Puisi-Puisi Dedy Tri Riyadi

Majenun

Isi cawan sawan ini telah
tercurah. Tak ada lagi celah
diri tak terlingkupi kegilaan —
mengira ia sepenuhnya
terpermanai hari lepas hari
dalam hidupku.

Aku menangiskan rindu
kepadamu. Melahirkan keringat
memburu zahirmu. Meluapkan
berahi pada lekuk lisan hingga
setiap ucap seperti memuji namamu.

Aku mengisi waktu dengan
meratapi tepi-tepi keangkuhanku.
Repih, debris, yang mesti kukikis
agar kau mulia selalu. Aku jadi
ruang hampa yang megah
bagi kukuh singgasanamu.
Kukira akan begitu, sampai
kusadari — kau;

bahtera itu. Sebentar bersandar,
sebentar lagi melaut, menjelajah
sudut-sudut bumi, seperti seorang
paderi memberkati yang lemah,
yang sakit, yang berbeban, yang
perlu digamit bahunya untuk berjalan
di jalan-jalanmu.

2020

Ikan dalam Akuarium

Ia melihat terang yang luas
dengan pandang terbatas.

Ia berenang hanya mengukur
ketakberdayaan — seperti aku

yang merasa hidup hanya
sebesar upaya mengira;

licin daun ganggang, letup
gelembung di menit ke berapa,
seungu apa sirip arwana, dan
seberapa rakus seekor sapu-sapu
melahap lumut di bebatuan?

Ia – seperti aku – melihat dari
balik kekakuan dinding kaca —
betapa dingin waktu mengalir
begitu saja.

2019

Surat Cinta

Bagiku, kau adalah yang
selalu ingin kujangkau.
Darah di ujung pedang,
helai bulu merpati terkulai
di rerumputan. Awan yang
kerap menyembunyikan
percakapan para petani
di tengah ladang, dan kabut
yang muncul di antara
pohonan di bukit-bukit jauh
itu. Dan dengan segenap
pikiran dan perasaan,
kau kertap itik menyingkir
di muka danau.

Jika aku lari, artinya aku
berusaha mendekatimu.
Mengacungkan lengan
ke arah taksi dengan lampu
yang menyala, memandang
jauh ke laut seberang
dermaga, atau menengadah
mengira jejas putih di
angkasa adalah jejak
pesawat yang membawamu
ke lain benua.

Aku menulis untuk
mengira kau adalah hal-hal
yang pantas aku catat,
dan menduga segala upaya
yang telah aku buat
semakin mendekat atau
malah tak terkira jauhnya
dari dirimu.

Aku menulis agar hidup
tak bisa dianggap semata
racau yang kacau dari
pikiran gila karena mencinta.

2020

Pekuburan Cleret

Masih kau bayangi aku
dengan dua pokok
beringin di kanan kiri
jalan dekat tembok.

Jalan satu setengah
mobil yang selalu sesak
menjelang hari besar.

Kita tak akan terpisah —
seperti halnya masa lalu
dan masa depan milik
seorang ibu.

2020

Lembah

Setiap kali ia menawarkan kehijauan. Pohonan kihujan lengkap dengan kucica beterbangan. Areal ladang dan lekuk pinggang bebatuan.
Rumpun bambu dan kerumputan berebut pandangan.

Di wajah bumantara, ia birukan lagi rindu. Gedung dan perumahan seperti mereka yang tawaduk pada ibadahnya berserah di bentang alam, ia kecilkan, bahkan ingin dinihilkan seluruhnya pada artian hidup, hanya berserah sepenuhnya.
Kepongahan apa yang pantas
menyebarkan dengung lebah dan kumbang di sela rerumput itu?

Tak ada jawaban menyahuti
sedegil pertanyaan — masihkah pantas segenap
upaya mencinta diperkatakan?

Ia datang dengan rupa paling
menyedihkan sekaligus membahagiakan. Sekali berpaling, aku merasa jadi
mahluk menjemukan.

2020


Dedy Tri Riyadi, lahir di Tegal 16 Oktober 1974. Bergiat di Komunitas Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam) sejak tahun 2007, dan sebagai redaktur puisi di Majalah Litera. Karya-karyanya dimuat di surat kabar nasional dan daerah. Buku puisi tunggalnya; Gelembung (2009), Liburan Penyair (2014), Pengungsian Suara (2016), dan Berlatih Solmisasi (2017). Dedy dinobatkan menjadi Penyair Muda Berbakat Terbaik versi situs Basabasi.co tahun 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *