SASAK HILANG SASAK

(melihat dari jauh sasak yang gelap itu)


Salman Faris *

Saya termasuk orang yang percaya, Sasak pada akhirnya akan hilang. Atau pasti hilang. Sebenarnya hilang Sasak sudah terjadi sejak 1670 yang ditandai dengan pendaratan awal orang Bali sebagai bangsa yang lebih kuat dan lebih dulu mengenal peradaban. Namun pada masa itu, Tuhan masih menyisakan Kuasanya dengan mengirimkan pejuang-pejuang agama yang sholeh dari Jawa. Rupanya, para wali Alloh ini pun jarang yang bisa bertahan lama di tengah orang Sasak karena mereka tidak tahan melihat orang Sasak saling makan. Para wali Alloh ini tahu yang menghancurkan Selaparang, Pejanggik, dan kelompok kecil lainnya itu ialah pemakan isi perut sesama sendiri di tengah orang Sasak. Karena itu, mereka bertahan dengan tidak lagi memusatkan aktivitas keagamaan di tengah pusat kekuasaan. Mereka tidak lagi memilih sebagai wakil penguasa dengan cara membangun desa sebagai peletak peradaban. Kelayu, misalnya dibangun oleh para wali Alloh yang menjelmakan diri sebagai rakyat biasa. Mereka menyusun strategi agar Sasak tidak hilang secara cepat. Misi mereka ialah menyelamatkan Sasak atau setidak-tidaknya memperlambat hilang Sasak. Mereka menyebarkan diri. Membangun jaringan dengan menciptakan pondok-pondok pengajian. Kelayu, Sekarbela, Bun Timbe, misalnya, ialah jaringan yang amat kuat pada masa itu. Kemudian diteruskan dengan jaringan Pancor, Bengkel, Kediri yang juga tak kalah hebat dan kuatnya. Pondok itulah benteng terakhir orang Sasak karena mereka sama sekali tidak memiliki akses kuasa. Sepenuhnya di bawah Karangasem Bali dan kaum elite Sasak. Namun akhirnya perjuangan ini juga mengalami masa kegelapan, terutama ketika Tuan Guru Ali Batu dapat dikalahkan penguasa. Mirisnya, kekalahan itu bukan disebabkan oleh kekuatan penguasa melainkan karena Tuan Guru Ali Batu dimakan oleh orang Sasak sendiri. Peran wali Alloh ini tak berhenti. Perang Praya yang berlangsung lama dan hampir membuat penguasa menyerah kalah namun akhirnya menang karena Praya dibakar dan dimakan oleh orang Sasak sendiri. Salah satu sebabnya ialah masalah perut. Orang Sasak yang mengalami masa kelaparan begitu lama, gugusan iman dalam dada mereka yang sudah diletakkan oleh para wali Alloh tidak mampu menjadi pelindung ketika melawan lapar yang panjang. Akhirnya, banyak di antara mereka yang menjadi prajurit penguasa yang tugas utamanya adalah memakan sesama Sasak.

Dari sedikit narasi di atas, saya ingin menunjukkan skema lampanan Sasak. Dalam konteks aktor, ada tiga pemeran utama yang selalu ada mewarnai seluruh sejarah Sasak hingga sekarang. Pertama ialah Tuan Guru, kaum elite, dan penjajah. Tuan Guru hingga saat ini masih tetap bernama Tuan Guru, tidak mengalami metamorfosis ke dalam bentuk lain. Sedangkan elite Sasak ini bermetamorfosis sebagai orang yang banyak menggumuli politik. Hal yang sama terjadi pada aktor ketiga yakni penjajah. Jika dimulai dari 1670 itu, maka penjajah itu ialah Bali, kemudian setelah 1894 ialah Hindia Belanda, Jepang, dan setelah merdeka ialah sentralistik Jawa. Kemudian terakhir barulah menjelma ke dalam bentuknya yang paling asli ialah kapitalisme. Dalam masa sebelumnya, meskipun alas kuasa penjajah itu dalam bidang produksi, distribusi, penguasaan terhadap pertukaran, konsumsi, dan aksesibilitas ekonomi, namun yang menonjol adalah kekerasan fisik dalam bentuk kerja paksa, pemerkosaan, pembunuhan, dan perampasan hak-hak kemanusiaan sehingga kapitalisme belum membiak secara nyata seperti rupa wajah penjajah baru di tengah orang Sasak di masa sekarang.

Menariknya, dalam seluruh rentang sejarah orang Sasak itu, terutama setelah 1670. Tuan Guru dan elite Sasak ini tidak bersatu. Mereka selalu menjadi musuh sehingga menciptakan keababadian perang simbolik. Boleh jadi penyebab awalnya ialah karena ada kekecewaan para Tuan Guru kepada elite Sasak. Di satu sisi, elite Sasak tak pernah percaya kepada Tuan Guru. Akibatnya, sejak era Tuan Guru Umar Kelayu, sistem dakwah yang dijalankan ialah dakwah ngamari (boleh jadi ini yang menjadi cikal bakal orang-orang cerdik pandai dalam agama di Sasak, dipanggil guru dan kiyai). Tuan Guru Umar tidak membangun pondok sebagai pusat aktivitas sebagai bentuk antitesis (perlawanan diskursus) kepada elite Sasak yang sangat menggemari membangun pusat-pusat kuasa. Pada masa ini, Tuan Guru benar-benar menyatu dengan masyarakat dengan cara mendatangi masyarakat. Berjalan sepanjang waktu seolah-olah memilih jalan sunyi. Hal sebaliknya dengan elite Sasak yang bergerumun di sekitaran penguasa karena berebut remah-remah kuasa. Maka kedua pemeran ini, dalam perkembangannya, mempunyai kekuasaan dan kekuatan. Tuan Guru dalam kekuasaan dan kekuatan moral spiritual. Sedangkan elite Sasak dalam bentuk material dan politik. Maka seterusnya yang terjadi di tengah-tengah orang-orang Sasak hingga sekarang ialah pertarungan antara penganut moral spiritual dan pengikut meterialisme dan politik.

Ada dua pertanyaan penting dalam situasi tersebut di atas. Siapa yang menjadi dalang pertarungan tersebut dan apa masalah dasar orang Sasak?

Sebenarnya, sudah ada usaha yang sungguh untuk menyatukan Tuan Guru dan elite Sasak ini, terutama sejak Tuan Guru Ali Batu yang berlanjut ketika perang Praya. Namun usaha ini selalu gagal karena selain dasar ideologi kedua kelompok ini jauh berbeda, juga disebabkan oleh kecerdikan penjajah memanfaatkan keterbelahan kedua kelompok tersebut. Dengan kata lain, penjajah selalu menjadi pemenang dalam sejarah orang Sasak. Penjajah selalu menjadi mandor agung dalam setiap konflik orang Sasak. Orang ketiga seolah-olah menjadi ibu kandung peradaban orang Sasak. Sebagai contoh ialah, penjajah sangat lihat bin jitu menibabobokan elite Sasak dengan pemenuhan kebutuhan material dan pemberian kuasa politik. Sementara di satu sisi, gerakan-gerakan orang Sasak di bawah Tuan Guru disikat habis. Dalam situasi seperti itu, penjajah memompa kedua kelompok ke dalam arus kecurigaan yang amat dalam. Tuan Guru memandang elite Sasak berperan besar merusak moral dan kesatuan orang Sasak. Sedangkan elite Sasak beranggapan bahwa Tuan Guru mempunyai agenda merebut kuasa politik mereka. Akhirnya terbentuklah satu habitus sebagai watak dasar orang Sasak, yakni kecurigaan yang menimbulkan keterpecahan. Dengan kata lain, orang Sasak menjadi bangsa yang paling mudah diadu domba. Bangsa Sasak menjadi bangsa yang tak henti-henti membuat polarisasi. Bahkan polarisasi kemudian menjadi keahlian orang Sasak paling tinggi.

Uniknya, polarisasi ini timbul dari hal yang paling dasar yakni keluarga. Kemudian masyarakat kampung dan seterusnya ke tingkat yang lebih tinggi. Misalnya, usik saja papuk balok orang Sasak, maka dia akan kehilangan akal sehat. Menjadi tidak berilmu dan lemah iman. Karena didikan dasar ialah keluarga mereka ialah yang paling hero dibandingkan yang lain. Papuk balok mereka ialah datu, keluarga yang lain adalah kaule bale. Begitu seterusnya. Desa orang lain tak pernah sebagai yang lebih baik dalam doktrin di tingakt desa. Dan seterusnya. Sentil saja tentang guru orang Sasak, maka mereka akan mengasah pedang. Karena doktrin yang diterima adalah guru mereka yang terbaik. Singgung saja organisasi orang Sasak, mereka akan kibarkan bendera perang. Jangankan menyinggung asal gumi paer, menyinggung isi tunggangan motor pun bisa jadi darah.

Lalu yang ditimbulkan oleh situasi semacam itu ialah terjerumusnya orang Sasak kepada masalah dasar yang tidak pernah bisa diatasi sejak dahulu, yakni kemiskinan dan kelaparan, seperti yang sudah disinggung di awal bahwa masalah perut ialah masalah sejarah orang Sasak. Jika sejak 1670 itu mereka menjadi budak yang dipaksa kerja tanpa upah oleh penjajah yang menyebabkan kemiskinan dan kelaparan. Lain lagi soalnya sekarang. Karena orang Sasak sibuk membanggakan keluarga, papuk balok, asal gumi paer, keindahan Lombok, menterengnya gunung Rinjani, Kek Mandalika, Gili Trawangan, keagungan menyan adat istiadat dan budaya, mereka abai kepada akses ekonomi yang sudah dikuasai kaum kapitalis. Orang Sasak tak punya kepandaian atau peradaban tinggi dalam soal ekonomi ini. mereka tak pernah punya sekolahan informal yang mendidik mereka menjadi pedagang-pedagang hebat dan saudagar-saudagar ulung yang menguasai dunia seperti Minang, Jawa, dan Bali. Ratusan tahun dijajah Bali benar-benar habis waktu dan tenaga digunakan untuk orang Sasak bertahan hidup saja. Bukan untuk membangun dasar peradaban sebagai penakluk ekonomi di dunia ini. Beratus-ratus tahun berada dalam tradisi yang mudah teradu domba, mudah saling curiga, mudah saling iri hati, mudah saling dengki ditambah kebanggan pada keluarga dan papuk balok yang sudah melampaui akal sehat, mereka lupa berpikir bahwa masalah utama yang dihadapi ialah kemiskinan dan kelaparan. Akhirnya sejarah kemiskinan dan kelaparan di tengah-tengah orang Sasak ini ialah sejarah paling panjang dan belum ada jalan keluar hingga sekarang.

Pada era sekarang, ketika orang Sasak sudah bertumpuk-tumpuk kaum cerdik pandai dan mereka hidup dalam pusat gadgetisme, sebenarnya ada di antara mereka yang sudah tercerahkan tentang kemiskinan dan kelaparan ini. Namun sayang, sudah terlambat. Pulau Lombok tempat mereka menjalani hidup sejak ribuan tahun yang lalu sudah bukan sepenuhnya milik mereka lagi. Pulau Lombok sudah menjadi milik global kemudian didatangi dan dihuni oleh orang-orang global yang mempunyai sumber daya dan sumber dana jauh di atas orang-orang Sasak.

Sementara, orang Sasak tak bisa keluar dari mudahnya dipecah belah, manusia-manusia global semakin menguasai Lombok. Dan inilah pintu masuk berakhirnya orang Sasak. Maka Sasak hilang. Hilanglah Sasak.

Lalu adakah iman masih dapat memberikan perlindungan kepada orang Sasak? Kita tunggu bagaimana Tuan Guru dapat menyesuaikan diri.
***

Malaysia, 20/11/2019

*) Dr. Salman Faris: Penulis, Peneliti Budaya dan Dosen.
Keterangan foto: dari phinemodotcom oleh Anzil Laila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *