Sisi Lain: Menembus Batas

Ardus M Sawega
Kompas, 12 Des 2010

APA yang hendak dicapai dari sebuah pameran seni rupa oleh ”nonperupa” yang selama ini lebih dikenal publik sebagai seniman atau intelektual? Mengundang kagum, sensasi, sekadar ramai-ramai atau lucu-lucuan? Lepas dari berbagai prasangka itu, kurator pameran seni rupa ”Sisi Lain” yang digelar di Galeri ISI Surakarta, 27 November-11 Desember 2010, punya argumentasi konkret mengapa 25 pesohor itu diboyong dalam satu pameran bersama. Continue reading “Sisi Lain: Menembus Batas”

Menjembatani Perbedaan Malaysia-Indonesia

Peresensi: Budiawan
Judul: Ceritalah Indonesia
Penulis: Karim Raslan
Penerjemah: Rizal Iwan
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: I, September 2010
Tebal: xxi + 135 halaman
ISBN: 978-979-91-0276-8
Kompas, 17 Des 2010

KETIKA kita jengah dengan apa yang kita alami sekaligus menginginkan perubahan, kita cenderung melihat apa yang dialami orang lain dengan kacamata positif. ”Rumput tetangga kelihatan lebih hijau”, kata sebuah ungkapan klasik. Continue reading “Menjembatani Perbedaan Malaysia-Indonesia”

Apa Kabar Naskah Lakon Indonesia?

Idha Saraswati
Kompas, 17 Des 2010

PENULIS naskah lakon Indonesia masa kini didominasi orang-orang yang terikat dengan kelompok teater tertentu. Penulis naskah di luar kelompok teater tidak mendapat ruang sehingga karya mereka tidak terdengar. Benarkah?

Kondisi itu setidaknya dirasakan sejumlah penulis naskah di Yogyakarta. Heru Kesawa Murti, misalnya, menulis naskah untuk Teater Gandrik. Continue reading “Apa Kabar Naskah Lakon Indonesia?”

Bahasa, Penyair, dan Kreativitas

Rida K Liamsi
Riau Pos, 26 Des 2010

BAHASA adalah rumah, tanah air para penyair. Di sinilah dia lahir dan dibesarkan. Di sinilah dia tumbuh dan berkembang. Dari sinilah kemudian dia mengembara untuk memberi makna kehidupannya, sebelum pada akhirnya pulang kembali ke rumah keabadiannya. Bahasa adalah jati diri penyair. Karenanya, penyair yang kehilangan bahasanya, akan kehilangan segalanya. Kehilangan jati diri. “Yang tak berumah takkan menegakkan tiang,” begitu kata salah satu bait puisi penyair Rainer Maria Rielke “Di Batu Penghabisan ke Huesca” yang diterjemahkan Goenawan Mohammad, salah satu penyair besar Indonesia. Continue reading “Bahasa, Penyair, dan Kreativitas”

Pesona Sajak ”Karena Kalian Gunung, Kami pun Menjelma Jadi Angin”

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 26 Desember 2010

SAJAK “Karena Kalian Gunung, Kami Pun Menjelma Jadi Angin” dimuat dalam Fragmen Waktu: Sajak Pilihan Riau Pos 2010 (Yayasan Sagang, 2010:27-29). Sajak itu (terdiri atas 9 bait) didedikasikan untuk rakyat Riau yang terus berjuang. Secara tekstual, sajak itu dapat diduga merupakan pernyataan sikap perlawanan yang dilakukan kami/angin atas keberadaan kalian/gunung. Sikap perlawanan itu muncul karena kami/angin sudah benar-benar merasa jengkel, kesal, dan bahkan muak terhadap perilaku kalian/gunung. Deskripsi lengkap sajak itu, lebih kurang, sebagai berikut. Continue reading “Pesona Sajak ”Karena Kalian Gunung, Kami pun Menjelma Jadi Angin””

Bahasa »