MENULIS DI KORAN


Sunlie Thomas Alexander *

SETELAH menonton video Youtube Bung Juru Baca alias Hasan Aspahani, kukira aku tetap pada penilaianku sejak awal betapa ia mendewakan Kompas sebagai barometer pencapaian estetik sastra Indonesia (paling tidak dalam hal ini puisi). Itulah alasan kenapa ia begitu ngotot selama 4 tahun secara rutin terus mengirimkan puisi-puisinya ke Kompas sembari mempercayai kualitas dan kapasitas redaktur puisi secara “lugu”.

Adakah keinsyafan setelah itu? Setelah puisi-puisinya akhirnya (selalu) dipublikasikan oleh Hasif Amini setiapkali ia ngirim? Kurasa tidak. Itu bisa kita lihat dari pengakuannya ketika ada seorang “penyair muda” menggugatnya agar tidak lagi kirim puisi ke Kompas untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada nama-nama baru. Dimana jawabannya adalah berupa nasehat bahwa si penyair muda itu harusnya terus meningkatkan kualitas karya agar bisa menembus gawang redaktur puisi Kompas, yang jelas sekali dalam hal ini sama artinya dengan ia tetap (dalam keyakinan penuh) menganggap bahwa sang redaktur memang memiliki kapasitas dan kualitas seorang kurator atas mutu puisi sembari secara tak langsung mengakui bahwa puisi-puisinya sendiri memang “layak muat secara kualitas” karena telah berhasil menjebol gawang redaktur tsb.

Apakah betul ia menganggap bahwa standar redaksi di semua media adalah sama, yakni dalam hal ini mengutamakan bobot puisi? Pertanyaan ini patut kita sambung dengan pertanyaan, “Apakah Hasan juga mengirimkan puisi secara rutin selama 4 tahun setiap minggu ke media-media lain, termasuk koran-koran daerah?”

Di sini bagiku, “Kenapa harus Kompas?” yang ia ajukan dalam judul konten vblognya itu tidaklah terjawab sama sekali selain bahwa menurutnya Kompas memang sebuah media nasional yang dianggapnya sebagai tolok ukur pencapaian.

Jawaban lain Hasan yang tertangkap dengan terang olehku adalah bahwa kengototannya untuk mengirim puisi secara rutin ke Kompas di video itu hanyalah bahwa hal tsb dilakukannya sebagai usaha untuk menarik/merebut perhatian sang redaktur puisi di antara begitu banyak naskah kiriman yang seyogianya ‘membanjiri’ email redaksi. Yang mana bagiku tetap saja terkesan betapa pentingnya halaman puisi Kompas bagi dirinya sebagai penyair. Sehingga seolah-olah, “Kau belumlah jadi penyair kalau puisimu belum dimuat oleh Kompas!”

Tak ada kutangkap pertimbangan-pertimbangannya dalam video tsb misalnya soal selera redaktur ataupun visi-misi media selain bahwa ia menyadari bahwa Kompas adalah media untuk umum dengan ragam pembaca. Tak ada pembacaannya yang lebih mendalam secara politis.

Padahal selera redaktur di sini seperti yang juga diungkapkan Malkan Junaidi dan Ban Budi Hutasuhut cukup berperan dalam lolos tidaknya sebuah naskah.

Riset kecil-kecilanku terhadap “Selera Nirwan Dewanto dan Kecenderungan Cerpen-cerpen Koran Tempo” yang belum selesai itu (yang tahu hal ini salah satunya Indrian Koto) contohnya, memperlihatkan padaku cukup jelas bagaimana selera Nirwan dalam menyeleksi naskah2 cerpen yang masuk ke email Kortem amat ditentukan oleh pemikirannya tentang sastra seperti yang tertuang dalam bukunya “Senjakala Kebudayaan” (juga yang terbit baru-baru ini: “Kaki Kata”)—Suatu corak selera yang amat erat berkait dengan pandangan politis komunitasnya Salihara bin TUK, juga kesepakatannya dengan pemikiran para pengusung McOndo dalam sastra Amerika Selatan.

Apakah sebagai penyair kita memang mesti menyesuaikan diri dengan selera dan pemikiran politik-estetik seorang redaktur juga visi-misi medianya? Ini hal yang konyol bagiku.

Seperti yang kukatakan dalam postinganku sebelumnya aku tidak anti sastra koran. Tetapi apakah demi menembus halaman sastra sebuah koran aku harus menyesuaikan diri dengan selera sang redaktur? Jawabannya adalah Tidak!

Yang pernah kulakukan–terkait dengan kesadaranku sejak awal untuk bikin riset kecil-kecilan di atas–justru adalah menguji sembari mengejek selera salah seorang redaktur itu, dalam hal ini Nirwan. Dan seperti dugaanku, “olok-olokku” ini ternyata memang dimuat olehnya. Tentu saja, untuk membuktikan bahwa itu hanyalah sebuah “olok-olok”, aku harus menpertanggungjawabkannya dengan menerbitkan hasil risetku kelak. Jika tidak, hal itu hanya akan jadi omong kosong hipokrit. Sebab di sini, kasusnya sungguhlah beda dengan “puisi olok-olok” ala Mikael Johani terhadap puisi Nirwan dan puisi Kompas yang cuma ia publikasikan sendiri.

Lalu, apakah statusku terdahulu yang melampirkan sebuah foto publikasi puisiku di Kompas memang terkesan politically correct yang justru kembali melegitimasi hegemoni sastra koran seperti yang dibaca oleh Saut Situmorang, barangkali saja iya jika itu dipandang dari perspektif Politik Sastra Saut yang memang berupaya keras menolak cara & posisi sastra koran Indonesia sejak era Cybersastra hingga hari ini.

Tetapi sejak aku memulai lagi proses menulis di Komunitas Rumahlebah pada masa-masa awal kedatanganku ke Jogja, sikap Raudal Tanjung Banua dalam membimbing dan mengarahkanku dalam jagat kepenulisan kukira adalah mencoba menyiasati koran sebagai salah satu ruang berekspresi tanpa perlu mengagungkan halaman sastra setinggi langit ataupun menghamba-hamba kepada selera politis-estetis redaktur manapun.

“Tidak perlu kau ikuti selera redaktur koran. Nulis saja sebaik-baiknya sesuai yang kau mau dan kirim. Kalau tidak dimuat oleh satu media, kirim ke media yang lain. Kalau tidak dimuat-muat juga ya sudah, nulis lagi. Kalau tidak mau kirim ke koran ya simpan saja. Nanti bisa kau bukukan kalau mau,” kira-kira seperti itu kata Raudal dulu.

Dan itu masih kupegang sampai hari ini setiapkali kepingin mengirimkan tulisan ke koran apapun alasannya. Dan kukira Raudal menerbitkan salah satu cerpen awalku di Jogja di Jurnal Cerpen bukanlah atas pertimbangan kedekatan kami atau karena aku “ngelmu” di Rumahlebah. Bisa jadi itu lebih sebagai penyemangat buat diriku di luar kualitas cerpenku sendiri yang merupakan wewenang pembacaannya sebagai redaksi Jurnal Cerpen.

Jadi, apakah aku harus menolak publikasi di koran (atau media online) saat ini setelah sekian waktu? Kurasa tetap tidak. Bukankah di luar beragam pekerjaan cari uang buat hidup yang aku lakoni, sesekali aku masih membutuhkan honor koran seperti halnya aku membutuhkan duit sayembara-sayembara yang keduanya tentu saja tidak bakal membuat kaya itu? Tentu, disamping memang belum ada alasan bagiku untuk tidak menyiarkan tulisanku di media cetak maupun daring. Toh, aku tidak merasa mengejar target publikasi maupun menuruti selera redaktur manapun.

Hal ini bisa saja akan kembali terbaca sebagai “kedok sok bijak”. Sangat mungkin. Namun kukira aku akan tetap belajar menulis dan menulis seperti awal kedatanganku di Rumahlebah untuk menjadi “sparring-partner” Raudal lalu mempublikasikannya di manapun aku ingin: di media cetak, di media online, maupun di media sosial tanpa “lugu-lugu amat”.[]

*) Sunlie Thomas Alexander memiliki nama lahir Tang Shunli, (lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung, 7 Juni 1977), sastrawan berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Ia dikenal melalui karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, kritik sastra, catatan sepak bola, dan ulasan seni yang dipublikasikan di berbagai surat kabar serta jurnal yang terbit di Indonesia dan di luar negeri: Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Poetika, Kedaulatan Rakyat, DetikSport, Jurnal Ruang, Gong, Lampung Post, Bangka Pos, Hai, Nova, Hakka Monthly, dll. Tahun 2016, menerima beasiswa residensi penulis di Taiwan dari Menteri Kebudayaan Republik China Taiwan, dan tahun 2018 menerima beasiswa residensi ke Belanda dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *