Novel, Kritik Sosial, Dan Tragedi Kemanusiaan

Membaca karya-karya novelis Arafat Nur


Suci Ayu Latifah *
Radar Ponorogo, 2 Feb 2019

Sesungguhnya, tidak ada sesuatu tanpa hukum kausalitas untuk dituliskan dalam karya sastra, salah satunya novel. Novelis, Arafat Nur misalnya. Penulis asal Aceh ini banyak menelurkan karya novel dan kumpulan cerpen. Sejarah Aceh dan konflik kemanusiaan menjadi ide cerita tema perlawanan dan perjuangan Aceh pada saat konflik dan pascakonflik. Ketidakadilan pada masa itu berakhir pada pertumpahan darah yang dipimpin oleh Hasan Tiro pada tanggal 4 Desember 1976.

Katarsis atau pembersihan dari ingatan konflik Aceh dilakukan Arafat Nur sebagai bentuk kritik sosial. Selain penulis peraih KLA 2011 ini juga muncul penulis seperti Thayeb Loh Angen melalui novel Teuntra Atom, Kabut Perang karya Ayi Jufridar, dan lainnya. Penulis-penulis ini dalam bahasa sastrawan George Bernard Shaw mereflesikan kias cerita dari kehidupan pengarang sendiri. Hal itu, sudah sejak lama pun dilakukan penulis lama, seperti Marah Rusli melalui Siti Nurbaya, Sutan Takdir Alisjahbana dalam Layar Terkembang, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, hingga penulis 2000-an.

Membaca karya pemenang sayembara DKJ 2010, memberikan gambaran bagaimana masa kelam Aceh. Aroma kekuasaan, kekerasan, pemberontakan, pendidikan, percintaan, seksualitas, dan lainnya membangun citarasa kehidupan sosial-budaya Aceh. Di antaranya terdapat pada Percikan Darah di Bunga (2005), Lampuki (2011), Burung Terbang di Kelam Malam (2014), Tempat Paling Sunyi (2015), Tanah Surga Merah (2017), Seumpama Matahari (2017), Lolong Anjing di Bulan (2018), dan Bayang Suram Pelangi (2018).

Lolong Anjing di Bulan, misalnya bercerita tentang kehidupan sosial masyarakat Aceh pada 1976-2005. Setebal 346 halaman, melalui tokoh Nazir menceritakan kehidupan Aceh di kampung Alue Rambe dan sekitarnya. Sejak kecil dia menjadi saksi aksi kekerasan yang dilakukan tentara pemerintah dari Jakarta.

Rakyat berjenis kelamin laki-laki banyak disakiti, dan akhirnya dibunuh secara tak manusiawi. Gadis-gadis diperkosa tentara hingga hamil. Tragedi kemanusiaan teramat perih dan pedih membuat tokoh Nazir menaruh rasa balas dendam kematian (tentara telah membunuh dan menembak Ayah, Kakek, Paman Arkam, Paman Muha, dan orang-orang Aceh).

Tak luput dari aksi kekerasan, kekuasaan politik juga bermain-main. Tentara bertindak sewenang-wenang kepada rakyat—asal tembak, asal bunuh, dan asal rampas hasil bumi. Dampaknya, rakyat miskin di negerinya yang subur. Hidupnya dibayangi ketakutan.

Lampuki (2011), juga menggambarkan kondisi rakyat Aceh yang mengalami kekerasan dan ancaman. Novel satire tersebut membungkus tawa di balik kesedihan. Bercerita Ahmadi, seorang gerilya yang mengajak penduduk Aceh melawan tentara. Saat pemberontakan, Ahmadi berhasil lolos dari orang-orang berseragam, pada saat itu penduduk menjadi sasaran.

Arafat, sebelumnya menelurkan karya beraroma hampir sama pada Percikan Darah di Bunga (2005). Novel ditulis selama 44 hari itu bercerita seorang tokoh bernama Dhira Ayu Laksmita memiliki kebencian terhadap tentara yang dengan bejat memerkosa Meula, menghajar ibu Meula, dan menembak ayah Meula. Tanah Surga Merah (2018), tentang tokoh Murad, mantan pejuang GAM. Ia keluar dari partai merah karena perbedaan prinsip. Sebab itu, Murad berseteru dengan partai merah yang mereka bentuk bersama pasukannya.

Beberapa ulasan novel Arafat Nur kental dengan aroma sadisme. Sebuah tindakan tak manusiawi yang diterima rakyat Aceh. Tragedi kemanusiaan dalam novel diceritakan secara baik dan detail, namun pendeskripsiannya terkesan agak berlebihan. Katakanlah dalam Lolong Anjing di Bulan, penduduk kampung dipotong daun telinganya di hadapan warga di halaman masjid; tokoh Arkam ditembak hingga dadanya sobek, tokoh Ayah disiksa di depan keluarganya dan jasadnya dibuang ke sungai; tokoh Kakek disiksa di hadapan istrinya hingga tak sadar, akhirnya meninggal; tokoh Yasin dibunuh secara sadis dengan cara diikat di belakang truk lalu diseret, hingga tengkorak kepalanya terlihat; tokoh Muha dadanya dibelah, lalu jantungnya diambil; dan lainnya. Sungguh, tragedi kemanusiaan yang tak manusiwi.

Tutur Arafat, potret Aceh digambarkan 60 persen secara riil, sedangkan sisanya melewati proses pengimajinasian seakan nyata. Menurut teori kesusasteraan disebutlah teori mimetis. Sebuah tiruan alam atau potret kehidupan.

Tak bisa dimungkiri membaca sastra seakan berjalan mencari sesuatu. Ada pelajaran hebat, khususnya pada novel-novel Arafat perihal nilai-nilai kemanusiaan (tolong menolong, kerja sama, interaksi sosial, menghormati dan menghargai sesama, peduli sosial, dan lainnya). Arafat Nur mengungkap sastra sebagai sejarah yang tidak akan terlupa. Dan, sastra bagi Mercuse (1969) dijadikan sebagai gerakan sosial mengingat dan menyimpan kritik dan perlawanan. Karenanya, sastra adalah ruang keabadian.
***

*) Alumni STKIP PGRI Ponorogo. Tinggal di Ponorogo, Jawa Timur.

Keterangan foto: dari twitter.com/arafat_nur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *