Puisi-Puisi Beno Siang Pamungkas

TIGA MENIT TERAKHIR *

Kita masih di sini
Memandang langit sekarat
Mereka-reka persamaan sejarah semesta dan rahasia cinta.

Belakangan ini
Kita merasa semakin pintar
Tak lama lagi melampaui yang tak terbayangkan.
Tentu, tuhan, tak perlu ada.

Di pojok Bima Sakti
Debu-debu diri
Debu-debu bintang
Meluruh di luar bahasa.

Smg, 16 feb 2021
*) Terinspirasi tulisan Paul Davies, astrofisikawan, dengan judul yang sama.

REST

Sejenak hilang di kabut
Gunung, kini tlah siap sambut
Hidup carut marut.

Sederhana:
Balik tanah,
Tebar benih
Tunggu tanaman tumbuh
Harapan ngembang.

Smg, 4 feb 2021

FESTIVAL ORANG MATI

Empat belas hari keluarga kami
Hadiri festival orang mati.
Lely mondar mandir
Di tepi jurang,
Nertawakan nasib bagai si pandir
Tak berperasaan.

Ruang arimbi penuh pasien bisu
Kematian benar tak ada hari libur.
Natal, tahun baru
Sama saja.
Malaikat menari
Di sela-sela infus
Dan selang oksigen.
Jaraknya semakin rapat,
Tak bisa takut lagi.

Untungnya makanannya hambar.
Musiknya tanpa nada.
Jogetnya tak berirama.

Kami yang lain bolak-balik swab mandiri.
Berkali-kali lirih namaku,
Sepertinya dipanggil-panggil.

Masa bodoh, berlagak tuli.
Akhirnya bosan sendiri.

Horeee,
Sekarang siapa yang gentar
Kaki runcingnya gemetar ?

Kami ? Atau Kamu
Yang selalu berkerudung hitam ?

Semarang, 9 jan 2021

PANEN

Desember tak sempat mencuci baju
Menyambut hari pertama
Di tahun kabisat.

Kuda-kuda legam
Menyeret ember kaleng
Di cakrawala.

Di sampingku cuma tersisa kawan-kawanku
Sekelompok spesies langka
Yang tak lagi berniat
Memenangkan perang.

Orang-orang yang tak
Berhutang apapun
Kepada kemarin dan
Hari esok.

Kami beriman kepada
Hari ini.
Pada kalender yang
Memanen umur
Kami tak percaya.

31 des 2019

SAYA SAKIT JIWA, KATAMU

Kau poskan sebuah kartu
Bergambar gereja
Dan kesedihanmu.

Tuhan mengusirku lagi, tulismu
Di taman itu
Kini tak ada petani.
Orang-orang sepi
Menghafalkan doa
Yang itu-itu saja.

Ingin kubuat satu dosa lagi,
Lanjutmu.
Di bumi, tak ada
Yang mengingat surga.
Orang-orang ramai
Membangun kerajaan
Dan kuburnya sendiri.

Ingin benar kumakan buah itu,
Saya sakit jiwa, katamu,
Tolong !

1994

(Dicomot dari buku Ensiklopedi Kesedihan, 2008)

HAKUI

Petir menyambar hujan
Terbakar
Di udara bautubuhmu
Tergambar.

Smg, 2 Des 2020

MINGGU YANG SEDERHANA

Minggu yang sederhana
Di langit mendung menggantung.

Burung-burung berdendang
Tentang terompet tahun baru
Dan musim berwarna biru.

Membaca semapur
Dari balik bukit kapur
Hidup bergambar
Padi dan sayur mayur.

2009

IKLAN KECIK

Koran pagi hanya mengabarkan kesedihanmu
Di sela-sela berita korupsi
Pembunuhan
Dan rekayasa politik
Kau selipkan pesan.

Tak ada rindu di halaman satu
Juga di halaman-halaman
Selanjutnya
Tersurat pun tersirat.

Mungkin besok
Kamu berubah pikiran.

2010

RINDU

Sekor bangau melayang ke tenggara
gerimis beku di jauh sana.
Senja biru legam
mengingatmu hatiku lebam.

2010

KETHEK OGLENG

berkaca, nenteng payung
naik Harley, koprol
dan sujud

tambur dipukul
tampah beredar
anak-anak jejogetan
receh gemerincing

rantai evolusi rompal
kethek mringis
Charles Darwin
nangis
: lont…

(kata seorang tabib)

Smg, 17 nov 2020

DARI DASAR BOTOL

(0)
segel masih terpasang
itu air tapi api
membakar

(1)
seperti bunga mekar
wajah membara
tanpa beban

(2)
bahkan tanpa tiada
dua sloki
adalah valhalla

(3)
sang hyang widhi
tak lain adalah
janji yang tak

(4)
haleluya
tuhanpun belum tentu
Ada

(5)
lima adalah tri
tiga adalah Esa
bukan piagam : Jakarta

(?)
hanya diri hadir
tanpa
Sampiran

Smg, 30-09-2020


Beno Siang Pamungkas, lahir di Bojonegoro, Jawa Timur 1968. Menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Negeri Semarang. Di sela-sela perkuliahan, aktif dalam kesusastraan dan teater. Dipercaya menjadi pemeran utama di sejumlah pertunjukan teater: Julini atas judul Opera Kecoa, karya Arifin C. Noor bersama Teater SS IKIP Semarang, di Auditorium IKIP Semarang, sebagai Borok pada naskah Umang-umang atawa Orkes Madun II, karya Arifin C. Noor bersama Teater Dhome di Auditorium Radio Republik Indonesia, Semarang. Beno juga mengelola Teater Embrio di Jurusan Pendidikan Biologi. Aktif di berbagai kajian dan menulis karya sastra dalam bentuk puisi dan cerita pendek yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar, dan antologi puisi. Ia salah satu sastrawan di balik gerakan revitalisasi sastra pedalaman bersama Sosiawan Leak, Wijang Wharek, Triyanto Triwikromo, dan Kusprihyanto Namma, yang diselenggarakan pada dasawarsa 1990-an. Sebagai pewarta menjabat koordinator daerah (korda) untuk MNC wilayah Jawa Tengah. Dan bersama Timur Sinar Suprabana, menerbitkan buku puisi Gobang Semarang dan Menyelam Dalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *