SEBUAH UPAYA REKONSILIASI TERHADAP BEBERAPA KETABUAN

Pakcik Ahmad

Judul Buku: Nafsu Terakhir – Salah Satu Seri Ringkasan Serat Centhini
Cetakan: I / Juni 2006
Penulis: Elizabeth D Inadiak
Penerjemah: Laddy Lesmana dan Elizabeth D Inandiak
Penerbit: Galangpress – Yogyakarta
Jumlah Halaman: 190 halaman

Sinopsis

Sebenarnya kisah dalam buku ini dimulai pada Tembang 123 di halaman 25, yaitu ketika Tembangraras dan abdi setianya Centhini menyelinap keluar padepokan milik ayahnya, Ki Pantuhra untuk mencari Amongraga. Pada saat itu Amongraga sudah terpisah ruhnya ketika di buang ke samudra dalam bronjong oleh Tumenggung Wiraguna, namun Tambangraras tidak mengetahui hal itu.

Berdua mereka, Tambangraras dan Centhini menyamar sebagai lelaki untuk memberikan rasa aman dalam kelananya. Setapak yang mereka lalui adalah jalan suluk seperti yang dilalui Amongraga bersama Jamal dan Jamil. Pencarian ini begitu melelahkan. Semakin keras disebabkan olah bathin yang dilakukan Tambangraras selama perjalanan. Hingga suatu pagi, maut menjemputnya setelah dirinya menyaksikan terlepasnya ruh kedua adik ipar yang baru ditemuinya, dan selama ini dicari oleh Amongraga. Bermula dari Rancangkapti lalu Jayengresmi (Mangunarsa). (halaman 121).

Diakhir kisah Amongraga berhasil bersatu kembali dengan istri dan kedua adiknya. Wujud mereka sudah melepaskan sisi ragawinya. Dengan kedigdayaan yang mereka miliki, Amongraga akhirnya dapat melampiaskan dendam terhadap kehinaan yang pernah dialami oleh keluarganya, keluarga Sunan Giri. Dalam istananya, Amongraga begitu memiliki kuasa. Hanya Endrasena sang saudara angkatnya, yang juga berwujud ruh, yang mampu mengalahkannya.

Sementara itu, syahdan Sultan Agung sering melakukan lakon baru dalam hidupnya. Di puncak gunung Telamaya beliau bersalin rupa menjadi seorang resi dengan hiasan kesederhanaan baharu. Sang Aji Nyakrakusuma adalah sosok resi pertapa dari Sultan Agung. Di satu malam Amongraga dan Tambangraras mendatangi Sang Aji Nyakrakusuma. Pada pertemuan ini, baik Sultan Agung maupun Amongraga tidak mampu menutupi sosok asli mereka masing-masing. Kedatangan Amongraga sebagai anak dari Sunan Giri diketahui oleh Sang Aji Nyakrakusuma yang pada mata Amongraga adalah Sultan Agung yang telah meluluh lantakkan padepokan ayahnya dahulu.

Dalam bahasa yang cukup santun, Sultan Agung berhasil membongkar tujuan hakiki dari perjalanan Amongraga. Pada untaian pembicaraan mereka terungkap bahwa Amongraga yang telah menemukan suluk sejati masih belum mampu memberangus nafsu manusiawi dirinya seperti yang terdengar dari ucapannya ”…Ya, aku mau menjadi raja !” (halaman 155). Hingga akhirnya ”Nafsu Terakhirnya” berhasil bernegosiasi dengan kebijakan Sang Aji Nyakrakusuma. Kesepakatan diambil sebagai jalan tengah. Amongraga akan menjadi pemegang kuasa kerajaan Mataram, begitu juga Tambangraras, melalui sebuah proses mistik. Amongraga yang berubah menjadi ulat akan dimakan oleh Sultan Agung dan selanjtunya akan menitis pada putra sang Sultan yang akan meneruskan kuasa kerajaan. Sementara Tambangraras yang telah berubah menjadi ulat, akan dimakan oleh ipar sang Sultan, Pangeran Pekik, akan menitis ke putrinya. Kelak putra Sultan Agung dan putri Pangeran Pekik akan bersanding menjadi Raja dan Ratu di Kerajaan Mataram. (halaman 153 – 159).

Resensi

Sebenarnya ketika saya membaca buku ini, saya merasakan bahwa ikon dari Serat Centhini yang selama ini dipahami banyak orang itu, unsur erotisme, hanyalah layaknya asesori bukan penentu dari keseluruhan inti ajaran kitab ini. Beberapa hal yang membuktikan hal ini adalah : (1) Disinyalir bahwa unsur seks dalam kitab Serat Centhini adalah tambalan yang dibuat oleh Anom Hamengkunegara III yang membiayai dan memprakarsai penulisan kitab ini (2) Unsur seks dan erotisme yang banyak bertebaran di buku ini hanyalah simbolisasi keliaran nafsu syahwat. (3) Pada akhirnya seks dan erotisme tidak dijadikan pengunci utama yang diinginkan menggiring pembaca bahwa tokoh-tokoh dalam kitab ini terjerembab dalam ”kerja kelamin”, namun dendam dan kesombongan lebih dipilih untuk mewakili Nafsu Terakhir tersebut.

Oleh sebab itu saya melihat sudah bukan giliran saya lagi untuk membahas itu semua. Dan saya melirik sisi lain dari jutaan kata yang tersusun begitu memikat dalm buku Nafsu terakhir, apakah yang dapat diperoleh seorang pencari di akhir perjalanannya? Ini adalah kalimat yang paling cocok untuk mewakili keseluruhan ide/tema dari buku ini.

Pada pendapat saya, di ujung pencariannya seorang pencari akan menemukan dua kondisi. (1) Kepuasan akan sebuah temuan atau (2) hanya keputus asaan atas tatakan harapan yang amblas melebihi rendahnya pijakan. Kedua kondisi tersebut tetap saja memberikan maqam yang memiliki posisi berbahaya bagi dirinya. Pada kondisi pertama, kepuasan setelah menemukan pencarian dapat menyeret sang pencari pada dua keadaan yang cacat norma. Pertama, dapat saja sang pencari tersebut menjadi makhluk pongah dikarenakan jutaan langkahnya dalam kelana pencarian yang bermandi peluh dan beraroma anyir darah akhirnya berbuah keberhasilan. Pada titik ini keberhasilan itu akan memberikan rasa sombong yang keterlaluan yang dia anggap sebagai buah upaya dirinya sendiri. Kedua, sang pencari merasa pijakannya telah berakhir. Tidak ada lagi setapak pun pencarian lanjutan setelah itu. Dia menjadi makhluk statis pada titik terakhir sebelum ”akhir” benar-benar menyapanya. Energi yang masih tersisa dalam materi wujudnya hilang begitu saja seperti air yang diserap pasir.

Sedangkan pada kondisi kedua, dimana sang pencari mengalami keputus asaan setelah gagal dalam pencariannya, dirinya akan jatuh terpuruk pada titik terendah dari strata kehormatan penciptaan. Dia akan merasakan dirinya tidak semestinya ada.

Kisah yang dituturkan pada buku yang merupakan salah satu seri (terakhir ?) dari seri Ringkasan Serat Centhini ini, menggambarkan bayangan itu. Amongraga dan istrinya Tambangraras mencapai suatu puncak pencarian dalam kebahagiaan ghaib. Unsur non-materi ini lah yang sebenarnya menarik untuk dirajang sehalus mungkin.

Pada akhirnya saya mengantongi dua tema yang pada titik-titik tertentu berbenturan dengan inti pelajaran tasawuf Islam yaitu:

(1). Dalam buku ini pencarian hakiki atas hikmah adalah terbebas dari unsur dimensi ruang dan waktu. Sejatinya, dalam ajaran tasawuf makhluk itu terdiri dari 3 unsur, bashar (jasad kasar), qalb (tempat bersemayamnya fadhl atau kebijaksanaan dan nafsu) dan ruh. Ketika berada di alam ruh sebelum proses penciptaan sempurna dengan terbentuknya janin bernyawa, unsur bashar dan qalb belum terbentuk. Dan ketika di alam kubur (setelah proses kematian) unsur bashar dan qalb akan tertinggal di bumi sementara ruh akan kembali ke penciptanya, Khaliq. Namun dalam kisah ini tokoh Amongraga dan Tambangraras tidak mengenal dasar pemikiran itu. Ketika jasad mereka lebur (?) ruh mereka masih sedemikian digdayanya membayar lunas seluruh kegagalan yang dialami selama berada di dunia (alam fana) dan menuntaskan pencarian mereka melalui negosiasi magis dengan Sultan Agung.

(2). Ruh adalah unsur superior dari struktur komplit makhluk dan tidak mampu dikendalikan. Mungkin yang ingin disampaikan oleh penulis buku ini adalah kendali hanya berlaku di dunia dan ruh adalah ”unsur lengkap” yang terlepas dari batasan-batasan kendali ketika terlepas dari unsur bashar. Sudah barang tentu ini akan menimbulkan polemik panjang jika saja dipertentangkan dengan pembahasan agama, terutama Islam. Pada pandangan tasawuf, ruh adalah ciptaan termurni dimana cetak biru kodrati yang berisi kebaikan-kebaikan ilahiah ada didalamnya. Secara lugas dapat dikatakan, ruh berisikan kebaikan ketentuan dan pilihan. Jika demikian bagaimana mungkin ruh menjadi kehilangan segala bentuk kebaikan tersebut setelah melalui proses persinggahan di alam fana? Sebenarnya adalah kebaikan dan kejahatan yang berlaku selama hayatnya si pemilik ruh akan kembali sebagai catatan bukan untuk menghukum ruh tersebut.

Secuil temuan yang dapat saya nukilkan di atas sebenarnya dapat bertambah lebih banyak lagi jika perenungan dilakoni lebih dalam dan memperluasnya dengan bandingan-bandingan pada ranah ilmu lainnya. Elizabeth D Inandiak (EDI) sang penulis (saya katakan demikian sebab, buku ini dan ke-3 seri lainnya adalah upaya penulisan ulang dari Serat Centhini yang dilakukan dengan berbagai penafsiran dirinya) dan Laddy Lesmana (LL) bagaimanapun juga terlihat mencari suatu upaya rekonsiliasi terhadap banyak ketabuan. Ketabuan dari sisi agama, Islam, dan budaya, Jawa. Namun menurut saya, hal tersebut dapat menimbulkan kesia-siaan semata, karena secara garis tebalnya, ajaran tasawuf (yang berakar pada ajaran aqidah Islam) sangat sulit untuk ditafsirkan dan disandingkan dengan ungkapan-ungkapan tradisi budaya suatu daerah yang mengakar sejak sebalum Islam masuk. Akan tetapi sebagai suatu bacaan sastra, saya sangat mencintai tembang-tembang yang telah di-Indonesiakan oleh EDI dan LL begitu indah. Sedemikan terpesonanya saya, hingga beberapa kali lebih dari satu seri dari buku ini saya jadikan hadiah buat sahabat-sahabat saya.

Ciputat 280906 23:42

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *