DESAKU MENEBAR FILSAFAT AYU

Nurel Javissyarqi*
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/

?Fikirkanlah coretan-coretan di dinding Ibukota, adanya istilah MERDESA, sebelum meletusnya balada pemberontakan anak-anak Jatinegara?

Desa itu daerah kendali perekonomian kota. Tata letak spiritualitas pemampu berpeluang menentukan gerak-gerik bangsanya. Sekilas terlihat orang desa berkiblat pandangan kota, padahal orang kota tidak asyik lagi menatap kesehariannya. Dari desa-lah terpelihara keindahan nurani, kemanusiaan agung terpanggil menciptakan atmosfir damai. Continue reading “DESAKU MENEBAR FILSAFAT AYU”

Kebun

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Dengan berapi-api Ami pulang mau merombak lapangan badminton di belakang rumah menjadi kebun.. Dalam rangka memerangi pemanasan global. Ibunya setuju.

?Untuk apa lapangan badminton, dipakai main juga tidak pernah. Mau jadi juara All England, hah! Cina tidak akan bisa dikalahkan lagi!? katanya sinis. Continue reading “Kebun”

Spiritualitas dalam Sastra Tidak Pernah Mati

Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Karya sastra bertema spiritualitas ternyata masih diminati dikalangan pembaca. Paling tidak bisa dilihat dari hasil survei Bale Sastra Kecapi yang diadakan September belum lama ini. Berdasarkan hasil survei dari 100 responden di Jakarta dan sekitarnya inilah Bentara Budaya mengusung agenda acara diskusi “Spiritualitas dalam Sastra”, baru-baru ini. Continue reading “Spiritualitas dalam Sastra Tidak Pernah Mati”

PENGELANAAN SITOR SITUMORANG

Maman S. Mahayana *

Sitor Situmorang tercatat sebagai salah seorang dari empat tokoh sastrawan Angkatan 45 yang masih hidup. Mereka adalah Mochtar Lubis (lahir 7 Maret 1922), Sitor Situmorang (lahir 2 Oktober 1924), Pramoedya Ananta Toer (lahir 6 Februari 1925), dan Asrul Sani (lahir 10 Juni 1926). Entah mengapa, di antara keempat tokoh itu, penyebutan tarikh kelahiran Sitor kadangkala ditulis salah. A. Teeuw dan J.U. Nasution, misalnya, menyebut tahun 1923. Continue reading “PENGELANAAN SITOR SITUMORANG”

Rakus

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Tiap kali ?kapitalisme? tampak guncang dan buruk, tiap kali Wall Street terbentur, orang jadi Oliver Stone. Dalam Wall Street, sutradara yang bakat utamanya membuat protes sosial dengan cara menyederhanakan soal, menampilkan dahsyatnya keserakahan manusia. Di sana Gekko, diperankan Michael Douglas, menegaskan dalilnya: rakus itu bagus. ?Rakus itu benar. Rakus itu membawa hasil. Rakus itu? menandai gerak maju manusia.? Continue reading “Rakus”

Bahasa ยป