Puisi-Puisi Lutfi Mardiansyah

MUSIM ISTIRAH
: kepada Mary Oliver

Musim gugur di puisimu
tercipta dari tilam daun-daun
yang tidak mati, melainkan

bermimpi; rebah di bumi,
lebih ngungun alih-alih
diapung angin. Liang-liang

hangat dalam lapik lumut
di pohon-pohon, seperti
berpasang mata, menengarai

akanan jauh, mencatat ilapat
burung-burung loka lain iklim,
meruyup, mendekapkan sayap,

terlelap dalam tubuh kayu.
Solidago dengan surai-surai
salju pertama, putih pada

mahkota kuning keemasannya.
Musim gugur di puisimu
tercipta dari musim istirah;

mimpi, cahaya, angin, awan,
dunia, tarian, kebahagiaan—
segala yang biru dan putih.

2020

KETAKTERHINGGAAN
: kepada Jorge Luis Borges

Puisi ini boleh jadi
adalah salah satu mata rantai—
satu bentuk yang sesuai
dengan seseorang yang menuliskannya—
dari rangkaian tak terputus,
seperti katamu, tak ada habisnya,
takkan pernah sampai pada larik terakhir;
puisi yang satu dan yang banyak itu.

Puisi ini boleh jadi
adalah salah satu pintu gerbang, menganga
seperti mulut agam makhluk purba
dari mitologi yang ditempa oleh mimpi
atau rasa ngeri; metafora-metafora
yang mengepung jalan setapak serta tikungan,
entah akan mengarahkan langkahmu
pada percabangan, dinding buntu
atau lubuk labirin yang gelap dan gaib.

Puisi ini boleh jadi
adalah sisi lain dari sekeping koin,
peta cakram tanpa arah angin.
Puisi ini boleh jadi adalah pantulan
dari sebuah atau seluruh puisi
yang telah dan tengah dan akan ditulis
sepanjang sejarah; tak ada yang kutambahkan,
bahasa telah lengkap di sana, hanya
sebagian bentuknya belum lagi ditemukan.

2020

INVENTARIS
: kepada Jorge Luis Borges

Sebilah pedang tembaga ditempa bahasa
Anglo-Saxon dalam fajar, dan mair
yang ditancapkannya ke jantung sarang naga;

perkara gamam ihwal siapa-memimpikan-siapa
di antara Don Cervantes dan Alonso Quijano;

sepasang cermin berhadapan satu sama lain
dan tak henti saling menggandakan diri;

geometri cangkang kerang yang memetakan
perluasan-perluasan alam semesta;

sekeping koin atau benda berbentuk cakram,
namun hanya memiliki satu sisi;

jangat emas harimau Benggala atau Sumatra;

cahaya bulan di malam-malam siklis tertentu
yang mengalir dari langit ke serambi belakang,
puncak punjung dan bibir sumur;

sekuntum mawar yang mekar di hadapan mata
seorang penyair, dan ia tak bisa melihatnya;

palagan papan catur dan bidak hitam-putih
yang bertempur tanpa membuat gaduh;

seekor burung bulbul yang suatu kali bicara
kepada seorang penyair minor dari Yunani;

jam pasir serta waktu yang coba ditakar dengan
satu tiang, dua ruang, dan ramal tak terbilang;

kitab-kitab apokrifa, ensiklopedia, kamus, atlas,
litograf, mitologi, saga dan sejarah;

berkah-berkah renik, sahaja dan sederhana
yang dianugerahkan bentuk puisi bebas;

jalan tak bernama di Buenos Aires yang lain—

Dengan semua ini, Jorge, apakah kau hendak
mendirikan Babel-mu sendiri?

2020

VEGETASI
: kepada Silvina Ocampo

Di puisimu langit kuning tembus cahaya,
pohon-pohon bersanggama
dan meninggalkan rajah misterius
di tubuh-tubuh kayu.

Di puisimu tak ada dongeng buah terlarang;
dipetik dari tepi ranting yang merunduk,
disimpan di keranjang rotan, buah persik tersipu
seperti pipi perawan dibidik bujuk.

Di puisimu peluk adalah perdu kamperfuli
yang merambati tanaman,
dan berahi adalah getah ganih
yang gemilang.

Di puisimu kicau kucica menyulap puncak pinus
jadi palis-palis malakut; pohon palem
yang pendiam, menyimpan rawi rahasia
segenap gurun Alkitab.

Di puisimu apa pun yang alum, bahkan
yang hanya sekuntum, tak pernah
sia-sia; segalanya dianugerahi tahbis,
segalanya kudus.

Segala sesuatu di puisimu adalah vegetasi;
hutan-hutan purba, bustan-bustan botani,
taman-taman Yunani Kuno yang dibangkitkan,
dipugar dan dipelihara kata-kata.

2020

VARIASI NO.3
: kepada Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto

Setelah memuja tubuh perempuan
sebagai sebuah dunia, seperti
tak kutemukan lagi amsal-amsal berbunyi
selain sunyi yang kini kau tempati,
yang dulu adalah rumah kata-kataku.

Kali ini hanya ingin kusaksikan
segala yang telah berwarna sepia
tanpa hendak menggubahnya
ke dalam sajak, menjadi sajak:

Ombak yang robek, pohon-pohon pinus,
tiang-tiang kapal, lonceng geming,
cahaya lambat bermain dalam senja
serta suara-suara nostalgia . . .

Sungai-sungai itu masih menyimpan
gema dari nyanyian yang pernah
menghanyutkanku di luar kehendakku,
atas kehendakmu.

Kukira dulu, busur birahiku sendirilah
yang menyarangkan anak panah
serta ciuman-ciuman yang menatah
tangan akikmu; tapi ternyata,
setelah jatuh cinta, segala kuasa
beralih ke tangan kekasih.

Setelah itu, mulut angin melepas kabut
dari segala penjuru. Dan sekarang
tak ada apa pun lagi yang bisa kusaksikan
selain dari jauh, gema suaramu
membuat ladang-ladang gandum
di malam yang mati ini, seperti
memanggil, memintaku menemukan
amsal-amsal baru.

2020


Lutfi Mardiansyah, lahir di Sukabumi, 4 Juli 1991. Menulis puisi dan prosa, serta menerjemahkan karya-karya sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *