Saya (bangga) Orang Madura *

Salamet Wahedi **

Syahdan, lelaki itu gugup dan gemetar menginjakkan kakinya di tanah luar tumpah darahnya. Tak hanya keasingan yang menyergap. Seribu bayangan berkelebat. Mereka menyeringaikan gigi tajam. Mereka membisikkan doa dan mantra, serta kutukan. Mereka yang bernama domba-domba kemanusiaan dan kebudayaan.

Bertahun, lelaki itu terkurung dalam seringai domba kebudayaan. Sekadar menyebut nama, apalagi tanah kelahiran, dia begitu gemetaran. Dirinya takut dihujat. Dijauhi. Dipandang sinis. Dan yang paling ditakutinya, dirinya diolok-olok: wuih, para pembunuh. Continue reading “Saya (bangga) Orang Madura *”

RIWAYAT TERBITNYA MAJALAH HORISON *

Kurniawan Junaedhie **

GAGALNYA Gerakan 30 September PKI yang terkenal dengan julukan G-30-S/ PKI, pada tahun 1965, menghancurkan cita-cita dan ambisi Lekra. Setelah melalui keadaan politik yang tak menentu, dan serangkaian demonstrasi KAMI/ KAPPI, pada tanggal 12 Maret 1966—sehari setelah menerima pelimpahan wewenang dari Presiden Soekarno— Letjen Soeharto membubarkan PKI beserta segala ormas-ormasnya. Dengan Surat Perintah yang dikenal sebagai Super Semar itu, Soeharto juga menyatakan PKI sebagai partai terlarang di seluruh Indonesia. Praktis, sejak itu era kepemimpinan Soekarno berakhir. Dengan demikian lahirlah Orde Baru. Continue reading “RIWAYAT TERBITNYA MAJALAH HORISON *”

Harga Diri Ayam

Emha Ainun Nadjib

AYAM memang hewan atau binatang, tetapi tak sekadar hewan atau binatang, ia adalah juga ayam. Ia bahkan punya banyak identitas dan kemungkinan eksistensi yang lain.

Ayam juga makhluk dunia, warga dunia, bagian dari alam, peliharaan Pak Kardjo, temannya ayam lain, putra atau putrinya bapak ayam ibu ayam, penghuni kandang ayam pojok RT. Ayam adalah juga hewan, bukan bebek, bukan angsa, bukan burung bukan anjing, bahkan bukan manusia. Identitas mana yang primer mana yang sekunder, itu soal cara pandang. Continue reading “Harga Diri Ayam”

Wacana Konflik yang Memihak

Hasnan Bachtiar *

MENGAGETKAN tatkala membaca esai-esai lawas Soetjipto Wirosardjono yang bertajuk “Kesenjangan” dalam dimensi agama, negara dan rakyat. Sejak terbitnya buku Dialog Kekuasaan (Penerbit Mizan) pada 15 tahun silam, kolumnis kritis ini menegaskan bahwa pelbagai konflik sosial ternyata lebih tepat kalau dimaknai sebagai dampak dari kesenjangan sosial. Betapa jarak begitu jauh antara si kaya dan si miskin (1995: 253). Continue reading “Wacana Konflik yang Memihak”

Realitas Magis Han Gagas

Beni Setia *
suarakarya-online.com

TERMIN realisme ini merujuk ke konteks sastra, secara naif diartikan sebagai narasi deskripsif yang mengungkap aspek kehidupan riil/nyata secara langsung, lugas dan cermat. Meski sesungguhnya kenyataan obyektif tidak bisa utuh ditampilkan dan dikenali lagi seperti apa adanya, karena yang ditampilkan di dalam teks itu kenyataan yang telah diseleksi serta digarisbawahi kepentingan subyektif pengarang. Karena itu lahir sastra bercorak realisme psikis, realisme subyektif (James Joyce, Frans Kafka), atau bahkan realisme magis (Edgar Allan Poe). Continue reading “Realitas Magis Han Gagas”

Bahasa »