NGOPI FIKSI #6

Hendy Pratama

Kelas menulis cerpen masih berlanjut. Selasa kemarin (03/11), kelas dihadiri oleh 5 peserta. Akhir-akhir ini, saya memang jarang mengunggah foto kegiatan ke Facebook. Itu karena saya lagi malas saja, dan bukan karena alasan tertentu. Dan oleh sebab hari ini saya sedang tidak malas, saya ingin sedikit bercerita soal kelas lanjutan.
.
Pada pertemuan keenam, kami membahas dialog. Dialog termasuk materi penting. Dialog bukan hanya sekadar percakapan (ada muatan di dalamnya, seperti: Karakter tokoh, motif, clue cerita, emosi, siratan konflik, dll–yang berpaut dengan cerita). Dalam menulis cerpen, pastikan dialogmu benar-benar dialog dan bukan termasuk obrolan.
.
Dialog dan obrolan berbeda. Obrolan adalah percakapan tak berdasar, tak ada arah yang jelas, tidak menyiratkan sesuatu, dan hanya sekadar haha-hihi. Jika dialog dalam cerpen dihapus, dan hal tersebut tidak memengaruhi cerita, berarti itu bukan dialog, melainkan obrolan.
.
Untuk studi kasusnya, kami meminjam cerpennya Ernest Hemingway yang berjudul ‘Bukit-Bukit seperti Gajah Putih’ (Hils Like White Elephants) dan cerpen lokal berjudul ‘Kedai Kopi Singa Tertawa’ karya Yusi Avianto Pareanom. Dua cerpen tersebut dibentuk dari dialog (mayoritas bentuknya memang didominasi oleh dialog).
.
Terakhir, seperti sebelum-sebelumnya, kami memberi pekerjaan rumah berupa: Menulis cerpen dengan persentase dialog sebanyak 80% atau lebih. Seluruh peserta mesti menulis dialog yang menyiratkan sesuatu, bukan dialog flat, atau dialog yang cenderung tak memiliki fungsi apa pun dalam cerpen. Sebab, dialog tak sekadar percakapan.


Madiun, 3-6 November 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *