MALAM YANG MENJAWAB
Apa yang Tuhan jodohkan
sedari malam yang pekat
selain isak tangis kerinduan
Dedaunan berbisik gemulai
kini lunglai malu oleh waktu
yang tiba-tiba berhenti beku
Sebelum subuh menjemput malam
sebelum reranting kembali menari
dan sebelum masa-masa berlari
Aku kan menjawab
Disini, di bawah pohon ini
aku telah menanam ari-ari.
SETENGAH CINTA
Separuh dari rasa
yang pernah berkecamuk
menguap bersama tawa
juga kau sunting resah
Namun tapakan
angka-angka di kalender
bergulir semakin mesra
Sekalipun kau tak menemaniku
menghabiskan semangkuk senja
Tapi kau selalu mengirimkan
seikat puisi dari ujung kota
yang di ujung-ujungnya
ditulis setengah gelisa.
SENJA YANG PICISAN
Menyibak ilalang
memeluk senjakala
Menggenggam jemari
berangkulan cakrawala, berarak
bersembunyi hendak menutupi hari
Sedang punggung jemariku basah
kau cium dengan lembut bibirmu
Dua anak domba mengikik
tanda luapan cemburu.
PARANOID
Ah…
Mengenangmu adalah siksa bagiku
Belum juga seluruh aku mengingatmu
tetapi sukma ini menggedor-gedorku
Mencuat menyalakkan pisau kepadaku
serupa jin yang selalu bergentayangan
mengikuti kemana arah kakiku menuju
Aku lelah
aku lungkrah
tak ada daya
KOPI
Selalu saja
bergelantungan di sudut kamar
menawarkan wajah keglamoran
Namun aku ingin setia
pada secawan kopi di atas tungku
daripada harus mereguk kopi palsu
di dalam coffe shop bersiluet ungu
