Dari Mitos ke Kehidupan Urban

Putu Fajar Arcana
Kompas, 27 Februari 2011

PERJALANAN dari mitos Sawerigading yang ada dalam teks ”I La Galigo” sampai kebudayaan urban perlu berabad-abad. Transformasi dari memori tubuh ”primitif” suku Papua sampai pada bentuk tari kontemporer juga bisa sangat panjang. Tetapi, semuanya bisa bertemu dalam panggung IDE (Indonesia Dance Expression), Selasa (22/2) di GoetheHaus Jakarta. Continue reading “Dari Mitos ke Kehidupan Urban”

Melebur Karya Sastra Picisan

Hendri R.H

Saya masih tidak mengerti kenapa Pramoedia Anata Toer dilahirkan, terlebih berbagai karyanya dilarang pemerintah. Saya sendiri yang mendekam di jurusan sastra sempat menolak untuk membaca karya-karyanya, “kumpulan roman picisan” itulah kiranya yang sempat terucap. Praduga tak bersalah tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya roman yang dilahirkan awal abad ke-19 kebanyakan bertemakan cinta. Continue reading “Melebur Karya Sastra Picisan”

Konsisten seperti Pramoedya Ananta Toer

Helmy Beryliansyah

Menulis sedikit review tentang seorang penulis kenamaan Indonesia membuat keinginan seandainya saja saya mampu konsisten seperti dia, “as soon as possible”, menjadi seorang tetap berkarya dalam dunia tulis-menulis bahkan menjadi sebuah mata pencaharian. Untuk menulis mungkin sulit untuk diharapkan, tapi setidaknya bisa tetap berkarya didalam hidup agar lebih berarti, yang kata orang, “hidup hanya sesaat”. Suatu keinginan besar dari seorang yang malas. Continue reading “Konsisten seperti Pramoedya Ananta Toer”

Sastra Gagal Dalam Pemberadaban

Putu Wijaya: Seperti Benda Asing di Awang-awang

Ipik Tanoyo
balipost.co.id

KEBANGKITAN sastra pada hakikatnya adalah kebangkitan masyarakatnya. Dalam kesusastraan dunia, karya-karya sastra monumental secara legendaris memberikan pengaruh dan tuntunan kepada peradaban. Bahkan, boleh dibilang dunia berubah oleh sastra. Moral dan citra manusia terarah oleh sastra. Demikian sastrawan Putu Wijaya mengutarakan pendapatnya dalam diskusi sastra di Bentara Budaya, Jakarta, Kamis (26/2). Continue reading “Sastra Gagal Dalam Pemberadaban”

Membaca SBY dari Kacamata Pram

M Sya’roni Rofii
http://www.kompasiana.com/ziyarofii

Tulisan ini berawal dari ketika saya membaca sebuah buku tentang Pramoedya Ananta Toer, salah seorang sastrawan terbesar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Pram yang wafat pada tahun 2006 dengan meninggalkan puluhan karya bahkan ratusan baik dalam bentuk novel, cerpen, ataupun essai. Semua karya Pram sarat dengan nuansa humanisme dan pembebabasan, memberontak untuk memerdekakan pikiran bangsa Indonesia. Setidaknya karya Pram hingga kini telah diterjemahkan kedalam 41 bahasa di dunia berikut penghargaan pada masing-masing karya yang lahir dari balik jeruji besi, lahir di bukit-bukit gersang tempat ia dibuang, lahir ditengah masyarakat yang masih terjajah secara mental. Warisan mendasar sebelum Pram wafat adalah agar manusia Indonesia tidak inferior dihadapan bangsa manapun di dunia ini. Continue reading “Membaca SBY dari Kacamata Pram”

Bahasa »