Terompah Kyai

Ahmad Zaini *

Hening malam itu seketika buyar ketika detak-detak suara terompah kiai bergelombang membahana di setiap sudut lokasi pesantren. Alas kaki kiai menggerus jalan beraspal menuju tempat beribadah laksana derap kaki kuda yang menerjang medan perang tuk membasmi musuh-musuh. Detak-detak suara terompah kiai semakin cepat memecah keheningan akhir malam yang berudara dingin karena ingin segera sampai ke musholla. Di musholla itu kiai sudah ditunggu ratusan santrinya. Continue reading “Terompah Kyai”

Proposal

Fanny J. Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Dering di Hp-ku mendadak sontak berbunyi. Suara Bapak terdengar berat dan bernada perintah. “Ingat, jangan lupa jam sembilan pagi kau sudah siap. Kenakan pakaian yang sopan, jangan memakai jins, pakai celana berbahan resmi lengkap dengan blus batik. Jangan bermake-up terlalu teaterikal, lipstick tidak usah tebal-tebal. Kita akan bertemu dengan pejabat penting, seorang intelektual ahli strategi pemerintahan. Pokoknya orang terhormat!” Continue reading “Proposal”

Menikmati Sastra Klasik di Era Modernisasi

Evi Melyati
http://www.suarakarya-online.com/

Bagi masyarakat jawa, sastra merupakan karya yang tertata apik dalam bahasa yang indah. Tak heran jika sastra jawa klasik tak hanya mengutamakan isi, tetapi keindahan bahasa juga menjadi perhatian sang pujangga. Karya sastra Jawa yang terlahir melalui pengolahan rasa dan laku tapa, disebut sebagai sastra adiluhung atau sastra yang memiliki tingkat apresiasi tinggi. Continue reading “Menikmati Sastra Klasik di Era Modernisasi”

Ketika Cak Nun Bertutur tentang Persoalan Bangsa

Judul: Demokrasi La Roiba Fih
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan: I, Juli 2009
Halaman: vi + 282 halaman
Harga: Rp 45.000
ISBN: 978-979-709-427-0
Peresensi: Ali Rif’an*
http://nasional.kompas.com/

Di tengah-tengah runcingnya persoalan bangsa tak ada habisnya, membaca esai-esai Emha Ainun Nadjib serasa bagaikan mendapat suntikan segar dan menyejukkan, cerdas sekaligus bernas. Continue reading “Ketika Cak Nun Bertutur tentang Persoalan Bangsa”

Bahasa »