MENYAIRKAN, MENYIARKAN


Dedy Tri Riyadi *


Ada guguran salju di bukit-bukit itu!
Dan seluruh diriku ada dalam genta-genta.
Yang kelonengnya tak bisa menyelamatkan siapapun dari jurang!

(Penjelajah, Osip Mandelstam, 1912)

SAYA menerima sebuah buku puisi berjudul “Bunga, Kupu-kupu, Mimpi dan Kerinduan” karya Wirja Taufan yang merangkum puisi-puisinya dengan bertanggal tahun 1983 sampai 2020. Hal ini mencerminkan sudah lumayan panjang laku kepenyairan yang telah ditempuhnya. Wirja Taufan, yang berdasarkan epilog yang ditulis oleh sastrawan Damiri Mahmud, juga pernah menggeluti profesi lain selain menyair yaitu penyiar radio (tepatnya RRI).

Seorang penyair, seperti petikan puisi Osip Mandelstam yang saya kutip di atas, adalah benar sebagai seorang saksi zamannya. Ia hendak berbuat sesuatu untuk apa yang ia saksikan. Dalam puisi itu, tersirat bahwa ia sepenuhnya berada dalam genta dan membunyikan tanda bahaya (genta, bel). Meskipun ia juga sadar belum tentu hal itu bisa menyelamatkan seseorang. Hal ini berarti meski mengetahui pengaruh puisinya pada orang lain belum tentu terlihat secara nyata tapi penyair akan selalu menjadikan puisi-puisinya sebagai hal yang punya pengaruh. Semacam kentongan yang dibunyikan dititir (dipukul berulang) empat kali saat datang banjir bandang. Tetapi, apakah hal semacam ini berlaku juga untuk seorang Wirja Taufan?

Mari kita baca satu puisi Wirja Taufan berikut ini;

Aku Tulis Puisiku di Setiap Daun

Aku tulis puisiku di setiap daun
Agar bila layu dan gugur, melayang diterpa angin
Menembus awan
Mencapai bulan dan matahari

Ada satu dua yang jatuh ke air
Mengikuti gerak air, berlari dan menari
Menemui Yassin, Chairil, Tardji
Dan entah siapa lagi yang aku lupa
Hibuk mengkhatamkan kaji

Sebegitu nikmatnya pertemuan itu
Tarian air membuat tangan-tangan puisiku menari
Saling menggapai, saling menggenggam
Merajut makna yang hilang

Wow, kata-kata saling melompat semaunya
Menelanjangi diri
Berenang dan menyelam
Menyusuri lautan kesunyian

Medan, 2014

Meski, barangkali, ini bukan puisi yang paling kuat di dalam buku puisi tersebut tapi saya anggap ini yang paling mewakili, mengingat di buku ini, sudut pandang aku lirik begitu kental dan dominan. Ada; Aku yang ngembara (pada puisi Tak Sesiapa Kecuali Aku), Aku menyapamu… (Selamat Siang Apa Kabar Kotaku), Aku menunggumu… (Kenangan di Depan Tugu Perjuangan 1945 Binjai), Aku melihat potongan kebohongan… (Nyanyi Sunyi Amir), dll. Memang tidak semua puisi menggunakan sudut pandang aku lirik, ada juga digunakan “kita” dan “ia.” Hal yang juga menjadikan puisi ini saya anggap sebagai puisi yang paling mewakili puisi-puisi lain dari buku ini adalah pernyataan, “Aku tulis puisiku di setiap daun,” di mana kata “daun” bisa dianggap mewakili apa saja yang bisa dijadikan tema atau pokok pikiran penyairnya. Semisal Rakhine untuk tentu untuk memuisikan para pengungsi Rohingya dari Myanmar, sebuah tugu (Tugu Perjuangan 1945 Binjai), perang di Yaman, sebuah gambar (Vignet), gempa (di Pidie Jaya, Aceh), sebuah sungai (Sungai Deli), buah tomat (Walau Seperti Tomat), bahkan sebutir obat sakit kepala (Segelas Air Putih Obat Pusing).

Pencarian cara ucap yang khas juga menjadi pergulatan yang ditampakkan oleh Wirja Taufan dalam puisi di atas. Ia merujuk Yassin, Chairil, Tardji, dan di puisi yang lain ia juga menyelipkan Amir Hamzah, sampai-sampai kegelisahannya itu ia tulis sebagai puisi yang dijuduli “Siapakah yang Ditunggu, Siapakah yang Menunggu” yang bait terakhirnya begini;

Siapakah yang ditunggu
Siapakah yang menunggu
Kau atau aku
Taufan…
Taufan…
Tak lari aku darimu
Tak lair kau dariku

Ini menunjukkan di samping ingin memberitahu kepada pembaca puisi-puisi yang ia tulis sudah sangat khas dirinya sekaligus menggugah keberanian di dalam dirinya sendiri untuk menerima “beginilah cara khas saya menulis puisi.”

Jika hal ini diterima, maka kita sebagai pembaca pun akan menerima hal yang berikutnya. Di dalam puisi “Aku Tulis Puisi …” tadi, ada larik yang berbunyi, “Wow, kata-kata saling melompat semaunya” yang menunjukkan tentang kompleksitas kata di dalam puisi-puisi di dalam buku ini. Sebutlah puisi itu sendiri di mana daun gugur bisa menembus awan menjangkau bulan dan matahari. Atau pada puisi berjudul “Cinta di Tanah Airku” bait ke dua yang bunyinya;

Malam memelukku
Mengusap mataku yang terbuat dari sungai
Memberi aku jiwa untuk dapat bermimpi kembali
Merasakan cinta di tengah lautan bunga
Lampu-lampu kota berlarian
Di tanah airku. Seperti kupu-kupu meninggalkan
Sayapnya. Tersesat di keramaian
Pintu dan jendela yang terbuka dan tertutup
Semuanya

Pada puisi ini terlihat betapa kompleks penggambaran yang dilakukan, ada malam, sungai, bunga, lampu kota, kupu-kupu, pintu dan jendela. Seingat saya, kompleksitas kata atau metafora bertumpuk digunakan untuk memberi penekanan yang begitu besar / dalam pada perasaan yang hendak disampaikan. Jika dalam puisi beat digunakan hal-hal yang begitu bertautan, tidak berlepasan.

Dari 65 puisi yang ada dalam buku ini, sepembacaan saya hanya ada dua buah saja yang ditulis dengan gaya seseorang yang tengah berbicara lengkap dengan kalimat sapaan “Selamat Pagi” atau “Selamat Siang.” Padahal gaya semacam ini bisa dieksplorasi lebih jauh oleh seorang penyair radio seperti halnya David Ross, yang penyair dan penyiar. Sebagai contoh, berikut puisi berjudul “No One is Boss” karyanya;

No One is Boss

Its cold, its dark,
The wounds prolonging stings sting,
As the sharp but slow tongue of the slimy stalker stabs.

When is the time I get to choose?
When is the time I get to live?
When is the time I don’t always have to always give?

Look sharp, stand tall,
All I am is a mule,
Working for the opposing team,
Knowing I will never lead.

The one point of my existence,
Is to be controlled by others who think they are in control,
No one is boss,
All we do is follow.

Puisi ini terasa begitu deskriptif dan sugestif, layaknya seorang penyiar menggambarkan sesuatu dan bertanya atau memberi pernyataan pada pendengar. Sama-sama menyoal luka dan kuasa, bandingkan dengan puisi Wirja Taufan dalam buku ini;

Catatan Luka

Biarkan aku menyelesaikan puisiku
Katamu di suatu senja, di sebuah taman terbuka
Hujan membasahi tubuhmu
Melubangi setiap luka di dadamu
Angin kencang melambai-lambaikan rambutmu
Bersama seribu doa yang berhamburan
Melebur ruang dan waktu

Medan, 2014

Pada puisi Catatan Luka, Wirja Taufan memindahkan penginderaan suasana yang didahului dengan pernyataan sikap atau merebut kuasa dari keadaan di dalam puisi itu dengan mengatakan “Biarkan aku…” Sebaliknya, pada puisi No One is Boss, David Ross justru memindahkan kuasa kepada pembaca dengan mengemukakan beberapa pertanyaan setelah sebelumnya diberikan penginderaan suasana atau penggambaran tentang sesuatu, Pada bagian akhir, meski terlihat, baik David Ross maupun Wirja Taufan, seolah hanya memberi paparan atau keterangan, tetapi puisi No One is Boss memberi simpulan yang tegas (All we do is follow).

Berkenaan dengan tugas kepenyairan, sesungguhnya Wirja Taufan mengerti betul beban yang ditanggung oleh seorang penyair di dalam kehidupan berbahasa. Hal ini ia nyatakan lewat puisi yang ditujukan kepada Sastrawan Damiri Mahmud yang berjudul “Sampai Puisi Mengeja Bahasa.” Menurut hemat saya, ini agak kontradiktif mengingat puisi justru menggunakan piranti (ber)bahasa sehingga menimbulkan bahasa yang unik bahkan puisi itu meningkatkan nilai (ber)bahasa alih-alih dianggap terbata-bata di hadapan bahasa itu sendiri. Namun jika dimaksudkan sebagai proses diri untuk bisa dengan lancar menggunakan piranti bahasa (dan alat puitika) mungkin pernyataan tersebut bisa sangat dimaklumi. Terlebih jika dikaitkan kembali pada soal pengucapan khas yang ingin ia pastikan sebagai pengucapan khas milik Wirja Taufan sendiri.

Satu lagi yang menarik dari buku ini; dalam puisi “Sungai yang Membanjiri Hari-hari Pelukanku” ada dua larik yang jika digabung berbunyi, “Aku suka kegilaan bahasaku. Sebuah puisi akan selalu melahirkan teori-teori baru,” memberi kesan bahwa kecintaan pada bahasa (gila dalam arti positif) akan menghasilkan puisi-puisi yang unik untuk kemudian bisa menjadi perhatian para kritikus atau mendapat apresiasi. Meski terkesan naif, pernyataan ini justru harus bisa dijawab di kemudian hari oleh Wirja Taufan sendiri, sejauh mana kegilaan itu meningkatkan kemampuannya dalam menyair? Harapan saya, seperti komitmennya sendiri, Wirja Taufan akan terus mengulik dan mengasah banyak hal di luar hujan, sungai, bunga, kupu-kupu, mimpi, malam, laut, bulan, matahari dan lainnya yang sudah terlalu sering digunakan oleh para penyair kita.

Jakarta, 4 September 2020

*) Dedy Tri Riyadi, lahir di Tegal 16 Oktober 1974. Bergiat di Komunitas Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam) sejak tahun 2007, dan sebagai redaktur puisi di Majalah Litera. Karya-karyanya dimuat di surat kabar nasional dan daerah. Buku puisi tunggalnya; Gelembung (2009), Liburan Penyair (2014), Pengungsian Suara (2016), dan Berlatih Solmisasi (2017). Dedy dinobatkan menjadi Penyair Muda Berbakat Terbaik versi situs Basabasi.co tahun 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *