PUISI SURABAYA: HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Umar Fauzi *
Surabaya Post, 23, 30 Agustus 2009

Membaca sejarah sastra (baca, perpuisian) Indonesia –pun mungkin kesusastraan dunia– dengan cara sederhana adalah membaca pengotakan zaman, sebagai khazanah yang coba dimitoskan ke dalam angkatan-angkatan atau periodeisasi kesusastraan. Dari bentukan angkatan/periode itulah, kritikus –secara sadar maupun terpaksakan– menemukan benang merah hingga layaklah disebut sebagai sebuah angkatan bla-bla-bla kesuasatraan Indonesia. Continue reading “PUISI SURABAYA: HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”

Puisi Mazhab Gapus

Binhad Nurrohmat
http://terpelanting.wordpress.com/

Perpuisian Surabaya pasca-Orba menjadi sejenis gerakan separatis di wilayah perpuisian Indonesia. Dengan buku kumpulan puisi Labirin dari Mata Mayat karya W. Haryanto (2003), Pengantin Lumpur karya Mashuri (2004), dan Ekspedisi Waktu karya Indra Tjahyadi (2004); gerakan itu gamblang memproklamasikan tampangnya yang membelot dari muka pasaran perpuisian Indonesia. Continue reading “Puisi Mazhab Gapus”

Adonis, Meretas Sekat dan Batas

Maria Hartiningsih
Kompas, 14 Nov 2008

”… thus I no longer hesitate to say: / ’the I and the other / are me…” Satu frasa dalam karya Adonis, ”A Desire Moving Through the Maps of the Material” (1986-1987), sudah cukup mengungkapkan pendirian penyair dan esais terkemuka dunia asal Suriah itu tentang ”liyan” (the other) dan ”yang diliyankan”.

BAGI Adonis (78), nama pena Ali Ahmad Sa’id, sejak usia 19 tahun, sang liyan dan sang diri menyatu dalam kesatuan diri; terasing dan diasingkan. Pengasingan tidak berarti secara fisik. Bahasa itu sendiri lahir dalam keterasingan. Continue reading “Adonis, Meretas Sekat dan Batas”

Puisi yang Bukan Sekadar Puisi

Mariska Lubis
Kompas, 1 Okt 2011

MENGHADIRI undangan peluncuran buku antologi puisi alit “Kitab Radja – Ratoe Alit” yang ditulis oleh 50 penyair Indonesia, memberikan kesan yang sangat luar biasa. Ternyata kekhawatiran dan keprihatinan atas apresiasi puisi di Indonesia sudah bukan lagi hanya masalah soal seni semata, tetapi menyangkut masalah politik dan nasionalisme di dalam berbangsa dan bernegara. Mengapa Negara yang kaya akan budaya bahasanya seperti Indonesia, tidak bisa melakukannya?! Continue reading “Puisi yang Bukan Sekadar Puisi”

Bahasa »