Bertahan dan Kecewa dengan Tradisi

Bakdi Soemanto *
tempointeraktif.com

Novel yang berbicara tentang hidup orang Bali yang tak mungkin dipisahkan dari upacara. Kisah seorang gadis yang banyak kecewa.
Putri Pengarang: Putu Wijaya Penerbit: Pustaka Utama Grafiti, 2004 Tebal: 530 halaman

DI TENGAH maraknya kebangkitan novelis perempuan, Putri, sebuah novel panjang karya Putu Wijaya, muncul dan membicarakan perempuan. Continue reading “Bertahan dan Kecewa dengan Tradisi”

Spektrum

A. Rodhi Murtadho *

Spektrum terus memancar. Mengaromakan anyir yang tak henti-henti. Menindas segala galau dan cemas. Suara-suara sumbang tak mendamaikan. Amarah Karti menambah keruh pikiran. Murka semua orang di kala kembang desa yang banyak dipuja lelaki tiba-tiba seperti orang gila. Semua lelaki diajaknya senggama. Membiarkan mereka menikmati tubuhnya yang dulu benar-benar dijaga kesuciannya agar benar-benar menjadi kembang desa tulen. Continue reading “Spektrum”

Cak Durasim, Peacock, dan Senjakala Ludruk

Fahrudin Nasrulloh*
Kompas, 19 Agustus 2007

Konon, pada 1943, Cak Durasim mati ditembak tentara Jepang saat suatu malam dia mentas ludruk di Peterongan, Jombang. Demikianlah salah satu versi cerita. Pasalnya sepele, malam itu dia berkidungan begini: Pegupon omahe doro/Melok Nipon tambah sengsoro (Pegupon rumahnya burung dara/Ikut Nipon tambah bikin menderita). Sudah lama Nipon telah dibikin geram oleh kidungan Cak Durasim yang nylekit itu. Ternyata, kata-kata, pada momen itu, menggoreskan luka dalam ingatan kolektif. Menjadi subversif, saat kekuasaan bertakhta. Continue reading “Cak Durasim, Peacock, dan Senjakala Ludruk”

LOKALITAS DALAM SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Lokalitas (locality) sebagai konsep umum berkaitan dengan tempat atau wilayah tertentu yang terbatas atau dibatasi oleh wilayah lain. Lokalitas mengasumsikan adanya sejumlah garis pembatas yang bersifat permanen, tegas, dan mutlak yang mengelilingi satu wilayah atau ruang tertentu. Dalam konsep politik, terutama yang berkaitan dengan kekuasaan dan penguasaan wilayah, lokalitas dengan sejumlah garis pembatas yang dimilikinya itu diandaikan pula seperti berhadapan dengan kepungan garis pembatas lain sebagai simbol atau representasi kekuasaan lain dalam posisi yang bisa bersifat arbitrer atau bisa juga dalam posisi yang saling mengancam. Continue reading “LOKALITAS DALAM SASTRA INDONESIA”

Bahasa ยป