Adonis, Pemberang yang Terbuang

Qaris Tajudin
http://www.korantempo.com/

di atas luka kita berlaksa-laksa batang garam gugur, tertahan tiada nyeri.

Ia adalah Adonis si pemberang yang terbuang. Sastrawan Arab paling berpengaruh saat ini. Setiap kali mendengar nama ini yang terbayang adalah sketsa wajah seorang tua dengan rambut perak bergelombang yang awut-awutan dan mata bulat yang menantang. Sketsa itu hadir bersama esai yang ditulisnya, setiap dua minggu sekali pada pertengahan 1990-an di Afaq, suplemen sastra koran berbahasa Arab terbitan London, Al-Hayah. Continue reading “Adonis, Pemberang yang Terbuang”

Lorca, di Andalusia Maut Memanggilmu

Dian Basuki
http://www.korantempo.com/

Tujuh puluh tahun silam, Federico Garcia Lorca mati ditembus peluru rezim fasis Spanyol. Di hari ini, orang masih berselisih kata di mana kuburnya.

Suatu malam yang gelap. Tubuh yang lebam itu akhirnya dijemput ajal saat dua butir peluru menembus punggungnya. Tiga tubuh lainnya, tengah meregang nyawa, lebih dulu menantinya di liang tanah. Orang-orang Falangis, pendukung Jenderal Franco yang fasis, mengumpat: “Dua butir peluru itu untukmu, karena kamu homo dan kamu merah!” Continue reading “Lorca, di Andalusia Maut Memanggilmu”

Lorca dan Magi Puisi

Angela
korantempo.com

Karya Lorca memadukan unsur tradisional dan tema kontroversial.

Sekali waktu, Joko Pinurbo, penyair sederhana yang disayangi banyak orang, pernah berkata tentang puisi. “Kerja bermalam-malam membangunkan alam bawah sadar, mencatat kehidupan sekeliling, memain-mainkan kata, memadukan paradoks dan ironi dengan usaha keras luar biasa”. Dan setelah itu menyihir pembacanya. Continue reading “Lorca dan Magi Puisi”

Napas Daerah Berembus ke Pusat

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Jakarta sebagai ibu kota dengan segala hingar bingar kehidupannya, berlangsung serba cepat dan praktis dalam segala hal. Hingga akhir tahun 1990-an, era internet mulai menyambangi dan menyekat kesusastraan yang ada pada media koran ataupun majalah. Adanya internet, dianggap oleh Jonathan Rahardjo, penulis novel Lanang, justru mempersempit kesenjangan antara sastra daerah dengan sastra di Jakarta. Continue reading “Napas Daerah Berembus ke Pusat”

Bahasa ยป