Warung Kopi sebagai Alternatif Akses Koran di Kota Kecil


Ahmad Farid Yahya *

Empat tahun lalu sekitar akhir semester satu atau awal semester dua, atau entah sejak kapan saya sudah mulai lupa, saya mulai mengirim tulisan ke Jawa Pos. Sebenarnya sudah sejak SMP ingin mengirim tulisan ke koran. Tapi tak pernah tahu dan tak pernah mencari tahu caranya sampai akhirnya kuliah.

Mengapa Jawa Pos? Sederhana saja: Lamongan bisa dibilang terpencil. Koran yang paling mudah ditemukan memang cuma Jawa Pos (beserta Radar Bojonegoro satu paket). Koran tersebut bisa ditemukan di mana? Ya di warung kopi. Di kota terpencil ini siapa yang pada pagi hari duduk sederhana di beranda rumah dan menikmati teh hangat sambil baca koran? Sangat sedikit. Maka dari sedikitnya itu, orang-orang yang lebih kampung dan terpencil dari Lamongan seperti saya ini (desa terpencil di pedalaman Lamongan) mana pernah tahu di mana bisa membeli koran. Saya baru tahu tempat beli koran menjelang lulus kuliah. Barangkali jarak yang begitu jauh antara penjual koran dan orang yang ingin membeli koran itulah yang menyebabkan koran yang akrab di telinga saya cuma Jawa Pos. Selain koran lain yang juga saya dengar seperti Kompas dan Tempo. Saya mengirim tulisan ke Jawa Pos agar bisa memantaunya jika suatu hari tulisan saya dimuat.

Entah semester berapa dulu saya mulai menulis esai. Jenjang menulis saya dimulai dari puisi-puisi SMA, lalu esai sastra, baru kemudian cerpen. Beberapa kali saya kirim ke Jawa Pos dan tak pernah dimuat sampai akhirnya menyerah. Pada tahun 2019 akhir saya mulai mengirim tulisan lagi ke koran. Pada saat itu, kolom Lembar Budaya di Radar Bojonegoro telah ada, sedangkan dulu sewaktu saya sering mengirim ke Jawa Pos di Radar Bojonegoro belum ada kolom sastra. Maka saya kirimlah puisi-puisi sederhana saya di Radar Bojonegoro. Setelah tiga kali mengirim, dimuat. Sejak saat itu saya berpikir bahwa tulisan saya dimuat di koran adalah suatu hal yang mungkin.

Setelahnya saya jadi rajin mengirim puisi ke Radar Bojonegoro, dan cerpen ke Jawa Pos. Hanya saja saya sedikit ngawur dengan jumlah kata yang sering sekali tak sesuai ketentuan. Dari 21 cerpen yang saya kirim (dan semuanya ditolak) mungkin cuma 2 cerpen yang jumlah katanya mendekati pas, yang pertama karena kebetulan, dan yang kedua karena sudah ada pengumuman jumlah kata di korannya.

Pada suatu siang ketika saya ngopi di warkop sebelah kampus, saya membaca cerpen karya S. Jai di Jawa Pos. Saya ingat waktu itu judulnya “GIR”. Saya foto dan saya kirimkan ke Pak Tardi kemudian Pak Tardi bilang, “Semoga besok cerpen kamu yang dimuat Jawa Pos.” Tapi hal itu tak pernah terjadi.

Sampai beberapa waktu lalu saat saya pusing mengerjakan skripsi, saya membaca dua buku yang juga cukup memusingkan; Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu, dan Burung Kayu. Yang pertama membuat saya belajar banyak tentang kritik sastra, dan yang kedua benar-benar membuat pusing karena banyak sekali bahasa Mentawai yang tak saya pahami dan tidak dijelaskan dalam catatan kaki maupun glosarium.

Diskusi Chandrakirana, sewaktu saya kebagian mengulas karya Mas Geger Gendroyono, tanggapan para penulis senior di Lamongan lebih bagus daripada ketika saya menulis cerpen. Padahal kritik tersebut adalah kritik pertama saya sedangkan saya sudah berkali-kali menulis cerpen. Padahal juga referensi saya belajar menulis kritik cuma Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu, dan metode-metode yang saya gunakan untuk menulis skripsi.

Ketika grup Facebook Apresiasi Sastra mengangkat tokoh Niduparas Erlang, saya menanyakan ihwal bahasa Mentawai dalam novel tersebut. Usai diskusi itu saya jadi semakin ingin menulis kritik untuk novel itu. Beberapa waktu setelah diskusi itu, Burung Kayu kemudian memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2020. Beberapa waktu lagi saya baru tergerak untuk benar-benar menulis resensinya. Padahal niat nulis kritik dan resensinya sudah lama.

Resensi tersebut saya kirim ke koran Jawa Pos. Dua minggu kemudian saya sempat kaget dan sedikit gemetar karena resensi saya dimuat. Bukan saja karena resensi yang saya tulis dimuat, tapi juga karena sudah bertahun-tahun saya mengirim tulisan di Jawa Pos dan tak pernah dimuat. Dua puluh satu cerpen ditolak, dan pertama kali mengirim resensi dimuat—yang saya pikir bukan karena tulisan saya yang bagus, melainkan karena novel yang saya resensi yang bagus.

Sepertinya saya memang tidak berbakat menulis sastra. Buku-buku di rak saya juga komposisinya 25% buku sastra, 30% filsafat & sospol, 25% buku kuliah yang tak tersentuh, 20% buku-buku tentang agama dan musik. Saya jadi ingat wawancara panitia FKY dengan Cak Nun di Youtube. Cak Nun menyebut bahwa ia diarahkan oleh Umbu untuk menulis esai, dan Linus Suryadi AG diarahkan oleh Umbu untuk menulis puisi.

Setelah bertahun-tahun berusaha dan akhirnya dimuat Jawa Pos, senang. Tetapi saya pikir saya belum merasa puas. Karena “resensi” adalah pembaca yang menulis. Saya juga tak membesar-besarkan Jawa Pos atau koran lain. Saya mengirim tulisan ke Jawa Pos pun karena itu satu-satunya koran yang bisa saya temukan di warung kopi. Catatan di atas sekadar menuliskan ingatan. Saya pikir grup facebook Sastra Minggu sangat membantu bagi orang-orang yang susah akses terhadap koran seperti saya ini.

12 Jan 2021

*) Ahmad Farid Yahya, penulis asal Lamongan. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media: Amanah, Gelanggang, Radar Bojonegoro, dan Jawa Pos. Bukunya yang sudah terbit: Seorang Bocah yang Menyaksikan Kematian (2020), dan Upacara Penyeretan Jiwa (2020). Aktif pada Komunitas SAMUDRA, FP2L, KOSTELA, dan Guneman Sastra di Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *