EKSTASI BUDAYA MINIMALIS: DARI TIPISNYA MASKULIN-FEMININ SAMPAI MATINYA KEGELISAHAN SANG PENCIPTA*

Heru Susanto

”Percayalah padaku: rahasia untuk memetik buah paling besar dan kenikmatan tertinggi dari manusia adalah hidup yang berbahaya (gefahrlichleben)”
~Nietzsche~

Realita Budaya

Segala kebutuhan manusia seakan-akan sudah terpenuhi dalam kehidupan ini. Hasrat untuk memiliki berbagai kebutuhan yang sering menjadikan manusia larut dalam kenikmatan-kenikmatan dunia dapat diakses secara cepat tanpa membuang waktu dan gerak. Semua serba instan. Continue reading “EKSTASI BUDAYA MINIMALIS: DARI TIPISNYA MASKULIN-FEMININ SAMPAI MATINYA KEGELISAHAN SANG PENCIPTA*”

Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna

Acep Iwan Saidi
cetak.kompas.com

BAHASA selalu merupakan hubungan antara penanda (”signifier”) dan petanda (”signified”). Tidak ada kaitan antara kata (bahasa) dan realitas di luar dirinya. Kata-kata diletakkan pada struktur (sistem) dan membangun makna karena relasinya dengan kata lain. Ini berarti strukturlah yang penting, bukan kata itu sendiri. Continue reading “Poros Paradigmatik Bahasa Afrizal Malna”

SASTRAWAN JANGAN HANYA DIJAJAH KEINDAHAN!

Nurani Soyomukti *

Tidak sedikit sastrawan yang mabuk keindahan. mereka terjebak pada “imperium keindahan”—dan lupa bahwa persoalan sastra adalam masalah humanisme: Sastra-Humaniora! Karenanya sastra(wan) harus punya nyali untuk bicara pada kemanusiaan. Kemanusiaan, dan bukan hanya keindahan dan permainan katakata, adalah kunci dari kegiatan kesusastraan. Masalahnya, jika persoalan sastra harus lebih ditekankan pada keindahan, mengapa penghargaan sastra (seperti Nobel Sastra) selalu saja diberikan pada sastrawan yang bicara banyak hal dan mengeluarkan pandangannya—yang penuh nilai dan berpihak—tentang manusia, masyarakat, dan sejarah? Continue reading “SASTRAWAN JANGAN HANYA DIJAJAH KEINDAHAN!”

MEMPERTANYAKAN KWALITAS PUISI PENYAIR (ATAS?)

Cunong Nunuk Suraja

Penyair makin tua makin mantap jejak guratan penanya. Walau sedikit guyuh tapi tak lekang mengungkap daya kreatifnya untuk disodorkan ke pembaca. Puisi yang tercetak tentu sudah layak uji dan siap atau tidak siap menerima tanggapan pembaca. seperti pernah diungkap Sutardji CB bahwa salah cetak mungkin menjadi berkah atau malapetaka. Lebih-lebih jika dalam salah cetak atau unggah dalam dunia maya kesalah cetakan itu menimbulkan kesalahan logika kata. Continue reading “MEMPERTANYAKAN KWALITAS PUISI PENYAIR (ATAS?)”

Bahasa »