Sajak-Sajak Imamuddin SA

SELAMAT TINGGAL CENDELA

selamat tinggal cendela. tubuhmu yang ringkih
telah mengantarmu pada dinding keabadian
maka biarkan aku menguburmu
di sudut kamarku biar aku selalu mengenangmu
dan menjamumu dengan bunga matahari kesukaanmu

selamat jalan cendela. damailah dalam abadi
sedamai waktu yang berjalan. kau sudah terbebas
dari segala hutang. aku yang menjadi jaminan

“dan aku pun tergantung di dinding
beku
menjadi cendela baru”

Balun, 2018

BERMAIN CAHAYA

sebuah malam sehabis maghrib
aku bermain cahaya bersama darahku
di langit-langit rumah

setitik cahaya yang aku pijakkan
pada dinding sunyi
membikin tawa di kedalaman hati

ah, rupanya seekor cicak ikut bermain bersamaku
ia mengejar cahaya yang aku mainkan
hingga ke sudut sunyi paling sunyi

mendadak cicak itu melompat ke kepalaku
dan menjadi tokek. aku lalu menangkap
dan memakannya. sekadar menghapus gatal
karena sungaiku yang keruh mengental

sementar ekor cicak yang putus itu terus menari
mencari tubuhnya yang sepi

Balun, 2018

MENJAHIT WAKTU

kata-kata yang aku simpan dalam lemari
banyak yang hilang. hanya kata-kata istriku yang tersisa;
“kata-katamu telah dicuri sepi” katanya

aku datangi sepi dengan gagah
dan segenggam amarah
aku obrak-abrik rumahnya
kini sepi telah menjadi ramai
nyaris aku tak lagi mengenalnya;
“kata-katamu telah habis dilumat hujan” katanya

aku jemput hujan yang sedang liburan
aku caci, aku maki, aku marahi
hujan hanya melempar dingin kepadaku.
aku bakar tubuhnya malah aku yang basah
hujan memuntahkan kata-kata

“aku akan menjahit waktu yang robek
tersangkut paku di bibirmu”

Balun, 2018

MALAM TAHUN BARU 1

ini malam aku tidak kemana
aku hanya mengiris sepotong senyum di bibirku
untukmu

ini malam aku menyulut unggun kecil
sekecil nyaliku
menolak waktu

ini malam aku berbagi hangat dalam bias cahaya
sekadar membakar senyum dan menyantapnya
bersamamu dalam perjamuan paling sederhana

ada yang telah matang; senyummu
ada yang masih mentah; senyumku

ini malam waktu telah terbakar
dan menjadi abu;
mungkin esok ada phoenix yang tumbuh

Balun, Desember 2018

MALAM TAHUN BARU 2

di depan cendela di malam tahun baru
seorang lelaki tampak melipat mimpi
dan menyelipkannya di dalam dompet
ia lalu melompat ke jalan dan bekejar-kejaran dengan waktu

“PERJALANAN PANJANG YANG MELELAHKAN”

seorang lelaki telah meninggalkan usianya di jalan kenangan
di antara lampu berpendar dan tumpukan malam

mendadak lelaki itu berhenti
saat semua arus dialihkan
dan jalan-jalan dibelokkan.
sejenak ia memintal hujan
sebelum kembali berjalan
menuju rumahmu
dengan penuh luka dan peluh

“JALAN MANA YANG HARUS DITEMPUH”

Balun, Desember 2019


Imamuddin SA, nama aslinya Imam Syaiful Aziz, lahir di Lamongan 13 Maret 1986. Aktif di Kostela, PUstaka puJAngga, FSL, FP2L, dan Literacy Institut Lamongan. Karya-karyanya terpublikasi di: Majalah Gelanggang Unisda, Majalah Intervisi, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, Majalah Indupati, Warta Bromo, dan Radar Bojonegoro. Puisi-puisinya terantologi di: Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Memori Biru, Khianat Waktu, Kristal Bercahaya dari Surga, Gemuruh Ruh, Laki-Laki Tak Bernama, Kamasastra, Tabir Hujan, Sehelai Waktu, Kabar Debu, Tabir Hijau Bumi, Bineal Sastra Jawa Timur 2016, Pengembaraan Burung, Ini Hari Sebuah Masjid Tumbuh di Kepala, dan Serenada. Prosa-prosanya terpublikasi di: Mushaf Pengantin, antologi cerpen Bukit Kalam, Hikayat Pagi dan Sebuah Mimpi, Bocah Luar Pagar, Hikayat Daun Jatuh, dan Tadarus Sang Begawan. Pernah dinobatkan sebagai Juara 3 Mengulas Karya Sastra Tingkat Nasional tahun 2010, Harapan 2 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Jawa Timur 2018, dan Juara 2 Lomba Menulis Puisi Se-Kabupaten Lamongan 2019. Nomor telepon 085731999259. Instagram: Imamuddinsa. FB: Imamuddin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *