Puitika Rumah Sakit Jiwa Dalam Sajak-sajak F. Rahardi

Afrizal Malna

BEBERAPA kali F. Rahardi mengatakan kepada saya bahwa sajak-sajaknya yang terkumpul dalam Soempah WTS (Puisi Indonesia 1983), ia buat dengan main-main. Tidak jelas apa yang ia maksud dengan “main-main”. Apakah ia merupakan suatu cara dalam menulis sajak, yaitu cara main-main. Atau keseluruhan dari sajak-sajaknya adalah merupakan suatu permainan, suatu yang main-main, sesuatu yang tidak serius, yang tidak memiliki usaha terhadap pendalaman, suatu yang bernilai hanya sebagai suatu permainan. Dan apabila ini diteruskan akan menjadi : main-main merupakan salah satu gaya penulisan sajak. Continue reading “Puitika Rumah Sakit Jiwa Dalam Sajak-sajak F. Rahardi”

PERIHAL ANTOLOGI PUISI YANG DIKANON-KANONISASIKAN ITU

Sunlie Thomas Alexander

TERKAPAR sekitar tiga jam, badan masih penat–tapi ada kerjaan-kerjaan yang mesti dilanjutkan.

Namun okelah, aku akan coba menulis sesuatu perihal Antologi Puisi 100/Lebih Penyair (disebut-sebut pula “penyair modern”) yang bikin kisruh itu. Yang kini nampaknya sudah sepanas knalpot angkot tua setelah mutar-mutar tidak tentu arah. Kendati “ribut-ribut” kali ini tentunya jauh lebih bermutu dan bermartabat ketimbang sinetron maki-makian dan blokiran beberapa hari lalu–lantaran kita bicara soal kelayakan seorang penyair dari sisi teks maupun persoalan moril. Continue reading “PERIHAL ANTOLOGI PUISI YANG DIKANON-KANONISASIKAN ITU”

Sastra Angkot

Raudal Tanjung Banua

Sejak status Ahmad Yulden Erwin tentang “100 Penyair Indonesia Modern” muncul di pemberitahuan linimasa fb saya, saya sudah tidak respek, karena itu, meski nama saya ditag, tak sekalipun saya respon. Mulanya, saya akan menolak jika undangan resmi sudah saya terima, tapi saya pikir sudah tidak perlu lagi. Continue reading “Sastra Angkot”

Bahasa »