Pak Jakob Oetama yang ‘Nguwongke’

Feby Indirani

Di suatu malam sekitar tahun 2003, saya yang masih reporter muda piyik piyik datang ke suatu acara media yang cukup besar, dihadiri oleh sejumlah orang nomor satu di bisnis media di Indonesia, antara lain Pak Jakob Oetama. Saya tentu saja mengenalinya (siapa yang tidak?). Yang mengejutkan setelah acara selesai, ketika posisi berdiri kami tidak terlalu jauh, beliau justru mendekat dan mengulurkan tangan kepada saya.

“Jakob,” ujarnya sopan.

Saya menjawab dengan grogi dan salah tingkah.

Kejadian beberapa detik itu masih saya ingat terus (padahal saya sudah lupa sama sekali apa dan dimana acara besar yang kami hadiri). Saya selalu menceritakan insiden kecil itu sebagai suatu contoh, bagaimana tokoh sebesar beliau justru bisa begitu rendah hati dan tidak ngehe sebagaimana yang ditunjukkan sebagian ‘seleb’ medsos hari-hari ini. Mungkin memang beda jaman, beda ‘currency’ ya. Di generasi Pak Jakob, kerendahatian mungkin masih menjadi nilai yang penting dan diutamakan, sementara sekarang sepertinya mereka yang ngehe dan over pede mungkin kerap lebih dihargai. Tapi kejadian kecil dengan Pak Jakob selalu saya jadikan contoh bahwa orang yang berbuat banyak dan memiliki banyak bisa kok nggak perlu belagu dan angkat dagu hehe.

Lalu pada 2011 saya bergabung dengan Kompas TV sebagai news producer, sebelum tv ini resmi launching. Di awal dulu itu, kami para produser dari TV ada jadwal untuk rapat redaksi bareng di kantor Harian Kompas. Ketika itu Pak Jakob masih sehat dan kerap ikut rapat redaksi. Jadi saya pernah ngalamin rapat redaksi di sebelah Pak Jakob (seperti biasa saya mati gaya aja haha).

Yang saya rasakan waktu itu, beliau memang nggak pernah memosisikan diri sebagai orang paling penting ataupun paling pintar di ruangan, jadi santai dan humble aja. Beliau sempat nanya, “Kenapa ya kalau di TV itu kok turn over karyawannya tinggi sekali?“

Beliau membandingkan dengan karyawan di Kompas yang memang biasanya masa usia kerjanya awet-awet, hingga puluhan tahun. Saya tau betul ada beberapa orang yang memang bertahan kerja di grup Kompas ‘hanya’ karena setia sama Pak Jakob. Orang-orang ini ada yang kecewa dengan kebijakan manajemen yang sekarang, setelah Pak Jakob tidak banyak turun tangan lagi. Tapi tetap saja mereka berikrar setia pada Kompas selama Pak Jakob masih ada.

Waktu belajar saya di Grup Kompas memang hanya 2 tahun. Dalam 2 tahun itu saya mengamati dan mengalami bagaimana budaya perusahaan di grup ini, yang diwariskan dari waktu ke waktu. Sebagaimana apapun di dunia, tentu Grup Kompas bukan tak punya kekurangan. Tapi satu hal yang saya alami adalah bagaimana Kompas selalu berusaha ‘nguwongke’ (memanusiakan) karyawan dan orang-orang di dalam habitat mereka.

Salah satu tradisi yang ada di grup Kompas (sampai saat saya kerja di sana) adalah mendapatkan bonus sebulan gaji setiap Pak Jakob ulang tahun bulan September. Saya dan beberapa teman produser yang baru masuk di bulan Mei tahun itu bertanya-tanya, kami sudah dihitung belum ya untuk bonus ini? Kan belum 3 bulan kerja. Eh ternyata, dapat. Yayy. Saya lupa besaran persisnya, tapi kesannya yang melekat. Bahwa saya dan teman-teman baru sudah dianggap bagian dari keluarga besar Kompas.

Suatu hari saya melihat warung-warung makan di depan kantor Kompas TV Palmerah dibongkar Kamtib. Penggorengan, panci dan alat masak lainnya berhamburan di jalanan. Hal ini sempat jadi pembicaraan di kalangan karyawan, karena kami kasihan kepada para pedagang kecil ini. Tapi tak lama tersiar kabar, para pedagang makanan ini mendapat lahan berjualan baru, yaitu di lahan kantor Kompas. Tempat makan ini luas dan menyenangkan, dan jadi tempat makan dan tempat nongkrong baru bagi para karyawan.

Kami betul-betul senang dan bersyukur karena Kompas menyediakan tempat baru bagi para pedagang makanan yang digusur itu. Dan kami juga senang punya kantin baru dengan harga terjangkau kantong.

Pak Jakob Oetama dan budaya perusahaan yang sedikit banyak diwarisi dari karakter beliau inilah, yang selalu saya ceritakan, dan ingin saya rawat sebisanya, di tengah era yang sibuk berisik, serba pamer kekuatan dan cenderung mengabaikan orang lain ini.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *