Terompah Kyai

Ahmad Zaini *

Hening malam itu seketika buyar ketika detak-detak suara terompah kiai bergelombang membahana di setiap sudut lokasi pesantren. Alas kaki kiai menggerus jalan beraspal menuju tempat beribadah laksana derap kaki kuda yang menerjang medan perang tuk membasmi musuh-musuh. Detak-detak suara terompah kiai semakin cepat memecah keheningan akhir malam yang berudara dingin karena ingin segera sampai ke musholla. Di musholla itu kiai sudah ditunggu ratusan santrinya.

Terompah kiai ditaruh dekat lantai teras musholla. Kemudian dalam sekejap puluhan santri berebutan ingin menata terompah ke arah depan agar kiai setelah usai berjamaah shubuh tinggal mengenakan terompah tanpa harus membalikkan badannya.

“Alhamdulillah, saya dapat kesempatan menata terompah kiai!” ucap Amir salah seorang santri dan sekaligus merangkap jabatan sebagai keamanan pesantren dari Pekalongan.

Lain lagi dengan Abbas. Semenjak ia belajar mengaji di pesantren, belum pernah sekali pun ia menata terompah kiai. Setiap kali kiai naik ke musholla dan melepas terompahnya di depan musholla ia tak pernah ikut berebutan dengan santri lain untuk menata terompah kiai.

“Ah, itu kan hanya terompah. Apa manfaatnya? Dasar santri-satri tolol!” gumamnya sambil memandang tak peduli ke arah santri-santri yang sedang berebut menata terompah kiai.

Aneh memang. Dari sekian ratus santri yang mondok di pesantren itu
hanya Abbas yang bersikap demikian. Ia egois di mata santri-santri yang lain. Menurut teman-temannya, setiap kali ada ro’an di pesantren misalnya, Abbas tidak pernah mengikutinya. Ia malah enak-enakkan bernyanyi di dalam kamar sendirian. Ia bersenandung tentang tembang-tembang cinta yang sedang hits akhir-akhir ini. Abbas begitu menikmati lagu yang didendangkan. Ia baru keluar kamar jika ro’an akan selesai. Itu pun menunggu diseret oleh keamanan pesantren.

“Kenapa Abbas tidak ikut ro’an?” tanya kemanan pesatren.

“Ah, bikin capek saja. Angkat, dong, tukang kebun biar tidak setiap Jumat ro’an!” elak Abbas sambil berlagak menasehati keamanan pesantren yang menegurnya.

“Ini kan sudah program pesantren. Bahwa setiap hari Jumat pagi diadakan ro’an,” jelasnya.

“Itu bagi mereka yang mau, yang ikhlas mengikuti ro’an. Daripada tidak ikhlas, lebih baik nyanyi, dong, di kamar,” jawab Abbas dengan santai.

“Sudahlah. Itu terserah kamu. Besok kalau masih bersikap seperti ini akan saya laporkan pada kiai,” ancam petugas keamanan pesatren itu.

“Silakan! Silakan laporkan pada kiai. Sandal saja pakai terompah jawa. Bisa apa dia, heh!” gumam Abbas.

“Abbas. Jaga mulutmu! Jangan seenaknya kamu bicara. Apalagi merendahkan martabat kiai. Kurang ajar!” ketika keamanan itu mengangkat tangannya hendak menempeleng Abbas, tiba-tiba detak-detak suara terompah kiai terdengar memekakkan telinga berajalan mendekatinya.

“Ada apa, Mir?”

“Ini Kiai, Abbas,”

“Sudah-sudah sana!” perintah kiai.

Petugas kemanan pesantren itu kemudian bergegas meninggalkan Abbas yang masih duduk ongkang-ongkang kaki di lantai kamarnya.

Terompah kiai pun terdengar meninggalkan kamar Abbas, kemudian lama semakin lama tak terdengar lagi tenggelam oleh hiruk-pikuk santri yang sedang ramai mengikuti ro’an.

“Terompahnya saja suaranya memerahkan telinga. Beri nasihat segala,” gerutu Abbas.

Abbas adalah santri baru di pesantren itu. Baru seminggu ia mondok di situ. Ia anak seorang pengusaha sukses di bidang indutsri sandal dari Jakarta. Orang tuanya khawatir anaknya terpengaruh oleh pergaulan bebas di kota besar. Apalagi sekolah-sekolah di kota, sebagian siswanya sudah kecanduan narkoba. Makanya, orang tua Abbas segera mengirimnya ke pesantren, ingin menyelamatkan Abbas dari pengaruh negatif tersebut.

Sandal menurut Abbas hanyalah sebuah sandal. Tidak mempunyai nilai lebih. Bahkan posisi benda itu saja selalu di bawah. Setiap saat dan sampai kapan pun sandal letaknya selalu di bawah. Semahal apa pun sandal itu. Bahkan, Abbas sering melihat sandal itu sering terkena kotoran binatang, lumpur, dan kotoran-kotoran lain.

“Cih, jijik!” ungkap Abbas ketika melihat terompah kiai jadi rebutan santri-santrinya.

“Nilai sebuah benda, tergantung orang yang memakainya. Contoh, sandal yang harganya jutaan rupiah jika yang memakai itu gembel maka tak ada nilainya. Orang-orang akan menganggap sandal itu harganya cuma ribuan.

Orang tak kan percaya kalau ada gembel memakai sandal seharga jutaan rupiah.

Sebaliknya, sandal yang harganya hanya ribuan tapi yang memakai adalah pengusaha, pejabat atau para ulama yang punya pengaruh, maka orang-orang akan menganggap sandal itu harganya jutaan, punya nilai, kan!” kata Amir yang sejak tadi duduk bersama Abbas dan mencoba menasihatinya.

“Iya. Tapi apa nilai dari terompah kiai. Tidak masuk akal!” bantah Abbas kemudian beranjak pergi meninggalkan Amir sendirian. Amir hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir ada santri yang berpikiran seperti itu.

Suasana pesantren kembali senyap dari riuh suara santri yang bergurau. Hanya terdengar suara sebagian santri yang belajar membaca kitab-kitab gundul di kamar masing-masing. Sementara Abbas bersenandung ria sendiri di teras kamarnya. Ia sudah tak menghiraukan nasihat Amir yang baru saja didengarnya.

Santri-santri berlalu di depan Abbas yang masih asyik bernyanyi. Mereka tak mempedulikan sikap Abbas. Itu karena, mereka sudah bosan melihat tingkah Abbas yang sok pintar, sok kuasa, sok kaya dan sok pemberani.

Ketika Yunus usai mengambil air wudlu, ia tak sengaja mengibaskan sisa-sisa air dari wajahnya. Dan percikan air itu mengenai wajah Abbas. Seketika ia langsung berdiri dan memukuli Yunus yang berbadan kurus itu. Tubuh kurus itu jadi bulan-bulanan Abbas hingga tersungkur di lantai yang masih basah bekas air dari kaki para santri lain usai mengambil air wudlu.

“Hentikan! Hentikan, Abbas!” Seru Amir yang datang melerai.

“Kamu sudah keterlaluan, Abbas. Kamu telah menganiaya Yunus yang tak bersalah apa-apa,”

“Apa? Tidak bersalah bagaimana? Ia sengaja memercikkan air ke wajahku. Ini lihat!” kata Abbas sambil menunjuk butiran air yang masih menempel di dekat bibirnya.

Ketika mereka sedang bersitegang masalah percikan air, tiba-tiba detak-detak suara suara terompah kiai terdengar mendekati mereka.

“Ada apa ini. Kenapa Yunus?” tanya Kiai ketika melihat Yunus mengerang-erang kesakitan memegangi perutnya.

“Maaf, Kiai. Yunus baru saja dipukuli Abbas,” jawab Amir sambil menundukkan kepalanya.

“Sudah. Sekarang kalian bubar semua!” perintah Kiai.

Kemudian satu persatu dari mereka pergi meninggalkan Yunus, Abbas dan Kiai.

Yunus dibangunkan dan dipapah kiai berjalan ke kamar. Tubuh yang kerempeng itu kemudian dibaringkan di lantai dengan alas sepotong sarung.

“Abbas, ke sini!” seru Kiai. Tanpa sopan santun Abbas datang menghampiri kiai.

Cukup lama kiai memberi nasihat kepada Abbas bahwa perilaku yang baru saja ia lakukan itu tidak menunjukkan sifat-sifat santri.

“Jadi santri itu harus bisa saling meminta dan memberi maaf sesama temannya yang melakukan kesalahan. Baik itu disengaja atau tidak disengaja,” ujar kiai.

Tanpa memberi rasa hormat Abbas berdiri dan meninggalkan kiai yang
belum selesai menasehatinya. Ia keluar dari kamar tanpa permisi atau mengucapkan salam. Melihat sikap Abbas seperti itu, kiai hanya tersenyum karena kiai menyadari bahwa hati Abbas belum mendapat hidayah dari Allah SWT.

“Sabar, ya, Yunus. Maafkan perilaku Abbas,” pinta kiai.
“Iya, Kiai,” jawab Yunus.

Kemudian kiai keluar kamar dengan meninggalkan detak-detak suara terompah menjauh dari tempat semula.

Menjelang maghrib tiba, puluhan santri sudah berkumpul menunggu kedatangan kiai. Mereka siap-siap berebut menata terompah kiai saat beliau sudah naik musholla untuk menjadi imam jamaah sholat maghrib. Sudah hampir sepuluh menit belum terdengar detak-detak suara terompah kiai. Para santri menunggu dengan sabar disertai kecemasan jangan-jangan kiai ada udzur sehingga tak bisa ke musholla. Kecemasan mereka belum reda tiba-tiba terdengar detak-detak suara terompah kiai muncul dari kediamannya. Detak-detak suara terompah itu semakin lama semakin mengeras hingga pada akhirnya tak terdengar lagi detak-detak suara itu karena kaki kiai sudah menginjak lantai depan musholla. Puluhan santri kemudian berdiri menunggu terompah itu lepas dari kaki kiai. Setelah terompah itu benar-benar lepas, mereka berebutan menata terompah kiai. Ada yang sampai terjungkal dan tak dapat menyentuh apalagi menata terompah kiai.

“Ha, ha, ha, ha!” Abbas datang menertawakan santri yang terjungkal itu.

Saat mereka melihat Abbas datang, spontan mereka membubarkan diri dan masuk ke musholla mengikuti shalat maghrib berjamaah dengan kiai. Sementara Abbas menyusul mereka kemudian, ketika imam sudah membaca surat Al Quran dalam shalatnya. Ia berdiri sendiri tidak masuk pada shaf-shaf di depannya. Padahal, shaf-shaf di depannya tadi masih ada jarak untuk seorang peserta jamaah lagi.

Setelah hampir lima belas menit para santri dan kiai sholat dan dzikir bersama, mereka kemudian bergantian berjabat tangan dengan kiai. Mereka menciumi tangan kiai yang lembut dan halus serta menebarkan bau harum minyak Misk.

Para santri kaget saat melihat kiai berdiri mematung di teras mushalla seperti ada sesuatu yang beliau cari. Mereka saling berpandangan, menanyakan apa yang dicari oleh kiai. Mereka tak berani bertanya langsung pada kiai. Mereka hanya berani bertanya kepada santri yang lain. Para santri semakin kaget ketika melihat kiai turun dan terpaksa berjalan menuju ke kediamannya tanpa terdengar suara detak-detak suara terompah jawanya. Sekejap pandang kiai sudah masuk di kediamannya. Mereka pun melihat di lantai depan teras musholla tak menemukan jejak terompah kiai.

“Waaah, terompah kiai hilang!” mereka tercengang keheranan. Mereka saling berpandangan dan saling bertanya tentang keberadaan terompah kiai.

“Siapa ,ya, yang berani mengambil?’ kata Amir dengan penuh penasaran.

Pada saat mereka melihat sekitar mushalla mencari terompah kiai yang raib, dalam waktu yang bersamaan tiba-tiba terdengar suara detak-detak suara terompah kiai dari arah samping musholla. Detak-detak suara itu semakin lama semakin mendekat. Mereka memperhatikan asal bunyi terompah dan ingin tahu siapa yang memakainya. Batapa kaget dan emosinya, ternyata yang membawa terompah kiai adalah Abbas, santri baru di pesantren kiai.

Para santri kemudian mengerubuti Abbas yang berdiri tenang tak merasa
bersalah apa-apa. Ia menatap wajah para santri yang kelihatan seram dan serentak mengepalkan tangannya. Abbas jadi gemetar melihat sikap para santri yang berbeda dengan biasanya. Kali ini mereka benar-benar geram, marah dan ingin memberi pelajaran kepada Abbas, santri yang lancang itu.

“Ia telah menganiaya Yunus, tidak mempunyai sopan santun ketika berhadapan dengan kiai. Yang terakhir ia telah meng-ghasab terompah kiai. Mari bersama-sama kita memberi pelajaran pada Abbas biar bisa mengubah sikapnya!” ajak Amir pada rekan-rekannya.

Ketika mereka sudah mengepal dan mengangkat tangan tinggal menunggu waktu untuk melayangkan kepalan tangannya pada Si Abbas, tiba-tiba kiai muncul di tengah-tengah mereka.

“Tahan, tahan! Sabar! Si Abbas adalah santri baru dipesantren ini. Kalian harus memberi contoh padanya. Contoh yang baik, bijaksana. Jangan main hakim sendiri seperti ini,” perintah kiai.

Mereka kemudian mencoba menahan diri dan minta maaf pada kiai. Satu persatu kemudian mereka meninggalkan Abbas dengan kiai berdua disamping musholla. Abbas tampak begitu serius mendengarkan nasihat-nasihat dari kiai. Entah nasihat apa yang dituturkan pada Si Abbas.

Usai menasihati Abbas, detak-detak suara terompah kiai kemudian terdengar lagi mengalun membentuk irama meninggalkan Abbas yang masih berdiri mematung di samping musholla sendirian.***

*) Cerpenis lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak seperti Tabloid Telunjuk, Majalah MPA dan Radar Bojonegoro. Beberapa puisinya juga dimuat dalam Antologi Puisi Bersama seperti Bulan Merayap (DKL, 2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Absurditas Rindu (SastraNesia Lamongan, 2006), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006). Selain menulis, juga sebagai tanaga edukatif di SMA Raudlatul Muta’allimin Babat Lamongan. Sekarang beralamat di Sanggar Sastra ”Telaga Biru”, Wanar, Pucuk, Lamongan. e-mail: ilazen@yahoo.co.id.