MEMAHAMI CARA BERPIKIR PENGARANG DALAM PENCIPTAAN KARYANYA

Anton Wahyudi *

“Cerpen adalah cerpen, dan karena itu pendek!” (Budi Darma)
Satu pernyataan awal dalam ulasan sederhana ini seyogianya harus saya mulai dengan ucapan selamat untuk buah pena Ahmad Khoirul. Selamat atas buah pena cerpen yang menjadi salah satu dari dua di antara cerpen karya siswa, yang terpilih dan menjadi karya terbaik pada kolom ‘cerpen cermin’ Kakilangit No. 179/Oktober 2011 (Horison, edisi XLVI/11/2011).

Saya katakan terbaik karena saya meyakini betul bahwa buah pena yang terpilih ini pastinya telah teruji, terseleksi, dipilih, dan lolos audisi dari berpuluh-puluh cerpen, atau bahkan mungkin beratus- ratus cerpen siswa lain yang masuk dalam redaksi.

Membaca dan memahami cerpen Lima karya Ahmad Khoirul ini, sebagai pengantar pemahaman awal (setelah membaca cerpen), tiap-tiap pembaca pada dasarnya sudah bisa menemukan bekal pemahaman dalam menafsirkan sebuah cerita. Terkhususnya cerita pilihan atau cerita yang dimuat di majalah.

Pada sebuah ulasan apresiasi Jamal D. Rahman, selaku pimpinan redaksi mengulas dan mengapresiasi cerpen Lima secara sederhana, akan tetapi juga turut memberi celah pemahaman yang besar bagi semua pembacanya. Dalam ulasan sederhana itulah Jamal D. Rahman menguraikan secara eksplisit tentang kekuatan dan kelemahan isi, terlebih tentang pencitraan suasana yang diciptakan oleh pengarang melalui karyanya.

Dalam pandangan yang lebih luas lagi, Jamal D. Rahman lebih intens mengulas atau mengkritisi cerpen Lima dari sisi bangun struktur cerita; mulai dari teknik peng-alur-an cerita, tokoh dan penokohan, pencitraan setting (tempat, waktu, dan suasana), maupun gaya bahasa yang digunakan penulis dalam membuat cerita.

Akan tetapi, pada pagi-pagi sekali, sepertinya definisi cerpen Budi Darma yang sudah saya tulis di atas membatasi dengan mengatakan apa yang ditulisnya tentang cerpen: yang mesti tulisannya dianggapnya sebagai jendela terbuka. Kitalah yang disuruh mengintip sendiri melalui jendela terbukanya itu untuk menilai cerpen yang pada dasarnya sudah dianggap terpilih atau lebih baik di antara yang baik-baik. Barangkali inilah yang sejatinya bisa saya yakini sebagai kemajemukan penilaian atas karya. Sebuah pluralisme pemikiran dan keyakinan. Bahwa untuk menilai sebuah karya ternyata ada banyak jalan dan cara.

Sebenarnya apa yang ingin saya tegaskan terlebih dahulu dari semua ilustrasi ini hanyalah satu kesadaran sikap —bahwa setiap karya terbaik pada dasarnya masih selalu bisa menyisakan keraguan dan pertanyaan. Artinya, karya-karya sastra yang dianggap terbaik boleh jadi bukan karya-karya yang sudah dianugerahi penghargaan sastra. Misalnya saja dianugerahi Nobel Sastra.

Akan tetapi, disinilah sesungguhnya keindahannya, —bahwa setiap karya yang dianggap baik akan selalu menyediakan ruang bagi kita sebagai pembaca serius untuk terus bertanya, selalu mempertanyakan, dan selalu berhasil menemukan makna baru setiap kali kita membacanya secara berulang-ulang. Sehingga, sudah barang tentu, ketika mengkaji sebuah karya kita akan menemukan ketidakpuasan. Lebih-lebih ketidakpuasan pada sistem atau cara kompetisi yang sudah dipilih.
***

Membaca dan menyelidik cerpen Lima buah pena Ahmad Khoirul, saya sedikit teringat pernyataan dari seorang sosiolog, budayawan, dan kritikus sastra di Indonesia: Ignas Kleden. Sebagai seorang kritikus sastra, Ignas Kleden memaknai tentang cara pandang pembaca terhadap sebuah karya sastra.

Saya ingat betul, dalam sebuah komentar atau pernyataan Ignas menyatakan bahwa di dalam kaitannya dengan penulisan karya sastra sejatinya kita (sebagai pembaca karya sastra) bisa melihat tiga hal yang tampak signifikan dalam sebuah teks karya sastra. “Apakah pengarang yang bercerita? Apakah cerita yang bercerita? Atau, apakah suasana yang bercerita?”

Nah, jikalau saya sebagai pembaca harus dituntut untuk memilih dan mengaitkan ketiga hal tersebut ke dalam sebuah teks yang sudah saya baca, maka di dalam cerpen Lima karya Ahmad Khoirul inilah saya bisa melihat dua hal yang anggap sangat penting dan menarik, yakni jalinan teks yang nampak menggiring pembaca melalui dua sudut pandang: ‘pengarang yang bercerita’ dan ‘suasana yang bercerita’.

Saya melihat bahwa jalinan cerita yang diungkapkan pengarang sangat begitu tampak berhasil menyembunyikan dirinya dari sebuah jalinan teks yang tengah diciptakannya, —terlebih tentang gambaran sebuah karakter. Dengan memberi pengertian yang sederhana, pengarang terlihat sangat nampak objektif bercerita tentang tokoh yang dihadirkannya. Di samping itu, juga tampak jelas bagaimana suasana yang diciptakan oleh pengarang melalui Lima-nya begitu terbuka. Sehingga pembaca menjadi betul-betul mempunyai kebebasan untuk menafsirkan cerita yang sudah dibacanya dengan sangat leluasa.
***

Membaca dan memahami keutuhan jalinan antarperistiwa dalam teks Lima, saya (sebagai pembaca) merasa seolah-olah pengarang tengah membangunkan saya yang sedang tertidur pulas dalam rajutan mimpi. Pembaca serasa menjadi atau mengalami semacam keterkejutan kontemporer. Dalam tidur saya yang masih nyenyak, saya merasa dengan spontan pengarang telah menarik tangan dan mengajak saya untuk menyaksikan dan mendokumentasikan sebuah peristiwa atau keadaan, lalu dengan sendirinya saya dituntut untuk mendeskripsikan alur perjuangan dan konflik-konflik yang timbul di dalamnya. Konflik-konflik yang saya rasa begitu otentik. Sehingga, pada hasil akhirnya, mata yang tadinya masih terkantuk-kantuk dan baru tersadar dari tidur nyenyak, mendadak menjadi terbelalak dan menyala.

Saya pun merasakan dalam separuh kesadaran dan ketidaksengajaan pengarang memberikan sebuah petunjuk tentang sikap yang terbuka, memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat demokratis kepada saya sebagai pembaca: bahwa dalam hidup seseorang bisa memilih keputusan dengan kesadarannya sendiri dan bebas menerima resiko sesuai dengan apa yang sudah diperkirakannya. Pada pendokumentasian peristiwa inilah pengarang menjadi sangat tahu betul bahwa dalam diam-diam dan secara praktik saya dihadapkan pada beraneka-ragam pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya buat atau saya ciptakan sendiri, yang pada akhirnya jua pertanyaan-pertanyaan itu menuntut balik saya agar bisa saya jawab semuanya.

Dalam sekejap dan berpikir yang berulang-ulang saya ingat —bahwa saya telah mendokumentasikan beberapa peristiwa penting tentang dia di ruang pijar memori otak saya. Dan dia pun akhirnya mengatakan lirih, “Kau masih beruntung, Lima, karena kau buta tidak sejak lahir. Kau masih bisa membayangkan dunia yang pernah kau lihat, dalam hatimu.” Lima selalu mengingat kata-kata ibunya itu.” (prg. 2, hlm. 25).

Tampak begitu jelas bahwa dari sinilah akar pendokumentasian awal mulai menjalar di memori otak saya, mulai bercabang-cabang menjadi beragam pertanyaan-pertanyaan, yang sampai pada akhirnya saya sendirilah yang dituntut harus bisa menjawabnya. Dan untuk menjawabnya pun saya diharuskan tuntas membaca, membebaskan imajinasi di kepala, dan memaknai setiap detail-detail peristiwa yang sudah terbangun dalam cerita.
***

Menelusuri peristiwa dari setiap pertalian cerita, dari awal tampaknya saya sudah disuguhkan satu pertanyaan besar tentang pemaknaan arti sebuah nama tokoh dalam cerita fiksi, yang menjadi judul dalam cerpen Ahmad Khoirul ini. Secara garis besar nyata, bayangan awal saya melihat judul cerpen yang terdiri atas satu suku kata: “Lima”, mengacu dan lebih mengarah pada pemaknaan tentang nominal atau jumlah bilangan (angka).

Akan tetapi, penafsiran itu meleset total karena di dalam cerita sudah terbukti dan tergambarkan jelas —bahwa Lima mempunyai arti sebuah nama seorang tokoh utama perempuan tunanetra atau buta. Menjadi wujud dari realitas impian yang belum tuntas, karena di dalam isi cerita tidak dijelaskan atau tergambarkan secara nyata atas faktor penyebab tokoh mengalami kebutaan bertahun-tahun, ketidakjelasan dan kekuranglogisan atas latar belakang keluarga tokoh dalam strata sosial di masyarakat yang seolah-olah didewakan oleh masyarakat atau tokoh-tokoh sekelilingnya.

Hal tersebut bisa terlihat secara gamblang pada kutipan “Kini umur Lima hampir 17 tahun. Banyak orang bilang kalau Lima lebih cantik setelah dia buta. Karena ada yang berubah dengan matanya. Matanya terlihat lebih indah daripada sepasang mata manusia mana pun yang pernah mereka temui.” (prg. 7, hlm. 25).
***

Sejatinya tokoh-tokoh dalam cerita adalah cipta dari rekaan pengarang. Oleh karena itu, hanya pengaranglah yang bisa mengenal si tokoh itu. Agar pembaca bisa mengenal tokoh-tokoh rekaan tersebut oleh karenanya pengarang memperkenalkan melalui beragam teknik. Teknik atau cara pengarang memperkenalkan tokoh ceritanya kepada pembaca atau teknik pengarang memunculkan tokoh cerita yang biasa disebut dengan istilah penokohan.

Dengan demikian, dalam cerpen Lima ini pengarang telah berhasil dalam membuat negasi-negasi, semacam pemikiran yang mendalam atas pencitraan karakter tokoh-tokoh yang dihadirkannya. Dan para pembacanya pun seolah-olah diberi misi atau tugas tersendiri untuk menafsirkannya sendiri. Sesuai dengan luasnya imajinasi yang dimiliki.

Tampak tokoh-tokoh yang dimunculkan oleh pengarang dalam penokohan Lima yang dikatakan tokoh lain (istri-istri) lebih cantik setelah dia (Lima) buta, karena ada yang berubah dengan matanya. Tokoh-tokoh yang menjadi pemikiran mendalam atas pengarang dalam mengisi atau memberikan dasar atas efek nyata dari pendeskripsian mata yang indah karena tunanetra. Apakah benar sedemikian? Menjadi lebih tidak logis atau berlebihan lagi pada jalinan peristiwa yang kontras dan terkesan transendental, “Tapi kini Lima jarang tersenyum. Itu membuat semua orang menjadi kebingungan.

Banyak usaha yang mereka lakukan untuk membuat lima tertawa atau sekedar tersenyum. Bahkan, mereka sudah patungan dengan harta mereka yang berjumlah tidak sedikit. Mereka ada yang menjual perhiasan, tanah, rumah, dan berbagai harta mereka untuk mengundang lawak group lawak yang sedang tenar-tenarnya di televisi.” (prg. 8, hlm. 25). Menjadi sebuah pertanyaan tambahan, “Apakah harus sampai sebegitunya potret sosial kemasyarakatan tokoh-tokoh yang mempunyai karakter sosial yang tinggi dengan usaha yang berlebihan? Dan atas dasar apa kaitan antara mata buta dan senyum istimewa Lima yang tidak jelas kehidupan keluarganya?
***

Penggambaran cara berpikir pengarang dalam memandang realitas impian juga nampak lugas pada kutipan ”Ini hari ketigaratus enam puluh lima hari, Lima masih diam dengan pandangan kosong ke depan di atas kursinya yang pernah bau pesing air kencingnya. Karena selama ini Lima tidak pernah ke kamar mandi. Ada yang membuat aneh semua orang, kapan Lima membuat hajatnya? Tak pernah, pikir semua orang” (prg. 17, hlm. 26). Sebuah penggambaran fiksionalitas dalam karya sastra yang begitu atraktif, fiktif, dan memberi kesan berlebihan.

Pendeskripsian tentang kondisi psikis dan kondisi tubuh tokoh yang tidak bisa dinyatakan sebagai realitas formal. Apakah sampai harus sebegitu tergambar parah tentang keadaan yang tidak menjadi penokohan yang sewajarnya? Lompatan waktu pada hari ketigaratus enam puluh lima hari, menegaskan dan memberikan bayangan kepada pembaca tentang jarak waktu antara masa lalu dengan masa satu tahun sesudahnya.
***

Ada kejutan dan lompatan waktu dalam jalinan cerita atau peristiwa yang saya katakan apik dalam jalinan isi cerita. Melalui cerpen Lima ini Ahmad Khoirul tampak menghadirkan kejutan-kejutan tentang loncatan waktu dalam jalinan cerita atau peristiwa. Lompatan waktu yang ditandai dengan banyaknya bukti tanda dari beberapa kata-kata atau kalimat yang diulang-ulang, yang beberapa di antaranya meliputi kata sekarang, ingat, dan saat kini, yang berlangsung berputar balik. Hal semacam ini menjadikan pembaca pada akhirnya menjadi lebih intens membaca dan menafsirkan hasil atau ending cerita.

Berdasarkan runtutan peristiwa yang dilukiskan dalam cerpen Lima karya Ahmad Khoirul ini terlihat runtutan peristiwa yang dimulai dari: Sekarang Masa lalu (Lima ingat), Sekarang (masa kini), Hari ke-221 (simbol lompatan jarak waktu), Masa lalu (ingat), Hari ke-365 (simbol; loncatan jarak waktu), dan Sekarang (sebagai ending dari sebuah cerita).

“Lima ingat bagaimana menghabiskan waktu sebelum penglihatannya ini diselimuti kegelapan” (prg. 1, hlm. 25), ”Lima selalu mengingat kata-kata ibunya itu” (prg. 2, hlm. 25), ”Lima ingat saat listrik desanya mati, rangkaian bintang begitu indah menempati pos-pos mereka di langit.” (prg. 3, hlm. 25), ”Lima ingat, dia akan langsung meniup lilin itu hingga mati” (prg. 6, hlm. 25), “Lima ingat, kalau lagu terakhir untuk ulang tahun tidak pernah dinyanyikan” (prg. 6, hlm. 25), “Lima juga masih ingat, dulu ibunya pernah mengajarkan cara memainkan biola saat dia telah buta.” (prg. 13, hlm. 26).

Lompatan-lompatan peristiwa atau waktu yang kurang jelas dalam hal motivasional dari tokoh pemuda yang tiba-tiba datang membawa botol (mabuk) mendatangi Lima yang sedang dikelilingi orang-orang kampung. Utamanya tentang kejelasan respons antartokoh dan motivasi munculnya tokoh pemuda di hadapan Lima? Siapa sosok yang sebenarnya dari seorang pemuda? Apakah sosok pemuda itu bagian dari anggota masyarakat? Dan dipertegas lagi dengan sikap Lima pada pemuda itu, “Lima menangis setelah itu, tak tanggung-tanggung Lima menangis dengan menjerit sekuat-kuatnya. Semua orang diam, lalu di antara mereka maju untuk menghajar pemuda itu. Tapi Lima melindungi pemuda itu. Lima tak ingin pemuda itu terluka. Lima menangis sepanjang malam sampai dia tertidur di bahu pemuda itu.” (prg. 20, hlm. 27).

Pastilah akan menjadi pertanyaan mengapa Lima harus melindungi pemuda mabuk itu? Lantaran pada akhir cerita tampak sebuah penggambaran tentang peristiwa yang mengharukan, di mana Lima yang pada awalnya mengalami kondisi psikis yang kurang baik (cacat mental) menjadi tersadar hanya karena pemuda (pemabuk) yang malam hari membentak-bentakinya. Ending cerita yang seperti ini masih belum menampakkan atau memberikan kejelasan karena masih menampakkan kelanjutan peristiwa. Menjadi open ending. Utamanya pada ending peristiwa tentang senangnya seluruh warga yang menyambut riang dan gembira atas kesembuhan atau ketersadaran Lima dari sakit psikisnya yang menaun.

“Lima minta makan, sekonyong-konyong mereka senang dan kalang kabut membawa semua makanan yang ada di rumah mereka kepada Lima. Semua orang lebih terkejut lagi ketika Lima minta kepada para istri untuk memandikannya dan mengantarkannya ke sungai untuk buang hajat. Para istri mengantarkan Lima ke sungai terlebih dahulu. Butuh waktu seharian penuh untuk mengeluarkan semua yang tengah ada di dalam perutnya.” (prg. 21, hlm. 27).

Cerpen ini menjadi berakhir dengan penggambaran suasana riil tentang konflik batin tokoh Lima dalam ingatan masa lalu yang mengharukan dalam memandang masa depan. Tentunya masa depan hanya teruntuk seorang ibu yang sudah lama meninggalkannya (meninggal dunia). “Lalu ini untukmu ibu, kata Lima sambil tetap memainkan biolanya dengan merdu dan menyayat hati.” (prg. 24, hlm. 27). Sebuah cerita pendek yang bisa dikategorikan sebagai cerpan (cerita panjang), lantaran jalinan isi cerita menyuguhkan waktu peristiwa yang tidak spontan. Waktu yang sejatinya bisa menyadarkan pada diri kita —bahwa sejatinya hidup adalah perjalanan panjang. Perjalanan panjang tentang jalinan beragam peristiwa yang harus dipahami sebagai pertanyaan-pertanyaan, yang harus dijawab dengan pemikiran mendalam.
***


*) Anton Wahyudi, bermukim di Dusun Jambu RT/RW: 2/2, Desa Jabon, Jombang. Mengelola Jombang Institute, sebuah Lembaga Riset Sejarah, Sosial, dan Kebudayaan di Jombang, Jawa Timur. Di samping aktif dalam kegiatan menulis, dan sebagai editor lepas, menjadi Dosen Sastra Indonesia di Kampus STKIP PGRI, Jombang. Buku terbarunya “Guruku, Ayahku, Kakakku Kwat Prayitno” (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *