SEDIKIT SOAL KERJA PENERJEMAHAN


Sunlie Thomas Alexander *

SI Juru Baca Hasan Aspahani akhirnya memilih untuk mengembalikan judul puisi Louise Glück, “Vespers” yang semula ia terjemahkan sebagai “Kebaktian Magrib” di matapuisi.com (11/10/2020) itu ke judul aslinya dengan membuang ujung “s” jamak: “Vesper”. Hal ini ia lakukan setelah mendapatkan celotehan dari Mario F Lawi di status Facebook bahwa judul itu tidaklah tepat lantaran konsep waktu yang digunakan dalam peribadatan Katolik adalah satuan jam.

Apakah pilihan Hasan ini sudah tepat? Barangkali iya, apabila ia tak lagi memiliki alternatif judul terjemahan yang dirasakannya cukup tepat untuk “Ibadah Petang” itu. Toh, bagaimanapun bagi sebagian orang Katolik, istilah Vesper bukan lagi satu hal yang cukup asing kendati tidak selazim kata “misa”, “homili”, “hosti”, dsb. Lagipula—seperti yang dibilang Mario—selama puluhan tahun, Vesper sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia dalam komunitas Katolik, meski tidak pernah dimasukkan ke dalam KBBI seperti halnya istilah-istilah dan nama alat-alat liturgi lain.

Sehingga di sini—menurutku—penguasaan atas konteks dan pengetahuan akan khasanah tradisi amat penting bagi seorang penerjemah di luar kemampuannya berbahasa, menulis, dan melakukan interpretasi terhadap teks.

Bukan saja lantaran Vesper yang merupakan salah satu dari delapan jam kanonis (waktu peribadatan harian Katolik) yang telah dibakukan di Gereja Barat sejak abad ke-9 itu diukur berdasarkan hitungan jam (yakni 12 jam setelah ibadah pertama pada jam 6 pagi) dalam sehari, sementara magrib merupakan penanda waktu Islamis yang diukur berdasarkan waktu tenggelamnya matahari; tetapi hal ini seyogianya juga menyangkut perihal “rasa” yang bakal didapatkan oleh para pembaca dari sebuah karya terjemahan.

Bagi para pembaca yang pernah dibesarkan dalam tradisi Katolik, penerjemahan Verspers menjadi Kebaktian Magrib tentu saja “terasa” ganjil akibat pemakaian dua istilah non Katolik sebagai pengganti sebuah istilah sangat Katolik dari puisi yang diterjemahkan tersebut.

Aku tidak tahu ketika menerjemahkan kata Verper ini, Hasan menggunakan kamus apa sebagai rujukan. Biarlah itu menjadi bagian dari dapurnya saja. Namun demikian, kukira hal ini selain menampakkan kesan ketergesaan kerja penerjemahan yang ia lakukan dalam upayanya untuk menguatkan rasa lokal dalam bahasa tuju, juga memperlihatkan kurangnya pengetahuan Hasan atas tradisi dan terminologi kekatolikan.

Oleh sebab itu, selain “magrib” yang kendati telah menjadi penanda waktu untuk masyarakat Indonesia secara luas sebagai masa pergantian siang ke malam tetapi tetap saja terasa bernuansa Islam, “kebaktian” sesungguhnya juga merupakan sebuah istilah yang terasa janggal dalam tradisi Katolik di Indonesia lantaran ia lebih merujuk kepada ibadah dalam gereja-gereja Kristen non Katolik.

Sehingga dalam hal ini, penggunaan “kebaktian” pun seakan mengakibatkan memudarnya suasana Katolik dalam puisi Louise Glück, apalagi ditambah dengan “magrib”! Dan alhasil, keinginan Hasan untuk menguatkan rasa lokal pada bahasa sasaran di sini justru rasanya berakibat fatal.

Namun ini bukanlah sesuatu yang baru dalam kerja terjemahan, terutama di Indonesia.

Beberapa tahun lalu misalnya, aku pernah menegur seorang kawan yang menerjemahkan “priest” dalam versi Inggris novel memoar Gabriel Garcia Marquez, Living to Tell the Tale menjadi “pendeta”. Padanan itu tentu saja tidak salah, tetapi sangatlah tidak tepat konteks mengingat “priest” dalam memoar Marquez terbitan Penguin tersebut adalah seorang agamawan Katolik. Sementara sebutan yang berlaku bagi imam Katolik dalam bahasa Indonesia (dan konteks Indonesia) adalah pastor, bukan pendeta seperti sebutan dalam Gereja-Gereja non Katolik.

Aku lupa ada berapa istilah kekatolikan dalam memoar itu yang keliru diterjemahkan oleh si kawan. Tetapi sudah lama, barangkali bermula dari penerjemahan Alkitab dan kehadiran iman Katolik di Nusantara, Gereja Katolik Indonesia memang memiliki penyerapan dan padanan tersendiri–di luar KBBI. Dari istilah-istilah untuk liturgi, sebutan, gelar, nama-nama sampai ungkapan yang lebih umum, misalnya Bapa (tanpa “k”), Petrus, Yakobus, hosti, homili, komuni, tabernakel, adven, altar, stasi, paroki, katedral, uskup, dan lain-lain.

Lantas, apakah nama-nama dan gelar bisa diterjemahkan?

Bisa iya tapi bisa juga tidak. Dan aku kira ini sangat kondisional, dimana ia menuntut wawasan luas dan kejelian seorang penerjemah untuk melihat apakah nama dan gelar tersebut memiliki bentuk dan padanannya yang lazim dalam bahasa tujuan atau tidak. Contohnya gelar Pope tentu saja amat tepat diterjemahkan sebagai Paus dalam bahasa Indonesia lantaran memang begitulah lazimnya gelar pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu disebut dalam komunitas Katolik di Indonesia. Begitu pula halnya dengan nama John Paul II yang biasa diterjemahkan sebagai Yohanes Paulus II. Namun tidaklah demikian dengan Sir Athur Conan Doyle atau Hercule Poirot.

Karena itu dalam hal ini (penerjemahan), Alice in Wonderland—bagiku—tak bisa serta merta kita terjemahkan sebagai Alis di Negeri Ajaib sebagaimana kita biasa menerjemahkan Milky Way sebagai Bima Sakti atau Côte d’lvoire sebagai Pantai Gading. Apalagi mengingat nama si Alice ini (seperti yang dibilang si Mikael Johani pada catatan Facebook-nya, “sekali lagi tentang terjemahan” [12/10/2020]) secara etimologi memang mengandung unsur ningrat.

Walau, terkadang, dalam sejumlah kasus, adaptasi atas nama memang biasa dilakukan atas pertimbangan tertentu, misalnya sulitnya nama asli dieja atau diingat oleh para pembaca dalam bahasa tujuan. Contohnya karakter kartun komik Walt Disney, “Gyro Gearloose” yang memperoleh banyak nama lain dalam berbagai bahasa: Lang Ling Lung (Indonesia), Pardal (Argentina), Abaqrino (Arab), Jiluo (China), Pelle Peloton (Finlandia), Daniel Düsentrieb (Jerman), Ciro Peraloca (Peru), dan sebagainya. Satu hal yang boleh kita katakan lebih tepat disebut “adaptasi secara terbatas” daripada penerjemahan. Dan “adaptasi” terbatas model begini, kerapkali memang tak terhindarkan bahkan diperlukan dalam kasus-kasus kerja penerjemahan sejauh ia tidak merusak teks asli atau mengubahnya sama sekali.

Namun adaptasi—yang dalam bahasa Indonesia lebih kerap disebut penyaduran itu—bukanlah penerjemahan (translation/fanyi), meskipun secara terbatas ia dapat digunakan dalam kerja penerjemahan. Saduran atau “adaptasi” (yang dalam pengertian lebih luas termasuk di dalamnya kerja “alih wahana” misalnya dari novel ke film)—seturut KBBI daring—adalah “menyusun kembali cerita secara bebas tanpa merusak garis besar cerita, biasanya dari bahasa lain.”

Namun, jika Alice in Wonderland masih memungkinkan untuk kita terjemahkan dengan sedikit adaptasi (penyesuaian), apakah sebuah kerja penyaduran diperlukan? Atau, apakah hanya demi mengejar citarasa lokal yang semata bertujuan memanjakan pengetahuan terbatas pembaca dalam bahasa sasaran, kita mesti mengorbankan lokalitas asli cerita dengan mengubah nama si Alice jadi Mbak Ningsih?

Di sini aku jadi teringat pada sejumlah kasus penerjemahan novel-novel China ke dalam bahasa Inggris yang kemudian diindonesiakan lagi dari versi Inggris—sebagaimana yang dulu pernah aku obrolkan sekilas dengan Eka Kurniawan. Dimana kadang, seperti dalam novel Su Tong terbitan Serambi, Raise the Red Lantern (Persaingan Para Istri) contohnya, kita menemukan nama-nama para karakter macam Teratai, Karang, Mega, Walet juga ikut diterjemahkan (dari nama Lotus, Coral, Cloud, Swallow yang merupakan hasil penginggrisan Michael S. Duke (Harper Perennial, 2004) atas nama-nama China: Songlian, Meishan, Zhuoyun, Yan’er).

Padahal hal ini—menurutku—merupakan sebuah problematik. Sebab semua nama China, termasuk namaku Sunlie, sesungguhnya memiliki arti dan dapat diterjemahkan. Apa dasar pertimbangan Michael S. Duke untuk menerjemahkan nama keempat karakter di atas sementara nama karakter lain seperti Chen Feipu yang cukup penting tidak ia Inggriskan saat mengalihbahasakan novel berjudul asli Qiqie Chengqun ini? Apakah Hanyu Pinyin (penulisan bahasa China dalam abjad alphabet latin) yang memiliki metode penulisan dan cara pelafalan tersendiri itu mempengaruhi pertimbangannya dan sejauh mana? Kita tidak tahu.

Ah, seberapa luas sebuah penerjemahan dalam sastra? Haruskah taat sampai ke tanda bacanya? Demikian tanya Mikael lagi.

Menurutku iya sejauh itu memang memungkinkan, dengan pengecualian karya-karya klasik China yang memang tidak mengenal tanda baca. Meskipun dalam banyak kasus, terutama kasus puisi, kita tahu, hal ini bukanlah perkara yang gampang, bahkan sejumlah kasus di antaranya merupakan soal yang musykil. Sehingga di sinilah kemudian, dalam kasus-kasus demikian, kukira penyaduran adalah jalan lain yang bisa kita tempuh untuk menggantikan kerja penerjemahan.

Namun begitu, beberapa kasus dalam sejarah sastra (berbahasa) Indonesia juga menunjukkan kepada kita bahwa penyaduran kadangkala bisa menjadi pilihan khusus untuk kepentingan tertentu, misalnya naskah drama yang disadur untuk kepentingan dipentaskan. Contoh dalam kasus ini salah satunya adalah naskah Oedipus Sang Raja yang disadur Rendra dari karya termashur Sophocles, Oedipus Rex (dari versi Inggrisnya, Oedipus the King).

Atau, bisa juga kita sekadar merujuk kepada karya film populer seperti Samson Betawi (1975) dengan bintang Benyamin S. yang notabene merupakan saduran dalam bentuk sinema atas cerita Nabi Simson dari teks Alkitab Perjanjian Lama (Hakim-hakim) serta kitab Qashash al-Anbiya dan Muqasyafat al-Qulub pada tradisi Islam.

Dan di jagat perpuisian kita, kita tentunya mengenal puisi terkenal “Kerawang-Bekasi” yang tak lain merupakan sebuah karya saduran Chairil Anwar atas puisi “The Young Dead Soldiers” karya Archibald Macleish, juga puisi “Kepada Peminta-Minta” yang disadurnya dari karya Willem Elsschot, “Tot Den Arme”. Puisi-puisi saduran Chairil ini jelas harus dibedakan—sebagaimana telah dipilah oleh H.B. Jassin dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45—misalnya dengan puisi “Datang Dara, Hilang Dara” yang ia terjemahkan dari A Song of the Sea karya Hsu Chih-Mo.

Catatan Tambahan:

(1) Pada tahun 1988, Salman Rusdhie menerbitkan novelnya yang kemudian bikin heboh itu, The Satanic Verses. Dan salah satu karakter utama dalam novel tersebut diberinya nama Gibreel Faristha. Gibreel, bukan Gabriel, meskipun novel TSV ditulisnya dalam bahasa Inggris dan ditujukannya kepada khalayak pembaca Barat yang lebih mengenal Jibril dengan nama Gabriel. Kenapa?

Tentu saja pilihan Rushdie untuk mengenakan nama Islam (dari salah satu penghulu malaikat agama samawi) ini kepada tokohnya dikarenakan karakter dalam novelnya itu adalah seorang Muslim India. Bukan orang Barat atau seorang Kristen.

(2) Kekeliruan penerjemahan yang cukup mengganggu akibat kurangnya wawasan sang penerjemah dalam memahami konteks cerita juga pernah aku temukan dalam novel Sorgum Merah (Serambi, 2014) terjemahan Fahmy Yamani, yakni diterjemahkannya “the Eight Immortals” (diinggriskan dari “Ba Xian” oleh Howard Goldblatt) menjadi “Delapan Orang Abadi” (hlm. 514), yang seharusnya “Delapan Dewa”. Padahal tokoh Li Kruk Besi (Iron Crutch Li) yang diterjemahkan dari nama Tie Guai Li jelas merupakan salah satu anggota dari Delapan Dewa (Ba Xian) yang amat termashyur dalam mitologi China maupun agama Tri Dharma (Buddha, Kongfucu, Tao) masyarakat Tionghoa.

Inilah pentingnya kejernihan bagi kita dalam melihat-memperlakukan konteks dan lokalitas sebuah teks. Demikian.[]

*) Sunlie Thomas Alexander memiliki nama lahir Tang Shunli, (lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung, 7 Juni 1977), sastrawan berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Ia dikenal melalui karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, kritik sastra, catatan sepak bola, dan ulasan seni yang dipublikasikan di berbagai surat kabar serta jurnal yang terbit di Indonesia dan di luar negeri: Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Poetika, Kedaulatan Rakyat, DetikSport, Jurnal Ruang, Gong, Lampung Post, Bangka Pos, Hai, Nova, Hakka Monthly, dll. Tahun 2016, menerima beasiswa residensi penulis di Taiwan dari Menteri Kebudayaan Republik China Taiwan, dan tahun 2018 menerima beasiswa residensi ke Belanda dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *