seorang pun yang melek sastra akan menyangkal pencapaian estetika puisi-puisi itu.

Ya itu baru sebatas usulan. Karena itu kedua nama ini pun belumlah muncul (apakah akan muncul?) dalam daftar yang kemudian kembali diposting oleh Bang AYE kemarin atas inisiatifnya sendiri lengkap dengan segala pembelaan diri. Padahal daftar nama tsb (yang kemudian dipublikasikan oleh Nurel Javissyarqi di blognya) sama sekali belumlah matang dan masih sangat jauh dari diskusi-perdebatan antar editor dalam forum. “Pembocoran” secara sepihak dan tergesa-gesa plus “ngoceh” oleh AYE inilah yang kupikir membuat Binhad Nurrohmat jadi gusar dan akhirnya memilih ikut undur diri.

Aku tidak bermaksud menyerang sikap otoriter Bang AYE yang bertindak sendiri dalam hal ini. Tetapi kukira ia boleh menganggap apa yg aku utarakan ini sebagai sebuah kritik keras (secara positif) terhadap caranya yang masih suka seenaknya sendiri itu. Apalagi dalam postingan kali ini ia juga merespon penolakan Saut Situmorang untuk diikutkan dalam antologi ini terkait keberadaan nama Sitok Srengenge beserta kasus hukumnya dengan sikap yang–nurutku–cukup meradang dan menantang, yakni meminta Saut untuk melaporkan kembali Sitok jika memiliki bukti.

Padahal kukira penolakan Saut amat patut untuk disimak karena ia menyertai alasan-alasan yang cukup beralasan. Tidak seperti Dea yang tak menyertakan alasan apapun misalnya atas keberatannya bersanding satu buku dengan Nirwan Ahmad Arsuka I (sbg penulis pengantar)– meski tetap saja layak dihormati sebagai yang pertama menolak.

Aku tidak perlu membahas alasan-alasan Suheng Saut ini semuanya atau secara detail. Soal porsi para penyair LEKRA yang sangat kurang menurut Saut, aku hanya ingin bilang itu adalah daftar AYE pribadi dan pembahasan yang betul-betul pembahasan bahkan belum dimulai.

Sementara itu soal kelayakan Sitok baik menyangkut karyanya maupun persoalan hukum yang pernah menimpanya, aku kira juga baru sebatas usulan AYE, belum mendapatkan pembahasan lebih lanjut secara mendalam.

Aku memang masih berteman dgn Mas Sitok sampai sekarang karena sudah berkawan dengannya sebelum ia terlibat kasus hukumnya itu. Di sini aku ingin katakan bahwa “mungkin” akulah salah satu orang yang dengan cukup keras mempertanyakan “pemerkosaan” itu kepada dirinya di depan mukanya langsung. Aku tidak tahu apakah ia masih ingat atau tidak hal ini, tapi semoga saja Dahlia Rasyad yang bersamaku kala itu masih ingat.

Yang masih kuingat adalah saat itu Sitok bersikeras mengatakan ia tidak memperkosa, tetapi ia mengaku salah telah menghamili anak orang.

Tentu aku tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi dalam kasusnya itu selain hanya bisa berprasangka. Sejauh mana kemudian hukum Indonesia bisa dipercaya keadilannya seperti yang dipertanyakan oleh Saut, aku juga tidak berani masuk lebih mendalam. Salah-salah aku bisa dianggap memfitnah oleh Sitok. Biar bagaimanapun kukira para aktivis feminis yang (syahdan) dibackup UI sudah bereaksi cukup keras, baik dalam menuntut Sitok maupun melakukan advokasi terhadap “mahasiswi” itu.

Namun demikian, toh aku mengingat juga seorang Mat Murdock, pengacara tuna netra dalam jagat komik dan sinema Marvel itu, yang memutuskan memakai kostum Dare Devil menjadi seorang vigilante di jalanan untuk menghukum orang-orang yang tak tersentuh oleh hukum sembari tetap memberikan “praduga tak bersalah” kepada Mas Sitok dan “empati terbesar” kepada “korban” (Kata Dea: Harus mempercayai seluruh kesaksian korban sampai benar-benar terbukti yang sebaliknya).

“Kita mengutamakan pencapaian estetika seorang penyair, bukan ideologi, pilihan politik, maupun persoalan moralnya,” kata Bang AYE dalam forum.

Seorang sastrawan seyogianya memang tidak memikul beban moralitas dalam karya-karyanya, dalam artian wajib memberikan “pencerahan secara didaktis” kepada khalayak pembaca macam yang dilakukan para penulis novel pop dakwah atau novel pop motivasi (contohnya: Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi), tetapi–seperti yang dipertanyakan oleh Malkan kemarin–bagaimana jika mereka terlibat dalam pelanggaran moralitas dan nilai kemanusiaan seperti korupsi, membunuh, memerkosa, atau pendukung pembantai?

Dalam postingannya itu, Malkan pun menyertakan link tentang penyair Ezra Pound yang terang-terangan mendukung Hitler. Lalu Tan Lioe Ie kemudian ikut menambahkannya dengan link mengenai Arthur Rimbaud yang diyakini terlibat dalam perdagangan budak dan senjata. Dan di sini, aku juga ingin mengingatkan kita semua pada Günter Grass, penerima Nobel Sastra 1999 yang menggemparkan dunia lewat pengakuan bahwa dirinya pernah menjadi serdadu SS Nazi itu.

Bagaimana soal Afrizal? Posisi kepenyairan maupun puisinya? Kurasa aku tidak kepingin memberikan komentar di sini selain mengingatkan bahwa penilaian yang sempat dilontarkan oleh Bang AYE kemarin atas kualitas puisi2 Afrizal tsb adalah penilaiannya secara pribadi. Aku memang keberatan pada (dan ingin memperdebatkan) konsep “post-puisi”-nya Afrizal, namun tidak sekarang dan di sini. Untuk itu aku perlu menulis esai setidaknya 20 halaman.

Demikian.[]

Ohya, sebelum terlanjur berpikir aku sepakat dengan 7 penasehat yang diharapkan/diusulkan Bang AYE ini, aku ingin menyatakan dengan tegas di sini, bahwa aku BELUM pernah mengatakan di mana pun, di publik maupun di forum rapat tertutup bahwa “Aku BERSEDIA DINASEHATI oleh Nama Nomor 1 dan Nomor 7 itu”! (Secara pribadi) Terutama Nama Nomor 7!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *