Puisi-Puisi Dedy Tri Riyadi

Kompas, 10 Agu 2014

Ninabobo

1/
Tidurlah, Lautku,
jenak ombak teduh badai
dengung angin setelah rinai.

Aku camar pencari ketam,
ingin terbang dari sarang ke lautan,
menyuruk ke tubuh gelombang.

2/
Tidurlah, Lautku,
jadi latu hilang bara
hitam arang tanpa nyala.

Aku jejak terik di pucuk waru
ingin berteduh pada bayangan,
O, betapa memabukkan cahaya!

3/
Jika kau tertidur, Lautku
mimpimu hanyut perahu
jala yang dibiarkan mengembang
dan menjaring ikan-ikan.

Jika kau tertidur, Lautku
malamku kalut kulit gaharu
dahan yang menguar heharuman
dan menahan sarang balam.

Kita tak saling mengenal,
bahkan tak akan mengekalkan.

4/
Pada suatu masa,
kau dan aku sama merasa
: bagian dari semesta.

Maka, malam ini,
kita mencari makna jauh
ke dalam diri.

Mengasingkan yang akan kita cari,
dan yang telah kita sangka
sebagai lagu menjelang bermimpi.

2014

Lagu Pantai

Irikah lidah ombak
pada lentik embun
di daun waru?

Bahagiakah
ketam yang basah
di ceruk karang?

Di pantai ini, kerinduan harum pasir.
Di pantai ini, kebekuan gagal berdesir.

Sebuah pulau terpencil memanggil.
Elang laut mengepak hal-hal yang mustahil
dimengerti awan jauh.

Di cakrawala, cinta seperti rona senja
yang mampir. Sebentar lagi gelap, katamu.
Dan aku menurut pada rentang dekap dermaga.

Di mana perahu dan jukung seolah kanak yang manja.

2014

Embun

Akulah embun, jeritnya
memekik di atas daun.

Pada pagi buta, dia menuntun
ke ujung lamun.

Bukankah, kau, cahaya?
Yang disembunyikan mata

dan disentuhkan ke telapak ini.
Sejak pagi menjadi dalam diri.

Akulah embun, jeritnya
seperti menolak ditenun

waktu. Aku setuju.
Sebab nanti, di siang hari,
ada yang mesti pergi.
Atau kembali?

2014

Falseto

Pergilah, Tuan, karena pergi
adalah cara terbaik untuk kembali.

Jangan dengarkan kata-kata dan
bahasa cinta yang berguguran.

Tapi lihatlah dataran yang murung
dan langit yang selalu mendung.

Perhatikan juga tunas-tunas hitam
dari pengharapan yang tak lekang.

Mereka yang tumbuh seolah tak
ingin lurus, tak ingin berjarak.

Merapatkan diri seperti makna
yang menjaga kata-kata kita.

Meratapkan mimpi-mimpi sepanjang
lagu dari pikiran kita tentang

bagaimana seharusnya cinta diungkapkan
dan ditangkupkan dalam suara yang sopan.

Dan kerinduan adalah cara paling halus
untuk membentang jarak dengan tulus.

Karena itu, pergilah Tuan, pergilah!
Jangan lagi dengarkan aku yang resah

dan membuncahkan kata-kata seperti
bunyi yang keluar dari gramafon tua ini.

2014

Membaca Buku di Perpustakaan

Seperti menguliti apel dengan pisau,
sebuah buku kau buka dengan risau

“Bukan makan malam mewah, jika kau tak
sediakan pisau, garpu, dan sendok perak,”
gerutumu pada sebuah halaman persembahan.

Barangkali, aku harus angkat topi,
pada semua tindakmu yang begitu hati-hati.

“Ah, ini sekedar perayaan sebelum pergi.
Jubah panjang musim dingin tak lagi
pantas kukenakan saat tidur,” celotehmu.

Seperti mereka musim di mana apel itu jatuh,
pada halaman berikutnya, jemarimu terasa rapuh.

Saat itu aku mengira: perpustakaan adalah
sebuah kafe mewah untuk lapar yang begitu sederhana.

2014

Mencintaimu

Mencintaimu adalah berpikir bagaimana mendirikan
sebuah tongkat kayu yang berat. Dan bila aku memandang
persis di tengahnya, dunia seolah terbelah dua. Kiri dan
kanan. Baik dan buruk. Masa lalu dan masa depan.

Mencintaimu adalah memandang ke depan. Melihat langit
dengan awan menyisih, di bagian atas, dan juga melihat
jalan berbatu, di bagian bawah. Memandang apa yang
sebenarnya hanya dugaan dan perkiraan. Meskipun
tongkat kayu itu seolah telunjuk yang mantap menuju engkau.

Mencintaimu juga berarti membicarakan bunga dan tunas.
Sekaligus. Bunga, betapa merah dan berduri, kadang
tampak pongah dengan selubung yang hijau. Sedangkan
Tunas, pucat dan ingin segera masuk dalam ruang berwarna
seperti otak. Dua gambaran yang begitu abstrak namun semarak.

Mencintaimu, sebenarnya lebih menyoal aku. Menyoal cara
berdiriku yang agak miring, menyoal warna kulitku,
menyoal di sisi mana aku berdiri di depan tongkat kayu
yang berat itu. Tongkat yang serat kayunya seolah tengah
dipelintir waktu.

2014


DEDY TRI RIYADI adalah seorang pekerja iklan. Ia tinggal di Jakarta dan bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *